
Episode 28 - Sepertinya aku terlalu berlebihan
Ari, Danu, Rian, Rendi dan Zidan mengelilingi Dafa dan berniat untuk menyerangnya secara bersamaan. Di sisi lain, Dimas dan Rifki khawatir dengan keadaan Dafa, apalagi Rifki yang merasa jika dirinya yang telah membuat Dafa dalam kesusahan.
Namun dibalik semua itu, wajah Dafa nampak tak pernah ketakutan bahkan ia masih bisa tersenyum ketika dikelilingi oleh berandalan kelas 8 tersebut.
Selang beberapa waktu, mereka langsung menyerang Dafa secara bersamaan. Mulai dari pukulan, tendangan, grappling serta masih banyak lagi cara mereka untuk menyerang Dafa.
Sebenarnya Dafa ingin sekali menggunakan cara kotor untuk berkelahi dengan mereka layaknya pertarungan jalanan. Namun karena ia tak mau mencederai anak-anak yang masih muda, disini Dafa sedikit mengeluarkan kekuatannya diiringi tekni bela diri yang ia pelajari selama ini.
Zidan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyerang Dafa dengan serangan yang membabi-buta, bahkan hampir saja Dafa kena serangan darinya di area yang tak terlihat. Untung saja sistem memberitahu Dafa tentang hal itu dan segera ia hindari.
Ari nampak sedikit santai dalam hal berkelahi, namun ketika pukulannya mengenai lawan. Ia langsung mengerahkan seluruh kekuatannya ketika pukulannya tepat mengenai titik vital lawan. Namun itu tak berguna bagi Dafa yang memiliki mata tajam dan tubuh yang lincah.
Danu, Rendi dan Rian yang memiliki kemampuan bela diri Jeet Kune Do menyerang Dafa dengan sangat cepat, sampai-sampai Dafa hampir terkena serangan dari mereka bertiga.
Danu yang terus mencoba menyerang Dafa menggunakan tendangan, akhirnya ia berhasil mengenai Dafa dengan tendangannya. Alhasil Dafa terpental namun masih dengan posisi berdiri. Dafa membersihkan lengan bajunya yang kotor akibat tendangan Danu, lalu Dafa berjalan perlahan ke arah mereka dengan wajah yang serius.
Rian dan Rendi berlari ke arah Dafa secara bersamaan lalu menyerangnya menggunakan pukulan. Dafa menghindari kedua pukulan tersebut lalu menarik kedua lengan mereka hingga ke bawah. Kemudian Dafa menendang wajah Rendi menggunakan lutut dan membanting Rian dengan sangat keras. Keduanya sampai-sampai tak dapat sadarkan diri lagi.
Tersisa Danu seorang diri, ia masih bersikeras untuk menyerang Dafa semampunya. Namun disini Dafa tak main-main lagi. Ketika Danu melakukan tendangan 'Flying Dragon Kick', Dafa mengcopy serangannya lalu menghindar dan membalikkan serangan yang ia copy tadi ke Danu.
Tentu saja Danu kaget dan terdiam. Dafa yang dia remehkan ternyata bukanlah orang biasa. Dafa adalah seorang peniru teknik bela diri dan mampu menggunakannya dengan sempurna.
Danu terpental sejauh lima meter akibat tendangan dari Dafa dan ia pun ikut pingsan bersama dengan yang lainnya.
__ADS_1
Dimas dan Rifki tak percaya dengan kemampuan yang dimiliki Dafa. Bahkan Rifki sempat merekam kejadian tersebut untuk ia posting di media sosial. Dafa yang tak tahu apa-apa mendekati mereka berdua lalu mengambil tasnya yang ia taruh di dekat Rifki.
"Makasih udah jaga tasku," ucap Dafa lalu mengambil tasnya dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Eh … tunggu," panggil Rifki ke Dafa yang hendak pulang.
Dafa menoleh ke arah Rifki dengan mata sayu. Itu menandakan jika Dafa sudah lelah dan ingin cepat-cepat beristirahat. "Ada apa?" tanya Dafa.
"Emm anu … apa aku bisa menjadi kuat sepertimu?" tanya Rifki dengan mata berbinar.
"Push up 100x, skuat 100x, makan-makanan yang bergizi dan jangan lupa lari sejauh 10km," jawab Dafa yang memberikan saran.
Rifki lalu mengambil selembar kertas dari tasnya dan mencatat apa yang dikatakan Dafa barusan.
Dimas lalu mendekati Dafa dan bertanya kepadanya, "Apa benar latihannya seperti itu?"
"Entahlah … tapi aku kayak pernah dengar kayak gitu deh biar jadi orang yang kuat," ucap Dafa lalu melanjutkan jalannya.
"Ah iya, lupa. Makasih dah diingetin," sahut Dimas dan berlari meninggalkan Dafa dengan cepat.
Di perjalanan pulang, Dafa merasakan ada seseorang yang mengikuti dirinya. Namun itu hanya perasaannya saja, karena ada banyak orang yang sedang berjalan di sekitaran Dafa. Namun, Dafa dikejutkan dengan suara teriakan yang memanggil namanya.
"Woi!!! Dafa kon**l … Dafa ngen**t. Kalau pindah sekolah ngomong dulu lah."
Suara tersebut nampak tak asing baginya, Dafa langsung menoleh ke samping kanannya dan melihat Galang yang habis pulang dari sekolah berpapasan dengan Dafa.
"Ah Galang, udah sembuh?"
__ADS_1
"Sembuh apanya, masih sakit nih." Galang menunjukkan tubuhnya yang masih diperban.
"Hahaha … suruh siapa ngelawan anak-anak itu. Jadi kena imbasnya kan." Dafa menertawakan Galang yang berpenampilan seperti mumi.
"Huft … dasar bocah culun, sekarang udah berubah kayak dulu lagi nih." Galang mengingat masa lalunya bersama dengan Dafa.
"Ah apasih, itukan cuma cerita omong kosong doang. Yakali anak SD ikut tawuran." Dafa mengelak dari omongan Galang.
Dafa dan Galang melanjutkan perjalanannya dengan perlahan-lahan sambil berbicara.
"Lu tuh temen terbaik dah, rela jadi korban bullying demi temannya sendiri." Galang mengelus kepala Dafa.
"Tch … itu gara-gara kamu yang mau masuk ke geng Harimau Putih. Makanya aku malah dijadiin kelinci percobaan." Dafa memasang wajah geram.
"Ahaha … kalo masalah itu sih maaf. Tapi btw, kapan kamu bisa berkelahi? Padahal dulu aku nggak pernah liat kamu berkelahi dengan orang, kecuali waktu itu sih."
"Emm … udah lama lah pokoknya." Dafa tak ingin berpikiran panjang dan langsung menjawab secara singkat.
"Oh yaudah, besok aku ke rumahmu ya. Mau mampir ketemu calon istri." Galang menggoda Dafa.
"Berani nyentuh Angelina, kepalamu ku buat nggak nempel di badan." Dafa menggertak Galang.
"Hehehe … yaudah, kita pisah disini ya, bye." Galang pergi meninggalkan Dafa.
Dafa melambaikan tangan ke Galang lalu melanjutkan jalannya hingga sampai ke rumah.
"Dipikir-pikir, tadi aku ngehajar mereka terlalu berlebihan. Apa nggak apa-apa ya, takutnya ada sesuatu yang nggak diinginkan terjadi."
__ADS_1
"Ah sudahlah … kayaknya aku harus olahraga," gumam Dafa. Ia lalu berlari-lari kecil hingga sampai ke rumah.
...#### Solo Fighter ####...