
Episode 46 - Dia bukanlah tandingan ku!
Maximus menyerang Dafa dengan pukulan beruntun, tak hanya pukulan saja, ia juga menyelingi tendangan di setiap pukulannya. Dafa terkena pukulan berkali-kali, namun ia masih berdiri tegap dengan mata yang cenderung menatap ke arah Angelina.
Angelina yang melihat kakaknya dipukulin oleh Maximus berkali-kali, ia merasa kasihan dan berteriak, "Kakak! Bertarung lah!"
Seketika luka memar bekas pukulan Maximus menghilang seketika. Wajahnya yang lebam mulai kembali seperti semula. Maximus yang belum menyadari hal tersebut, ia tetap menyerang Dafa dan pada akhirnya Dafa mulai menyerang.
Dafa yang memakai mode blue eye menghabisi Maximus hanya dalam sekali serangan. Dafa memakai pukulan One Inch dari bela diri Jeet Kune Do. Meski tangannya hanya berjarak satu inchi saja dari musuh, pukulan tersebut memberikan efek jera kepada Maximus.
Tubuh Maximus rasanya seperti tertabrak oleh mobil bermuatan pasir. Dadanya terasa sesak, pandangannya juga mulai buram. Geng Harimau Merah yang melihat Maximus tumbang, mereka langsung menyerang Dafa secara bersamaan.
Namun yang berani menghadapi Dafa hanya lima orang saja, anggota lainnya yang melihat kekuatan Dafa yang melampaui mereka semua, mereka menjadi ketakutan. Akhirnya hanya lima orang saja yang berani maju untuk menyerang Dafa.
Tiba-tiba Dafa tersadar kembali dari mode blue eye nya. Kepalanya agak pusing dan pandangannya sedikit gelap. Dafa mendengar suara sorakan agar Dafa dapat memenangkan pertarungan.
"Dafa! Semangat! Kami yakin kau pasti bisa menghabisi mereka semua!" teriakan beberapa murid yang membuat mata Dafa kembali cerah.
Dafa melihat dihadapannya ada lima orang yang akan mendekati dirinya. Dafa mengangkat kedua alisnya dan berkata, "Kayaknya ini lebih mengancam daripada yang sebelumnya."
Dafa mengeluarkan bajunya yang masuk ke dalam celana. Ia juga membuka satu kancing seragamnya yang mencekik leher. Tak lupa ia menenangkan diri dengan cara bernafas dan menunggu waktu untuk ia menyerang.
"Katanya aku bisa menggunakan bela diri Muay Thai. Apa aku coba saja ya?" gumam Dafa.
"Tapi aku tak tau cara menggunakannya," lanjutnya sembari mengelus dagu.
"Ah sudahlah. Pakai Taekwondo juga bakalan menang," lanjutnya lagi.
Seorang anggota geng Harimau Merah dari lima orang yang berani menyerang Dafa, ia langsung berlari dengan sangat cepat ke arah Dafa. Pria itu memakai seragam geng Harimau Merah dan atributnya, serta ia berambut panjang dan diikat dengan karet gelang.
"Katanya aku bisa mengaktifkan mode blue eye. Akan ku coba," ucap Dafa.
"Mode Blue Eye, berubah!" ucap Dafa namun tak ada hal yang terjadi padanya.
"Ah, apa-apaan sih. Katanya bakalan berubah," gumam Dafa lalu menghindari serangan dari pria berambut panjang tersebut.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba ada seorang dari lima orang yang berani menghadapi Dafa menyerang Dafa menggunakan tongkat baseball. Dafa yang menyadarinya langsung membanting badannya ke arah kanan agar tak terkena pukulan tersebut.
"Wah, ini sih namanya keroyokan," ucap Dafa lalu bersiap untuk serangan selanjutnya.
Seorang pria memakai kupluk berwarna hitam menyerang Dafa menggunakan tendangan menyamping dengan arah sasaran menuju leher Dafa. Dafa menangkis tendangan tersebut menggunakan tangannya, lalu ia menendang pria itu menggunakan tendangan ke depan dengan sasaran dada.
"Tendangan dibalas tendangan," ucap Dafa.
Ada seorang pria menggunakan baju sama persis seperti Bruce Lee. Namun bajunya berwarna merah dengan logo Harimau di dada kanannya. Ia mengayunkan senjata andalan Bruce Lee yaitu Nunchaku yang terbuat dari besi.
Dafa yang mendengar suara ayunan Nunchaku tersebut, ia segera menoleh ke arah asal suara tersebut dan ia melihat senjata itu melayang ke arah wajah Dafa.
Dafa seketika menangkis Nunchaku yang hendak mengenai wajahnya. Tangannya terasa sakit akibat menahan senjata itu, ia pun langsung menendang pria mirip Bruce Lee itu dengan tendangan Dwi Chagi.
"Kau kira terkena senjata itu tidak sakit!" bentak Dafa sembari menendang pria tersebut.
Dafa segera meregenerasi rasa sakitnya lalu menjaga jarak agak jauh. Tiba-tiba dari arah samping kanan dan kiri ada sebuah gir yang diikat menggunakan tali berputar ke arah Dafa.
Dafa mendadak panik dan langsung menundukkan kepalanya. "Gila ya kalian!" teriak Dafa lalu berlari menjauhi mereka.
"Kau pikir kami peduli dengan kematianmu?" ucap seorang pria yang mengayunkan gir yang berada di kanan.
Tak lama kemudian datang sebuah mobil sedan berwarna hitam dan langsung menerobos masuk dan berhenti di hadapan Dafa. Keluar seorang pria dewasa yang tak lain adalah Edric.
"Hei bocah, kau ingin mati?" tanya Edric sembari mengarahkan pistol ke kedua anak yang mengayunkan gir tersebut.
Mereka tak menghiraukan ucapan Edric dan tetap mengayunkan gir. Edric yang kesal langsung menembakkan pistolnya ke arah langit. Seketika mereka semua dia dan menjadi sunyi.
"Generasi kedua sekarang kalau berkelahi rata-rata memakai senjata. Sungguh memalukan jika kalian berada di zaman kami," ucap Edric lalu berjalan menuju tongkat baseball yang tergeletak di tanah.
Edric mengambil tongkat tersebut dan langsung mematahkannya dengan menghentakkan ke pahanya.
Krak!!!
"Aku beri satu hal, geng yang bernama Harimau Merah itu lebih buruk dari geng Harimau Putih. Harimau Merah berkelahi memakai senjata, sedangkan Harimau Putih memakai tangan kosong. Sebaiknya kalian segera membubarkan geng kalian sebelum aku yang membubarkannya sendiri," ucap Edric dengan memandangi satu persatu anggota geng Harimau Merah.
__ADS_1
Kelima orang yang melawan Dafa tadi langsung berlari menyerang Edric secara bersamaan. Namun Edric dengan lihainya, ia menjatuhkan mereka berlima dengan sekejap. Mereka berlima juga tak dapat berdiri kembali akibat tubuhnya yang terasa remuk.
"Apa dia sekuat itu?" gumam Dafa yang melihat gaya bertarung Edric. "Tapi, bela diri apa yang dia gunakan itu," lanjut Dafa yang tak pernah melihat bela diri yang digunakan Edric.
Edric berjalan ke arah geng Harimau Merah dengan menginjak tubuh kelima anggota geng itu.
"Siapa ketua dari geng kalian?" tanya Edric.
Tak ada jawaban dari pertanyaan Edric. Mereka hanya terdiam karena merasa takut dengan Edric.
"Huft, apa kalian ingin mati, ya?" tanya Edric sembari mengusap wajahnya.
"Aku tanya lagi, siapa ketua geng kalian?!" tanya Edric dengan suara yang lantang.
"Saya!"
Seorang pria memakai earphones di kedua telinganya maju ke hadapan Edric. Edric pun tersenyum dan menyapa pria tersebut dengan sebuah tamparan.
Plak!
"Pergi dari sini dan segera bubarkan geng kalian!" bentak Edric.
Seluruh geng Harimau Merah tunduk dengan perkataan Edric dan langsung bubar seketika. Kelima anggota yang tergeletak di tanah juga dibawa oleh mereka.
Edric lalu menoleh ke arah Dafa dan berjalan ke arahnya.
"Apakah aku juga bakal bernasib seperti mereka?" batin Dafa.
Edric dan Dafa saling bertatapan. Edric mengangkat tangannya seperti hendak menampar wajah Dafa. Dafa seketika langsung memukul perut Edric namun pukulan itu ditangkis menggunakan tangan.
"Jangan bilang ke CEO atas semua kejadian yang baru saja terjadi," ucap Edric lalu kembali ke mobil dan meninggalkan mereka semua.
"Dia bukanlah tandingan ku," ucap Dafa yang memperhatikan kecepatan dan ketangkasan Edric.
...#### Solo Fighter ####...
__ADS_1