Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Reader 3


__ADS_3

Badai datang sekonyong-konyong, mengombakkan kapal seperti mainan di dalam bak. Kain layar sobek, tali-temali yang saling bersimpang siur, dan penumpang yang menjerit-jerit.


    Reader ingat akan kegelapan di bawah air, hawa dingin, kesunyian di kedalaman. Pada saat berikutnya, Reader muncul di permukaan sambil mengap-mengap dan meludahkan air garam. Seseorang mendekap dadanya dan mereka sedang bergerak membelah air. Suhu dingin tidak tertahankan, tapi entah bagaimana dia masih bisa hidup.


     "Ayo bangun, dasar gumpalan otot loyo." Bahasa Bärchen yang jernih dan luwes, seolah-olah dituturkan oleh lidah bangsawan. Reader menoleh dan terguncang saat melihat bahwa penyihir belia yang mereka tangkap di pesisir barat Pulau Mudik tengah memeganginya dan berkomat-kamit sendiri dengan bahasa Juwel. Dia tahu kalau gadis itu bukan orang Knuddelbär betulan. Entah bagaimana gadis itu bisa keluar dari kurungan dan belenggu. Reader menjadi panik dan, andaikan sedang tidak terguncang atau mati rasa, dia pasti sudah meronta-ronta.


    "Bergeraklah," sengal gadis itu dalam bahasa Bärchen. "Demi Dewi Shi, berapa bobot badanmu?"


    Gadis itu kepayahan, berenang-renang sambil menompang bobot mereka berdua. Gadis itu telah menyelamatkan nyawanya. Kenapa?


    Reader menendangkan kaki sambil mendorong mereka ke depan. Yang mengejutkan, dia mendengar si anak perempuan berlega hati pelan. "Puji syukur kepada Kaum Kudus," kata gadis itu. "Ayo berenang, raksasa dungu."


    "Kita di mana?" tanya Reader.


    "Aku tidak tahu," jawab gadis itu. Reader bisa mendengar kengerian dalam suaranya.


    Reader menendangkan kaki supaya menjauh diri dari penyihir.


    "Jangan!" pekik gadis itu. "Jangan lepaskan."


    Namun, Reader mengayuh kuat-kuat dan lepaslah dia dari genggaman si penyihir. Begitu Reader terbebas dari pelukan anak perempuan itu, hawa dingin langsung menyergapnya. Si gadis itu ternyata menggunakan sihirnya yang sesaat untuk menghangatkan tubuh Reader. Reader sontak mengulurkan tangan untuk menggapai gadis itu di kegelapan.


    "Sïqirşi?" panggilnya mengigil, malu akan takut dan suaranya. Kata tersebut berarti penyihir dalam bahasa Bärchen, tapi dia tidak punya nama panggilan lain untuk sang pemudi.


    "Dushenka!" si penyihir berteriak, pemudi itu berenang menuju ke tempat Reader serta-merta merasakan jemarinya bersentuhan dengan tangan gadis itu di dalam air hitam kelam. Reader menyambar tangan si gadis dan menariknya mendekat. Tubuh pemudi itu sebetulnya tidak hangat, tapi begitu mereka berkaitan, surutlah rasa nyeri di lengan dan tungkai Reader. Rasa terimakasih dan muak seketika mencekamnya.


    "Kita harus mencari daratan," sengal gadis itu. "Aku tidak bisa berenang dan mempertahankan jantung kita berdua."


    "Biar aku yang berenang," kata Reader. "Kau... aku saja yang berenang." Reader mendekapkan punggung si pemudi ke dadanya, lengannya melintang ke depan tubuh gadis itu, persis seperti cara sang gadis memeganginya beberapa saat lalu, seolah pemudi itu tenggelam. Dan memang demikian, atau lebih tepatnya mereka akan tenggelam jika tidak keburu beku.


    Reader menendangkan kaki sesuai ritme teratur, berusaha untuk tidak mengeluarkan banyak tenaga, tapi mereka tahu upaya tersebut bakal sia-sia. Mereka tidak jauh dari daratan ketika badai melanda, tapi suasana tengah gelap gulita. Mereka mungkin sedang mendekati pesisir pantai atau justru menjauh ke lautan. Tak ada bunyi apa-apa kecuali napas mereka dan ombak laut yang deras.


    "Kenapa kau menyelamatkanku?" Reader akhirnya bertanya.


    "Berhentilah membuang-buang tenaga. Jangan bicara."


    "Kenapa?"


    "Karena kau manusia," tukas gadis itu dengan marah.


    Bohong. Jika mereka mendarat, gadis itu butuh orang Bärchen untuk bertahan hidup, seorang yang mengenal tempat di wilayah tersebut. Reader terus menendang, tapi otot-otot kakinya kecapekan dan dia bisa merasakan hawa dingin yang merambati tubuhnya.


    "Belum apa-apa sudah kepayahan, Penyihir?"


    Reader bisa merasakan gadis itu menepis keletihannya dan sekejap, darah kembali mengalir di tangan dan kaki Reader.


    "Akan kusamai kecepatanmu, Dushenka. Kalau kita mati, kau yang akan bertanggung jawab di alam sana."


    Reader spontan tersenyum kecil. Si pemudi kentara sekali bernyali besar. Itu sudah kelihatan ketika dia masih terkurung.


    Mereka melalui malam seperti itu, saling ejek ketika salah satu mulai loyo. Mereka hanya berkawan laut, es, dan gemuruh sesekali yang menandakan kedatangan ombak atau makhluk lapar yang menghampiri mereka di bawah air.


    "Lihat," bisik si penyihir ketika fajar tiba, bersemu merah cerah sewarna mawar. Reader samar-samar melihat. Daratan.


    Mereka tidak punya waktu untuk lega dan bergembira. Si penyihir menelengkan kepala ke belakang, menyandar ke pundak Reader sementara pemuda itu berenang habis-habisan, seinci demi seinci, terkadang terhempas ke belakang seolah-olah ombak tak sudi melepaskan mereka dari cengkeraman. Akhirnya, kaki mereka menyentuh dasar laut dan bergeraklah mereka ke pantai, setengah berenang-setengah merangkak. Mereka memisahkan diri dan sontak merasakan sakit yang membanjiri tubuh Reader.


    Jalan kaki mulanya mustahil, susah menyuruh kaki mereka patuh, apa lagi badan mereka gemetar hebat. Namun demikian, Reader akhirnya mampu berdiri. Dia mempertimbangkan untuk angkat kaki saja, mencari tempat bernaung tanpa gadis itu. Si penyihir hanya bisa merangkak, rambutnya acak-acak menghujani wajahnya, dan pikir Reader dia ingin berbaring di situ saja dan tidak bangun-bangun.


    Reader maju selangkah, selangkah lagi, kemudian berbalik badan. Apa pun alasan gadis itu, dia telah menyelamatkan nyawanya. Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali. Reader menghampiri gadis itu sambil tertatih-tatih kemudian mengulurkan tangannya.


    Ketika gadis itu mendongak, mimik mukanya yang muram memetakan kebencian dan keletihan. Di wajahnya, Reader melihat rasa malu dan terimakasih secara bersamaan. Tahulah Reader bahwa gadis itu adalah cerminnya. Reader bisa membuat keputusan sendiri. Utangnya kepada pemudi itu mengharuskan demikian. Reader menggapai ke bawah dan menarik gadis itu hingga berdiri, kemudian mereka menjauhi pantai sambil terpincang-pincang.


    Mereka menuju ke arah yang menurut perkiraan Reader, barat. Saat hari hampir gelap, Reader mulai merasa panik, mereka melihat kamp pemburu paus terbengkalai. Pintu tidak terkunci. Mereka praktis jatuh dari ambang pintu.


    "Terima kasih," erang gadis itu sambil ambruk ke samping tungku bundar.


    Reader tak berkata apa-apa. Bahwa mereka menemukan kamp ini keberuntungan belaka. Jika mereka terdampar beberapa mil lebih jauh, dan tentunya riwayat mereka bisa tamat.


    Para pemburu paus meninggalkan humus dan kayu bakar kering di tungku. Reader berusaha menyalakan api, berusaha payah agar kayu tidak cuma mengeluarkan asap. Dia sudah capek dan kikuk, ketika dia mendengar desir di belakangnya, Reader menoleh dan nyaris menjatuhkan kayu bolong yang dia gunakan untuk membesarkan api kecil.


"Apa yang kau lakukan?" hardik Reader.

__ADS_1


    Gadis itu melirik ke balik bahunya---yang tel*nj*ng---dan berkata\, "Adakah yang harus kulakukan?"


    "Kenakan kembali pakaianmu!"


    Gadis itu memutar-mutar bola matanya. "Aku tidak mau mati beku demi melindungi rasa kepatutanmu."


    Reader mencengkeram kayu kuat-kuat, tapi sang pemudi mengabaikannya dan melanjutkan menanggalkan pakaian, celana panjang, bahkan baju dalam---kemudian membalut diri dengan selembar kulit rusa kutub kumal yang ditumpuk di dekat pintu.


    "Demi Dewi Shi, baunya," gerutu gadis itu sambil bergeser. Tiap kali dia bergerak, kulit rusa tersibak sehingga tampaklah betis yang padat membulat, kulit putih, dan belahan dada. Gerakan tersebut disengaja, Reader yakin. Gadis itu sedang mengusiknya. Dia harus memusatkan perhatian kepada api. Dia bisa mati jika tidak mempertahankan api, dia masih mungkin mati. Kalau saja gadis itu berhenti membuat ribut. Kayu tiup patah di tangan Reader.


    Gadis itu mendengus dan berbaring beralaskan kulit binatang sambil bertopang ke siku. "Demi Dewi Shi, Dushenka. Aku cuma mau menghangatkan tubuh. Aku berjanji tidak akan memasakmu saat kau tidur."


    "Aku tidak takut kepadamu," kata Reader kesal.


    Gadis itu menyeringai buas. "Kalau begitu kau sebodoh tampangmu."


    Reader lalu berjongkok di samping api, seharusnya dia berada di samping penyihir. Matahari telah terbenam, sedangkan suhu kian merosot. Saat ini saja, Reader mesti berjuang agar giginya tidak bergemeletuk, untuk bertahan hidup mereka memerlukan api untuk menghangatkan tubuh mereka, dan Reader juga tidak mau ambil pusing. Tapi nyatanya dia tidak mau dekat-dekat dengan gadis itu. Karena dia pembunuh, kata Reader dalam hati. Itulah sebabnya. Gadis ini pembunuh dan penyihir.


    Reader memaksa diri untuk bangkit dan mendekat ke selimut, namun Silva mengulurkan tangan untuk menghentikannya.


    "Jangan coba-coba mendekat, pakaianmu sedang basah kuyup."


    "Kau bisa melancarkan aliran darah kita."


    "Aku kecapekan," kata gadis itu marah. "Dan begitu aku jatuh tertidur, hanya api ini yang akan menghangatkan kita. Dari sini saja, aku bisa melihatmu bahwa kau menggigil. Apa semua orang Bärchen malu-malu kucing seperti kau?"


    Tidak. Mungkin. Reader sungguh tidak tahu. "Apa semua Knoulbar sevulgar kau?"


    "Laki-laki dan perempuan berlatih berdampingan di Tentara Pertama dan Kedua. Tak banyak kesempatan untuk tersipu malu."


    "Tidak wajar apabila perempuan bertarung."


    "Tidak wajar apabila kebodohan orang setingkat dengan tinggi badannya, tapi kau ternyata demikian. Apa kau berenang bermil-mil hanya untuk mati di gubuk ini?"


    "Ini pondok, bukan gubuk. Lagi pula, belum tentu kita berenang bermil-mil."


    SIlva menghela napas jengkel dan bergelung menyamping, mendekati api semaksimal mungkin. "Aku terlalu capek untuk bertengkar." Dia memejamkan matanya. "Aku tak percaya wajahmu akan menjadi pemandangan terakhir yang kulihat sebelum mati."


    "Lebih dekat, Dushenka," kata gadis itu memanas-manasi.


    Reader merangkul Silva, menjepit punggung gadis itu ke dadanya. Sang pemudi terkesiap kaget dan bergeser was-was.


    "Jangan banyak gerak," gurutu Reader. Dia pernah berdekatan dengan perempuan---tidak sering, betul---tapi tak seorang pun menyerupai gadis ini. Tubuhnya kelewatan sintal.


    "Kau dingin dan basah," keluh gadis itu sambil bergidik. "Seperti berbaring di samping gurita raksasa saja."


    "Kau yang menyuruhku mendekat!"


    "Santailah sedikit," sang gadis memerintahkan dan, ketika Reader menurut, dia membalik badan untuk menghadap ke pemuda itu.


    "Apa yang kau lakukan?" tanya Reader sambil memundurkan badan karena panik.


    "Tenang, Dushenka. Aku takkan mengusikmu."


    Mata biru Reader menyipit. "Aku benci cara bicaramu." Apakah dia membayangkan rasa sakit hati yang melintas di pikiran gadis itu? Seolah perkataannya bisa berdampak terhadap penyihir.


    "Menurutmu aku peduli kau menyukai atau membenci apa?"


    Sang gadis menempelkan tangan ke dada Reader, berkonsentrasi ke jantungnya. Dia tidak boleh si penyihir berbuat seperti ini, tidak boleh menunjukkan kelemahannya, tapi saat darah mengalir ke tubuhnya menghangat, rasa lega dan santai yang menjalarinya terlalu nikmat sehingga sukar ditolak.


    Reader dengan enggan melemas barang sedikit di bawah sentuhan sang Knoulbar. Gadis itu kemudian membalikkan badan dan menarik lengan Reader sehingga kembali merangkulnya. "Terima kasih kembali, Si Besar Bodoh."


    Reader berbohong. Dia suka cara bicara Silva.


>><<>><<>><<


Dia masih suka cara berbicara Silva sampai sekarang. Dia bisa mendengarnya sedang mengoceh kepada Krista di belakangnya, berusaha mengajarkan bahasa Bärchen kepada Krista.


    "Bukan, Üdes-leegh. Suku kata terakhir mesti diperpanjang sedikit."


    "Üdesleh?" Krista mencoba.

__ADS_1


    "Mendingan tapi---jadi begini. Anggaplah bahasa Kalterville itu seperti kijang, yang melompat dari kata ke kata," Silva menerangkan sambil berpantonim. "Maka bahasa Bärchen sama seperti burung camar, yang menukik dan meliuk ke sana-sini." Tangannya menjadi burung yang mengarungi aliran udara. Tepat saat itu, Silva menoleh dan memergoki Reader yang sedang memerhatikannya.


    Reader berdeham. "Jangan makan salju," usulnya. "Nanti kalian dehidrasi dan suhu tubuh kalian akan turun." Dia merangsek maju, ingin cepat-cepat sampai di bukit berikut demi menjauhkan jarak mereka. Namun, setiba di puncak, dia mendadak berhenti.


    Dia membalikkan badan sambil angkat tangan. "Stop! Kalian tidak ingin---"


    Sudah terlambat. Silva menutupi mulut dengan tangan. Krista angkat tangan untuk menolak pasukan. Tera geleng-geleng kepala. Reyn hendak muntah. Ken berdiri membatu, ekspresinya tak terbaca.


    Kayu bakar telah ditumpuk-tumpuk di atas tebing. Siapa pun yang bertugas sudah menyalakan api di balik batu besar yang melindungi angin, tapi pinggir batu tak mampu mencegah api agar tidak padam. Tiga pasak telah dihujamkan ke tanah berlapis es dan tiga tubuh gosong terikat di sana, kulit mereka menghitam dan retak-retak masih berasap.


    "Eck," Reyn menyumpah. "Apa ini?"


    "Inilah yang orang-orang Bärchen perbuat kepada Knoulbar," ujar Silva. Wajahnya hampa, mata hijaunya menerawang.


    "Ini perbuatan kriminal," kata Reader, perutnya teraduk-aduk. "Pembakaran sudah dinyatakan ilegal sejak---"


    Silva berputar tiba-tiba untuk menghadapnya dan mendorong dadanya kuat-kuat. "Jangan berani-berani," gertak Silva, amarahnya membara. "Coba beri tahu aku kapan kali terakhir seseorang disidangkan karena membakar Knoulbar hidup-hidup. Memang menurutmu menghabisi anjing adalah tindakan pembunuhan?"


    "Silva---"


    "Kalau si pembunuh mengenakan seragam, apakah namanya bukan pembunuhan?"


    Saat itulah mereka mendengarnya---rintihan.


    "Demi Dewi Shi," kata Tera. "Salah seorang masih hidup."


    Suara itu kembali terdengar, lirih menyayat hati, dari raga hitam di paling kanan. Mustahil untuk mengetahui dari sosoknya apakah orang itu laki-laki atau perempuan. Rambutnya sudah terbakar habis, pakaiannya lebur dengan tubuhnya. Kulit hitam yang menyerpih terkelupas di sejumlah tempat, alhasil menampakkan daging merah.


    Isak tangis tertumpah dari tenggorokan Silva. Dia mengangkat tangan, tapi saking gemetar tubuhnya, dia tidak bisa menggunakan kesaktiannya untuk mengakhiri penderitaan orang itu. Dia memalingkan matanya yang berkaca-kaca kepada yang lain. "Aku... kumohon, siapa saja...."


    Tera bergerak duluan. Dua tembakan membahana dan tubuh itu sontak bergeming. Pistol kemudian Tera kembalikan ke sarungnya.


    "Sialan, Tera." geram Ken. "Kau baru saja mengumumkan kehadiran kita hingga jarak bermil-mil."


    "Paling-paling mereka mengira kita rombongan pemburu."


    "Sebaiknya Krista saja yang turun tangan."


    "Aku tidak mau," kata Krista pelan. "Terimakasih, Tera."


    Rahang Ken berkedut-kedut, tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi.


    "Terima kasih," isak Silva. Dia melesat duluan ke tanah beku, mengikuti jalan setapak yang membelah salju. Dia berjalan tersaruk-saruk sambil menangis. Reader mengikuti. Hanya sedikit penanda khas di daerah ini sehingga mudah untuk tidak salah arah.


    "Silva, kau tidak boleh mengeluyur dari rombong---"


    "Ke tempat seperti inilah kau kembali, Reader," kata Silva bengis. "Seperti inilah tempatmu mengabdi. Apa kau bangga karenanya?"


    "Aku tidak pernah mengirim seorang Knoulbar ke api unggun. Knoulbar harus disidangkan dengan adil---"


    Silva membalikkan badan hingga menghadapi Reader, air mata membeku di pipinya.


    "Kalau begitu, kapan Knoulbar tak pernah dinyatakan tidak bersalah di akhir persidangan yang konon adil?"


    "Aku---"


    "Kami bersalah karena ada. Kejahatan kami adalah diri kami sendiri."


    Reader membisu, dan ketika angkat bicara dia terjebak antara merasa malu apa yang hendak dia sampaikan, yang masih dia anggap benar hingga sekarang. "Silva, pernahkah terletak di benakmu bahwa mungkin... keberadaan kalian melawan takdir?"


    Mata Silva menyala-nyala berapi hijau. Gadis itu melangkah maju mendekatinya dan si Bärchen merasakan amarah yang meluap dari diri sang Knoulbar. "Mungkin kaulah yang seharusnya tidak ada, Reader. Lemah dan lembek. Kau memuja penunggu hutan dan roh es yang tak mau repot-repot menampakkan diri, tapi ketika kau melihat kekuatan sejati, kau malah menginjak-injaknya."


    "Jangan mencemooh yang tidak kau pahami."


    "Cemoohanku menyinggung perasaanmu?" Ekspresi puas di wajah Silva. "Juwel sedang membangun dirinya kembali. Begitu pula Tentara Kedua. Saat kami tuntas melakukan rehabilitas, mudah-mudahan Tentara Kedua menyidangmu dengan adil sebagaimana yang pantas kau terima. Mudah-mudahan Dushenka dibelenggu dan didakwa atas kejahatan kalian supaya dunia tahu persis apa saja yang sudah kalian lakukan."


    "Kalau betul ingin melihat setengah mati Juwel bangkit, kenapa kau tidak di sana?"


    "Aku ingin kau diampuni, Reader. Dengan begitu, kau bisa berada di sini sewaktu Tentara Kedua berderap ke utara dan menyapu habis negeri terkutuk ini. Mudah-mudahan mereka membakar ladang kalian dan meracuni tanah. Mudah-mudahan mereka membawa teman-teman dan keluargamu untuk dibakar hidup-hidup."


    "Keinginanmu sudah kesampaian, Live. Ibuku, ayahku, adik perempuanku. Prajurit pemanggil Api, Knoulbar tertindas yang kau cintai, mereka membumihanguskan desaku. Aku tidak punya apa-apa, jadi aku takkan kehilangan apa-apa lagi."

__ADS_1


    Silva tertawa getir. "Mungkin kau terlalu sebentar tinggal di Raregate, Reader. Akan selalu ada hal yang hilang."


__ADS_2