Sistem : Menjadi Yang Terkuat

Sistem : Menjadi Yang Terkuat
Episode 47 - Solo Fighter


__ADS_3

Episode 47 - Dafa dan Melisa


Setelah bubarnya geng Harimau Merah dari SMP 13 dan juga perginya Edric setelah membubarkan geng Harimau Merah. Dafa, Angelina dan Melisa pergi membawa Galang ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya mereka di sana, luka Galang dirawat oleh para dokter serta suster. Selagi menunggu keadaan Galang, Dafa pergi ke kamar inap ibunya untuk melihat keadaannya. Angelina pun mengikuti Dafa bersama dengan Melisa yang mengikuti mereka berdua dari belakang.


Kebetulan, suster yang bertugas merawat ibunya Dafa baru saja keluar dari kamar inap beliau. Sang suster yang tak asing lagi dengan wajah Dafa, ia memberikan senyuman lalu berbicara dengan Dafa.


"Kamu mau jenguk ibu kamu?" tanya suster yang berdiri di hadapan Dafa.


"Iya, apa dia masih tidur?" balas Dafa.


"Mungkin masih bangun. Saya barusan selesai menyuapi beliau," jawab suster lalu kembali membuka pintu kamar inap tersebut.


Dafa melihat Ibunya yang masih duduk melamun dan Dafa segera masuk ke dalam kemudian disusul dengan Angelina.


"Mama, mama nggak pulang," sapa Dafa lalu duduk di samping Ibunya.


"Dafa, kamu nggak sekolah nak," ucapnya lalu meraba Dafa lalu mengelus rambutnya.


"Eee … tadi para murid dipulangkan. Soalnya para guru ada rapat untuk ujian," jawab Dafa dengan asal.


"Ooo … begitu ya," sahutnya lalu meletakkan tangannya di kedua paha.


"Apa adikmu ikut kesini juga?" tanyanya lalu menoleh ke arah Dafa meskipun tak dapat melihat.


Angelina lalu memeluk ibunya dengan sangat erat. "Aku datang kok. Kakak aja datang, masa aku nggak," ucap Angelina lalu melepaskan pelukannya.


"Oh iya, selama ibu di rumah sakit. Kalian nggak kenapa-kenapa kan?" tanya sang Ibu yang khawatir dengan keadaan kedua anaknya.


"Nggak ada kok, nggak ada," ucap serentak Dafa dan Angelina.


"Kalian nggak terbebani dengan keadaan ibu seperti ini, kan?" tanyanya lagi.


"Nggak kok. Justru kami malah bisa hidup mandiri," ucap Dafa. "Bener nggak," lanjut Dafa yang menoleh ke Angelina.


"Iya, bener banget dengan yang dikatakan kak Dafa. Kak Dafa jadi lebih bertanggung jawab pas Mama gak ada di rumah," sahut Angelina sembari tersenyum.


Tak lama kemudian, datang dokter yang sering menjenguk ibunya Dafa. Lalu ia menyuruh Dafa segera mendekati dirinya. Dafa lalu berdiri dan mendekati dokter tersebut.


"Ada apa?" tanya Dafa kepada sang dokter.


"Eeee, nak Dafa. Semua biaya rumah sakit ibu kamu sudah ditanggung dengan seseorang. Jadi kamu bisa fokus untuk sekolah," kata dokter itu sembari menatap wajah Dafa yang tak memiliki ekspresi.


"Siapa yang menanggung biayanya?" tanya Dafa lalu melipat kedua tangannya.


Sang dokter melepaskan kacamatanya lalu meletakkan di saku bajunya. "Dia tidak ingin disebutkan namanya. Awalnya aku ingin menghubungi mu untuk mengabari jika semua biaya akan ditanggung olehnya. Tapi dia bersikeras untuk tetap tidak memberitahu namanya," ucap sang Dokter kepada Dafa.


Dafa mengangkat kedua alisnya sembako bertanya, "Apa dia ditemani dengan seorang pengawal?"


"Ah, benar! Eh … maksud saya mungkin iya," ucap sang Dokter. "Kalau begitu saya permisi untuk pergi," lanjutnya lalu meninggalkan Dafa.


"Apakah mungkin CEO. Tapi bagaimana bisa dia tau kondisi ibuku," gumam Dafa lalu kembali kepada ibunya.


...~...

__ADS_1


Setelah selesai membawa Galang ke rumah sakit dan juga menjenguk ibunya. Dafa, Angelina serta Melisa keluar dari rumah sakit untuk pulang ke rumah masing-masing.


Melisa lalu mendekati Dafa karena ia sudah beberapa tak pernah melihat Dafa. Angelina yang menyadarinya langsung segera menjauh dan membiarkan Dafa untuk berduaan dengan Melisa.


"Kak, aku pulang duluan ya. Kalian bersenang-senang aja dulu," ucap Angelina lalu berjalan meninggalkan Dafa.


"Heh, kok ditinggal," sahut Dafa, ia pun langsung menatap wajah Melisa. "Mau ku antar pulang?" tanya Dafa sembari tersenyum.


"Eeee … boleh aja sih. Tapi kan rumah kita nggak searah," sahut Melisa.


"Searah kok, aku belok kiri, kamu belok kanan," ucap Dafa.


"Bener juga," jawab Melisa. "Eeee … kamu mau jalan-jalan sebentar nggak?" tanya Melisa sembari menggigit bibir bawahnya karena malu.


"Jalan-jalan kemana? Hari juga mulai gelap," ucap Dafa sembari memandangi langit.


"Kemana aja mungkin. Soalnya aku males pulang cepet-cepet," sahut Melisa sembari memutar badannya.


"Kalau gitu, kita pergi ke …."


...~...


Terlihat Dafa dan Melisa duduk dipinggir trotoar sembari menikmati lalu lalang nya kendaraan di malam hari. Mereka juga ditemani dengan masing-masing sebungkus batagor dan sebungkus es teh.


Dafa menceritakan tentang ia pindah sekolah. Tapi ia tak menceritakan tentang CEO dan misi yang diberikannya, melainkan pindah sekolah karena tak betah.


Melisa pun hanya percaya saja ucapan Dafa. Karena ia sangat senang bisa bertemu dengan Dafa lagi dan juga mereka bisa berduaan.


"Dafa, kalo boleh tau cita-cita mu apa?" tanya Melisa sambil memandangi wajah Dafa.


"Cita-cita ya." Dafa memikirkan cita-citanya yang tak pernah ia pikirkan.


"Hahaha … cita-cita kamu sungguh mulia sekali," ucap Melisa. "Kalo aku sih pengen jadi dokter. Kalo kamu terluka, nanti aku yang bertugas untuk nyembuhin lukamu," ucap Melisa dengan percaya diri.


"Tapi sayangnya aku sudah tak bisa terluka," jawab Dafa sembari memasang wajah datar yang menatap Melisa.


Melisa spontan malu dan wajahnya terlihat merah. "Apa sih, mana ada orang nggak bisa terluka. Itu kayak sebuah omong kosong," ucap Melisa.


Tiba-tiba ponsel Dafa berbunyi. Ia segera mengangkat teleponnya dan berdiri dari duduknya. "Ada apa? Pengen dibeliin apa?" tanya Dafa ke Angelina yang menelpon.


"Beliin aku martabak telur, seblak, bakso, boba, jus alpukat, mie pedas, sosis bakar …." Belum sempat menyelesaikan bicaranya. Dafa berkata, "Satu aja, nggak usah banyak-banyak."


"Yaudah, nasi goreng aja. Soalnya laper banget," ucap Angelina dari telpon.


"Iya, bentar lagi pulang. Tunggu bentar," jawab Dafa lalu mematikan ponselnya.


Dafa lalu menatap ke arah Melisa. Ia lalu menghela nafas karena teringat bahwa ia juga memiliki janji dengan sang pemilik kasino yaitu, Anton.


"Melisa, aku mau ngomong satu hal," ucap Dafa.


Melisa yang mendengarnya sontak terkejut dan merasa malu. Ia berpikir jika Dafa akan mengungkapkan perasaannya terhadap dirinya. Melisa lalu tersenyum kearah Dafa untuk mendengarkan apa yang akan diungkapkan Dafa.


"Mau ngomong apa?" tanya Melisa yang udah tak tahan mendengarnya.


Dafa menatap Melisa dengan sangat serius. Ia lalu berbicara ketika jalanan mulai sepi akibat lampu merah.

__ADS_1


"Apa kamu masih ingat dengan perjanjian yang ada di gedung kuning waktu itu?" tanya Dafa kepada Melisa.


"Hah?! Maksudnya?" jawab Melisa yang bingung.


"Ah! Aku pulang ajalah, kirain mau ngomong apaan," ucap Melisa lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Dafa.


Dafa pun ikut berdiri dan mengikuti Melisa dari belakang. "Kau berharap aku menyatakan perasaanku kepadamu, benar nggak?" ucap Dafa dan membuat Melisa menghentikan langkahnya.


"Masa berlakunya udah habis. Kalau mau nambah, beliin jajan dulu," ucap Melisa sembari menggembungkan pipinya.


"Enak aja. Sana pulang!" seru Dafa.


"Ishhh … awas aja," sahut Melisa lalu memutar badannya dan melanjutkan langkahnya untuk pulang.


Dafa hanya terkekeh sembari mengikuti Melisa dari belakangnya.


"Oh iya sistem, bukan, tapi Martis. Apa tak ada misi lagi darimu? Aku bosan banget karena nggak ada kerjaan selain mengerjakan misi dari pak tua itu," gumam Dafa lalu memunculkan layar sistemnya.


[Tentu saja ada tuan. Tapi apa yakin tuan ingin mengaktifkannya kembali?]


"Sebenarnya aku memang bosan karena tak melakukan hal lain. Tapi dilain sisi, aku juga penasaran. Apa kegunaan koin sistem ini," ucap Dafa sembari memegang beberapa koin dari sistem.


[Koin sistem bisa digunakan untuk membeli barang di toko sistem. Tapi untuk saat ini, toko pada sistem tuan tidak terbuka karena tuan sedang difokuskan untuk melatih diri.]


"Begitu ya. Yaudahlah, berikan aku misi pertama!" ucap Dafa dengan semangat.


...[ New Mission ]...


...[ Ajak Melisa ke sebuah club ]...


...[ Reward ]...


"Ah, yang bener aja!" ucap Dafa dengan geram lalu menghilangkan layar misi sistem.


[Tadi katanya tuan ingin mengerjakan misi dari sistem ▼・ᴥ・▼]


"Tapi ya nggak gitu juga!" seru Dafa dan membuat Melisa menoleh kearahnya.


"Kamu bicara dengan siapa?" tanya Melisa yang mendengar Dafa bicara sendirian dari tadi.


"Eeee … sama ini." Dafa mengeluarkan ponselnya. "Sama Galang, hehehe…," ucap Dafa sembari tertawa.


"Eh, Galang udah bangun," gumam Melisa. "Perasaan baru aja aku chattingan sama suster yang ngerawat Galang, katanya sih belum bangun," ucap Melisa ke Dafa.


"Ah anu, Galang pura-pura masih pingsan," sahut Dafa, ia juga keringat dingin ketika Melisa tau ia berbicara sendiri.


"Oh, gitu ya," ucap Melisa lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Huft … syukurlah," gumam Dafa lalu memunculkan layar misi sistemnya lagi.


...[ New Mission ]...


...[ Menguasai & menjadi nomer 1 di SMP 32 ]...


...[ Reward ]...

__ADS_1


...[ 1000 gold & mendapatkan bela diri baru ]...


...#### Solo Fighter ####...


__ADS_2