Sistem : Menjadi Yang Terkuat

Sistem : Menjadi Yang Terkuat
Episode 53 - Solo Fighter


__ADS_3

Episode 53 - Makan malam bersama CEO


Terlihat Dafa sedang mengajari Dimas bela diri di tempat gym. Tak hanya latihan bela diri, Dafa juga menyuruh Dimas untuk melatih tubuhnya agar memiliki tubuh yang sehat dan juga menghindari rasa sakit disaat terkena serangan dari lawan.


Disaat Dafa sedang fokus mengawasi Dimas. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba Edric menepuk pundak Dafa lalu mengajak Dafa untuk keluar dari tempat gym tersebut.


Setelah berada di luar, Dafa lalu bertanya kepada Edric. "Apa tugasku dari CEO udah selesai?" tanya Dafa sembari menatap Edric.


"CEO mengundangmu makan malam hari ini. Jadi pastikan kau memakai pakaian yang rapi. Aku akan menjemputmu pukul tujuh," ucap Edric lalu pergi meninggalkan Dafa begitu saja.


"Boleh aku ajak adikku?" tanya Dafa sembari membuntuti Edric dari belakang.


"Silahkan, karena makan malam ini bisa dihadiri siapapun," ucap Edric lalu melangkah masuk ke dalam mobil.


"Terima kasih," balas Dafa lalu menghentikan langkahnya dan melihat mobil yang ditumpangi Edric melaju dengan cepat.


"Dasar orang aneh," gumam Dafa lalu masuk ke dalam untuk melanjutkan mengawasi Dimas.


...~...


Waktu berselang cepat, malam hari. Dafa dan Angelina menaiki sebuah mobil yang dikendarai oleh Edric. Dafa menggunakan stelan kemeja putih, celana hitam, rompi jas berwarna hitam dan jaket jas panjang berwarna hitam. Sedangkan Angelina memakai gaun merah dan sudah terdandan cantik nan rapi layaknya seorang putri raja.


Semua pakaian itu berasal dari Dafa yang membelinya saat pulang dari tempat gym. Tak hanya membeli pakaian, Dafa juga membeli ponsel baru. Karena ponsel yang lama cukup tua dan juga sudah tak layak pakai untuk zaman modern.


Ponsel yang dibeli Dafa tak seberapa begitu mahal, hanya saja ia mempelajari cara membeli ponsel yang murah namun kwalitas terbaik dari Sistem. Tentu saja ia takkan terkena genjutsu dari sales smartphone yang ada di mall tersebut.


Banyak tantangan dan rintangan disaat sedang berjalan melewati para sales yang menggoda Dafa. Meski ia tertarik dengan ucapan dari para sales yang menawarkan produknya. Sistem akan mengejutkan Dafa agar Dafa tak terpengaruhi oleh ucapan Sales.


...~...


Sesampainya mereka di depan sebuah restoran mewah. Dafa dan Angelina langsung turun dari mobil, sedangkan Edric memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Sembari menunggu Edric menghampiri mereka. Dafa mencoba skill 'Analysis' terhadap orang-orang yang berdatangan di restoran tersebut.


Skill tersebut ia dapatkan ketika mengajari Dimas untuk mengetahui sampai manakah perubahan statistik tubuh Dimas dalam beberapa hari terakhir ia mengajarinya.


Skill tersebut dapat digunakan untuk melihat statistik target yang ingin dianalisa. Statistik yang bisa dilihat adalah Strength, Endurance, Intelligence, Speed dan Potential. Tak hanya itu saja, saat sedang menganalisa target. Nama target juga ikut muncul, beserta berat badan, tinggi badan dan umur.


Maka dari itu, Dafa akan sangat mudah untuk mengenali seseorang tanpa harus berkenalan terlebih dahulu. Dan juga ia dapat menyesuaikan teknik bela diri apa yang akan ia gunakan untuk menghadapi lawan sesuai berat badan dan tingginya.


...~...


Beberapa menit kemudian, Edric menghampiri mereka dan langsung mengajak mereka masuk untuk menemui CEO. Disaat masuk ke dalam restoran, terlihat banyak sekali orang yang memakai jas dan pakaian rapi. Sudah pasti mereka adalah orang-orang kaya yang datang untuk makan di restoran tersebut.


Dari kejauhan, Dafa melihat CEO sedang duduk bersama anaknya yaitu Reno. Edric mempersilahkan Dafa dan Angelina duduk lalu dirinya pun ikut duduk di samping CEO.


"Apa kabar nak Dafa?" sapa CEO lalu menuangkan secangkir kemudian memberikannya kepada Dafa.


"Eee … tentu saja baik," jawab Dafa lalu menerima teh yang diberikan oleh CEO.


"Apa dia adikmu?" tanya CEO sembari memandangi Angelina.

__ADS_1


"Iya, dia adik saya. Namanya Angelina," jawab Dafa, ia ternyata tak terbiasa makan di restoran mahal. Sehingga Dafa dibuat gugup dengan keadaan di sana.


"Kalian laper ya. Tunggu sebentar ya, pramusaji nya bentar lagi datang kok," ucap CEO.


Tak lama kemudian, datang seorang pramusaji dengan membawa beberapa menu makanan yang dipesan oleh CEO dan ia langsung meletakkan di atas meja.


"Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Pramusaji sebelum ia meninggalkan mereka.


"Tidak ada," jawab CEO.


"Jika ada yang bisa saya bantu, bisa panggil saya dengan membunyikan lonceng ini," ucap Pramusaji lalu meletakkan lonceng di atas meja. Ia lalu meninggalkan mereka.


CEO lalu membuka tutup sajian mereka dan mempersilahkan Dafa untuk mengambil makanan yang ia mau.


"Silahkan, ambillah. Makan aja gak usah malu, harus kenyang dulu baru boleh pulang," ucap CEO.


...~...


Di sela-sela mereka makan, CEO membuka perbincangan untuk mereka semua.


"Nak Dafa, apa kamu sudah menyelesaikan tugasku?" tanya CEO.


Angelina yang mendengarnya, langsung menatap wajah Dafa dengan tatapan bingung. "Tugas apa kak?" tanya Angelina.


"Ah, anu. Sudah semuanya," ucap Dafa dengan sedikit ragu. "Tugas matematika," bisik Dafa ke Angelina.


"Ihhh … yang bener!" bentak Angelina lalu menghantam wajah Dafa menggunakan kepalanya.


"Aduh! Sakit tau," teriak Dafa lalu menjauhi Angelina.


"Jawab yang bener makanya!" seru Angelina, ia mengelap tangannya lalu menarik kerah kemeja Dafa. "Jawab yang bener nggak!" ancam Angelina sembari menodongkan garpu ke arah Dafa.


"Tch … apasih," ucap Dafa lalu melepaskan tangan Angelina dari kerah bajunya.


CEO, Reno dan Edric yang melihat kelakuan kakak beradik tersebut bertengkar malah diam. Edric lalu berdiri dan berjalan menuju Dafa dan Angelina untuk menenangkan mereka berdua.


"Jangan coba-coba ikut campur!" ancam Angelina ke Edric.


Tak disangka, Edric kembali duduk mendengar ancaman dari Angelina.


Dafa yang kesal, ia pun meminum seteguk air putih dan langsung menjelaskan tugas yang diberikan CEO.


"Dasar manusia kepoan," ucap Dafa lalu menceritakan apa tentang CEO dan dirinya.


...~...


"Kenapa nggak bilang dari kemaren! Jadinya aku salah paham kan," ungkap Angelina lalu menjewer kuping kanan Dafa.


"Lain kali, jangan disembunyiin kalo punya masalah," lanjut Angelina lalu menepuk kening Dafa.

__ADS_1


Dafa yang usai makan, ia meminggirkan piringnya dari hadapannya lalu mengusap mulutnya menggunakan tisu.


"Pak CEO yang tua, Edric yang misterius dan Reno sang pendiam," panggil Dafa ke mereka bertiga.


Mereka seketika menoleh ke arah Dafa secara bersamaan. "Ada apa?" tanya Edric.


"Saya ingin mengucapkan Terima kasih karena sudah membiayai perawatan ibu saya," ucap Dafa.


"Apa dokter memberitahumu?" tanya CEO.


"Tidak, saya sudah tahu pasti jika kalian lah yang membiayai perawatan ibu saya. Siapa lagi kalau bukan kalian," ucap Dafa dengan serius.


"Saya juga berterimakasih atas anak saya yang tidak dirundung oleh anak nakal lagi. Maka dari itu sesuai perjanjian–" CEO mengangkat sebuah koper kotak yang berisikan uang senilai 400 juta.


"Selama seminggu kan," ucap Edric lalu menyerahkan kepada Dafa. "Saya orangnya nggak bisa mengingkari janji. Jadi kalau misal ada apa-apa, kamu bisa hubungi saya. Mungkin aja saya bisa bantu kamu," lanjut CEO dengan senyuman.


Perasaan Dafa dibuat tak karuan. Ingin menangis namun tak bisa karena malu, ingin bahagia juga tak mampu karena hatinya seperti di bolak-balik. Ia hanya memasang ekspresi datar namun tetap bahagia di dalam hatinya.


"Terima kasih Pak Guntur," ucap Dafa, ia lalu berdiri dan bersalaman dengan CEO guntur.


"Sebentar, bukannya saya belum memperkenalkan nama saya kepada kamu!" seru CEO yang terkejut.


"Eh, itu karena …." Dafa melihat di jas milik CEO namun tak ada name tag pada jasnya. "Itu karena …." Dafa lalu memalingkan pandangannya ke arah Reno. "Itu karena Reno yang memberitahuku. Iya, Reno lah yang memberitahu nama CEO," sahut Dafa yang menuduh Reno.


"Eh, mana ada!" bantah Reno yang tak ingin dituduh.


Dafa membelalakkan mata kepada Reno. Reno pun terdiam dan mengikuti alur Dafa. "Iya, aku yang memberitahunya," ucap Reno dengan wajah yang murung.


CEO pun menghela nafasnya karena tahu jawaban yang didengar ternyata cukup melegakan. "Saya kira kamu anak dari CEO Neptunus. Makanya saya sempat kaget pas kamu tau nama saya," ucap CEO sembari terkekeh.


Mereka pun berbincang dan bersenda gurau layaknya keluarga ataupun teman. Hingga larut malam, mereka lalu pulang. Dafa dan Angelina diantar pulang dengan Edric, sedangkan CEO dan Reno pulang menaiki taksi online.


...~...


Diperjalanan menuju pulang. Mobil yang dikendarai Edric mogok di pertengahan jalan. Edric pun turun dari mobil untuk memastikan keadaan mobilnya. Namun tiba-tiba, ada segerombolan motor tua yang melaju ke arah mereka dengan lampu yang menyorot sangat terang.


Dafa segera membuka pintunya dan langsung menyelamatkan adiknya dari dalam mobil. Sebuah tembakan beruntun menembaki mobil hingga terbakar. Untung saja Edric sempat melompat ke samping mobil dan berlari menjauh dari sana.


"Kejar mereka!" teriak salah seorang dari penembakan mobil tadi.


Dafa, Angelina dan Edric langsung bergegas lari menuju gang kecil agar dapat terhindar dari kejaran mereka.


"Kau kenal mereka?" tanya Edric kepada Dafa.


"Justru aku yang seharusnya bertanya seperti itu kepadamu," sahut Dafa.


Dafa melihat adiknya yang tak sanggup lari. Dengan sigap, Dafa menyuruh Angelina untuk merangkul punggungnya agar digendong oleh Dafa.


"Tak apa-apa. Aku kuat kok," ucap Dafa dan bergegas lari menyusul Edric.

__ADS_1


...#### Solo Fighter ####...


__ADS_2