Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Silva


__ADS_3

Silva membuntuti Ken naik ke tangga. Anak tangga batu demi anak tangga batu nan curam mereka tapaki di bawah penerangan dari lampu gas yang berkerlap-kerlip. Silva memperhatikan Ken baik-baik. Jalannya cepat, tapi langkahnya kaku. Kenapa dia bersikeras naik sendiri? Alasannya pasti bukan waktu, jadi siapa tahu Ken sudah berniat demikian sejak awal. Mungkin dia bermaksud menyembunyikan informasi tertentu dari Reader. Atau barangkali dia ingin mereka semua menebak-nebak.


    Mereka berhenti di tiap bordes, memasang telinga kalau-kalau ada patroli. Penjara itu sarat dengan aneka berbunyi dan sulit untuk tidak terlompat tiap kali terdengar kegaduhan---suara-suara yang terhanyut ke tangga, dentang metalik pintu yang terbuka-tutup. Silva teringat akan hiruk pikuk di Raregate, sogokan yang berpindah tangan, darah yang mengotori pasir, yang terkesan bak dunia lain bila dibandingkan dengan tempat steril ini. Orang-orang Bärchen jelas bisa diandalkan untuk menjaga keteraturan.


    Dalam perjalanan menaiki rangkaian tangga keempat, suara-suara dan langkah sepatu bot mendadak tertumpah ruah ke ruang tangga. Silva dan Ken buru-buru mundur ke bordes lantai tiga dan menyelinap melalui pintu yang mengarah ke sel-sel. Narapidana di sel yang paling dekat dengan mereka buka mulut untuk berteriak. Silva cepat-cepat mengangkat tangan dan meremas jalur udaranya hingga tertutup. Si narapidana menatap Silva dengan mata melotot sambil mencakar-cakar lehernya. Silva melambatkan denyut nadi si napi, memingsankan pria itu sambil melepaskan tekanan di batang tenggorokannya, alhasil memungkinkannya untuk bernapas. Mereka ingin dia bungkam, bukan mati.


    Bunyi semakin keras saat para sipir menuruni tangga, bahasa Bärchen lantang bergemang ke dinding. Silva menahan napas sambil memperhatikan pintu, tangannya siap. Ken tidak bersenjata, tapi dia ambil kuda-kuda untuk bertarung, menanti apakah pintu akan terbuka. Namun, para sipir terus melalui bordes, turun ke lantai berikut.


    Ketika bunyi tengah melirih, Ken memberi isyarat kepada Silva, lalu mereka menyelinap ke balik pintu dan menutupnya pelan-pelan di belakang. Mereka kemudian melanjutkan naik.


    Dentang tujuh kali terdengar setibanya mereka di lantai teratas. Sejam telah berlalu sejak mereka membuat semaput para tawanan di sel tahanan sementara. Mereka mempunyai waktu 45 menit untuk menelaah sel-sel berkeamanan tinggi, bertemu kembali di bordes, dan turun ke ruang bawah tanah. Ken melambai kepada Silva agar menuju ke koridor kiri, sedangkan dia bergerak ke kanan.


    Pintu berderit nyaring saat Silva melangkah ke dalam. Lentera-lentera berjauhan di sini dan bayang-bayang di antaranya demikian pekat sampai-sampai terkesan bisa menenggelamkan. Silva mencamkan dalam hati bahwa dia mesti bersyukur karena terlindungi dalam kegelapan, tapi dia tidak mampu menyangkal bahwa suasana tersebut memang angker. Apalagi sel-sel di sini lain, berpintu baja padat alih-alih berjeruji besi. Celah pantau terpasang sejajar mata di masing-masing pintu. Lebih tepatnya, sejajar dengan mata orang Bärchen. Silva berbadan tinggi, tapi dia masih perlu berjingkat untuk mengintip ke dalam.


    Sebagian besar narapidana sedang tidur atau beristirahat, meringkuk di pojok atau telentang sambil menutup mata dengan lengan untuk menghalau cahaya lampu remang-remang yang masuk lewat kisi-kisi. Yang lain duduk bersandar ke tembok sambil menatap kosong. Terkadang Silva mendapati bahwa ada yang mondar-mandir sehingga dia harus menjauh cepat-cepat. Tak satupun adalah orang Kuwei.

__ADS_1


    "Ajor?" salah seorang memanggilnya dengan bahasa Bärchen. Silva mengabaikan narapidana dan jalan terus, jantungnya berdebar-debar.


    Bagaimana jika Erikson betul-betul berada di dalam sel sebelah sini? Silva tahu kemungkinan kecil, tapi... Silva bisa membunuh sang ilmuwan di dalam selnya, membuatnya tertidur pulas tanpa kesakitan, dan semata-mata menghentikan jantungnya. Akan Silva sampaikan kepada Ken bahwa dia tidak menemukan pria itu. Dan bagaimana jika Ken menemukan Erikson? Silva mungkin harus menunggu sampai mereka keluar dari Royalemerald untuk mencari solusi, tapi dia setidaknya bisa mengandalkan Reader untuk membantu. Betapa janggal dan tidak enaknya kesepakatan mereka berdua.


    Namun, sementara Silva menyusuri koridor, harapan kecil semoga sang ilmuwan berada di sini menjadi layu tak bersisa. Sederet sel lagi, pikir Silva, kemudian kembali ke ruang bawah tanah tanpa hasil. Hanya saja, ketika memasuki koridor itu lebih pendek daripada yang lain-lain. Di lokasi yang seharusnya ditempati oleh sel-sel, justru terdapat pintu baja, cahaya terang memancar dari bawahnya.


    Keresahan merambati Silva saat dia mendekat, tapi dia memaksakan diri untuk mendorong pintu hingga terbuka. Dia harus menyipitkan mata supaya tidak kesilauan. Cahaya tersebut mencorong---secerah sinar mentari tapi tidak memancarkan kehangatan---dan Silva tak bisa menemukan sumbernya. Dia mendengar bunyi berdesir saat pintu bergerak tertutup di belakangnya. Pada saat terakhir, Silva masih sempat berputar dan mencengkeram tepi pintu. Firasatnya mengatakan bahwa pintu ini membutuhkan kunci untuk dibuka dari dalam. Dia menoleh ke sana-kemari untuk mencari apa saja yang bisa dijadikan pengganjal, sampai akhirnya mesti merobek kelima celananya dan menjejalkan kain tersebut ke lubang kunci.


    Tempat ini terkesan ganjil. Dinding, lantai, dan langit-langitnnya bewarna putih bersih yang menyakitkan untuk dilihat. Separuh dari salah satu dinding terbuat dari panel-panel kaca mulus yang sempurna. Buatan Fabrikator. Sama seperti kurungan kaca yang mengelilingi aneka senjata nan brutal yang dia lihat tadi. Tak ada perajin Bärchen yang mampu membuat permukaan semengilap ini. Kesaktian Knoulbarlah yang digunakan untuk menciptakan kaca ini, Silva yakin. Memang ada Knoulbar liar yang tidak mengabdi kepada negara mana pun dan yang mungkin mempertimbangkan untuk menyewakan jasa kepada pemerintah Bärchen. Namun, akankah mereka selamat selepas menuntaskan proyek tersebut? Lebih besar kemungkinannya bahwa Bärchen memanfaatkan tenaga budak.


    Dia menyipitkan mata ke balik jendela pertama. Sel tersebut seputih koridor dan diterangi oleh cahaya terang tak bersumber yang sama. Ruangan itu kosong dan tidak dilengkapi perabot sama sekali---tiada bangku, tiada baskom, tiada ember. Satu-satunya yang mengoyak hamparan putih itu adalah lubang drainase di tengah-tengah lantai, yang dikelilingi noda kemerahan.


    Silva melanjutkan ke sel berikut. Sel tersebut identik dan sama kosongnya seperti sel pertama, begitu pula sel yang berikut lagi, dan yang selanjutnya. Namun, di sini, sesuatu tertangkap oleh matanya, sekeping koin yang tergeletak di samping lubang drainase---tidak, bukan kain, kancing. Kancing perak mungil bertatahkan bentuk sayap, simbol Knoulbar Pemanggil Badai. Silva merasakan lengannya merinding. Apakah sel-sel ini dirakit oleh Knoulbar budak untuk tahanan Knoulbar? Apakah kaca, dinding, dan lantai dibuat untuk tahan terhadap manipulasi Fabrikator? Ruangan ini tidak mengandung logam sama sekali. Tiada ledeng, tiada pipa untuk mengalirkan air yang bisa disalahgunakan oleh Pemangil Gelombang. Selain itu, Silva curiga bahwa kaca yang dia intip tampak sebagai cermin dari sebelah dalam sehingga seorang Perabak Jantung di dalam sel takkan bisa melihat target. Sel-sel ini dirancang untuk mengurung Knoulbar. Dirancang untuk mengurungnya.


    Silva membalikkan badan secepat kilat. Erikson tidak berada di sini dan Silva ingin keluar dari tempat ini sekarang juga. Dia menyambar kain dari lubang kunci dan keluar dengan tergopoh-gopoh, bahkan berhenti untuk memastikan bahwa pintu sudah tertutup di belakangnya. Koridor yang terdiri dari sel-sel besi terkesan semakin gelap selepas dia meninggalkan ruangan terang benderang, alhasil Silva sempat terantuk selagi dia berlari ke arah kedatangannya. Lubang drainase. Noda di sekelilingnya. Apakah Knoulbar sempat disiksa di dalam sana? Disuruh mengakui kejahatan terhadap rakyat?

__ADS_1


    Dia sudah mempelajari orang-orang Bärchen---pemimpin mereka, bahasa mereka. Dia bahkan pernah bermimpi memasuki Royalemerald sebagai mata-mata persis seperti ini, bermimpi menyerang jantung negeri yang amat dia benci. Namun kini, setelah berada di sini, dia hanya ingin ambil langkah seribu. Dia telah terbiasa dengan Moontown, dengan petualangan yang menyertai keterlibatannya dengan Geak, dengan kehidupannya yang enteng di Cherry Blossom. Namun di sana sekalipun, pernahkah dia merasa aman? Di kota tempatnya tidak bisa menyusuri jalanan tanpa rasa takut? Aku ingin pulang. Kerinduannya tersebut menghantamnya kuat-kuat, membuat raganya perih. Aku ingin pulang ke Juwel.


    Ghantaclock mulai berdencing lirih, menandakan selang tiga perempat jam. Silva terlambat. Walau begitu, dia memaksa diri untuk melambatkan langkah sebelum membuka pintu ke ruang tangga. Tiada siapa-siapa di sana, termasuk Ken. Dia menengok ke koridor seberang untuk mengecek apakah Ken akan datang. Tiada apa-apa---cuma pintu-pintu besi, bayangan kelam, tiada tanda-tanda keberadaan Ken.


    Silva menanti, tak tahu harus berbuat apa. Mereka seharusnya bertemu di bordes 15 menit menjelang satu jam berlalu. Bagaimana jika Ken sedang kesulitan? Silva ragu-ragu, lalu memasuki koridor yang tadi mestinya ditelusuri oleh Ken. Silva melesat melalui sel-sel, menyusuri koridor meliuk-liuk bolak-balik, tapi Ken tak tampak batang hidungnya.


    Cukup, pikir Silva setiba di ujung koridor kedua. Entah Ken telah meninggalkannya dan sudah di bawah beserta yang lain, atau pemuda itu telah tertangkap dan diseret ke suatu tempat. Yang jelas, Silva harus menuju ke tungku pembakaran. Begitu dia menjumpai yang lain, mereka bisa memutuskan hendak berbuat apa.


    Dia melaju sepanjang koridor dan membuka pintu ruang tangga. Dua penjaga berdiri sambil mengobrol di atas tangga. Sekejap, mereka menatap Silva sambil melongo.


    "Sten!" salah seorang berteriak dalam bahasa Bärchen, memerintahkan Silva berhenti sementara mereka bergegas meraih senjata. Silva mengangkat kedua tangannya, jemarinya mengepal, dan memperhatikan kedua sipir ambruk ke belakang. Yang seorang terkapar ke bordes, tapi rekannya berguling-guling ke tangga, senapannya menembak, meluncurkan peluru yang mendesing saat terpental ke dinding batu, bunyinya bergema ke seluruh rumah tangga. Ken akan membunuhnya. Dia akan membunuh Ken.


    Silva melejit melewati tubuh kedua penjaga, turun selantai, dua lantai. Di bordes lantai tiga, pintu terbuka tiba-tiba saat seorang penjaga melesat masuk ke ruang tangga. Silva memuntir tangan ke udara dan patahlah leher si penjaga, disertai bunyi krek lantang. Silva sudah turun ke tingkat berikutnya sebelum tubuh penjaga itu menghantam lantai.


    Saat itulah Ghantaclock mulai berbunyi. Bukan berdentang konstan untuk menandakan jam, melainkan berdering nyaring, tinggi melengking---membunyikan alarm peringatan.

__ADS_1


__ADS_2