Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Reader


__ADS_3

Di dalam ruangan tanpa ventilasi dan gelap, Reader hanya bisa diam membisu sambil mendengarkan kata-kata dari pemuda pucat.


    Reader mengenali monster, sekali lirik saja, dia tahu bahwa Ken Lunark menghabiskan waktu yang cukup lama di kegelapan. Reader bisa merasakan aura kelam dari dalam pemuda itu. Dia mendengar nama Lunark di penjara, kriminal muda yang dimana dulu melihat seluruh anak seumurannya mati di hadapannya. Dulu ia sempat ditanya, tapi hanya diam saja. Sejak belasan tahun, dia meladeni pekerjaan kotor, brutal, keji. Lunark dijuluki ******** Krisbow karena rela malakukan dosa apa saja. Dan sekarang iblis itu ingin membobol Royalemerald? Hendak memaksa Reader melakukan hal pemberontakan, lagi.


    Reader terus memakukan pandangannya kepada Lurnak, tanpa ia sadari, Silva sedang mengawasinya dari tadi. Gadis yang membuatnya tidur dan terbangun secara terikat di kursi, seperti tempat balai judi. Pemuda itu menghampiri Reader dan mulai bicara----mengenai Arta Mortem, mengenai imbalan luar biasa, dan mengenai upaya lawakan untuk menyerbu masuk Royalemerald. Reader tidak tahu mana yang fakta dan mana yang fiksi, tapi sesuai Lunark bercerita, Reader dengan bulat mengatakan, "Tidak."


    "Percayalah kepadaku, Reader. Dibuat tidur dan bangun di tempat asing memang bukan awal yang baik dari sebuah kemitraan, tapi kau tidak memberi kami pilihan, jadi berpikirlah terbuka."


    "Kau boleh datang dan berlutut, tapi jawabanku tetap akan sama."


    "Kau tentunya tahu, aku bisa mengembalikanmu ke sana, mudah saja karena Helf sudah berada di ruang kesehatan."


    "Silahkan saja, aku tidak sabar menyampaikan rencana konyolmu."


    "Kau pikir kau akan kembali dengan lidah utuh?"


    "Ken," kata Silva.


    "Lakukan sesukamu," kata Reader. Dia tidak akan lagi menghianati negerinya.


    "Sudah aku bilang," tukas Silva.


    "Jangan sok tahu aku penyihir," hardik Reader, tapi tatapannya masih ke pemuda pucat, dia tidak ingin lagi menatapnya.


    Tera meluruskan diri dari kursi goyangnya, setelah dari Hellgame, dia bisa melihat orang itu dengan jelas. Berkulit coklat dan mata abu-abu, dia berperawakan seperti burung bangau. "Tanpa dia, kandaslah kita," kata Teram "Mana mungkin kita membobol Royalemerald dengan keadaan buta."


    Inginnya Reader tertawa, "Royalemerald tidak bisa dibobol sama sekali." Benteng kuno dan gabungan dari lima lapis tembok. Leluhur yang membuat benteng itu dan, generasinya tidak putus hingga sekarang. Sekaligus menyimpan harta karun dengan keagamaan paling keramat. Royalemerald mustahil di tembus.


    "Ayolah, Reader," kata si iblis. "Pasti ada yang kau inginkan. Misi kami mulia, bahkan mengeluarkan dari tempat seperti itu bisa mencegah peperangan sana-sini."


    "Itu tidak akan terjadi, Erikson akan divonis bersalah dan dihukum mati."


    "Pandanganmu kurang jauh, Reader. Mungkin orang-orang Bärchen tidak ingin negaranya terombang-ambing, begitu pula dengan negara lain. Bukankah kau prajurit, Reader?"


    Reader paham jika Erikson di tangan manapun akan digunakan sebagai kekuatan, termasuk perang. Tapi jika itu memang untuk Kaum Kudus, tidak ada salahnya untuk membuang anak-anak keji. "Aku menolak," kata Reader.


    "Iming-iming enam juta juga tidak merubah otakmu?"


    Reader meludah, "Simpan sendiri uangmu, Lunark."


    Tanpa sadar, di benak pikiran Reader berpikir hal aneh-aneh. Tidak apa, jika dia mengantar kembali ke Hellgame, Reader tidak akan baur lagi untuk menghianati negaranya, dia akan kembali ke Hellgame dengan hati yang damai, meski tak lagi berlidah. Reader mendongak ke belakang, sejauh mungkin hingga menempel erat dengan ikatannya. Seluruh perhatiannya ia pusatkan kepada Lunark, menutup bibirnya serapat mungkin dan mulai berbicara. "Aku akan menjalin kesepakatan denganmu."


    "Aku mendengarkan."


    "Aku akan memberimu denah Royalemerald, setidaknya itu sudah cukup."

__ADS_1


    "Imbalan apa yang harus aku bayar untuk informasi nan berharga itu?"


    "Aku tak butuh uangmu, aku akan memberikan denah itu secara cuma-cuma." Reader malu mengatakan itu, tapi dia tetap saja mengucapkannya. "Jika kau membiarkanku membunuh Silva Liveko."


    Si pemudi berkulit coklat mengeluarkan suara jijik, rasa muak terhadap Reader yang ketara sekali, sedangkan pemuda yang duduk di atas meja berhenti mencoret-coret, napasnya tersendat-sendat. Walau begitu, Ken tidak tampak terkejut, dia kelihatan senang. Reader merasakan firasat tidak enak bahwa si iblis itu tahu persis ini akan terjadi.


    "Aku bisa memberikan imbalan yang lebih bagus."


    Apa yang lebih bagus dari balas dendam? "Tak ada hal lain yang aku inginkan."


    "Aku bisa menjadikanmu Dushenka lagi."


    "Memangnya kau tukang sihir? Dewi Syel? Aku percaya takhayul, tapi tidak bodoh."


    "Kau bisa menjadi keduanya, tapi intinya bukan itu," Ken memasukan tangannya ke jas bewarna gelap. "Ini," kata pemuda itu sambil menyerahkan secarik kertas ke pemudi berkulit coklat, iblis satunya lagi. Yang satu ini berjalan dengan langkah enteng, melayang-layang seperti manusia dari dunia lain.


    Gadis kerdil itu menyambut kertasnya dan menunjukannya ke Reader. Dia orang Bärchen, hanya sedikit dia belajar bahasa Kaltervile di penjara. Tapi bahasa Kaltervile sudah cukup jelas dan sementara matanya menelaah lembaran kertas. Dari situ jantung Reader mulai berdegup kencang.


    Menimbang bukti baru yang telah kami terima, Van Bould Reader dinyatakan bebas tak bersyarat dari tuduhan sebagai pedagang budak. Dengan ini menyatakan bahwa ______________ tidak pernah dan tidak akan terlibat dalam masalah kasus pedagang budak, bukti ini berlaku efektif saat ini juga. Disertai dengan permohonan maaf dari pengadilan, dan uang transportasi untuk pulang ke kampung halamannya. Demikian surat ini langsung dari progam pemerintah Kaltervile tanpa melakukan tekanan apapun dan disertai permohonan maaf dari pengadilan dan pemerintah Kaltervile.


    "Bukti apa?"


    Ken menyandar di kursi yang tak lama Tera tempati. "Sepertinya Silva Liveko yang akan kena tuduhan berbohong di bawah sumpah."


    Kini Reader memandang Silva, dia tak mampu menahan diri, amarahnya meluap-luap. Kejam, berbalas budi tidaklah cukup, gadis itu akan menggantikan namanya kalau Silva pedagang budak sebenarnya.


    "Dua bulan," kata Silva pelan.


    "Dua bulan?" Reader kali ini tertawa terang-terangan. Yang lain memperhatikan Reader dengan waswas


    "Dia sesinting apa?" Tanya Tera sambil menempelkan tangannya ke revolver kesayangannya.


    Ken mengangkat bahu. "Dia bisa dibilang tak stabil, tapi hanya dia yang kita punya."


    Dua bulan, mungkin dijebloskan ke penjara nan nyaman, tempat di mana dia bisa memikat kedua penjaga dan mengantarkan dia roti dan susu hangat, atau dia juga akan membujuk dengan mulutnya yang manis untuk membayar denda saja.


    "Perempuan ini tak bisa dipercaya begitu saja, Lunark. Rahasia apapun yang ingin kau peroleh untuk mendapatkan Erikson akan di serahkan kepada Juwel."


    "Biar aku yang menghawatirkan itu, Reader. Kau tinggal urus bagianmu saja. Dengan begitu, Erikson dan arta mortem akan berada di tempat orang-orang yang berkemampuan untuk menjadikannya rumor belaka."


    Jika Lunark si iblis berkata jujur, dia akan kembali ke kampung halamannya. Kerinduan akan rumahnya menyesak di dada. Mendengar bahasanya terucap, bermain bersama teman-temannya, mencicipi buah esma yang manis tak bisa Reader lupakan. Disambut kembali oleh keluarga lama tanpa dibebani oleh aib. Dan bila namanya dibersihkan, dia bisa kembali menjadi Dushenka lagi, tentara nomer satu Bärchen. Dengan itu dia bisa membayar kesalahan tindakan makar.


    "Bagaimana jika Erikson sudah mati?" Tanyanya kepada Lunark.


    "Etz Djel bersikeras kalau dia masih hidup."

__ADS_1


    Dari mana saudagar yang Ken ucap itu paham betul tentang orang-orang Bärchen. Reader tahu betul jika orang yang mempunyai pengetahuan semengerikan itu, dia benar-benar tidak akan diserahkan dengan mudah begitu saja. "Bagaimana jika dia sungguh sudah mati, Lunark?"


    "Kau tetap akan diampuni."


    Sebelum dia keluar dari Hellgame, dia dengan mudah menimbang ikut dengan kru iblis ini, tidak tahu apa dampaknya tapi di sinilah dia. Dionisius pasti akan merobek-robek surat pengampunannya, dia pasti sangat tertekan dengan kelakuan Reader selama ini. Sepertinya melakukan ini kepada Silva. Tidak, gadis itu benar-benar salah, dan aku tidak. Pasti Dionisius akan mengerti, dia pasti akan mengampuni Reader. Sebagai ketua Dushenka tahu benar apa kesalahan anak-anaknya. Atau Ken yang akan bertindak, dia pintar dalam sumber dan koneksi sana-sini.


    "Kami akan melepaskanmu," kata Lunark. "Kuharap penjara belum menyapu bersih sopan santunmu."


Reader mengangguk, maka si gadis berkulit coklat itu melepaskan tali dengan pisau yang harus diperhatikan.


    "Setahuku kau sudah kenal Silva," Ken lanjut. "Gadis manis yang membebaskanmu adalah Krista, pencuri rahasia dan sangat ahli di bidangnya. Tera Antares, dia adalah penembak jitu terbaik kami. Kelahiran Riverdale, tapi jangan dianggap remeh. Yang satu ini Reyn, pakar peledak nomer satu di Krisbow."


    "Hendrik lebih mahir," kata Silva.


    Pemuda itu mulai turun dari meja. Rambutnya yang kemerahan jatuh menutupi matanya dan berkata untuk pertama kalinya. "Dia sembrono, dan tentunya tidak terlalu mahir."


    "Dia tahu bidangnya."


    "Aku juga."


    "Masa?" Tera menengahi.


    "Reyn orang baru di lapang ini, dia jauh lebih hebat kelak," Ken memejamkan matanya.


    Semuanya secara mendadak melihat Ken dengan ekspresi wajah kurang meyakinkan. Reader merasakan ada hawa yang tidak betul, dia mulai kebingungan dan sedikit paham solidaritas mereka.


    "Apa?" Ulang Ken.


    "Tidak, mungkin aku hanya salah pemikiran kalau kau sedang bertingkah seperti seorang kakak," kata Krista. Ken seperti acuh tak acuh mendengar omongan Krista.


    "Pantas saja dia masih baru, dia kelihatan dua belas tahun," sergah Reader.


    "Aku enam belas tahun," kata Reyn murung.


    Reader meragukan hal itu. Maksimal 15. Bahkan rambutnya saja belum perlu dicukur. Usianya yang 18, Reader curiga kalau Ken lebih tua darinya. Matanya memang sudah renta, tapi tidak mungkin kalau Ken lebih tua darinya.


    Untuk pertama kali Reader memandangi mereka dengan sungguh-sungguh. Tim macam apa ini, untuk misi yang sangat berbahaya? Hanya dia seorang yang tahu misi riskan apa yang akan mereka jumpai.


    "Kita sebaiknya merekut Derry," kata Tera, "dia jago dalam tekanan."


    "Aku tidak suka ini," Krista mengiyakan.


    "Aku tidak tanya," kata Ken. "Lagian, Reyn bukan hanya salah satu orang yang mahir meledakkan sesuatu, dia juga poli asuransi kita."


    "Asuransi untuk apa?" Tanya Silva

__ADS_1


    "Perkenalkan, dia adalah Reyn Etz djel," kata Ken Lunark, sementara pipi Reyn memerah karena malu. "Putra Lyen Etz Djel dan jaminan kalau kita akan mendapatkan uang enam puluh juta kairo."


__ADS_2