Sistem : Menjadi Yang Terkuat

Sistem : Menjadi Yang Terkuat
Episode 33 - Solo Fighter


__ADS_3

Episode 33 - Dafa Setyawan (Bagian 4)


Seminggu kemudian, Galang mulai mengikuti klub olahraga tinju. Ia iri dengan Dafa yang ternyata diam-diam bisa berkelahi, ia mengikuti klub olahraga tinju agar tak diremehkan oleh orang lagi.


Di sisi Dafa, ia hanya asyik membaca komik sambil minum secangkir teh. Dia menikmati pemandangan dari lantai atas rumahnya. Ia juga ditemani dengan Angelina yang asyik memainkan ponselnya.


Ayahnya telah pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pekerjaannya. Katanya, Bos dari perusahaannya memanggil secara mendadak. Sehingga mau tak mau ayah Dafa harus pergi meski dengan hati yang terpaksa.


Ibunya Dafa sedang bekerja di sebuah kantor sebagai administrasi dan selalu pulang sebelum langit mulai gelap. Sehingga Dafa dan adiknya itu selalu sendirian di rumah, namun mereka berdua tak takut karena sudah terbiasa.


Kabar buruk jatuh menimpa keluarga Dafa secara tiba-tiba. Suatu kabar yang tak pernah terduga dan kabar yang akan membuat konflik di kehidupan Dafa selanjutnya. Kabar tersebut adalah tentang meledaknya pesawat yang ditumpangi oleh ayahnya Dafa.


Dafa yang belum mengetahui hal tersebut masih membaca komik, begitu juga dengan adiknya yang serius memainkan ponsel. Namun Ibunya Dafa atau Sinta, ia tanpa berpikir panjang pergi ke tempat evakuasi setelah mendengar kabar dari berita.


Satu jam ia menunggu, dua jam telah berlalu, tiga jam tak kunjung ada kabar tentang suaminya. Ia mulai gelisah dan menangis tersedu-sedu dan berlari menuju ke seorang petugas untuk menanyai keberadaan suaminya itu. Namun petugas tersebut masih berusaha mencari suaminya.


Hingga sampailah matahari mulai terbenam. Dafa dan Angelina menunggu ibunya yang akan pulang. Namun tak seperti biasanya, ibunya Dafa pulang telat sehingga Dafa dan Angelina harus menunggu sedikit lama untuk makan.


Melihat Angelina yang sudah kelaparan, Dafa berinisiatif untuk membeli makanan di luar. Namun ketika ia membuka pintu rumah, ia melihat ibunya yang sedang duduk diam termenung di dalam mobil. Pakaiannya acak-acakan, rambutnya berantakan, make up di wajahnya juga terlihat luntur.


Dafa berjalan mendekati mobil lalu membuka pintu mobil karena penasaran dengan keadaan ibunya. "Ma … Mama kenapa?" tanya Dafa yang khawatir.


Sinta melirik ke arah Dafa dan tak ada ketertarikan kepada Dafa lalu membuang wajahnya.


"Kalo Mama lagi sedih, aku beli makan di luar aja. Mama istirahat aja dulu kalo emang lagi capek," ucap Dafa lalu menutup pintu mobil kembali.


Dafa mengambil sepeda dan mengayuh menuju ke warung makan yang tak jauh dari rumah mereka.

__ADS_1


"Kenapa hal ini bisa terjadi di keluarga kami?" gumam Sinta lalu memukul setir mobil berkali-kali disusul dengan tangisan.


Angelina yang mengintip dari tirai jendela juga merasa khawatir dengan keadaan ibunya. Ia berpikiran jika keluarganya sedang ditimpa dengan suatu musibah dan membuat ibunya frustasi. Angelina menutup tirai secara perlahan dan menyiapkan alat makan di meja agar ketika Dafa sampai di rumah, mereka langsung menyantap makanan.


Selang beberapa jam, Dafa kembali dari warung makan sambil membawa beberapa lauk. Ia juga melihat ibunya sudah masuk ke dalam rumah. Dafa segera meletakkan sepedanya kembali dan langsung masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, tepatnya di dapur. Dafa, Angelina dan Ibunya sedang makan malam bersama dengan keadaan yang sangat sunyi. Biasanya Ibu mereka sering mengomeli mereka, namun hari itu terasa sepi seperti ada yang berbeda.


Setelah makanan mereka telah habis semua. Ibu mereka membuka pembicaraan untuk memberitahu berita mengenai pesawat yang ditumpangi ayahnya.


"Dafa, Angelina … kalian udah besar kan," ucap Sinta.


Dafa dan Angelina seketika menoleh ke arah Ibu mereka secara bersamaan. Mereka berdua pun menganggukkan kepala.


"Kalian harus belajar mengikhlaskan sesuatu hal yang telah hilang, ya. Meskipun hal itu benar-benar berharga bagi kalian," lanjut Sinta lalu meneteskan air mata.


"Hari ini pesawat yang dinaiki oleh ayah dikabarkan meledak ketika sedang take off," jelas Sinta yang sudah tak bisa menahan tangisnya.


"Dan ayah kalian …." Belum sempat melanjutkan ucapannya. Dafa meletakkan jari telunjuknya di bibir ibunya.


"Ibu jangan pernah bersedih. Ayah pasti kembali kok, soalnya ayah sudah janji kalo dia bakal kembali," ucap Dafa lalu mengusap air mata ibunya.


Sinta yang melihat kepolosan dari Dafa tak bisa mengatakan hal tersebut dan langsung mengurungkan ucapannya lalu memeluk Dafa.


"Benar, ayah pasti kembali. Kita harus percaya jika ayah pasti akan kembali," ucap Sinta dengan air mata yang sudah mengalir membasahi wajahnya. Angelina lalu memeluk ibunya untuk ikut menenangkan suasana.


...~~...

__ADS_1


Sebulan telah berlalu. Akibat kepergiannya ayah Dafa, Sinta menjual rumah mereka serta aset kekayaan lainnya. Ia tak sanggup membayar pajak yang ada dan memilih pindah ke rumah yang lebih sederhana. Dafa dan Angelina mengikuti apa yang dikatakan oleh ibunya agar ibunya tak bersedih lagi. Karena selama sebulan terakhir, setiap malam Dafa selalu mendengar tangisan dari kamar ibunya. Meski begitu, Dafa hanya diam karena tak ingin mengusik perasaan ibunya.


Di sekolah, Galang telah menguasai beberapa teknik dari tinju. Ia juga mulai disegani dengan anak-anak di sekolahnya. Ia juga mulai berteman dengan para anak-anak nakal di sekolahnya.


Namun Galang masih tak mampu melampaui Dafa yang bisa menguasai beberapa bela diri dalam beberapa waktu. Dafa juga sering terlibat di dalam perkelahian dan setiap berkelahi ia pingsan dan bangkit menggunakan mata biru.


Dafa selalu memenangkan perkelahian seorang diri. Ia menjadi pentolan peringkat pertama di sekolahnya tersebut dan Galang peringkat kedua.


Beberapa waktu telah mereka lalui, Galang mulai merasakan kebencian terhadap Dafa yang tak pernah kalah oleh siapapun. Namun Dafa selalu ingin berteman baik kepada Galang. Hingga pada akhirnya Dafa memberikan kesempatan kepada Galang untuk menjadi peringkat pertama namun saat SMP.


Dafa akan berpura-pura menjadi anak pecundang yang dirundung oleh Galang. Karena Dafa sedari awal tak pernah ingin terlibat dalam perkelahian, entah mengapa ketika ia pingsan, ia selalu memenangkan perkelahian ketika siuman.


Jadi ia memutuskan untuk menjadi rundungan Galang agar bisa terhindar dari perkelahian lainnya.


...~...


Nasib Sinta kini mulai memburuk. Matanya mulai memburam akibat sering menangis. Ia memeriksakan kondisi dirinya ke dokter dan katanya ia menderita penyakit katarak.


Akhirnya ia resign dari pekerjaannya dan berusaha semampu mungkin untuk menggunakan uang hasil penjualan asetnya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka hingga Dafa besar.


Hingga akhirnya Sinta tak bisa melihat dan dibawa ke rumah sakit. Ia dirawat dengan dokter kenalannya yang tak lain adalah teman dekatnya.


Ketika Dafa masuk ke dalam jenjang pendidikan SMP, ia mulai mencari pekerjaan sambilan agar bisa membantu ibunya untuk membiayai kebutuhan hidup mereka. Awalnya Dafa ingin menyerah, namun hatinya menyuruh dirinya untuk jangan pernah mundur dan lakukan yang terbaik.


Karena hal tersebut, Dafa resmi mendapatkan sistem di saat Galang tak sengaja memukul Dafa dengan keras dan membuat Dafa mati. Namun hal itu langsung disangkal oleh sistem dengan ia langsung mengembalikan waktu beberapa menit sebelumnya dan memberikan sistem kepada Dafa.


Hingga akhirnya Dafa menjalani kehidupan baik karena sistem dan akan terus membaik seiring ia menyelesaikan semua masalah yang ada di hadapannya.

__ADS_1


...#### Solo Fighter ####...


__ADS_2