Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Ken


__ADS_3

Ken terbangun karena aroma bau menyengat, matanya loyo dan pengelihatannya buram karena tidur terlalu lama. Kepalanya serentak kebelakang setelah dia sadar. Orang yang pertama dia lihat seorang medik tua yang sedang mengayun-ayunkan botol adafer di bawah hidung Ken.


    "Menyingkir," kata Ken parau.


Sang medik memandanginya, ia menutup botol adafer dan memasukannya ke dalam tas kecil. Ken mungkin bisa bangun dua hari yang akan datang jika dia tidak diciumi aroma adafer. Suntikan tadi masih membuatnya bingung, sesekali memejamkan matanya kuat-kuat saat sang medik tidak melihatnya, supaya pengelihatannya semakin jernih. Ken tidak bisa bergerak dari kursi yang didudukinya. Ken hanya bisa meregangkan jari-jarinya, hanya itu yang dapat dia lakukan. Lengannya dikebelakangkan ke balik punggung, Ken benar-benar disegel. Sang medik meminggir ke pintu, lantas Ken melihat sekeliling hanya hitungan detik dalam rangka menyesuaikan tempat yang akan dia gunakan nanti.


    Ken sudah menduga dia akan berada di tempat geng lain, Ash Death. Tapi dari sekeliling yang dilihat, ini jelas bukan barang murahan. Seni patung dari batu delf, panel-panel yang berukir burung merpati, dan yang paling membuat Ken tergoda adalah permata jantung lafiti. Semuanya serba mahal dan Ken mengasumsikan, dia tidak di Krisbow untuk saat ini. Di depannya ada meja persegi panjang, dan di setiap sisi terpendek ada dua orang yang sedang bertatapan. Dari yang Ken lihat, mungkin dia juragan di kota ini, Gordlock. Tapi jika ini rumahnya, kenapa ada kepolisian kardolla di pintunya.


    Gawat, pikir Ken, apakah aku akan ditahan? Jika benar, mungkin bisa mengejutkan saudagar ini. Berkat Krista, Ken bisa tahu berbagai informasi tentang pejabat-pejabat tinggi dan hakim-hakim Gordlock. Dia akan keluar sebelum matahari menyinari seisi tempat ini. Orang itu kelihatan tua, memakai kaca mata untuk satu matanya. Orang itu bangun dari kursinya dan bergerak ke arah Ken. Tangannya dikebelakangkan seolah-olah bersikap kalem


    "Mister Lunark, selamat bangun." Orang itu tidak akan menundukkan kepalanya kepada si ******** Krisbow.


    "Etz Djel," Ken tidak mengangkat dagu, tapi matanya melirik ke atas.


    Pria itu mengangguk. Tangan kanannya terangkat ke samping seperti meminta sesuatu, salah satu orang di dekat dinding berlari ke aranya dan memberinya sebundel kertas. "Setidaknya kau tidak payah-payah amat, Mister Lunark." Kertas itu berpindah posisi ke tangan kirinya, dan tangan kanannya memberi sinyal supaya mereka mengosongkan area ini, kecuali kedua polisi itu. Ken melirik kalung ruby yang berada di dada Etz Djel. Bakal ku ambil jantung dan ruby yang berada dipihakmu, akan ku cicil kemewahanmu supaya kau bisa merasakan kematianmu merambat perlahan-lahan. "Kau kenal aku ya?" Tanya Etz Djel.


    Ken sudah bisa menebak dari berbagai simbol ruangan ini, sudah jelas sekali dia adalah juragan Gordlock.     "Tentu saja. Kau adalah orang yang ingin menyapu bersih Krisbow."


    Lagi-lagi Etz Djel mengangguk. "Krisbow tempat para orang yang tidak tau etika, kejam, dan banyak kekerasan."


    Ken tertawa serak semacam daun kering yang digesek-gesek. "Jangan tanyakan aku soal kekerasan  Etz Djel," Ken meliriknya, "kau pikir berapa banyak kereta kuda yang kau kirim ke Helalind? Empat puluh kereta kuda yang menampung kopi dan teh hilang di perjalanan karena di rampok, dan jasad-jasadnya ditemukan tanpa jeroan karena dijual ke tukang penyembah. Tak usah payah memberi kuliah tentang apa itu kekerasan."


    "Aku tidak ingin berdebat soal kekerasan dengan seorang anak yang tinggal di Krisbow."


    Ken juga tidak ingin hal itu, dia hanya mengulur waktu sambil memeriksa seberapa kencang rantai itu. Yang menjadi kesalahannya adalah Etz Djel tidak memeriksa seluruh tubuhnya.


    Ken masih tidak tahu siapa yang sebenenarnya dia temui tadi di gang. Hantu yang muncul dari balik bayang seperti Keiko. Ken mulai menegur dirinya sendiri. Dasar ******, itu bukan Keiko. Fokus.


    Etz Djel mulai membuka segulung kertas yang dia genggam "Aku ingin tawar-menawar denganmu Mister Lunark," dia mulai membaca. "Ken Lunrak, menjadi bandar meja perjudian dan permainan mengundi nasib yang kau tata sendiri. Kau pria termuda yang pernah mengelola bisnis judi dan penanggung jawab kelab rubah. Kau seorang pemeras---"


    "Aku seorang pengusaha."


    "Tukang tipu---"


    "Demi mewujudkan mimpi."


    "Seorang pembunuh dan tak kenal ampun---"


    "Aku punya tujuan."


    "Tujuan apa?"


    "Sama sepertimu, Juragan untung." Ken tersenyum.


    Sebelum Etz Djel memulai, Ken sudah beranjak dari kursinya dan menyambar kertas atas namanya. Ken berada di balik badan Juragan dan melekatkan pisau di lehernya. Kepolisian Kardolla mulai mengacungkan senjata api ke arah mereka.


    "Aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya, tapi jangan coba-coba menyeretku dengan paksa di wilayahku sendiri dan jangan tawar-menawar denganku selagi aku di rantai."


    Etz Djel menghela nafas. "Agia," panggilnya. Kemudian hal itu terjadi lagi, sesosok wanita yang menembus dinding. Dia mengenakan baju jas putih dengan bunga mawar di kantongnya. Wajahnya sepucat mayat.


    Aku telah dibius, Ken berusaha untuk tidak panik, benar, aku telah dibius tadi.


    "Apa-apaan ini?" Geram Ken.


    "Lepaskan aku dan akan aku jelaskan."


    "Ceritakan saja ditempatmu ini."

__ADS_1


    Etz Djel kembali menghembuskan napas. "Yang kau lihat ini adalah efek Arta Mortem."


    "Jadi benar kau membiusku."


    "Bukan kau Mister Lunark, Tapi Agia."


    Ken sekejap melihat wanita itu dengan baik-baik. Tidak, tidak mirip. Ken melihat di sampingnya ada cendela yang terbuka, dia akan menggunakan itu untuk pelarian.


    "Kesalahan apa yang kau buat hari ini Mister Lunark? Kau telah menyerahkan Erikson ke Royalemerald," kata Etz Djel.


    "Kau pikir aku peduli?" Lanjut Ken sembari melihat sekitarnya lagi.


    "Dengarkan aku dulu, Mister Lunark. Aku ingin kau menyerahkannya kepadaku."


    "Aku menolak, lagian siapa yang ingin masuk kesana kalau tidak ada jalan keluar?" Ken mengakui itu.


    "Kami akan mengupahimu," terus Etz Djel.


    Ken akan menggunakan momen ini untuk kabur dari tempat ini. "Pertama-tama pistol."


    Etz Djel menyuruh pengawalnya untuk memberikan kembali pistol Ken. Dengan cepat menyambar pistol ke depan Etz Djel dan menukarkan pisaunya dengan pistol. "Kedua sarung tanganku." Ken menggiring Juragan itu ke cendela terbuka, supaya Ken bisa kabur kapan saja dia perlu. Kembalinya pistol memang sangat penting, tapi sarung tangannya membuat rasa lega yang tak perlu Ken bahas. Juragan di lepaskan dan di dorong ke depan agar jaga jarak dengannya. Sementara itu, Etz Djel merapikan Jas hitamnya.


    "Lanjutkan, Ezt Djel." Kata Ken.


    "Dua puluh juta kairo, berikan Erikson kepadaku."


    "Murah sekali, lagian nyawa itu taruhan aku akan pergi dari sini," Ken memeriksa lagi ke sekitar ruangan.


    "Itu tidak murah Mister Lunark," geram Etz Djel.


    "Lima puluh juta kairo, akan ku antar Erikson kepadamu."


    "Adakah yang melihat jam saku punyaku? Mungkin aku menjatuhkannya saat kau menarikku ke sini." Ken memeriksa sakunya masing-masing.


    "Jangan main-main denganku, Mister Lunark. Baik, lima puluh juta," tatapan Etz Djel serius.


    Sudut-sudut Ken terangkat sedikit, dia mulai tidak ragu. Ken menaruh pistolnya di balik punggungnya dan menyeragami tangannya kembali dengan sarung tangan kulit yang ketat.


    "Lagian mau kau apakan Erikson?"


    "Arta mortem. Efek obat itu bisa membuat ketagihan dan kerusakan yang parah dan, aku harus memberikan obat itu lagi kepada Agia. Agar rasa kencanduanya menghilang."


    Ken tidak yakin soal itu, tapi dia tidak peduli. "Kenapa kau mempercayakan hal ini kepadaku Etz Djel?"


    "Berapa usiamu, Mister Lunark?"


    "Tujuh belas."


    "Saat kau dua belas tahun, kau tidak pernah di penjara hingga sekarang. Kau adalah orang yang aku butuhkan selama ini, bisa dibilang tidak pernah tertangkap. Sangat cocok dengan tugas ini dan sangat berbakat." Etz Djel tersenyum kecil. "Apa lagi Leonard."


    Ken hanya mengabaikannya. "Apa maksudmu?"


    "Lukisan asli Leonard yang hilang dari rumah pertamaku. Aku yakin sekali itu ulah orang Krisbow, dan orang yang benar-benar gila karena berani masuk ke rumahku sebagai pencuri kurang lebih adalah dirimu."


    "Lukisan itu sangat bagus ya?"


    "Mahal," lanjut Etz Djel.

__ADS_1


    Ken mundur beberapa inci dari tempatnya. "Baiklah, Enam puluh juta kairo."


    "Kita sepakat lima puluh juta kairo," sembur Etz Djel.


    "Aku tidak mendengar kau putus asa," kata Ken. "Jangan coba-coba kau membohongiku Etz."


    "Dasar kau bocah sialan," berangnya.


    "Kesepakatan disepakati."


    "Kesepakatan disepakati."


    Ken langsung melompat dari cendela dan menghilang dari tempat.


>><<\ data-tomark-pass >><<\ data-tomark-pass >><<


Kedatangan Ken ke Easd seakan membahana di lorong-lorong sempit. Karena tiap preman, pencuri, penipu, dan bandar menjadi sedikit lebih berhati-hati. Murid kesayangan Lin telah pulang. Ken berjalan dibuntuti oleh Krista, mukanya macam kucing yang butuh kebenaran. Mereka memasuki lorong terakhir dan di depannya adalah sarangnya.


     "Kau kenapa?" Tanya Krista. Lagi-lagi Ken menghiraukannya.


    Mereka menaiki anak tangga yang ditempelkan di depan rumahnya. Ruangan Ken berada di atap Krista, oleh karena itu dia harus masuk ke kamar Krista dan menaiki anak tangga lewat kamar gadis itu. Sedangkan tempat Tera tidak usah susah payah untuk menaiki tangga atau dilewati siapa saja. Tapi dia iri dengan daerah Ken karena ditata ala kadarnya sehingga enak untuk melihat pemandangan dari atas.


    Ken menaiki tangga dan duduk di kursinya. Dia pikir hari ini akan melelahkan, ternyata sangat melelahkan. Ken tiap kali melihat ke angkasa, tapi hanya sesaat karena cuaca berawan. Krista menyusul Ken sambil membawakan teh pahit, minuman kesukaan si rubah.


    "Kau kenapa?" Tanyanya ulang.


    "Aku sedang berbisnis besar dan aku punya pekerjaan untukmu besok." Kata Ken sambil membolak-balik tiap lembar buku kecilnya. "Kita telah mendapatkan uang tujuh juta kairo. Apa pendapatmu?"


    "Bisa dibilang itu adalah kutukan dari pada berkat."


    "Dasar idealis Kaum Kudus. Kau itu hanya ingin hidup normal dan bahagia bukan?" Cara bicara Ken mengejeknya.


    "Dan mengagungkanNya Ken."


    Seketika Ken tertawa terang-terangan. Dia berjalan mengelilingi mejanya, berhenti di depan Krista dan duduk di meja. "Kalau enam puluh juta kairo. Apa pendapatmu?" Ken menerima tehnya. Alis Krista spontan terangkat tapi masih di muka yang biasa-biasa saja.


    Krista menghela napas. "Kau tidak akan menggeluti bisnis Ken, memangnya pekerjaan apa?"


    "Bisa dibilang sangat beresiko, bahaya, dan kemungkinan hanya kecil kita bisa menyikatnya. Tapi jika kita dapat menyikatnya---" Ken kelihatan bengong.


    "Jika kita menyikatnya?" Pancing Krista.


    Tiba-tiba saja Ken menyeringai kepada Krista. Senyumannya datang tiba-tiba dan mengagetkan seperti sambaran guntur. "Kita akan menjadi Raja dan Ratu, Krista."


    Krista tampak kebingungan tapi dia berusaha bersikap tidak peduli. "Hm."


    Ken menyerahkan dua perhiasan mahal kepada Krista, kalung ruby dan jantung lafiti. "Jual ini kepada tukang tadah dan aku ingin Reyn berada di kelab rubah besok. Satu lagi, belikan aku jam saku yang baru, tolong."


    "Milik siapa ini?"


    Ken hanya membisu. "Orang yang telah menyergapku."


    "Ken."


    "Tidak akan terulang," Ken berjanji.


    Tak seorangpun yang dapat mengungguli Ken. Pemuda ini adalah seorang yang tangguh dan paling terseram di setiap gang-gang Krisbow. Sementara itu Krista turun dari tangga. "Wahai Krista sayang, jangan lupa belikan aku jam saku yang baru. Hati-hati di jalan."

__ADS_1


    Krista meliriknya, wajah Ken penuh arti. "Gembira sekali ya?" lantas Krista langsung turun dari tempatnya dengan mulus seperti mentega di wajan.


__ADS_2