
Etan menyeringai saat melihat Colin terkejut, pasalnya dia jadi yakin jika ucapan orang yang memburunya ternyata benar.
" Kenapa ?, kamu heran karena aku masih hidup ?" Julian mengangkat seorang wanita dengan teknik gravitasinya dan duduk dihadapan Colin.
Wanita yang diangkat Etan ketakutan, wajahnya memucat, dia jatuh terduduk, sementara Wanita yang lain langsung berhamburan histeris.
" Ahhhhh
" Ahhhhh
Para Wanita meninggalkan Colin sendiri yang sedang berhadaoan dengan Etan dan Vivi.
' glek ' Colin menelan ludah " Ka..kamu jangan macam - macam denganku !, aku adalah anak sulung keluarga White !" ucap Colin menggertak Etan.
" Apa kamu pikir aku takut dengan keluarga White ?" Ucap Etan dingin.
Etan mendekatkan Wajahnya pada Colin " Asal kamu tahu, aku bukanlah orang yang mudah di gertak !!"
" Kamu !!!!" Colin meraung.
Saat Etan akan akan menghajar Colin, Neil yang memang mengawasi setiap pergerakan Etan, dia muncul sambil membungkuk hormat pada Etan dan mencekal tangan Etan yang sedang terulur kearah Colin.
" Tuan Clark, tolong maafkan Tuan Muda, kita bisa selesaikan masalah ini baik - baik " ucap Neil sopan.
Melihat kedatangan Neil, Colin dengan sombongnya malah menantang Etan " hahaha... Sekarang kamu bisa apa ?, Neil !, bunuh dia !"
Neil melirik Colin, dia menggelengkan kepalanya, tapi Colin tidak tahu jika Neil memperingatkannya agar tidak menyinggung Etan.
Tapi Neil baru saja mau bicara, dia merasakan jika energi spiritual Etan meningkat, tiba - tiba Neil dihempaskan oleh Etan dengan mudahnya.
" Wuuzzzzz
" Bruaaakkk !!" Neil jatuh di meja kafe yang ada disekitar.
Sedetik kemudian, Neil terbangun, dia melihat jika Etan sudah mencengkram leher Colin.
Colin terlihat meronta, wajahnya membiru karena tidak bisa bernapas.
Neil menggunakan Teknik langkah cepatnya untuk menyelamatkan Colin.
Tapi saat dia sudah dekat dengan Etan dan Colin, sebuah tendangan mengenai telak perutnya.
" Buggg !!"
" Wuzzzz !"
" Duarrr !!!" Neil menabrak dinding kafe hingga hancur menjadi puing - puing.
Neil bangun dengan terhuyung - huyung sambil memegangi perutnya " Hoeekk !" Dia memuntahkan seteguk darah.
__ADS_1
Semua pelanggan kafe berhamburan keluar saat terjadi ledakan yang di sebabkan oleh Neil.
" Ahhhhh !!"
" Tolooonggg !"
" semuanya cepat lari !"
Mereka semua berbondong - bondong meninggalkan tempat tersebut, termasuk pemiliki kafe, untuk menyelamatkan diri.
Neil menatap Vivi dengan tidak percaya, padahal dia sudah menggunakan teknik langkah cepat yang dia pelajari sedari muda.
Tapi Vivi mampu mengimbangi kekuatannya, Neil kira hanya keluarga White saja yang mempunyai teknik tersebut.
Neil tidak berani maju lagi, karena dia sadar jika Vivi bukan lawannya, apa lagi dia terluka dalam.
Sementara itu tiba - tiba, Lusiah dan Natan White muncul di tempat tersebut.
Karena setiap anggota inti keluarga White, jika dalam bahaya, mereka bisa merasakannya, untuk itulah Natan dan Lusiah bergegas ke tempat tersebut.
White troops juga berkumpul seketika saat mendengar ledakan yang baru terjadi.
Colin menatap Ayahnya " A..y..ah t..o..long a..k..u !" ucap Colin terbata karena Etan mencengkaram leher Colin dengan erat.
Lusiah buka suara " Anak muda, jangan bertindak sembrono, ini tempat kami, kamu cuma berdua saja, lepaskan dia dan kita bicarakan baik - baik masalah ini "
Etan menoleh kearah Lusiah " Bicara baik - baik dengan orang yang berusaha membunuhku !, apa kamu bercanda pak tua !" ucap Etan dingin.
Lusiah menggunakan kekuatan penuhnya mencoba untuk melemahkan Etan.
Dengan secepat kilat dia menghampiri Etan, tapi saat tangannya hanya beebrapa jengkal lagi mengenai Etan.
Vivi mencekal lengannya, Lusiah terkejut, dia menoleh kearah Vivi.
Vivi menyeringai seperti iblis " Berani menyentuh Tuanku, kubunuh kamu Tua bangka !"
Lusiah kangsung melepaskan diri, dia melompat mundur, tangan Lusiah gemetaran akibat cengkraman Vivi, terlihat bekas kuku Vivi yang menyayat tangan Lusiah.
" ini.... Kekuatan mereka diluar imajinasiku !" gumam Lusiah dalam hati, saat darah mengalir keluar dari robekan kulitnya oleh kuku Vivi.
" Krak !"
" Kretak !!" Leher Colin patah, seketika dia pun berhenti bergerak.
Etan melemparkan Colin " Bruaakk !!" tubuh Colin menghantam meja dan kursi kafe.
Natan langsung memapah Colin " Colin, Colin !" Natan memanggil - manggil anaknya, tapi sayangnya Colin sudah tewas.
Etan kemudian buka suara " Aku tidak peduli kalian siapa !, tapi jika berani mengusikku, kalian semua akan kubunuh !" Nada Suara Etan penuh dengan penekanan.
__ADS_1
Mata Natan memerah, Walaupun sifat Colin menjengkelkan, tapi dia tetap anaknya, Natan memandang Etan.
" Akan kubunuh kau bajingan !!" Natan meluapkan seluruh energi spiritualnya.
Tapi tiba - tiba Lusiah berdiri di hadapan Natan dan menghentikannya " Jangan bertindak bodoh Natan !"
" Ayah !, biarkan aku membunuhnya untuk membalaskan dendam Colin !!" ucap Natan geram.
Lusiah menghela napas " Lihat ini..., kekuatan Wanita itu di atas kemampuanku, kamu mustahil bisa mengalahkannya !" Lusiah memperlihatkan lengannya yang berdarah.
Tapi Natan sudah gelap mata, dia tidak peduli jika diperingatkan oleh Lusiah, Natan berteriak " Kalian semua !, bunuh dia !"
Lusiah menggelengkan kepalanya " apakah ini akhir dari keluarga White ?" gumam Lusiah lirih.
White troops yang mendengar teriakan pemimpinnya, mereka jelasa saja langsung menyerbu Etan dan Vivi.
Sementara Etan dengan santainya membuka Dimensi penyimpanan, dia mengeluarkan seluruh pasukan Robot.
Hanya sekejap mata pasukan Robot sudah berbaris rapi didepan Etan " usahakan sebisa mungkin jangan bunuh mereka, aku madih butuh tenaga mereka !"
" Dimengerti Tuan !" Pasukan robot menjawab dengan serempak.
Pasukan Robot langsung menerjang kearah White troops ynga hanya berjumlah 50 orang, pasalnya hanya White troops yang bertugas di kota tersebut yang berkumpul.
Para White troops terkejut saat melihat ada pasukan yang bersama Etan, pasukan tersebut semuanya memakai jas layaknya Body guard.
Natan dan Lusiah juga terkejut, mereka tidak tahu darimana datangnya pasukan Etan, pasalnya mereka berdua tidak melihat dan merasakan ada padukan sebanyak itu didekat Etan.
" Apa yang sebenarnya terjadi Ayah, darimana oasukan itu datang ?" tanya Natan penasaran.
Lusiah menggeleng " Entahlah... aku juga tidak tahu jika dia dijaga oleh padukan tersembunyi "
Natan dan Ludiah bingung ingin berbuat apa, Saat Lusiah punya pikiran untuk menarik mundur White troops.
Mereka melihat jika White troops semuanya sudah tumbang, mereka dibekukan layaknya pencuri Ayam yang ditangkap polisi.
Sementara Etan dan Vivi hanya duduk Manis menyaksikan hal tersebut, saat pasukan robot sudah membekuk semua White troops.
Etan berdiri, dia menghampiri Natan dan Lusiah " Apa kalian masih ingin melawanku ?" tanya Etan dingin.
Natan yang tadinya meluap Energi spiritualnya, dia menarik Energi spiritualnya, karena dia tahu jika terus melawan, dia hanya akan jadi samsak tinju Etan.
Lusiah menghela napas " Tuan Clark, tolong maafkan kami, kami tafi hanya mencoba melindungi keluarga kami " ucap Lusiah sopan.
Lusiah sadar jika anak muda didepannya tidak bisa di pandang remeh, apalagi dia melihat sendiri jika pasukan tersembunti milik Etan, semuanya sangat Kuat, jadi lusiah pikir, dia lebih baik menundukan kepalanya pada Etan.
.
.
__ADS_1
.