Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Reader


__ADS_3

Reader ternyata tidak sanggup. Dia tidak menyangka akan seberat ini untuk kembali melihat kampung halamannya lagi kali pertama setelah sekian lama. Dia memiliki seminggu lebih di atas septicaye untuk mempersiapkan diri, tapi kepalanya sibuk memikirkan jalan yang telah dia pilih: Silva, penyihir keji yang mengeluarkannya dari sel tahanan dan menempatkannya di atas kapal yang melaju ke utara di bawah langit tak terbatas.


    Pesisir utara terlihat sekilas untuk kali pertama pada sore hari, tapi Aye memutuskan untuk menunggu sampai senja dengan harapan pendaratan mereka disamarkan oleh selubung remang-remang. Desa pemburu paus berdiri di sepanjang pesisir dan warga bisa saja melihat mereka. Meskipun mereka berkamuflase sebagai kelompok pemburu, tak seorang pun ingin tepergok. Geak menonjol sekali merupakan kelompok yang mencurigakan.


    Mereka bermalam di atas kapal. Saat fajar keesokan harinya, Silva menghampiri Reader saat sedang mengemasi perlengkapan untuk suhu dingin yang dibagikan oleh Tera dan Krista. Sekalipun mata gadis itu masih berkantung, dia bergerak luwes, tidak kaku sama sekali, dan kalaupun kesakitan, Krista lihai menyembunyikannya.


    Silva mengangkat sebuah kunci. "Ken menyuruhku melepaskan belenggumu."


    "Apa kalian akan mengekangku lagi sewaktu malam?"


    "Terserah Ken. Dan kau, barangkali. Silahkan duduk."


    "Ke sinikan saja kunci itu."


    Silva berdeham. "Dia juga ingin aku merombak mukamu."


    "Apa? Kenapa?" Diubah penampilannya oleh ilmu sihir Silva adalah wacana yang tidak dapat diterima.


    "Kita sekarang di Bärchen. Dia ingin kau berpenampilan... lain dengan dirimu yang sekarang, Untuk berjaga-jaga."


    "Tahukah kau seberapa besar negara ini? Kemungkinan---"


    "Kalaupun kau tidak dikenali di sini, Royalemerald mungkin saja mengenalimu, padahal aku tidak bisa merubah penampilanmu serta-merta."


    "Kenapa?"


    "Aku bukan Perombak yang piawai. Semua Soulvalin kini diajari keterampilan itu, tapi aku pribadi kurang lihai."


    Reader mendegus.


    "Apa?" tanya Silva.


    "Aku tidak pernah mendengarmu mengakui bahwa kau tidak lihai."


    "Yah, memang jarang terjadi."


    Reader ngeri saat tersadar bahwa bibirnya membentuk senyuman, tapi mudah saja menghapus senyum ketika dia memikirkan bahwa wajahnya akan diubah. "Lunark ingin aku diapakan?"

__ADS_1


    "Tidak banyak. Aku akan mengubah warna matamu, rambutmu---sekalipun rambutmu cuma sedikit. Perubahannya tidak akan permanen."


    "Aku tidak mau." Aku tidak mau kau dekat-dekat denganku.


    "Tidak akan lama, juga tidak akan menyakitkan. Tapi kalau kau ingin menyanggah ken---"


    "Ya sudah," kata Reader sambil menguatkan diri. Percuma berdebat dengan Lunark, apalagi dia bisa mengiming-imingi Reader dengan surat pengampunannya. Reader mengambil sebuah ember, membalikkannya, dan duduk di sana. "Boleh aku pinjam kunci belengguku sekarang?"


    Begitu Silva menyerahkan kunci dan Reader melepaskan borgol yang membelenggu pergelangan tangannya, Silva meletakkan kotak bawaannya. Kotak itu bergagang dan terdiri dari sejumlah laci kecil yang memuat stoples-stoples berisi serbuk serta pigmen.


    "Kenapa ada biskuit?"


"Kekurangan tempat," kata Silva sambil mengeluarkan wadah berisi hitam dari sebuah laci.


    "Itu juga apa?"


    "Antimonium hitam." Silva mendekati Reader, lalu mengungkit dagunya ke belakang dengan ujung jari. "Kendurkan rahangmu, Reader. Kalau kau menggertak terus, bisa-bisa gigimu hancur semua."


    Reader bersedekap.


    "Hentikan," gerutu Reader.


    "Apa? Dongakkan terus kepalamu."


    "Apa yang kau lakukan?"


    "Menghitamkan alis dan bulu matamu. Tahu, kan, seperti perempuan yang hendak ke pesta," Reader pasti meringis, sebab Silva mendadak tertawa terbahak-bahak. "Ekspresikan mukamu!"


    Silva mencondongkan badan ke depan, rambutnya yang cokelat berombak membelai pipi Reader sementara dia membaurkan warna antimonium ke alis pemuda itu, tangannya memegangi pipi Reader.


    "Pejamkan matamu," guman Silva. Sementara jempolnya mengusap-usap bulu matanya, Reader tersadar bahwa dia menahan napas.


    "Wangimu tak seperti mawar lagi," dia berkata, lalu sontak ingin menendang dirinya sendiri. Dia seharusnya tidak menghiraukan wangi tubuh Silva.


    "Bauku barangkali seperti kapal."


    Bukan, dia berbau manis, lezat seperti... "Permen karamel?"

__ADS_1


    Mata Silva meleng, menyiratkan rasa bersalah. "Ken menyuruh kami membawa barang-barang yang kami butuhkan untuk perjalanan. Orang butuh makan, kan?" Gadis itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sekantong permen karamel. "Mau?"


    Ya. "Tidak."


    Silva mengangkat bahu dan memasukkan sebutir ke mulutnya. Dengan bola mata berputar dan mendesah. "Enak sekali."


    Reader mendadak malu karena bisa menonton Silva makan seharian. Inilah salah satu yang Reader sukai dari Silva---dia menikmati segalanya, entah itu karamel, air dingin dari sungai, atau dendeng rusa.


    "Sekarang mata," kata Silva sambil mengulum permen karamel dan mengambil botol mungil di kopernya. "Buka terus matamu."


    "Apa itu?" tanya Reader gugup.


    "Larutan yang diikembangkan oleh seorang Knoulbar bernama Avfa Parila, ini metode paling aman untuk mengubah warna mata."


    Silva lagi-lagi mencondongkan badan. Pipinya bersemu merah karena kedinginan, sedangkan mulutnya terbuka sedikit saja. Bibirnya hanya beberapa inci dari bibir Reader. Jika Reader duduk lebih tegak, mereka niscaya berciuman.


    "Kau harus memandangku," perintah Silva.


    Aku sudah memandangimu. Reader memalingkan pandangan sehingga terpaku ke mata Silva. Ingatkah kau pesisir ini, Silva? Reader ingin bertanya, sekalipun dia tahu kalau gadis itu ingat.


    "Mataku kau jadikan apa?"


    "Kenapa kau tidak berhenti bicara? Apa kau ingin aku membutakanmu?"


    Reader sontak bungkam.


    Akhirnya, Silva memundurkan badan sambil menelaah rupa Reader. "Kecokelatan," katanya. Kemudian dia berkedip. "Seperti permen karamel."


    "Erikson hendak kau apakan?"


    Silva menegakkan tubuh dan melangkah mundur, ekspresinya gentar. "Apa maksudmu?"


    Reader enggan melihat sikap Silva yang santai, tapi itu tidak penting. Reader melirik ke balik bahunya untuk memastikan tak ada yang mendengarnya. "Kau tahu persis maksudku. Aku tak percaya barang sedetik pun bahwa kau akan membiarkan orang-orang ini menyerahkan Erikson kepada Dewan Saudagar Kalterville."


    Silva mengembalikan botol ke laci kecil. "Kita harus melakukan ini sekurang-kurangnya dua kali lagi sebelum mencapai Royalemerald supaya warnanya bisa semakin pekat. Kemasi barang-barangmu. Ken ingin kita siap berangkat tepat waktu." Dia menutup kotak dan memungut belenggu. Lalu pergilah dia.


~Selanjutnya Reader 2

__ADS_1


__ADS_2