Sistem : Menjadi Yang Terkuat

Sistem : Menjadi Yang Terkuat
Episode 62 - Solo Fighter


__ADS_3

Episode 62 - Pemimpin Harimau Api ternyata Dia!


Keesokan harinya, Dafa berangkat ke sebuah gedung kuning. Tempat yang di mana ia menyelamatkan Melisa, sebenarnya bukan menyelamatkan, melainkan membuat perjanjian dengan pemilik gedung tersebut.


Karena Dafa tak ingin mengingkari janji. Ia lalu berangkat ke sana seorang diri dengan menaiki ojek online.


Sesampainya di sana, suasana sama sekali tak berubah. Ada dua penjaga yang menjaga pintu masuk dan juga masih ada bekas pecahan di pintu kaca tersebut.


Dafa lalu berjalan mendekati kedua penjaga itu dan menyapa mereka.


"Halo paman!" sapa Dafa dengan senyuman yang lebar.


"Hai … ada yang bisa kami bantu?" sahut penjaga di sebelah kiri sambil membalas senyuman.


"Eh, bukannya kamu yang waktu itu!" ungkap penjaga di sebelah kanan sembari menunjuk Dafa.


"Ah iya, kau yang mengaku anak bos." Penjaga sebelah kiri lalu memasang wajah marah karena pernah dibohongi oleh Dafa.


"Aku memang bukan anak bos, tapi aku temannya bos." Dengan santainya Dafa berkata seperti itu, lalu menyalip masuk tanpa dihentikan oleh mereka.


"Iya juga ya, dia kan temannya bos," gumam Penjaga sebelah kiri.


...~...


Dafa yang sudah berada di depan pintu ruangan yang ia tuju. Ia lalu membukanya dengan perlahan-lahan dan langsung membuka lebar pintu tersebut.


"Kau kira kami bisa mengalahkan mereka? Kami ini termasuk geng yang paling lemah!"


Dafa terkejut ketika mendengar suara Anton yang protes kepada seseorang. Dan Dafa dibuat terkejut lagi dengan orang yang diprotes oleh Anton, karena Dafa sangat kenal dengan orang itu.


"Edric, kenapa kau disini?"


Dafa lalu berjalan mendekati mereka berdua dan duduk di bangku yang kosong.


"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Kenapa kau bisa ke tempat ini?"


Edric lalu berdiri lalu pindah ke bangku di sebelah Dafa.

__ADS_1


"Kalian berdua saling kenal?" Anton memasang wajah bingung.


"Nggak, aku nggak kenal orang ini!" seru Dafa kemudian memalingkan wajahnya.


"Benar, aku tak pernah berkenalan dengan bocah ini!" balas Edric, ia juga memalingkan pandangnya.


"Dafa, badanmu lebih bagus dari yang kemarin. Apa kau sering berolahraga?" tanya Anton yang penasaran.


"Iya, olahraga secara teratur kuncinya."


"Ngomong-ngomong, kenapa kalian berdua pura-pura tidak kenal? Bukannya kalian yang membuat satu gengku bubar!" ujar Anton, ia lalu menaikkan kakinya ke atas meja.


"Sikapmu tidak sopan di hadapan Dafa!" sahut Edric.


"Ah maaf!" Anton segera menurunkan kakinya.


"Sebentar, kenapa aku harus sopan kepadanya?" tanya Anton dengan wajah bingung.


"Belum pernah kena tendangan maut dari Dafa, ya?" sindir Edric dilanjutkan dengan ketawa kecil.


"Kalian sebenarnya siapa dan kenapa kalian begitu akrab?" tanya Dafa dengan tatapan rasa ingin tahu.


"Eee … kau belum tau siapa aku sebenarnya?" Anton mengharapkan jawaban yang ia tunggu-tunggu dari Dafa.


"Tidak, lagian aku tak pernah bertemu lagi denganmu. Terakhir kali juga yang waktu itu," jawab Dafa.


Brak!!!


"Serius kau tak tahu siapa aku?" Jawaban yang dikatakan Dafa tak sesuai dengan yang ia harapkan.


"Ya mana aku tau. Emang kau siapa? Orang terkenal?" ujar Dafa dengan nada sindiran.


"Hei, hei, hei. Kenapa dia bisa tak mengenaliku? Apa kau belum memberitahunya?" ucap Anton kepada Edric.


"Sepenting itukah? Lagian, Dafa bakalan mencarimu dan bakal menghancurkan gengmu juga," ucap Edric.


Dafa yang mendengar obrolan mereka berdua menjadi semakin bingung.

__ADS_1


"Rambut merah, bisa kau beritahu aku. Siapa kau sebenarnya? Dan kau Edric, kenapa kau bisa di sini?"


Anton pun menoleh ke arah Dafa dan menjawab, "Aku–" Tiba-tiba Edric menyela pembicaraannya. "Dia orang kedua yang memimpin geng Harimau Api."


"Hei, kan itu jawabanku!" protes Anton.


"Kau biasanya terlalu banyak omong. Makanya aku jawab dengan singkat," jawab Edric.


"Pemimpin Harimau Api!"


Dafa memandangi Anton dari atas sampai ke bawah. Dafa mengira jika pemimpin Harimau Api orangnya sangat seram, tapi ternyata orangnya seperti di hadapan Dafa saat ini.


"Aku gak percaya!" sahut Dafa.


Anton yang tadinya tersenyum, ia tiba-tiba memasang wajah kesal dan mengambil pistol dari lacinya.


"Hei, hei, hei … coba kau ulangi sekali lagi!" ancam Anton, ia lalu mengokang pistolnya.


"Kau lebih cocok jadi seorang pebisnis, bukan pemimpin gangster." Dafa menjawab dengan jujur.


"Kau mau mati hah!" bentak Anton, ia mengarahkan pistolnya kepada Dafa.


Tangan Anton bergemetar saat mengarahkan pistolnya ke arah Dafa. Ia lalu menoleh ke arah Edric yang malah duduk santai melihatnya.


"Kenapa kau tak menghentikan aku? Aku ingin menembak anak ini lho!" ucap Anton dengan nada mengancam.


"Tembak lah, lagian dia bukan siapa-siapa ku," jawab Edric dengan santai.


"Aku menyerah, aku akan membubarkan geng Harimau Api, tapi tidak dengan bisnisku."


Anton meletakkan pistolnya di atas meja, lalu duduk kembali di bangkunya.


"Bagus, itu jawaban yang paling ku tunggu-tunggu," ucap Edric. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


Dafa menoleh ke Edric sembari menarik lengannya. "Jangan kabur dulu, duduk di sini dan selesaikan semuanya di sini."


Edric memutar kedua matanya dan berkata, "Baiklah!"

__ADS_1


...#### Solo Fighter ####...


__ADS_2