
Tidak ada yang bisa mengungguli Ken di daerahnya sendiri. Jika dipikir-pikir, dia memang tidak ada tandingannya. Krista betul-betul percaya jika ada yang bermacam-macam dengannya, takdir bernasib buruk secara perlahan akan kunjung. Mereka menyusuri wilayah Anggrek. Semacam nama tempat itu, banyak sekali bunga-bunga bak lautan di sana. Warna-warni yang memanjakan mata Krista dan aromanya yang harum. Disaat waktu yang renggang, sesekali Krista menjenguk bunga-bunga. Hal itu membuatnya teringat sewaktu ayahnya menjepitkan bunga mawar merah di telinga Krista.
Cherry Blossom, sebagian anggota Geak tinggal di Cherry Blossom. Tempat ini kelewatan rapi nan jauh dibandingkan Easd, berfondasi dan tegak lurus, atapnya berbentuk limas segitiga tanpa cela sedikitpun. Jalan masuk ke Cherry Blossom hanya lurus ke depan dengan samping kiri kanannya ada bangunan apartemen. Krista dan Ken menuju apartemen merah bertingkat tiga, dinding-dinding yang diselimuti dedaunan menggeliat-geliut. Jika Ken menuju ke tempat ini, tidak salah lagi dia ingin bertemu Silva. Penyihir bangsa Juwel yang menandatangani kontrak dengan Geak.
Ken masuk pertama dan Krista menyusul. Tempat ini relatif elite untuk kelas Moontown, Ruangan Geak tinggal jalan lurus dan, di sana ada pemuda berbaju krim susu dengan setangkai bunga di sakunya. Bukan sebagai penjaga tapi salah satu pekerja di apartemen ini.
"Mister Lunark," kata pemuda itu, "klien berada di lantai tiga."
Ken mengangguk dan menyelinap di balik tirai kecil. Termuat bunga anggrek di dalam pot yang berjejer rapi melindungi jalan mereka. Krista menikmati tiap bunga yang ia jumpai, lain kata dengan Ken, menahan dorongan hati untuk menempelkan hidungnya ke kerah baju.
Ruangan tetangga Silva terbuka, dan pemiliknya tidak ada. Ken meruyup masuk dan memfokuskan baik-baik pembicaraan mereka.
"Apa yang kau lakukan Ken?" Tanya Krista.
Ken membalas dengan mengacungkan jari ke atas. Akhirnya Ken menyingkir dari tempat. "Berlindung," katanya.
Mereka berlindung di balik pintu, tak lama kemudian beberapa orang keluar dari ruangan Silva. Pria berpakaian lengkap baru saja keluar dari ruangan itu. Ken dan Krista beranjak dari ruangan lalu menuju ketempat. Ken mengetuk dan Silva membuka pintu perlahan-lahan, membiarkan rantai tetap terpasang dengan pintunya.
"Oh, kau rupanya," katanya. Muka silva tampak tidak senang, tiap kali kedatangan Ken di kediaman kita, jarang menyiratkan pertanda bagus.
Silva membawa mereka masuk dan menutup pintu serapat mungkin. Dia melepaskan Kain keffa dan melemparkan kain itu, sehingga memperlihatkan daster yang amat tipis, saking tipisnya tidak layak disebut pakaian.
"Aku benci ini," kata Silva.
"Kenapa?" Tanya Ken.
"Baju itu tidak rapi dan mahal. Gatal juga." Silva menjatuhkan diri ke kursi panjangnya.
__ADS_1
Jika Krista lihat, itu bukan baju melainkan kostum. keffa buatan orang Helalind, bukan Moontown.
"Apa Helf ada di kamarnya?" Ken kembali bertanya.
"Mungkin sedang tidur karena kebanyakan stres." Mengambil setoples biskuit lalu mencomot.
"Bagus, Krista, ajak dia juga. Besok dia akan datang sendiri,"
"Lewat cendela saja sayang. Aku malas bergerak menutup pintu," cengir Silva.
"Mudah, Silva." Senyum balik Krista.
Cendela yang digeser kesamping, berbentuk segi empat dan agak sempit. Bukan masalah bagi si kucing Krisbow. Krista melompat dari cendela dan lagi ke cendela lain. Berpegang di sela-sela dan membuka cendela hati-hati. Dia melihat Helf sedang membuat kopi di dapur mungilnya. Krista berdeham, lantas terkejutlah Helf.
"Kirsta? Sedang apa... lupakan, ada apa?" tanyanya sambil mengambil segelas lagi, mungkin untuk tamunya.
"Ken membutuhkanmu," kata Krista.
Tempat itu sama besarnya dengan ruangan Silva, hanya saja kursinya lebih sedikit dibandingkan ruangannya. Sepertinya Helf jarang kedatangan tamu. Tempat yang sederhana, cocok untuk orang seperti kakek-nenek yang sedang menghirup teh. Senapan yang digantungkan di tembok beserta lukisan buah dengan maksud memperindah ruangan. Hanya ada satu foyer. Kamarnya, kursi, meja, dan dapur tergabung menjadi satu. Tidak ada ruangan tambahan.
Krista kebingungan apa maksud akhirnya telah tiba.
"Duduklah," Helf menghampiri Krista sambil membawa dua cangir. Kopi dan teh. Dia adalah petarung terbaik di Krisbow, tak salah Ken ingin mengambilnya, semoga bernasib baik. Helf sudah berada di Krisbow selama 12 tahun. Pertama kali mereka bertemu, Krista bisa menebak kalau dia sosok penting di wilayah kumuh ini. Jarang Geak berbagi sejarah masa lampau mereka, tapi Krista mendapatkan bocoran sedikit kalau Helf konon pernah membunuh keluarganya sendiri. Seluruh keluarganya. Tidak ada yang tahu, nyata atau bukan.
Sikapnya memang tenang layaknya penjahat tulen, baik hati dan ramah. Tapi kata Ken ada benarnya juga.
"Bagaimana hari-harimu, Krista?" Tanya Helf.
__ADS_1
"Kutukan yang berat."
Helf tertawa sambil duduk di kursi. Menaruh satu cangkir di atas meja untuk Krista. "Aku tidak mengerti Krista, Sudah dua tahun lebih kau tinggal di sini, tapi hatimu yang baik-baik ini tidak lenyap. Seharusnya, kau membutuhkan tato sebagai tanda kontrak Geak. Manapun geng membutuhkan tato. Lagian, kau bisa dikontrak Geak tanpa menggunakan tato sungguhan. Murni sekali meski sudah pernah membunuh orang."
Krista mengambil tehnya. "Bisa dibilang setengah-setengah," Krista meminum tehnya, "aku kenal baik tempat ini, Helf. Lagi pula, malah tidak ada yang berhati baik di wilayah ini."
Krista mempunyai banyak pertanyaan untuk Helf. pasti ada sebabnya, pasti ada alasannya kenapa Helf melakukan hal sekejam itu. Mungkin lain cerita dengan Krista yang lahir dikeluarga yang amat ramah, dia sungguh menyayangi keluarganya, dia rindu kebersamaan mereka dan canda tawanya. Jika Krista kembali, apakah keluarganya akan senang? Dengan hari-hari yang pernah Krista lalui, apakah orang tuanya dengan ramah menyambut kepulangannya?
"Krista," kata Helf, "kau punya mimpi?"
"Semua orang punya impian Helf." Kata Krista.
"Meski di tempat ini?" Tanya Helf.
Yang Helf katakan mungkin ada benarnya. Apakah ada impian di Krisbow? Krista hanya bisa berdoa, tambah lagi dia punya rekan dengan otak luar pintar dari siapapun.
"Tidak ada yang tahu, Helf." Kata Krista dengan nada normal.
"Kau beruntung bisa di pihaknya, aku mengakuinya sendiri, dia bisa merubah hidup seseorang, tapi tidak sendirian."
Benar. Apa yang dikatakan Helf semua benar. Krista mungkin beruntung bisa bertemu dengan Ken di tempat yang kotor ini. Jika tidak ada Ken, mungkin dia akan selamanya berada di Krisbow. Kali ini ada kesempatan, kali ini ada peluang untuk mewujudkan mimpi yang Krista pupuk selama ini. Tinggal sedikit lagi dia akan bertemu dengan keluarganya, membalaskan dendam kepada penjual budak, dan membeli saham manapun supaya uang tetap terjaga.
Setidaknya sudah cukup berkunjungnya hari ini. Krista harus kembali ke tempat Ken untuk memberi kabar yang dia inginkan. "Termakasih tehnya, Helf. Aku harus kembali."
"Terimakasih juga karena sudah mampir."
Krista merangkak keluar dan ancan-ancang ingin melompat.
__ADS_1
"Semoga Kaum Kudus menyertaimu."
"Kau juga, Helf." Dalam hitungan detik, Krista sudah kembali ke tempat Ken.