Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Ken


__ADS_3

Dua hari setelah Krista keluar dari ruang kesehatan, barulah Ken sanggup menghampirinya. Dia sedang duduk sendiri, kakinya disilangkan, punggungnya disandarkan ke samping kapal, sambil menyesap secangkir teh.


    Ken mendekati Krista dengan terpincang-pincang. "Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu."


    "Aku baik-baik saja, terimakasih sudah bertanya," kata Krista sambil mendongak untuk memandang Ken. "Bagaimana kabarmu?"


    Ken merasakan sudut-sudut bibirnya terangkat. "Luar biasa." Dengan kagok, dia menurunkan diri ke samping Krista dan meletakkan tongkatnya.


    "Kakimu sakit?"


    "Tidak apa-apa. Ini." Ken membuka lembaran gambar sektor penjara buatan Reyn di antara mereka. Sebagian besar denah Reyn menunjukkan Royalemerald dari atas, tapi gambar penjara tampak samping, berupa lantai yang bertumpuk-tumpuk.


    "Aku sudah lihat," kata Krista. Dia menyasarkan jarinya ke denah dari lantai bawah tanah sampai atap. "Enam lantai sampai ke cerobong asap."


    "Kau sanggup?"


    Alis Krista yang bewarna gelap terangkat. "Adakah pilihan lain?"


    "Tidak."


    "Jadi, kalau misalkan saja aku tidak sanggup, akankah kau menyuruh Aye untuk putar balik?"


    "Akan kucari opsi lain," ujar Ken. "Entah apa, tapi aku tidak akan menyerah."


    "Kau tahu aku sanggup Ken, dan kau tahu aku takkan menolak. Jadi, kenapa kau bertanya?"


    Karena sudah dua hari aku mencari-cari alasan untuk berbicara denganmu.


    "Aku ingin memastikan kalau kau sudah tahu apa yang akan dihadapi nanti dan bahwa kau sudah mempelajari denah ini."


    "Bakal ada ujian?"


    "Ya," kata Ken. "Jika kau gagal, kita semua akan terperangkap di penjara Bärchen."


    "Hmmmm," Krista berkata, lalu menyesap tehnya. "Dan aku akan mati." Dia memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya ke lambung kapal. "Yang kukhawatirkan adalah rute pelarian kita hanya ada satu cara jalan keluar."

__ADS_1


    Ken ikut-ikutan menyandar ke lambung kapal. "Aku juga," dia mengakui sambil meregangkan kakinya yang cedera. "Tapi, justru itulah alasanya orang-orang Bärchen membangunnya."


    "Kau mempercayai Aye?"


    Ken melirik Krista. "Adakah alasan untuk tidak mempercayainya?"


    "Tidak, tapi kalau saja septicaye tidak menunggu di pelabuhan---"


    "Aku lumayan mempercayainya."


    "Dia berhutang kepadamu?"


    Ken mengangguk. Dia mengedarkan padangan ke sekeliling, lalu berkata, "Meski dia seorang bajak laut, dia mempunyai saudari yang tinggal di dekat Feiling dan harus ia nafkahi, para awak meninggalkannya karena hatinya sudah lembek. Kapalnya, kargo, semua telah hilang. Aku memberinya uang."


    "Kau baik, ya."


    Ken menyipitkan matanya. "Aku bukan tokoh dalam cerita anak-anak yang berbuat iseng dan mencuri dari orang kaya untuk mengasihani kaum papa. Ada informasi yang didapat dan informasi yang harus dikumpulkan. Aye mengenal baik rute-rute angkatan laut seperti punggung tangannya sendiri."


    "Ken tidak pernah memberi secara cuma-cuma," kata Krista, tatapanya terpaku pada Ken lekat-lekat. "Aku tahu, tapi intinya, kalau septicaye dicegat, kita tidak bisa meninggalkan Üdeshleg."


    Katakan kalau kau percaya. Ken ingin Krista mengatakan itu. Pekerjaan ini lain dengan pekerjaan yang pernah dia coba sebelumnya. Tiap keraguan yang Krista kemukakan memang wajar dan semata-mata menggaungkan rasa takut yang sudah terbetik di kepala Ken. Dia sempat menghardik gadis itu sebelum berangkat dari Moontown, mengatakan bahwa dia bisa merekut laba-laba baru untuk pekerjaan itu apabila Krista meragukannya. Ken ingin Krista menyampaikan bahwa dia yakin Ken pasti bisa, bahwa Ken sanggup mengantarkannya masuk ke dalam Royalemerald dan mengeluarkan mereka dengan selamat dan utuh sebagaimana yang pernah dia lakukan dalam pekerjaan-pekerjaan terdahulu beserta kru-kru lain. Ken ingin Krista menyampaikan bahwa dia percaya kepada Ken.


    Tapi, Krista hanya berkata, "Kudengar Rav Frederic yang menyuruh kita ditembaki di pelabuhan."


    Gelombang kekecewaan nan janggal melanda Ken. "Lalu?"


    "Jangan kira aku tidak memperhatikan kalau kau gemar mengincar dia, Ken."


    "Dia cuma bos biasa, cuma seorang preman Krisbow."


    "Bukan cuma itu. Ketika kau menantang geng-geng lain, perkaranya hanya masalah bisnis belaka. Tapi kalau terkait Rav Frederic, masalahnya pribadi."


    Belakangan ini, Ken tak tahu persis kenapa dia buka mulut. Dia tidak pernah memberi tahu siapa-siapa, tak pernah mengucapkan kata tersebut keras-keras. Namun kini, Ken menatap layar di atas mereka dan berujar, "Dia membunuh kakakku."


    Dia tidak perlu melihat wajah Krista untuk merasakan bahwa gadis itu terguncang. "Kau punya kakak?"

__ADS_1


    "Banyak yang dulu aku punyai," guman Ken.


    "Aku turut prihatin."


    Apakah dia menginginkan simpati dari Krista? Itukah sebabnya dia memberi tahu gadis itu?


    "Ken---" Krista ragu-ragu. Apa yang akan gadis itu lakukan sekarang? Coba-coba menepuk lengan Ken untuk menghiburnya? Mengatakan bahwa dia mengerti?


    "Aku akan berdoa untuknya," kata Krista. "Supaya damai di sana, kalaupun di sini tidak."


    Ken menoleh. Mereka duduk sangat berdekatan sampai-sampai pundak mereka nyaris bersentuhan. Mata Krista teramat cokelat sehingga hampir hitam dan, sekali ini, rambutnya tergerai. Dia selalu menggulung rambutnya erat-erat. Berada sedekat ini dengan orang lain seharusnya membuat Ken merinding. Namun, pemuda itu justru berpikir, Apa yang akan terjadi kalau aku semakin dekat?


    "Aku tidak menginginkan doamu," kata Ken.


    "Kalau begitu, apa yang kau inginkan?"


    Jawaban lama sontak mengemuka di pikirannya. Uang. Balas dendam. Suara Keiko tak lagi terngiang-ngiang dalam kepalaku selamanya. Namun, jawabannya berbeda dari suara batinnya, bertubi-tubi, tak diundang. Kau. Krista. Kau.


    Ken mengangkat bahu dan berpaling. "Mati terkubur di bawah timbunan emas milikku sendiri."


    Krista mendesah. "Kalau begitu kudoakan agar kau memperoleh apa yang kau inginkan."


    "Doa lagi?" tanya Ken. "Dan apa yang kau inginkan, Kucing?"


    "Angkat kaki dari Moontown dan tidak pernah mendengar nama itu lagi."


    Bagus, Ken bakal harus mencari laba-laba baru, tapi paling tidak perhatiannya takkan lagi teralihkan oleh yang satu ini. "Jatah enam puluh juta kairo milikmu bisa mengabulkan keinginanmu," kata Ken. "Jadi berdoalah supaya cuacanya bagus dan para penjaganya bodoh. Tak perlu kau sebut namaku dalam doamu."


<<>><<>><<>>


    Ken terpincang-pincang ke haluan, jengkel kepada dirinya sendiri dan marah kepada Krista. Kenapa dia mendatangi gadis itu? Kenapa dia memberi tahu tentang Keiko? Sudah berhari-hari dia kesal dan tidak fokus. Dia sudah terbiasa dibayang-bayangi oleh Kucingnya---yang memberi makan gagak-gagak di luar cendela kamarnya, yang mengasah pisau sementara dia bekerja di mejanya, yang menegurnya dengan pepatah-pepatah Zemeni. Dia tidak menginginkan Krista. Dia menginginkan rutinitasnya kembali seperti sediakala.


    Ken bertopang ke pagar kapal. Dia berharap kalau saja dia tidak mengatakan apa-apa tentang kakaknya. Segelintir kata yang tadi saja sudah membangkitkan kenangan yang berteriak-teriak meminta perhatiannya. Sesudah ayah mereka meninggal, tergilas pajak yang menguras habis uang-uangnya. Keiko menjual peternakan mereka. Uang yang mereka peroleh tidak banyak, sebab sebagian hasil uangnya dibayar untuk utang. Paling tidak, sisanya memadai untuk mengantar mereka dengan selamat ke Moontown dan mencukupi kebutuhan mereka beberapa lama.


~Selanjutnya Ken 2

__ADS_1


__ADS_2