
Episode 61 - Hanya gertakan
Dafa berjalan sendirian melewati pintu gerbang masuk tempat pembuangan akhir. Ia melihat ada tiga mobil yang berjejer di depan gudang. Beberapa dari mereka seperti membersihkan tempat itu dari bekas pembunuhan.
Lalu mayat nomor tiga geng Syndrome dimasukkan ke dalam pembungkus mayat.
Dafa membunyikan jari jemari serta lehernya, lalu berlari ke arah mereka. Dua orang melihat Dafa berlari dengan sangat kencang. Dafa pun melakukan tendangan putar yang mengarah ke kepala mereka.
Brakkk!!!
Mereka berhasil menghindar dari tendangan Dafa dan tendangan itu mengenai body mobil.
Tentu saja hal itu membuat kaki Dafa terasa sakit. Ia langsung meregenerasi kakinya dan melakukan serangan yang lain.
[ Tuan, aku tidak menyuruhmu untuk bertarung. Melainkan menggertak saja. ]
Dafa yang tadinya hendak menyerang, ia berhenti sejenak lalu menjaga jarak dari mereka.
"Aku kira bertarung itu juga sama seperti menggertak," gumam Dafa, tiba-tiba kakinya gemetaran.
[ Tuan, stat mereka lebih tinggi daripada tuan. Lebih baik hindari pertarungan yang ada. ]
"Baiklah."
Dua orang yang diserang Dafa tadi, melapor kepada ketua mereka yang berada di dalam gudang. Lalu muncullah seorang pria dewasa dengan wajah yang dipenuhi brewok. Ia memakai kemeja putih dengan motif garis hitam, begitu juga dengan celananya.
Ia keluar dari gudang dengan membawa sebilah pisau milik Dimas yang tertinggal di sana.
"Aku sudah dengar banyak tentangmu. Apa kau Dafa dari Yin dan Yang?" tanya pria dewasa itu dengan tatapan tajam ke arah Dafa.
Dafa langsung berdiri tegap. "Apa aku sangat terkenal hingga kalian bisa mengenaliku?" sahut Dafa yang membalas bertanya.
Pria itu berjalan mendekati Dafa lalu memberikan pisau yang dipegangnya kepada Dafa.
"Pergilah, kau masih kecil untuk berurusan dengan kami," ucapnya.
Dafa menepis tangan pria itu, kemudian ia menarik kerah pria itu hingga wajahnya mendekat ke wajah Dafa.
"Kenapa kau bisa masuk ke wilayah selatan dengan bebas?" tanya Dafa dengan nada menggertak.
"Lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran," balas Pria itu dengan nada yang lemah lembut.
Dafa melepaskan tarikan nya lalu pria itu merapikan kemejanya.
"Oh iya, Dafa. Kau tau kenapa aku kami membunuh Alfian, sang Pemimpin geng Syndrome?"
Dafa menatap tajam ke arah pria itu.
"Ternyata namanya Alfian." Dafa pun mengibaskan tangannya karena terasa keram. "Kenapa kalian membunuhnya?" lanjut Dafa yang penasaran.
Pria itu kemudian membungkukkan badannya kemudian membisikkan ke telinga kanan Dafa. "Karena dia adalah seorang pengkhianat," ucapnya singkat.
"Terus, kenapa kalian membunuh anggota geng Syndrome lagi?" tanya Dafa sembari melirik ke telinga kanannya.
"Itu karena, mereka adalah anggota pengkhianat. Kami akan mengupas tuntas hingga ke akar-akarnya, jika ingin selamat. Mereka harus membubarkan geng mereka terlebih dahulu," jawab pria itu.
__ADS_1
"Mereka semua sudah bubar," ujar Dafa lalu menepuk pundak pria itu. "Oh iya, ketika aku masuk ke sini. Teman-temanku menelpon polisi untuk menangkap kalian. Sampai jumpa di sel tahanan!" seru Dafa, ia lalu mencengkram pundak pria itu hingga ia berlutut.
Setelah itu, Dafa menampar wajah pria itu dengan sangat keras. Melihat ketua mereka diserang oleh Dafa. Delapan anggota Geng Psycho yang melihatnya langsung berlari ke arah Dafa.
Mereka juga tak segan-segan menggunakan senjata mereka untuk menghadapi Dafa.
Namun Dafa dengan santainya berjalan meninggalkan mereka.
"Gertakan sudah selesai, saatnya menerima reward dari Sistem," ucap Dafa dengan tenang.
Saat Dafa berjalan menuju pintu gerbang, polisi pun langsung datang menyerbu geng Psycho. Karena tak ingin menjadi tersangka ataupun saksi. Dafa langsung berlari meninggalkan tempat itu dan pulang sendirian.
Saat berlari, Dafa melihat Dimas dan Galang sedang minum es sambil bercerita dengan para polisi investigasi.
Tiba-tiba muncul layar sistem dari hadapan Dafa dan mengeluarkan dua buah kunci yang berwarna emas dan perak. Awalnya Dafa bingung dengan kegunaan dari kedua kunci tersebut. Namun karena ia belum memiliki rasa penasaran. Ia menyimpan di dalam inventori.
"Mereka nggak mau pulang tuh." Dafa berjalan pelan-pelan mendekati mereka. "Hari dah mulai gelap, nanti mama kalian pada nungguin lho."
Dimas dan Galang seketika berdiri dengan tegap dan mengatakan, "Bener juga!"
Dimas dan Galang langsung menyusul Dafa yang sudah jauh berjalan.
"Eh … kalian mau pergi kemana? Masih banyak pertanyaan yang harus dijawab!" teriak polisi yang menginterogasi Dimas dan Galang.
"Tanya saja sama orang yang tertangkap di dalam!" balas Dafa dengan berteriak.
...~...
"Jadi, yang datang itu hanya anggota bawah saja?" tanya Dafa.
Saat ini mereka sedang duduk di depan teras rumah Galang yang sangat mewah. Mereka juga disuguhi beberapa macam biskuit dan juga masing-masing segelas susu.
"Jadi, organisasi mereka kurang lebih seperti geng Harimau Api dong," ungkap Galang.
"Tidak, tidak! Geng Psycho lebih spesifik. Mereka memiliki kelompok tertentu, seperti kelompok yang bekerja sebagai pembunuh, kelompok yang bekerja sebagai pembuang mayat hasil mereka bunuh dan kelompok yang bekerja sebagai inti dari geng itu," jelas Dimas dengan wajah terkesan serius.
"Ooo … jadi yang ditangkap adalah kelompok dari pembuang mayat," ucap Dafa yang berasa sudah mengetahui hal.
"Tidak, mereka hanya sebagian kecil saja. Jadi di setiap kelompok ada beberapa kelompok kecil lainnya, mungkin berjumlah 6 sampai 10 orang," lanjut Dimas.
"Kau mengetahui banyak hal ternyata," ucap Galang lalu mengelus kepala Dimas.
"Hehehe … informasi itu semua, aku baca dari buku catatan abangku," jawab Dimas. Tiba-tiba ia meneteskan air mata.
"Malah nangis, cengeng banget!" seru Galang. Ia lalu masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil teko yang berisi susu coklat.
"Oh iya, besok aku ada urusan pribadi. Jadi kau sama Galang pergi ke tempat Dojang milik ayahnya Irfan untuk mengasah bakat kalian," ucap Dafa, ia lalu berdiri.
"Aku pulang dulu, adikku menangis karena ditinggal pergi," lanjut Dafa lalu pergi meninggalkan Dimas.
"Kau juga pikirkan nama geng kita!" teriak Dafa dan menghilang dari pandangan Dimas.
"Huft … malah ditinggal," gumam Dimas.
Selang beberapa menit, Galang pun keluar sambil membawa teko yang berisi susu coklat. Ia melihat ke sekeliling terasnya, namun tak ada siapapun di sana.
__ADS_1
"Eh … mereka udah pulang?" gumam Galang.
Galang mengambil secarik kertas yang ditindih menggunakan gelas. Ia pun membacanya, "Aku dan Dafa pulang dulu. Maaf merepotkan, terima kasih suguhannya."
"Tch … main pulang aja, mana gak pamit lagi!" gerutu Galang lalu mengambil semua gelas dan piring. Kemudian membawanya masuk ke dalam.
...~...
Di sebuah tempat, tepatnya di depan gedung perusahaan Neptunus. Nampak Dafa sedang berdiri di depan gedung tersebut. Ia lalu mengeluarkan dua kunci yang ia dapatkan dari misi.
Tiba-tiba sebuah pintu seperti hologram muncul di hadapan Dafa. Namun di sana terdapat tiga gembok yang berwarna perunggu, perak dan emas.
Kali ini Dafa hanya memegang dua kunci saja, perak dan emas. Yang tersisa hanyalah perunggu.
"Kenapa pintu ini hanya muncul di sini? Apa pintunya memang terletak di sini?" batin Dafa lalu memasukkan kunci itu ke dalam gembok sesuai dengan warnanya.
"Dafa, sedang apa kau di sana?"
Dafa tersentak kaget dan langsung menghilangkan pintu hologram itu dan memasukkan kunci ke dalam inventori nya.
"Eh, aku hanya lewat saja … Edric?"
"Kenapa? Aku kan kerja di sini." Edric lalu berjalan mendekati Dafa.
"Bagaimana pekerjaan mu? Apa kau sudah membuat geng seperti yang aku katakan?" tanya Edric dengan suara yang lirih.
"Aku hanya perlu anggota, untuk menghancurkan seluruh geng di Surabaya, sangatlah sulit hanya dengan tiga orang," jawab Dafa
"Tapi apa alasanmu menyuruhku untuk menghancurkan geng yang ada di Surabaya?" tanya Dafa dengan tatapan sinis.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Edric yang risih dengan tatapan Dafa.
"Hehehe … nggak ada," jawab Dafa lalu menggaruk kepalanya.
"Kau bisa memilih antara menghancurkan atau menyatukan. Tapi aku rasa menyatukan itu susah, karena wilayah yang ingin kau satukan sangatlah besar," ucap Edric.
"Ah … aku tau!" sahut Dafa dengan wajah ceria.
"Tau apa?" tanya Edric.
"Nggak ada," jawab Dafa dengan terkekeh.
"Huft … kau mau ku antar pulang?" tawar Edric, sebenarnya dia sedikit kesal dengan Dafa.
"Wahhhh … baik banget. Tentu mau dong," jawab Dafa dengan semangat.
"Pulang aja sendiri," balas Edric lalu meninggalkan Dafa.
"Mana bisa gitu! Tadi kan kau bilang mau– ah sudahlah."
Dafa mengejek Edric sembari membuntuti nya dari belakang.
"Tunggu disini, aku ambil mobil dulu."
Dafa seketika mematung dan langsung memberikan mengangkat tangannya untuk hormat.
__ADS_1
"Siap tuan!" ucap Dafa.
...#### Solo Fighter ####...