
Tera ingin sekali lompat dari kapal dan berenang sekadar demi mengganti rutinitas. Enam hari lagi. Enam hari lagi di kapal ini, jika mereka beruntung dan arah angin sedang bagus. Pesisir barat Bärchen didominasi oleh batu-batu tajam dan tebing-tebing curam. Pesisir hanya bisa didekati dengan aman di Üdeshleg, tapi karena keamanan yang tinggi baru-baru ini, mereka terpaksa memutar ke pelabuhan pemburu paus. Tera diam-diam berharap kalau saja mereka diserang oleh perompak, tapi kapal mereka terlalu kecil, sehingga dipandang tidak memuat banyak kargo.
Tera mondar-mandir di geladak, memanjati tali, merayu awak kapal agar bermain kartu dengannya. Dia merindukan daratan dan makanan enak serta kacang kedelai sedap. Dia merindukan kota. Andai dia di lapang tanah luas dan keheningan, dia niscaya bertahan di Riverdale dan menjadi seorang petani sebagaimana yang ayahnya inginkan. Di kapal, tidak ada acara lain kecuali mempelajari tata letak Royalemerald, mendengarkan Reader menggerutu, menggoda Reyn, yang mereka sibukkan tentang mekanisme pengoperasian gerbang di tembok luar.
Ken terkesan dengan sketsanya.
"Kau berpikir seperti seorang pembobol kunci," katanya kepada Reyn.
"Tidak, ah."
"Maksudku kau bisa melihat ruangan secara tiga dimensi."
"Aku bukan kriminal."
Ken menatap Reyn dengan ekspresi hampir-hampir mengasihani. "Kau benar. Kau pemain seruling yang salah bergaul."
Tera duduk di sebelah Reyn. "Bisakah kau menerima pujian. Ken jarang mengatakannya."
"Perkataannya bukan pujian. Aku lain dengannya. Aku tidak seharusnya di sini."
"Aku takkan membangkang."
"Kau seharusnya juga tidak di sini."
"Mohon maaf, Pangeran Kecil, tapi apa katamu tadi?"
"Kita tidak butuh penembak jitu dalam rencana Ken, jadi apa tugasmu? Mondar-mandir dan membuat kita semua gelisah?"
Tera mengangkat bahu. "Ken mempercayaiku."
Reyn mendengus dan mengangkat penanya. "Yakin?"
Tera bergeser dengan jengah, tentu saja tidak yakin. Dia terlalu banyak menghabiskan waktu dengan menebak-nebak isi pikiran Ken Lunark. Dan mungkin jika dia sudah memperoleh sedikit rasa percaya kepada Ken, akankah dia layak menerimanya?
Tera mengetukkan jempol ke revolver dan berkata, "Ketika peluru-peluru mulai berterbangan, kau mungkin akan bersyukur atas kehadiranku, gambar-gambarmu yang bagus itu tidak bisa menjaga nyawamu."
"Kita butuh denah. Dan kalau saja kau lupa, kita bisa meninggalkan Moontown berkat bom cahayaku."
"Strategi brilian."
"Nyatanya ampuhkan?"
"Ampuh, sampai-sampai kau membutakan anggota kita."
"Resiko itu sudah kuperhitungkan."
"Resiko besar yang kau taruhkan dan semoga berjalan lancar. Percayalah, aku tahu perbedaannya."
"Kudengar begitu."
"Maksudmu?"
"Maksudku semua orang tahu kalau kau tidak bisa menjauhkan diri dari perkelahian dan taruhan, tak peduli sekecil apapun peluangnya."
Tera menyipitkan matanya ke arah layar. "Kau terlahir tanpa bergelimang hak istimewa."
"Aku bukan---" Reyn terdiam dan meletakkan pena. "Kenapa kau kira kau tahu segalanya tentangku?"
"Banyak yang aku tahu, Pangeran Kecil."
"Enak, ya. Aku selalu merasa kalau pengetahuanku ini masih kurang."
"Pengetahuan tentang apa?"
"Tentang segalanya," gumam Reyn.
Tera jadi penasaran. Melawan anjuran akal sehatnya. "Misalnya?"
"Yah, misalkan pistol itu," kata-kata Reyn sambil menunjuk revolver Tera. "Mekanismenya pasti tidak biasa, kan? Kalau aku bisa memeretelinya---"
"Jangan berani-berani bertindak demikian."
Reyn mengangkat bahu. "Atau bagaimana dengan parit es?" katanya sambil mengetuk denah Royalemerald. Reader bilang parit itu tidak padat, hanya berupa selapis tipis es di atas air nan menggigilkan, yang terbuka di segala arah dan mustahil di seberangi.
"Memang kenapa?"
"Airnya dari mana? Royal sendiri berada di atas bukit, jadi di mana akuaduk atau akuifer yang menyalurkan air ke atas?"
"Memangnya penting? Di sana ada jembatan, tidak usah repot-repot menyeberangi parit es."
"Tapi, tidakkah kau penasaran?"
"Demi Dewi Shi, sama sekali tidak. Rangkaikan aku cara memenangi Roda Gambling atau Straight. Kalau itu, baru aku penasaran."
Reyn kembali memakukan pandangan ke pekerjaannya, kentara sekali kecewa.
Entah kenapa, Tera sendiri agak kecewa.
<<>><<>><<>>
Tera mengecek Krista tiap pagi dan malam. Dia terguncang saat membayangkan kejadian itu dapat menewaskan Krista. Walaupun Silva sudah bekerja keras, Tera sempat yakin kalau Krista tidak bertahan lama di dunia ini.
Namun, suatu pagi, ketika Tera menjenguk Krista, Tera datang ke kabin dan mendapati Krista sedang duduk tegak manis sambil mengenakan celana panjang, rompi, dan tunik bertudung.
Silva membungkuk, berjuang untuk memasukkan kaki si gadis Zemeni ke sandal anehnya yang berlapis karet.
__ADS_1
Tera mempunyai banyak kata yang ingin diucapkan, sampai-sampai dia tidak tahu mana dulu yang harus dia ucapkan. "Ke, ka, lho, apa?" katanya bata-bata sambil menunjuk ke arah Krista. "Kau tidak mati."
Pemudi itu tersenyum kecil. "Aku seperti yang lain."
"Jangan cuma omel di situ," kata Silva. "Bantu aku memasangkan alas kakinya."
"Aku bisa sendiri."
"Jangan," bentak Silva. "Jangan sekali-kali membungkuk, melompat, dan bergerak tiba-tiba. Kecuali kau berjanji takkan memaksakan diri, akan ku lambatkan detak jantungmu supaya kau koma sampai kau pulih total."
"Silva Liveko, begitukah caramu merawat pasien? Dan, begitu aku tahu dimana kau menyimpan semua pisau-pisauku, kita mesti berbincang-bincang."
"Awas saja kalau isi perbincanganmu bukan Terima kasih, wahai Silva yang hebat, karena sudah membaktikan berjam-jam sepanjang perjalanan berat ini untuk menolongku dari kemalangan dan menyelamatkan nyawaku."
Tera mengira Krista bakal tertawa, tapi dia justru memegangi pipi Silva dengan tangan kanannya dan berkata, "Terimakasih karena sudah menolongku dan mempertahankanku, meskipun dunia seolah-olah bertekad untuk menyeretku ke dunia lain."
Wajah Silva menjadi merah padam. "Aku cuma menggodamu Krista." Dia terdiam. "Menurutmu utang kita berdua sudah kebanyakan."
"Utang yang ini aku tanggung dengan senang hati."
"Oke, oke, sepulangnya kita ke Moontown, traktir aku wafel."
Kini Krista mulai tertawa. "Nyawa dibalas kue? Aku tidak yakin itu sebanding."
"Aku minta wafel yang sangat enak."
"Aku tahu tempatnya," kata Tera. "Mereka menyajikan wafel dengan sirup apel---"
"Kau tidak diundang," ujar Silva. "Nah, sekarang bantu aku memapah Krista."
"Aku bisa sendiri," kata Krista sambil meluncurkan kakinya ke lantai.
"Turuti saja permintaanku."
Sambil mendesah, Krista mencengkeram lengan Tera yang luntur, lalu mereka keluar dari kebin menuju ke geladak. Silva mengikuti dari belakang.
"Ini konyol," kata Krista. "Aku baik-baik saja."
"Kau baik-baik saja," kata Tera, "tapi aku mungkin bisa tersandung kapan saja, jadi perhatikan baik-baik."
Saat mereka di atas geladak, Krista meremas tangan Tera supaya berhenti. Gadis itu mendongak sambil menghirup napas dalam-dalam. Kebetulan cuaca sedang mendung hari ini, suara ombak putih, sedangkan langit diwarnai oleh awan tebal berbaris. Angin kencang membawa kapal ini mengarungi gelombang.
"Enak berada di tengah hawa dingin seperti ini," guman Krista.
"Seperti ini?"
"Kelilingi dua dek saja," kata Silva. "Lalu kembali ke tempat tidur."
Dia beranjak untuk bergabung dengan Reyn di belakang. Tera tak luput menangkap bahwa Silva menuju ke tempat yang paling jauh dari Reader di atas kapal.
Tera mengangguk. "Seperti menyaksikan dua kucing yang siap-siap saling menyerang."
Krista berguman mengiyakan. "Tapi, apa yang akan mereka lakukan ketika serangan dimulai?"
"Saling cakar sampai mati?"
Krista memutar bola matanya. "Pantas kau selalu kalah di meja judi."
Tera menggiring Krista ke pagar, tempat di mana mereka bisa berjalan tanpa menghalangi siapapun. "Ingin aku mengancam akan melemparmu, tapi Ken memperhatikan."
Krista mengangguk. Gadis itu tidak boleh menoleh ke tempat Ken berdiri di samping Aye di balik kemudi. Namun, Tera menengok dan melambai-lambai dengan senyum lebar hingga gigi-giginya kelihatan nan ceria kepada Ken. Ekspresi Ken tidak berubah.
"Akankah dia mati kalau senyum sesekali?" tanya Tera.
"Sangat mungkin."
Tiap awak menyerukan sapaan dan ucapan semoga cepat sembuh, sedangkan Tera merasakan Krista semakin bersemangat tiap sorakan. "Kucing sudah kembali!" Bahkan Reader juga membungkukkan badan dengan canggung dan berkata, "Aku tahu, berkat kaulah kita bisa meninggalkan pelabuhan hidup-hidup."
"Barangkali berkat macam-macam hal," ujar Krista.
"Berkat aku salah-satunya," tukas Tera, sok-sok membantu.
"Meskipun begitu, kau tetap berjasa," kata Reader, mengabaikan Tera. "Terimakasih."
Mereka lanjut berjalan. Tera melihat cengiran senang di bibir Krista.
"Terkejut?"
"Sedikit," kata Krista. "Saking seringnya meluangkan waktu bersama Ken, kurasa---"
"Kau jarang merasa diapresiasi."
Krista terkekeh kecil.
"Mereka bersyukur kau masih hidup. Aku bersyukur."
"Kuharap begitu. Aku cuma berpikir kalau aku cuma kurang cocok di tengah-tengah Geak."
"Wah, memang tidak cocok."
"Terimakasih."
"Kami kru yang memiliki minat terbatas, sedangkan kau tidak berjudi, menyumpah, atau minum berlebih-lebihan. Tapi, ini dia di balik popularitas: mempertaruhkan nyawa agar rekan-rekannya tidak diberondong oleh peluru sampai binasa dalam penyergapan. Itu cara jitu untuk mendapatkan teman baru."
"Asalkan kau tidak datang ke tempat pesta."
__ADS_1
Saat mereka sampai di ujung kapal, Krista bertopang ke pagar dan menerawang ke kaki langit. "Apa dia sempat menengokku?"
Tera tahu maksudnya Ken. "Tiap hari."
Krista mengarahkan tatapan matanya yang bewarna gelap kepada Ken, lalu menggelengkan kepala. "Kau tidak bisa membaca tindak-tanduk orang dan juga tidak bisa mengecoh."
Tera mendesah. Dia benci mengecewakan orang. "Tidak pernah," Tera mengakui.
Krista mengangguk dan kembali memandangi cakrawala.
"Menurutku, dia tidak suka mendatangi pasien yang terbaring sakit."
"Siapa yang suka?"
"Maksudku, aku menduga berat baginya untuk berada di dekatmu saat kondisi seperti itu. Di hari pertama, ketika kau terluka... dia menjadi agak sinting," Tera sendiri kesulitan mengakuinya. Akankah Ken bereaksi seperti anjing gila jika yang tertusuk pisau adalah Tera, bukan Krista?
"Tentu saja, karena pekerjaan ini membutuhkan enam orang, dan lagipula dia membutuhkanku untuk menaiki cerobong asap."
Tera tidak bisa menyangkal.
"Omong-omong, kenapa Reyn bertengkar dengan ayahnya? Coba beritahu aku."
Krista melirik Ken sekilas, lalu menengok ke balik bahunya untuk memastikan tidak ada awak kapal yang luntang-luntung dekat mereka. Ken sudah menegaskan bahwa informasi apa pun yang tersangkut paut dengan pekerjaan tidak boleh bocor di luar mereka berenam. "Tiga bulan lalu Reyn muncul di motel dekat Easd. Dia menggunakan nama belakang lain, tapi Ken memantau semua orang baru di Krisbow, maka dia menyuruhku untuk memata-matai."
"Lantas?"
Krista mengangkat bahu. "Para pelayan Etz Djel digaji cukup sehingga mustahil disogok, informasi yang kuperoleh tidak lengkap. Ada desas-desus bahwa Reyn tepergok sedang main dengan salah seorang tutornya."
"Masa?" kata Tera tak percaya. Benar-benar rahasia yang terkubur.
"Cuma desad-desus. Lagi pula, kenyataannya Reyn tidak menumpang di rumah seorang pacar selepas meninggalkan rumah."
"Jadi kenapa Papa Etz Djel menendangnya?"
"Menurutku dia tidak diusir. Etz Djel menyurati Reyn tiap minggu, sedangkan Reyn tidak membuka semua suratnya."
"Apa isinya?"
Krista hati-hati menyandar ke pagar. "Kau mengasumsikan aku membaca surat itu?"
"Memang tidak?"
"Tentu saja aku membacanya." Kemudian ia mengerutkan kening dan mengingat-ingat. "Semua isinya sama: Jika kau membaca ini, kau tahu betapa Ayah menginginkanmu pulang. Atau Ayah berdoa semoga kau membaca kata-kata ini dan memikirkan semua yang kau tinggalkan."
Tera menengok ke arah Reyn yang sedang mengobrol dengan Silva. "Pangeran misterius. Aku bertanya-tanya Etz Djel berbuat apa saking tercelanya membuat Reyn kabur untuk hidup susah bersama kita."
"Nah, sekarang coba beritahu aku, Tera. Apa yang mengantarmu sehingga ikut serta ke dalam misi yang begitu riskan ini? Kau tahu sekecil apa peluang kita kembali ke Moontown hidup-hidup. Aku tahu kau mendambakan tantangan, tapi ini edan, bahkan menurut standarmu."
Tera memandangi laut kelabu yang berombak tak henti-henti ke cakrawala. Dia tidak pernah menyukai laut, berikut sensasi bahwa ada yang menyeretnya ke bawah, mungkin ada makhluk-makhluk lapar bergigi tajam yang hendak menelannya ke kedalaman. Dan perasaan itulah yang melandanya, bahkan di darat.
"Aku terlilit utang, Krista."
"Kau selalu terlilit utang."
"Bukan, kali ini parah. Aku meminjam uang ke orang-orang yang keliru. Kau tahu ayah ku punya ladang?"
"Di Ru Kraina?"
"Benar, di barat. Ladang beliau baru tahun ini mendapatkan laba."
"Oh, Tera jangan-jangan...?"
"Aku butuh pinjaman, kukatakan kepada beliau kalau aku butuh uang untuk universitasku."
Krista menatapnya. "Ayahmu mengira kalau kau seorang pelajar?"
Tera mengangguk. "Itu alasannya aku ke Moontown. Pada pekan pertamaku di kota, aku mampir ke Kharfa Timur beserta sejumlah peserta lain. Aku memasang taruhan beberapa kairo. Spontan saja, karena dorongan hati. Aku bahkan belum tahu aturan Roda Gambling. Tapi, ketika bandar memutar, aku tidak pernah mendengar bunyi semerdu itu. Aku menang, berkali-kali. Itulah malam terindahku seumur hidupku. Aku seharusnya mendekam saja di perpustakaan. Aku menang. Aku kalah. Aku kalah banyak. Aku butuh uang, maka aku mulai masuk menerima ke dalam pekerjaan geng-geng, dua laki menyergapku di gang suatu malam. Ken menumbangkan mereka, dan kemudian kami mulai bekerja bersama-sama."
"Dia barangkali menyewa pemuda-pemuda itu untuk menyerangmu agar kau merasa berhutang kepadanya."
"Dia tidak akan---" Tera terdiam sekonyong-konyong, lalu tertawa. "Tentu saja." Tera meregangkan buku-buku jarinya sambil memperhatikan garis tangannya dengan seksama. "Ken itu.... Entahlah, dia lain dengan siapa pun yang pernah kukenal. Dia mengejutkan kita."
"Ya seperti sekawanan tawon di laci meja rias kita."
Tera mengakak. "Persis seperti itu."
"Jadi, sedang apa kita ke sini?"
Tera kembali menoleh ke laut, seketika itu merasakan pipinya memanas. "Mengharapkan madu, mungkin. Dan berdoa supaya tidak disengat."
Krista membenturkan bahunya ke pundak Tera. "Kalau begitu, kita sama dungunya."
"Aku tidak tahu apa alasanmu, Kucing. Kalau aku, aku tak bisa menghindari dari taruhan nekat."
Krista mengaitkan lengannya ke lengan Tera. "Berarti kau pejudi yang payah, Tera. Tapi hebat dalam teman."
"Kau terlalu baik untuknya, asal kau tahu."
"Aku tahu, kau juga."
"Bagaimana kalau kita jalan lagi?"
"Tentu," kata Krista sambil menjajari Tera. "Kemudian, aku ingin kau mengalihkan perhatian Silva agar aku bisa mencari pisau-pisauku."
"Mudah, aku tinggal membawa Reader." Tera melirik ke roda kemudi sementara mereka berbalik arah di geladak. Ken tak kunjung bergerak. Dia masih di tempat yang sama, posisi dan sikap yang sama. Dia masih memperhatikan mereka, matanya galak, wajahnya tidak bisa dibaca sama sekali.
__ADS_1