
Sebenarnya, Krista sudah berkali-kali mencoba menghampiri Ken diam-diam sejak saat itu. Dia tidak pernah berhasil. Kesannya, begitu Ken melihatnya, pemuda itu paham cara untuk terus memantau Krista.
Krista mempercayai Ken Lunark malam itu. Dia menjadi gadis berbahaya, mewujudkan potensi yang Ken lihat tersembunyi dalam dirinya. Namun, Krista melakukan kekeliruan, yakni terus mempercayai Ken, mempercayai mitos yang pemuda itu karang sendiri mengenai dirinya. Mitos itu pulalah yang mengantar Krista ke sini, ke dalam kegelapan nan panas, terombang-ambing antara hidup dan mati bagaikan daun terakhir yang menempel di dahan musim gugur. Ken Lunark ujung-ujungnya hanyalah seorang pemuda dan Krista telah membiarkan pemuda itu menuntunnya untuk menyongsong takdir ini.
Krista bahkan tidak bisa menyalahkan Ken. Dia membiarkan dirinya dituntun karena dia tidak tahu ingin ke mana. Hati adalah panah. Enam puluh juta kairo, kebebasan, kesempatan untuk pulang. Krista bilang dia menginginkan semua itu. Namun, di lubuk hatinya, dia tidak sanggup membayangkan pulang ke rumah orangtuanya. Mampukah dia menceritakan yang sebenarnya kepada orangtuanya? Akankah mereka memahami semua yang telah dia perbuat demi bertahan hidup, bukan cuma di Cerveny, melainkan tiap hari sejak saat itu? Bisakah dia menyandarkan kepala ke pangkuan ibunya dan mendapat maaf? Apa yang mereka lihat ketika mereka memandangnya?
__ADS_1
Panjat, Krista. Namun, ke mana dia harus menuju? Kehidupan apa yang menantinya setelah semua penderitaan yang telah dia alami? Punggungnya ngilu. Tangannya berdarah. Otot-otot tungkainya gemetar, sedangkan kulitnya serasa hendak terkelupas dari tubuhnya. Tiap kali menarik napas, udara hitam menyengat paru-parunya. Dia tidak bisa menarik napas dalam-dalam. Dia bahkan tidak bisa memfokuskan pandangan pada sepetak langit kelabu di atas. Keringat terus menguncur ke dahinya dan menusuk matanya. Andaikan dia menyerah, dia akan menyerah mewakili mereka semua---Tera dan Reyn, Silva dan si orang Bärchennya, Ken. Krista tidak boleh menyerah. Dan tidak boleh mencelakakan mereka semua.
Keputusan tidak berada lagi di tanganmu, Katsi Kecil, kata suara Nyonya Lois yang mendayu-dayu di dalam kepalanya. Sudah berapa lama kau berpegang kepada angan-angan kosong?
Lepaskan, Krista. Ayahnya mengajarinya memanjat,mempercayai tali, ayunan, dan akhirnya, mempercayai keterampilan sendiri,mempercayai bahkan andaikan dia melompat, dia pasti sampai di seberang. Akankah ayahnya menunggu di sana? Krista memikirkan pisau-pisaunya, yang tersembunyi di dalam Septicaye---mungkin pisau-pisau itu akan jatuh ke tangan gadis lain yang bermimpi menjadi bahaya. Krista membisikkan nama-nama pisaunya: Naifi Jein, Naifi Bajan, Elfa, Sonya, Felis, Limp, menjadi martir bahkan sebelum menginjak umur 18. Lepaskan, Krista. Haruskah dia melompat sekarang atau semata-mata menunggu sampai tubuhnya menyerah?
__ADS_1
Kemudian Krista mendengarnya, rintikan lirih, gemericik lembut yang berirama tidak teratur. Krista merasakannya di pipi dan wajah. Dia mendengar desisan saat rintik-rintik tersebut mengenai batu bara di bawah. Hujan. Sejuk dan menenteramkan. Krista menelengkan kepala ke belakang. Dia mendengar dentang tiga perempat jam dari suatu tempat, tapi dia tidak peduli. Dia hanya mendengar bunyi semerdu musik saat tetes-tetes hujan melarutkan keringat dan jelaga, asap batu bara Moontown, rias wajah di Cerveny, saat tetes-tetes hujan membanjur serat-serat goni pada tambang dan mengeraskan karet di telapak kakinya yang sengsara. Tetes-tetes hujan datang bagaikan berkah, sekalipun dia tahu Ken niscaya mengatakan bahwa itu cuma cuaca.
Krista harus bergerak sekarang, cepat-cepat, sebelum batu-batu bertambah licin dan hujan menjadi musuh. Dia memaksa otot-ototnya meregang, jemarinya meggapai, dan menarik dirinya ke atas sambil bertumpu kepada satu kaki, lalu satu lagi, lagi dan lagi, sambil menggumamkan puji syukur kepada Kaum Kudus. Ritme yang semula urung membimbingnya kini tampil ke permukaan, menggerakkannya seturut nama-nama yang dia bisikkan.
Namun, bahkan saat Krista mengucap puji syukur, dia tahu bahwa hujan tidaklah cukup. Dia menginginkan badai---guntur, angin, gelontoran hujan deras. Dia ingin bencana alam menerpa rumah-rumah bordil Moontown, mencabik atap-atap dan pintu-pintu dari engselnya. Krista ingin badai mengaduk-aduk laut, meraup kapal-kapal pedagang budak, menghancurleburkan tiang-tiang layarnya, dan menghempaskan lambung kapal ke pesisir tanpa ampun hingga remuk berkeping-keping. Aku ingin memanggil badai yang seperti itu, pikir Krista. Dan Enam puluh juta kairo barangkali cukup untuk itu. Cukup untuk membeli kapal sendiri---sesuatu yang kecil dan ganas, dilengkapi senjata api. Sesuatu yang seperti dirinya. Dia akan memburu para pedagang dan pembeli budak. Mereka akan belajar bahwa dia harus ditakuti dan mereka akan mengenal namanya. Hati adalah panah. Agar sasarannya tepat, ia membutuhkan tujuan. Krista berpegang ke dinding, tapi setelah lama tak punya pegangan, tujuan konkretlah yang dia genggam erat-erat dan itu pulalah yang mendorongnya ke atas.
__ADS_1
Dia bukan Katsi atau laba-laba atau bahkan Siluman. Dia Krista Censes dan masa depannya menanti di atas.