
Catherin White, dia anak bungsu pendiri White troops, kelurga White di Provinsi Varmos sangat dikenal, walaupun mereka tidak menguasai Provinsi Varmos tapi kekuatan White troops sangat disegani disana.
Catherin menghampiri Vivi " Maaf aku telat, tadi ada urusan mendadak, jika tahu akan seperti ini, aku akan langsung kesini tadi " ucap Catherin merasa bersalah.
Vivi tersenyum " tidak apa - apa Nona White, saya juga bisa mengatasi para cecunguk tadi "
Catherin mengulas sebuah senyum, dia kemudian duduk, di ikuti Vivi juga duduk " tadi aku mendengar jika tubuhmu hanya untuk Tuanmu ?, apa kamu yakin Nona Vivi ?" Tanya Chaterin menggoda.
" Kenyataannya memang seperti itu Nona White, saya hanya bersedia di sentuh Tuanku seorang " jawab Vivi tanpa malu sedikitpun.
Catherin terkejut, pasalnya sangat jarang Wanita kuat seperti Vivi hanya melayani satu orang, dia berpikir jika Tuan Vivi orang yang spesial.
Catherin tersenyum kecut " lupakan masalah itu, apkah kamu jadi membeli semua pesanan kamu ? "
Vivi mengangguk " Tentu saja Nona White, Tuan saya juga ingin melihat barangnya secara langsung, mungkin besok kita bisa melihatnya karena beliau sekarang sedang beristirahat " ucap Vivi sopan.
" Baiklah..., itu tidak masalah buatku, tapi apa kamu serius Nona Vivi, akan membeli kapal Pesiar ratusan Milyar itu ?" tanya Catherin lagi.
" Jika Tuan saya sudah menginginkannya, maka saya harus segera membelinya, masalah harga Tuanku tidak mempermasalahkannya " jawab Vivi yakin.
Catherin mengangguk - anggukan kepalanya, dia mengerti jika Tuan Vivi mungkin orang yang sangat kaya.
Catherin mengira jika Etan adalah pria paruh baya, karena dia mampu mengeluarkan begitu banyak uang dengan borosnya.
Mereka berdua mengobrol sejenak dikafe tersebut, Catherin tidak menanyakan hal yang privasi, pasalnya niat dia bertemu Vivi murni untuk berbisnis.
Tiba - tiba Etan menegur Vivi " Kamu ini, aku cari - cari ternyata malah disini "
Vivi berdiri sambil tersenyum " Maaf Tuan, saya sedang menemui orang yang menjual barang - barang yang tuan mau " ucap Vivi sopan.
Catherin terkejut dengan kehadiran Etan, pasalnya dia memiliki kekuatan di Ranah setengah Dewa akhir, harusnya dia bisa merasakan kehadiran seseorang, tapi Etan tiba - tiba muncul ditempat tersebut.
Sementara Vivi dia tidak kaget sama sekali, karena kekuatannya di atas Etan satu tingkat, dia sudah tahu jika Etan tadi memandangnya dari jendela kamar.
Catherin masih tertegun ditempatnya, dia menatap Etan tanpa berkedip sama sekali, dia linglung karena tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Vivi menegur Catherin " Nona White, perkenalkan beliau Etan Clark, Tuanku !"
Catherin tersadar, dia berdiri dengan salah tingkah " Catherin White, senang bertemu dengan anda Tuan Clark " ucap Catherin sopan.
" Senang bertemu denganmu juga Nona White " jawab Etan sambil tersenyum.
Mereka kemudian duduk bersama, berbicara masalah barang pesanan Etan, Catherin menjelaskan satu persatu tentang barang tersebut.
Etan mengangguk - anggukan kepalanya seolah mengerti, dia tidak banyak bertanya mengenai yang lainnya, Etan hanya fokus pada barang pesanannya.
Setelah ngobrol selama 30 menit, mereka akhirnya menyudahi pembicaraan, mereka berjanji akan bertemu lagi besok untuk melihat - lihat barang pesanan Etan.
Setelah Vivi dan Etan pergi, Catherin bebicara dengan seseorang " Paman Neil, bagaimana menurutmu kekuatan pria itu ?"
Tiba - tiba pria sepuh muncul disamping Catherin " Nona muda, tampaknya pria tersebut bukan orang sembarangan, saya tidak bisa melihat ranah kekuatannya " ucap Neil yakin.
Catherin menghela napas " jika paman saja tidak tahu kekuatannya, terus kekuatan dia sebesar apa, yang aku tahu hanya kekuatan yang berada di atas ranah yang lebih tinggi tidak bisa dideteksi oleh ranah yang lebih rendah, jangan bilang kalau dia...?"
Catherin menatap Neil, Neil mengangguk " Kemungkinan itu ada Nona Muda, dia mungkin sama kuat dengan Patriak, tapi kemungkinan dia menggunakan Artefak tingkat tinggi untuk menyembunyikan kekuatannya juga bisa, tapi...."
Catherin terkejut, pasalnya belum pernah ada sebelumnya orang yang datang ke provinsi Varmos, lebih Kuat dari kakeknya, paling mentok mereka hanya di ranah Dewa akhir.
" Paman Neil !, apa anda yakin ?" tanya Catherin penasaran.
" Kemungkinan tersebut sangat besar, tapi dia masih muda, jika dia memiliki kekuatan sebesar itu, bakatnya sungguh menantang langit !" Neil sangat khawatir dengan kehadiran Etan.
Catherin mengangguk mengerti " Paman Neil, kita pulang dan beri tahu Ayah, jika ada orang yang menakutkan, kita harus mengawasinya !"
" Dimengerti Nona Muda !"
Mereka berdua langsung kembali ke kediaman keluarga White untuk memberikan informasi tentang Etan.
Sementara itu Etan dan Vivi sudah sampai di kamar mereka, Vivi bertanya " Tuan Clark, kenapa anda membiarkan orang yang mengawasi kita ?" tanya Vivi yang menyadari keberadaan Neil saat di kafe.
Etan tersenyum " Biarkan saja, selagi mereka tidak mempunyai niat buruk, aku tidak mempermasalahkannya, lagi pula kita datang kesini bukan untuk mencari masalah " jawab Etan enteng.
__ADS_1
Etan menghampiri Vivi, dia memeluk Vivi dari belakang " yang terpenting dia tidak mengganggu kebersamaan kita ini " ucap Etan lembut.
Vivi tersenyum manis " Apa kamu mau mulai sekarang sayang " Vivi berubah menjadi Mode *****.
Etan mencium leher Vivi, Vivi mengerang keenakan, mereka berdua kemudian saling bercumbu dikamar tersebut.
Pertarungan keduanya sangat panas, mengakibatkan AC di kamar tersebut tidak berguna sama sekali.
Etan sekarang benar - benar menyukai Vivi, dia sudah tidak menganggapnya robot lagi, semenjak Vivi mempunyai jantung, Etan sudah menganggapnya seorang Wanita seutuhnya.
****
Sementara itu Catherin dan Neil yang sudah sampai dikediaman keluarga White, mereka berdua langsung menemui Natan White, Ayah Catherin dan melaporkan apa yang mereka lihat.
" Neil, apa benar ucapan Catherin ?" tanya Natan memastikan.
" Benar Tuanku, kita tidak bisa meremehan orang ini, jika dia memang hanya ingin membeli barang pesanan saja itu lebih bagus, tapi saya takut jika mereka akan memberontak " ucap Neil khawatir.
Natan menghela napas " Ayah, bagaimana menurut Ayah ?" tanya Natan pada Patriak Keluarga White.
Pria sepuh yang lebih tua dari Neil mengelus jenggot putihnya " Kita jangan bertindak gegabah, kalau bisa jangan menyinggungnya, jika yang dikatakan Neil dan anakmu benar, harusnya latar belakang keluarganya kuat, aku menyimpulkan jika dia terlahir dari keluarga tersembunyi !" Jawab Lusiah White.
Natan mengangguk mengerti " Neil !, perintahkan kesemua White troops, jangan sampai ada yang menyinggungnya, baik keluarga inti dan cabang juga harus melakukan hal yang sama, bagikan foto dia keseluruh anggota White, agar mereka semua mengenali anak ini !"
" Dimengerti Tuan !" Neil langsung menghilang dari tempat tersebut.
Semua anggota Keluarga White dan White troops menerima pemberitahuan tersebut, walaupun mereka semua tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi mereka menyimpulkan jika orang yang di foto adalah orang penting.
Sementara itu anak sulung keluarga White kebetulan sedang menginap di Sun Hotel dengan membawa beberapa Wanita, dia belum menerima pemberitahuan tersebut karena Ponselnya di matikan.
.
.
.
__ADS_1