Sistem : Menjadi Yang Terkuat

Sistem : Menjadi Yang Terkuat
Episode 44 - Solo Fighter


__ADS_3


Episode 44 - Aku akan melindunginya!


Di tengah jam pelajaran, Dafa mencoret-coret buku tulisnya karena tak paham dengan pelajaran yang dijelaskan oleh guru matematika. Karena pada dasarnya, Dafa belum pernah bersekolah dengan niatan untuk belajar, melainkan untuk tempat tidur sebagai pengganti waktu malamnya.


Namun karena ia sudah tak bekerja sambilan, jadinya ia tak lagi mengantuk saat di sekolah. Pada akhirnya ia diharuskan untuk belajar dan tak pernah ada satupun pelajaran yang masuk ke dalam otaknya.


"Sudah hampir seminggu aku diberikan misi dari orang itu. Kira-kira kapan aku akan menyelesaikannya?" gumam Dafa sembari mencoreti buku tulisnya.


"Dimas juga akhir-akhir ini jarang masuk. Apa gara-gara waktu itu, ya?" gumamnya lagi.


Dafa mengangkat kepalanya lalu beranjak dari bangkunya dan berniat untuk meminta izin ke toilet. Dafa mengangkat tangannya seraya berkata, "Pak, saya izin ke toilet."


Semua pandangan murid tertuju ke arah Dafa semua. Dafa yang memandangi mereka merasa bingung. "Ada apa dengan kalian?" tanya Dafa ke para murid.


"Dia berani banget bersuara pas guru MTK lagi nerangin pelajaran," bisik seorang siswa yang duduk tak jauh dari Dafa.


"Silahkan, tapi jangan lama-lama ya!" seru guru matematika kepada Dafa.


Semua murid sontak terkejut melihat respon dari guru matematika yang biasa saja terhadap Dafa.


"Baik Pak," sahut Dafa dan segera meninggalkan kelas.


"Bukan hanya murid yang segan dengannya. Guru juga tak berkutik sama dia," ucap lirih seorang murid barisan paling depan.


...~...

__ADS_1


Saat berjalan menuju toilet, Dafa melihat kelas-kelas lain yang sedang belajar dengan tenang. Tapi berbeda dengan kelas yang rata-rata adalah anggota Harimau Putih. Jangankan belajar, guru saja mereka hiraukan disaat sedang menerangkan pelajaran.


Dafa masuk ke dalam toilet kemudian membasuh wajahnya sembari melihat cermin di dinding.


"Sebenarnya sudah ada perkembangan sedikit untuk misi yang diberikan CEO. Semua murid takut pada diriku yang memiliki status sebagai ketua gangster peringkat ketiga," ucap lirih Dafa lalu membasuh wajahnya lagi.


"Anak yang mau aku lindungi juga sudah aman dari anak nakal. Tapi–" Dafa menatap ke langit-langit. "Mereka tak berani menyentuh anak itu ketika aku ada di sekolah. Tapi jika aku tak lagi di sekolah ini, maka anak itu akan diganggu lagi. Dan misiku sebenarnya untuk datang kesini adalah untuk menghabisi semua anak nakal, bukanlah menjaga anak CEO itu," lanjut Dafa lalu menatap ke cermin.


"Ngomong-ngomong, kenapa tubuhku jadi lebih berisi ya?" gumam Dafa sembari memegangi lengannya.


"Sebentar … aku kok tambah tinggi juga!" seru Dafa lalu segera pergi ke ruang UKS untuk mengukur tinggi badannya.


Dafa berdiri di bawah alat pengukur tinggi badan dan langsung mengukurnya sendiri.


"Eh! Cuma nama dua centimeter aja," ucap Dafa. "Ah yaudah, lagian dua centi itu dah cukup bagus," lanjutnya.


...~...


Saat jam istirahat, Dafa duduk di dalam kelas bersama anak CEO. Dafa lalu beranjak dari bangkunya dan berjalan menuju anak itu. Dafa lalu menarik kursi salah satu murid dan meletakkannya di samping anak CEO tersebut.


"Kita belum kenalan. Siapa namamu?" tanya Dafa sembari mencari bet nama anak CEO tersebut namun tak ada di seragamnya.


"Untuk apa kau ingin tau namaku?" tanya balik anak itu.


"Hanya ingin tau saja. Aku kan ingin berteman denganmu," jawab Dafa.


"Reno Salman, dipanggil Reno," ucap anak itu.

__ADS_1


"Baiklah, Reno. Sekarang aku ingin kau ceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada dirimu. Aku datang ke sekolah ini untuk merubah sekolah ini menjadi tentram. Maka dari itu, bantulah aku untuk–" Belum selesai bicara, Reno memotong pembicaraan Dafa.


"Kau pasti suruhan ayahku, kan. Mending kau jangan ikut campur dalam urusanku. Karena semua orang yang dikirim dengan ayahku takkan keluar dengan selamat," ungkap Reno dengan tatapan serius.


"Begitu ya. Ternyata aku bukanlah orang pertama yang dikerjakan dengannya," ucap Dafa lalu menyenderkan badannya ke bangku.


"Emang siapa yang membuat orang suruhan ayahmu tak bisa keluar dengan selamat?" tanya Dafa yang penasaran.


"Orang nomer satu di sekolah ini. Tapi tak ada satupun orang yang pernah melihatnya. Katanya dia alumni di sekolah ini," jawab Reno.


"Terus, kenapa kau selalu dibawa dan menjadi bahan bullyan oleh mereka?" tanya Dafa.


"Ah, sebenarnya itu masalah keluarga. Tapi sepertinya kau harus tau. Aku dan orang nomer satu di sekolah ini adalah kakak beradik, namun beda ibu. Ayahku menceraikan ibunya karena ibunya selalu membawa laki-laki lain masuk ke dalam rumah kami.


Karena hal itulah, mereka tak memiliki apa-apa untuk bertahan hidup. Karena sebelumnya kehidupan mereka ditanggung dengan ayahku." Reno berhenti sejenak ketika melihat Dafa mengangkat tangannya.


"Bisakah kita berbicara setelah ini? Aku sedang ada urusan sebentar," ucap Dafa lalu mengambil tasnya dan berlari keluar kelas.


"Dia benar-benar orang yang dikirim ayahku kan?" gumam Reno yang melihat Dafa tak seperti pengawal pada umumnya.


...~...


Kembali ke Dafa yang sedang berlari menuju luar sekolah. Beberapa guru sempat memanggilnya namun dihiraukan oleh Dafa. Tapi disaat ia melihat wali kelasnya, ia langsung berteriak, "Saya izin pulang cepat, Bu! Ada hal yang harus segera saya selesaikan!"


"Sial, sial, sial! Apa Galang masih bisa menahan mereka?" gumam Dafa.


...#### Solo Fighter ####...

__ADS_1


__ADS_2