Sistem : Menjadi Yang Terkuat

Sistem : Menjadi Yang Terkuat
Episode 54 - Solo Fighter


__ADS_3

Episode 54 - Pertarungan yang sangat agresif


Dafa, Angelina dan Edric berhenti di depan toko yang sudah tutup untuk beristirahat sejenak. Entah siapa yang mengejar mereka, namun yang pasti mereka punya tujuan untuk membunuh antara Dafa dan Edric. Karena mereka berdua lah yang pernah berurusan dengan para gangster.


"Hei orang asing. Jika punya masalah, jangan ajak kami juga. Bahaya tau, apalagi ada adikku ini," ucap Dafa, ia mengatur nafasnya karena ngos-ngosan.


"Kenapa menuduh ku? Aku aja nggak kenal dengan mereka. Kalo aku kenal, pasti aku sapa," balas Edric.


Angelina hanya terdiam karena panik. Ia tak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya dipenuhi dengan keringat, wajahnya juga pucat.


Dafa kemudian memeluk adiknya untuk menenangkan dirinya.


"Tak apa, kita langsung pulang kok," ucap Dafa sembari mengelus rambut adiknya.


"Aku takut …," sahut Angelina dengan sangat lirih.


"Apa?" tanya Dafa yang tak jelas mendengar ucapan Angelina.


"Aku takut," ucap Angelina yang mengulangi ucapannya.


Seketika Edric menyuruh mereka untuk diam. Karena ada pergerakan yang tidak normal sedang menuju ke arah mereka. Saat Edric mengintip sedikit ke arah jalanan. Terlihat segerombolan orang memakai penutup wajah sedang mencari mereka.


"Dafa, larilah sejauh mungkin. Kalau bisa pergilah ke pos atau kantor polisi terdekat. Mintalah bantuan mereka, aku akan menahan orang-orang itu sebisa mungkin," ucap Edric, ia kemudian melepaskan jas beserta rompi nya.


"Apa kau yakin bisa menahan mereka?" tanya Dafa yang ragu dengan keputusan Edric.


"Selamatkan adikmu terlebih dahulu. Kau sayang adikmu kan?" ucap Edric.


Dafa hanya menganggukkan kepala.


"Sana, pergilah!" seru Edric.


Dafa langsung bergegas berlari bersama dengan Angelina. Segerombolan orang-orang itu langsung mengejar Dafa ketika mereka melihatnya.


Saat segerombolan orang-orang itu melewati Edric. Edric langsung melemparkan tong sampah ke arah mereka dan langsung menyerang mereka satu persatu. Tak hanya itu saja, Edric juga mengambil pistol mereka lalu membuang pelurunya.

__ADS_1


Perkelahian antara Edric dan tiga puluh orang pun terjadi. Karena senjata mereka telah disingkirkan oleh Edric satu persatu. Edric tak perlu khawatir lagi jika mereka menyerang menggunakan tangan kosong. Karena Edric adalah orang yang memiliki lima bakat bela diri. Salah satunya adalah Krav Maga.


Ternyata mereka tak hanya membawa senjata berupa pistol saja. Ternyata mereka juga membawa pisau untuk berjaga-jaga jika mereka diharuskan untuk menyerang dari jarak dekat.


"Cukup menarik," ucap Edric dengan senyuman lebar lalu menyerang mereka satu persatu.


...~...


Di sisi lain, terlihat Dafa dan Angelina terus berlari mengikuti aplikasi maps yang menunjukkan arah jalan menuju ke pos polisi terdekat. Namun semua itu tak sesuai yang diharapkan oleh Dafa. Ternyata masih ada segerombolan orang yang tetap mengejar Dafa dan jumlah mereka adalah dua puluh orang.


"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Edric? Apa dia kalah?" ucap Dafa dan terus berlari.


"Tidak, kalau terus berlari. Tenaga kami akan terkuras sangat banyak dan bisa saja mereka menembak kami menggunakan pistol mereka," gumam Dafa.


"Angelina!" panggil Dafa. "Jangan hiraukan aku, larilah terus hingga sampai menemukan polisi. Tolong, selamatkan dirimu terlebih dahulu. Aku akan berusaha untuk menghentikan mereka," ucap Dafa lalu memperlambat laju larinya.


"Ti–tidak! Aku tak mau kehilangan Kakak!" bantah Angelina dan ikut memperlambat larinya.


[ Sistem merasakan hawa ingin membunuh seseorang diantara mereka semua. ]


Angelina langsung berlari dengan cepat meninggalkan Dafa begitu saja. Dafa melepaskan jasnya serta dasinya. "Terima kasih Angelina," ucap Dafa dan langsung melompat ke arah gerombolan orang-orang yang hendak membunuh mereka.


...~...


Kembali ke sisi Edric yang habis-habisan menghajar orang-orang aneh tersebut. Ia lalu menemukan sebuah kalung yang berbentuk buaya.


"Apa mereka adalah anggota Crocodile?" gumam Edric, ia lalu menyimpan kalung tersebut dan menghitung orang-orang yang berhasil ia tumbangkan.


"Hmm … ada tiga puluh orang. Sudah lama juga aku tak berkelahi dengan orang-orang yang seperti ini," lanjut Edric lalu mengambil jas dan rompi nya.


Ia lalu mencoba mencari sebuah benda untuk mengikat mereka semua. Hingga akhirnya ia menemuka beberapa tali dan juga kabel untuk mengikat mereka.


...~...


Kembali ke sisi Dafa yang sudah berusaha menyerang mereka namun tetap tak mampu menjatuhkan mereka. Ia juga sempat ragu ketika berhadapan dengan mereka. Karena mereka bukanlah anak SMP atau SMA, melainkan orang dewasa yang mungkin saja membunuh adalah profesi mereka.

__ADS_1


[ Tuan tak memiliki niat membunuh. Itulah mengapa tuan sangat lemah. ]


"Kau tau apa tentang membunuh! Jika aku membunuh, aku pasti bakalan kena sanksi hukuman," ucap Dafa sembari menghindar dan menyerang mereka.


[ Tuan terlalu naif, pikiran tuan hanya seperti itu saja. Kalau seperti ini terus, apa tuan bisa berkembang? ]


Dafa pura-pura tak mendengar apa yang dikatakan oleh sistem. Ia terus berusaha menyerang mereka hingga mereka dapat tumbang. Namun hal itu sia-sia, karena mereka akan terus bangkit dan terus menyerang Dafa.


"Untung saja mereka tak memiliki senjata untuk mencederai lawan. Kalau saja ada, pasti aku sudah mati terbunuh," ucap Dafa.


[ Pemikiran tuan terlalu sempit. Cobalah untuk merubah sikap tuan dan terus belajar dengan orang-orang yang mampu berkelahi. Jangan hanya mengandalkan sistem, tapi andalkan juga apa yang ada di sekeliling tuan! ]


"Ah iya, aku baru ingat sesuatu," gumam Dafa.


Tiba-tiba sabetan dengan suara yang sangat nyaring mengenai wajah lawan hingga memerah. Sabetan itu berasal dari ikat pinggang Dafa yang ia gunakan untuk menyabet lawan.


"Niat membunuh ya. Sepertinya waktu itu aku pernah belajar darimu," gumam Dafa lalu menggunakan ikat pinggangnya untuk menyerang lawan.


Tak hanya menggunakan bagian yang karet, Dafa juga menggunakan bagian besi untuk menyabet bagian kaki lawan.


Kebrutalan Dafa membuat mereka terpaksa untuk menggunakan senjata mereka, yaitu pistol.


"Sialan! Kalian pakai pistol!" teriak Dafa, ia lalu berlari ke arah orang yang mengeluarkan pistol untuk menghentikannya.


...~...


Dor!!!


Terdengar suara tembakan dari kejauhan. Edric yang mendengarnya langsung menghampiri asal suara tersebut. Angelina yang juga mendengarnya tetap melanjutkan perjalanannya menuju ke pos polisi agar Dafa tak kecewa kepadanya.


"Jangan bilang, ia terkena tembakan," gumam Edric yang khawatir dengan keadaan Dafa.


"Kakak, bertahanlah sebentar!" batin Angelina sembari meneteskan air mata.


...#### Solo Fighter ####...

__ADS_1


__ADS_2