Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Bagian 3 (Sedih dan lesu) Krista


__ADS_3

Semuanya sakit, dan kenapa kamar ini bergoyang-goyang?


    Krista terjaga pelan-pelan, pikiranya runyam. Dia teringat Roger yang menusuknya, memanjat peti, teriakan orang-orang saat dia bergelayutan dengan ujung jemarinya. Ayo turun, Kucing. Namun, saat Ken kembali untuk menjemputnya, untuk menyelamatkan investasinya. Mereka pasti berhasil menaiki Septicaye.


    Krista mencoba berguling, tapi tubuhnya teramat sakit, dipalingkannya saja kepalanya. Dia melihat Silva sedang menduduki bangku di sampingnya tertidur dengan menguap, tangan krista tercengkram longgar dalam pegangannya.


    "Silva," kata Krista parau. Tenggorokannya serasa berlapis wol.


    Silva tersentak bangun. "Aku tidak tidur!" dia berseru, lalu memandangi Krista dengan ngantuk. "Kau sudah siuman." Dia duduk lebih tegak. "Oh, demi Dewi Shi, kau sudah siuman!"


    Kemudian tangis Silva bergeming di ruangan kecil.


    Krista berusaha duduk tegak, tapi dia bahkan kesulitan mengangkat kepalanya.


    "Jangan, jangan," kata Silva. "Jangan coba-coba bergerak, istirahat saja."


    "Kau bail-baik saja?"


    Di balik air matanya, dia mulai tertawa. "Aku tidak apa-apa, kaulah yang kena tusuk. Aku tidak tahu aku kenapa, membunuh orang jauh lebih mudah dari pada merawat orang."


    Krista mengerjapkan mata, lalu mereka berdua mulai tertawa.


    "Awwww," erang Krista. "Jangan buat aku tertawa. Rasanya tidak enak."


    Silva berjengit. "Apa yang kau rasakan?"


    "Ngilu, tapi masih bisa kutanggung. Haus."


    Silva memberinya kaleng berisi air dingin. "Ini air tawar, kemarin turun hujan."


    Krista menyesap minuman dengan hati-hati, membiarkan Silva menahan kepalanya ke atas. "Sudah berapa lama aku pingsan?"


    "Tiga hari, hampir empat. Tera membuat kami semua gila. Seingatku aku tidak pernah melihatnya duduk diam tenang barang dua menit." kata Silva lalu bangkit berdiri. "Aku harus memberitahu mereka kalau kau sudah bangun! Kami kira---"


    "Tunggu," kata Krista sambil memegangi tangan Silva. "Mending... jangan beritahu dia sekarang, ya?"


    Silva duduk kembali, wajahnya kebingungan. "Baiklah, tapi---"


    "Semalam ini saja," Krista terdiam. "Ini malam hari?"


    "Ya, baru lewat tengah malam, malah."


    "Apa kita sudah tahu siapa yang menyerang kita di pelabuhan?"


    "Rav Frederic. Dia menyewa Deal dan Lionolbars untuk menghalau kita."


    "Bagaimana dia tahu kalau kita akan berangkat dari sana?"


    "Aku tidak tahu."


    "Aku melihat Roger---"


    "Roger sudah mati. Ken membunuhnya."


    "Sungguh?"


    "Ken membunuh banyak orang. Han melihat Ken mengejar orang-orang Deal yang memojokkanmu sampai ke atas-atas peti. Kata-kata persisnya adalah 'Darah yang tertumpah cukup untuk mengecat setiap pondok.'"


    Krista memejamkan matanya. "Banyak yang mati." Maut senantiasa membayangi seisi Krisbow, dan baru kali ini Krista merasakan maut telah menghampirinya.


    "Dia takut kau kenapa-kenapa."

__ADS_1


    "Dia tidak takut apa-apa."


    "Kau harus lihat wajahnya sewaktu mengantarkanmu ke hadapanku."


    "Aku ini investasi yang sangat berharga."


    Silva melongo. "Jangan bilang kalau dia berkata begitu."


    "Tentu saja dia berkata begitu. Yah, dia tidak bilang 'berharga'."


    "Idiot."


    "Reader bagaimana?"


    "Idiot juga. Apa menurutmu kau bisa makan?"


    Krista menggeleng, dia sama sekali tidak merasakan lapar.


    "Usahakanlah," desak Silva. "Badanmu sudah tipis begitu."


    "Sekarang aku cuma ingin istirahat."


    "Tentu saja," ujar Silva. "Biar lentera aku matikan."


    Krista menggapainya lagi. "Jangan, aku belum mau tidur lagi."


    "Aku bisa membacakanmu cerita kalau ada buku dongeng. Di istana kecil, ada Perabak Jantung yang pandai sekali bercerita selama berjam-jam. Kalau mendengarkannya, kau pasti berharap mati betulan."


    Krista tertawa, lalu berjengit. "Jangan bergerak."


    "Baiklah," kata Silva. "Karena kau ingin mengobrol, beritahu aku kenapa di lenganmu tidak tercantum sama sekali tato jam dan rubah?"


    "Mulai dari pertanyaan gampang, nih?"


    Krista terdiam beberapa lama. "Kau melihat bekas lukaku?"


    Silva mengangguk. "Begitu Ken meyakini Lin Ginger untuk menebus kontrakku di Cerveny, yang pertama kulakukan adalah mengenyahkan tato bulu merak."


    "Siapapun orang yang menghilangkan tato tersebut, caranya serampangan."


    "Dia bukan seorang Soulvalin atau bahkan medik." Cuma salah satu dari sekian banyak tukang jagal berpengetahuan pas-pasan yang menjual keterampilan di antara penghuni Krisbow yang putus asa. Pria itu menyodori Krista seteguk wiski, lalu mencacah-cacah kulitnya begitu saja, alhasil membekas luka sana-sini di bawah lengannya. Di Rumah Hiburan, mereka gemar membicarakan kulitnya yang coklat. Kulitnya seperti kopi yang dicampuri susu putih kental. Kulitnya seperti karamel mengilap, tidak gelap dan tidak terang. Krista menyambut tiap sayatan pisau dan bekas luka ditinggalkannya. "Kata Ken, aku tidak perlu melakukan apa-apa kecuali meminta bantuan."


    ken mengajarinya bertarung, membobol brankas, mencopet, mengunakan pisau. Ken menghadiahi Krista senjata tajam pertamanya, yang dia namai Naifi Jein dan Naifi Bajan---tak seindah baja liar tapi lebih berguna, menurutnya.


    Mungkin akan aku praktikkan kepadamu, kata Krista waktu itu.


    Ken justru mendesah. Andai saja kau sehaus darah itu. Krista tidak tahu apakah Ken serius atau bercanda.


    Kini, Krista bergeser barang sedikit ke atas meja. Nyeri masih terasa, tapi tidak parah. Mengingat betapa tajam tusukan pisau, tangan Kaum Kudus pasti telah memandu tangan Silva.


    "Kata Ken, jika bisa membuktikan diri, aku bisa masuk ke anggota Geak. Dan aku berhasil, tapi aku tidak mau ditato."


    Alis Silva terangkat. "Kukira tato itu wajib."


    "Resminya tidak. Aku tahu sebagian orang tidak mengerti, tapi Ken memberitahuku... katanya aku boleh memilih, bahwa aku takkan dicap lagi kalau tidak mau."


    Namun, Ken nyatanya membekas jejak sendiri kepada diri Krista---di luar kehendak siapa-siapa. Memiliki perasaan terhada Ken Lunark adalah sebentuk kebodohan yang keterlaluan. Krista sendiri tahu. Namun, Ken adalah penyelamatnya, orang yang melihat potensinya. Ken ibarat memasang taruhan kepada Krista dan itu saja sudah berarti---meski kata motivasinya egois. Ken bahkan menjulukinya Kucing.


    Aku tidak suka panggilan itu, Krista sempat berkata. Kedengaranya seperti terkutuk.


    Kucing hitam tepatnya, roh halus. Sering dianggap keberuntungan atau nasib buruk, ralat Ken. Mengendap-endap, Keberuntungan baginya dan, nasib buruk bagi musuh.

__ADS_1


    Bukannya katamu aku akan menjadi laba-labamu? Aku mending itu dari pada yang tadi.


    Karena di Krisbow sudah banyak laba-laba. Dan Lagi pula, kau ingin musuh-musuhmu takut. Bukan diinjak-injak sampai remuk dengan satu kaki.


    Musuh-musuhku.


    Musuh-musuh kita.


    Ken membantu memupuk legenda yang lantas Krista kenakan sebagai tameng, reputasi yang jauh lebih besar dan jauh lebih menakutkan daripada seorang pemudi biasa. Krista mendesah. Dia tidak ingin memikirkan Ken lebih jauh lagi.


    "Bicaralah," katanya kepada Silva.


    "Matamu terkantuk-kantuk, sebaiknya kau tidur."


    "Tidak suka kapal," kata Krista. "Kenangan buruk."


    "Kalau begitu sama."


    "Maka bernyanyilah."


    Silva tertawa. "Ingat kata-kataku tadi tentang pembaca cerita yang membuatmu serasa ingin mati betulan? Kau tentu tidak ingin mati, sebab dampaknya sama."


    "Kumohon."


    "Aku cuma tahu lagu daerah Juwel dan lagu lautan Kalterville."


    "Lagu lautan Kalterville, ya. Tolong."


    Silva mendengus. "Khusus untukmu Kucing." Dia berdeham dan memulai. "Kapten muda perkasa, gagah di samudra. Prajurit dan pelaut, bebas penyakit---"


    Krista cekikikan sambil memegangi pundaknya. "Kau benar. Suaramu sumbang."


    "Sudah aku bilang."


    "Lanjutkan."


    Suara Silva benar-benar jelek. Namun, nyanyiannya membantu Krista di atas kapal ini, pada saat ini. Krista tidak ingin mengingat-ingat kali terakhir dia di laut, tapi kenangan itu sukar untuk dilawan.


    Pada hari ketiga ketika para pedagang budak menculiknya, Krista seharusnya sedang tidak berada di rombongan. Usianya 14 tahun ketika itu. Keluarganya tengah melakukan liburan musim panas di pesisir Juwel Barat, menikmati keindahan pantai dan berpesta dalam karnaval yang digelar di pinggiran Cyndi. Krista seharusnya membantu ayahnya merakit jaring, karena malas, Krista membaringkan tubuh di bawah pohon dan kesegaran udara yang membuatnya menjadi menempel.


    Ketika siluet seorang pria muncul dari rombongan, Krista bahkan tidak tahu bahwa dia harus berlari. Dia malah berkata, "Lima menit lagi, Papa."


    Kemudian pria itu memegangi tungkainya dan menyeretnya keluar rombongan. Kepala Krista terbentur keras ke tanah. Mereka berempat, berperawak besar kelana laut. Ketika Krista mencoba untuk berteriak, mereka menyumpal mulutnya. Mereka mengikat tangannya, lalu salah seorang dari mereka melemparkan Krista ke balik bahu setiba di perahu yang mereka belitkan di laut.


    Belakang ini, Krista tahu kalau pesisir ini kerap didatangi pedagang budak. Mereka melihat kumpulan rombongan Zemeni dari kapal dan mendayung selepas fajar ketika kamp praktis kosong.


    Kelanjutan itu kabur dalam ingatan Krista, dia dilemparkan ke palka yang berisi sekelompok anak lainnya---sebagian tua, ada yang muda, kebanyakan perempuan tapi ada juga segelintir laki-laki. Krista adalah orang Zemeni satu-satunya, tapi beberapa tawanan ada yang berbahasa Juwel dan masing-masing punya cerita tersendiri mengenai penculikan mereka.


    Mereka akan dibawa ke pulau terluar Kalterville yang paling besar, untuk dilelangkan kepada pemilik perseorangan atau rumah bordil di Moontown serta Ru Kraina. Tapi dia justru dituntun menyusuri geladak bawah dan diserahkan kepada salah seorang wanita paling jelita yang pernah dia lihat, bermata hijau kecoklatan, dan rambut tebal keemasan.


    Dia memeriksa setiap jengkal tubuh Krista---giginya, payudaranya, bahkan kakinya. Wanita itu menarik-narik rambut Krista. "Ini harus dicukur." Kemudia dia melangkah mundur. "Cantik," katanya. "Ceking dan mulus."


    Perempuan itu beranjak dan berbarter dengan para pelaut sementara Krista berdiri mematung, kedua tangannya terikat ke atas dadanya, bajunya masih terbuka, roknya masih tersingkap ke sekitar pinggang. Lompat, pikirnya. Mending lompat dari pada dibawa perempuan itu. Namun, Silva tidak berani.


    Silva masih menyanyi seorang pelaut yang meninggalkan kekasihnya.


    "Ajari aku refrainnya," kata Krista.


    "Kau sebaiknya istirahat."


    "Refrainnya."

__ADS_1


    Maka Silva mengajarkan liriknya kepada Krista dan kemudian mereka bernyanyi bersama, bait demi bait dengan kagok dan sumbang, sampai nyala api lentera semakin meredup.


__ADS_2