Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Silva 3


__ADS_3

Dagu Silva terantuk ke bawah dan dia serta-merta terjaga. Apakah dia ketiduran?


    Reader berdiri mematung di lorong kabin. Badannya memenuhi ambang pintu, terlalu jangkung sehingga terpaksa nunduk di pintu geledak bawah. Sudah berapa lama Reader memperhatikannya? Silva cepat-cepat mengecek denyut nadi Krista, lega saat mendapati bahwa kondisi pernapasan dan denyut nadinya stabil untuk sementara ini.


    "Apa tadi aku tidur?"


    "Tidur-tidur ayam."


    Silva meregangkan tubuhnya yang letih dan mengusap mata untuk mengusir kengantukannya. "Tapi tidak mendengkur?" Reader tidak berkata apa-apa, dia malah memperhatikannya dengan matanya yang sebiru kepingan es. "Mereka memperbolehkanmu memegang silet?"


    Tangan Reader yang terbelenggu naik ke rahangnya yang baru dicukur. "Tera yang mencukur." Tera pasti memotong rambutnya juga. Dari petak-petak nan berantakan, rambut pirang panjang Reader telah dipangkas. Rambutnya kependekan, benar-benar pendek hingga tidak bisa menutupi bekas luka sayat sewaktu di Hellgame.


    Namun, Reader pasti senang terbebas dari janggutnya, pikir Silva. Setelah Dushenka menuntaskan misinya, mereka akan mendapatkan gelar perwira. Mereka harus bercukur bersih dalam penerimaan terebut, dan jika Reader berhasil mengirim Silva ke Royalemerald, dia pasti sudah mendapatkan gelar itu. Selamat atas promosimu baru-baru ini sebagai pembunuh yang berpangkat. Silva semakin tersadar kalau sedang berhadapan dengan siapa, dia duduk tegak, dagunya terangkat.


    "Näme isleýärsiň, Reader?"


    "Tolong jangan."


    "Apa? Kau suka kalau aku pakai bahasa Kalterville?"


    "Aku tidak mau mendengar bahasaku dari mulutmu."


    Silva merasakan pipi pemuda itu memanas tanpa permisi. Memutuskan untuk iseng, Silva berbicara dalam bahasa Bärchen. "Tapi, aku suka kalau aku berbicara dengan bahasamu. Katamu kedengaran jernih." Memang benar begitu, Reader suka logat dari Silva---dari melafalkan huruf hidup seperti putri, berkat guru-gurunya di istana kecil.


    "Jangan memancing-mancing aku, Silva," katanya. Dalam bahasanya Kalterville, suaranya keras dan brutal, logatnya serak seperti sedang berbicara dengan pembunuh di penjara. "Surat pengampunan adalah mimpi yang sulit diingat-ingat. Lebih senang mengingat denyut nadimu yang melemah di bawah cengkeraman jemariku."


    "Coba saja," kata Silva, dia sudah bosan akan ancaman Reader. "Tanganku sekarang tidak terkekang, Reader." Silva menekuk ujung jemarinya, Reader terkesiap saat denyut nadinya bertambah cepat.


    "Penyihir," erang Reader sementara keringat muncul di atas alisnya.


    "Masa tidak ada julukan yang bagus selain itu? Saat itu tentunya kau punya ratusan panggilan untukku."


    "Ribuan," semburnya sambil memegangi dadanya.


    Silva mengendurkan jari-jarinya, dia tidak paham apa yang sedang ia lakukan. Menghukumnya? Padahal Reader berhak untuk membecinya.


    "Pergi, sana, Reader. Aku harus merawat pasienku." Silva memusatkan perhatian untuk mengecek suhu tubuh Krista.

__ADS_1


    "Akankah dia bertahan?"


    "Memang kau peduli?"


    "Tentu saja, dia manusia."


    Silva mendengar kalimat tertinggal yang tidak terucap. Dia manusia---lain denganmu. Orang-orang Bärchen meyakini bahwa kaum Juwel bukan manusia. Mereka bahkan tidak sebanding dengan hewan, justru lebih hina, sebagai wabah, sebuah kutukan.


    Silva mengangkat bahu. "Aku tidak tahu, aku sudah mengerahkan seluruh upayaku. Yang jelas, ini di luar bidangku."


    "Ken bertanya akankah Cherry Blossom mengirim utusan untuk ke üdeshleg."


    "Kau mengetahui Cherry Blossom?"


    "Kharfa barat adalah topik pembicaraan menarik di Raregate."


    Silva terdiam, tanpa sepatah kata pun, dia menyingsingkan lengan baju. Dua bunga merah muda mekar di sebelah dalam lengannya. Dia bisa saja menjelaskan kegiatannya di sana, bahwa dia tidak pernah mencari nafkah dengan berbaring di ranjang, tapi kegiatan Silva di sana bukan urusan Reader. Biarkan pemuda itu mempercayai apa saja sesukanya.


    "Kau memilih bekerja di sana?"


    "Kenapa? Kenapa kau bertahan di Kalterville?"


    Silva menggosok-gosok matanya. "Aku tidak mau meninggalkanmu di Raregate."


    "Kau yang memerosokkanku di sana."


    "Perbuatanku keliru, Reader."


    Amarah menyala-nyala di mata pemuda itu, wajah ketenangannya tanggal seketika. "Keliru? Aku menyelamatkan nyawamu dan kau menudingku sebagai pedagang budak."


    "Ya," kata Silva. "Dan setahun terakhir ini, aku mencari cara supaya bisa memperbaiki kekeliruanku."


    "Pernahkah bibirmu berkata jujur?"


    Silva bersandar di kursi dengan loyo. "Aku tidak pernah membohongimu. Tidak akan."


    "Pertama, kau membohongiku dengan merombak wajahmu. Dan kedua, kau berbohong dalam bahasa Knuddelbär, seingatku."

__ADS_1


"Diucapkan tepat sebelum kau menangkap dan menjebloskan aku ke kurungan. Mestikah aku berkata jujur?"


    "Aku tak akan menyalahkanmu. Kau tidak mungkin bertindak lain. Berdusta adalah amal kaum kalian." Reader memicingkan mata ke leher Silva. "Kau tidak memar."


    "Sudah aku hilangkan, masalah buatmu?"


    Reader diam seribu bahasa, tapi Silva melihat ekspresi malu melintas di wajahnya. Reader selalu bertarung dengan kebaikan hatinya sendiri, sama seperti Krista. Untuk menjadi seorang Dushenka, dia harus membunuh baik-baik dalam dirinya. Namun, dirinya yang sebenarnya tak kunjung pergi, sedangkan Silva mulai melihat sosok Reader yang sebenarnya di hari-hari kebersamaan mereka selepas kapal karam. Ingin Silva meyakini bahwa Reader yang itu masih ada, semata-mata terkurung di dalamnya, sekalipun Silva telah mengkhianatinya dan menanggung entah apa di dalam Raregate.


    "Aku harus merawat Krista," Silva mencoba untuk mengusir raksasa itu dengan segera.


    Reader tidak beranjak dari tempatnya, dia malah berkata, "Silva, pernahkah kau memikirkanku? Apakah aku mengusik mimpimu?"


    Silva mengangkat bahu. "Soulvalin bisa tidur kapan pun dia mau." Walaupun dia tidak bisa menggendalikan mimpinya.


    "Tidur adalah kemewahan di Raregate. Tidur itu bahaya. Tapi sewaktu aku tidur, aku memimpikanmu."


    Silva mendongak.


    "Betul," kata Reader. "Tapi kali aku memejamkan mata."


    "Apa yang terjadi dalam mimpimu?" tanya Silva, bersemangat sekaligus takut untuk mendengar jawabannya.


    "Yang seram-seram. Siksaan yang paling kejam. Kau menenggelamkanku pelan-pelan. Kau membakar jantungku dari dalam dadaku. Kau membutakanku."


    "Aku monster?"


    "Monster, bidadari es. Kau menciumku, membisikan cerita-cerita ke telingaku. Kau memelukku selagi aku tidur. Tawamu mengejar sampai aku bangun."


    "Sedari dulu kau memang membenci tawaku."


    "Aku sangat suka dengan tawamu, Silva. Dan hati pendekar teguhmu, aku mungkin pernah menyukaimu."


    Mungkin pernah dulu, sebelum dia mengkhianati Reader. Kata-kata itu menusuk-nusuk hingga nyeri.


    Dia tahu seharunya dia tidak buka mulut, tapi Silva tidak sanggup. "Lalu, apa yang kau lakukan untukku?"


    Kapal doyong sedikit saja, lentera-lentera bergerak ke sana-kemari, mata Reader menyala-nyala biru api di pantulan lentera. "Semuanya," katanya sambil beranjak. "Semuanya."

__ADS_1


__ADS_2