
Ken baru sembilan tahun waktu itu, masih merindukan ayahnya dan takut meninggalkan rumah satu-satunya yang dia tahu. Dia menggandeng kakaknya erat-erat sementara mereka menempuh perjalanan bermil-mil melalui perdesaan harum bukit-bukit, hingga mereka tiba di salah satu jalur air utama dan naik ke perahu besar yang mengangkut hasil bumi ke Moontown.
"Kalau sudah sampai sana terus bagaimana?" tanyanya kepada Keiko.
"Aku akan mencari pekerjaan sebagai kurir di Bursa, kemudian menjadi kerani. Aku akan menabung untuk membeli saham dan kemudian menjadi saudagar betulan. Dengan begitu, aku akan menjadi orang kaya."
"Aku bagaimana?"
"Kau harus sekolah."
"Kenapa kau tidak sekolah?"
Keiko malah mendengus. "Aku terlalu tua untuk sekolah. Terlalu pintar, pula."
Dulu ayahnya mengajak mereka tiap minggu atau dua minggu sekali ke sana, Beliau bilang kalau di sana banyak sekali pasar uang atau perdagangan yang cocok untuk pekerjaan mudah tapi menghasilkan. Namun, banyak pula yang membodohi. Dan yang paling Ken rindukan adalah paman yang sering memberinya brownis coklat.
Hari-hari pertama di kota persis seperti yang Keiko janjikan. Mereka menyusuri jalan melengkung sepanjang pelabuhan yang dikenal sebagai kawasan Ret, lalu menyusuri Kharfa Timur untuk melihat-lihat kasino. Mereka mengeluyur terlalu jauh ke selatan, karena mereka mewanti-wanti ada beberapa geng yang berbahaya di sana. Mereka menyewa kamar di asrama kecil rapi tak jauh dari Bursa dan mencicip makanan tiap baru yang mereka lihat, sempat pula menggasak permen bonbon sampai-sampai Ken sakti perut. Ken suka kios omelet tempat orang bisa memilih ingin bahan tambahan apa saja.
Tiap pagi, Keiko pergi ke Bursa untuk mencari kerja dan menyuruh Ken agar tetap di dalam kamar saja. Anak kecil tidak boleh keluyuran seorang diri di Moontown karena tidak aman. Di sana banyak sekali pencuri, pecopet, bahkan menculik anak kecil dan rela menjual kepada penawar tertinggi. Jadi, Ken hanya tinggal saja di kamar. Dia naik ke kursi yang dia dorong ke bak cuci supaya bisa melihat dirinya di cermin saat coba-coba menghilangkan koin, persis seperti pesulap yang beraksi di salah satu kasino. Ken mau-mau saja menonton si pesulap berjam-jam, tapi dia keburu diseret oleh Keiko. Tipuan kartu memang asyik, tapi yang membuatnya tidak bisa tidur adalah koin yang menghilang. Sesaat koin itu ada, tapi saat berikutnya sudah lenyap.
Keiko pulang dalam keadaan lapar dan jengkel, frustrasi karena lagi-lagi melalui satu hari dengan percuma. "Mereka bilang tidak ada pekerjaan, tapi maksud mereka tidak ada pekerjaan untuk anak laki-laki seperti aku. Semua orang di sana punya koneksi---sepupu atau adik atau putra sahabat si itu."
Ken tidak ingin menghibur Keiko. Dia sendiri rewel setelah berjam-jam di dalam ruangan dingin dengan koin dan kartu. Dia ingin ke Kharfa Timur untuk mencari si pesulap.
Bertahun-tahun sesudah itu, Ken selalu bertanya-tanya apa yang mungkin akan terjadi jika Keiko tidak meladeninya, andaikan mereka justru ke pelabuhan untuk melihat-lihat perahu, atau jika mereka berjalan-jalan di sisi kanal yang lain. Ken ingin meyakini bahwa tindakan yang lain akan berakibat lain, semakin bertambah usianya, semakin dia bimbang.
Mereka melewati Istana Zold yang hijau meriah dan, anak lelaki sedang berjualan anjing-anjingan kecil yang bisa digerakkan dengan kunci perunggu. Begitu kunci diputar, kaki-kaki kakunya terseok-seok ke depan, sedangkan telinga timahnya mengepak-ngepak. Ken lantas berjongkok, memutar semua kunci agar semua anjing bergerak bebarengan, sedangkan Keiko mengobrol dengan penjual. Ternyata anak lelaki itu berasal dari Lij, tak jauh dari tempat Ken dan Keiko dibesarkan, dan dia kenal seorang pria yang membuka lowongan pekerjaan untuk kurir---bukan di Bursa, malainkan sebuah kantor di jalan itu. Keiko mesti datang besok pagi, katanya, dan anak itu akan menemaninya untuk berbicara kepada si pemberi kerja. Dia sendiri berharap bisa direkut sebagai kurir juga.
Dalam perjalanan pulang, Keiko membeli minuman cokelat panas untuk Ken dan dirinya sendiri. Tidak seperti biasanya, mereka tidak perlu berbagi.
"Peruntungan kita membaik," kata Keiko sementara mereka memegangi cangkirnya masing-masing yang mengepul-epul uap, kaki mereka menggelayut di atas jembatan kecil, cahaya lampu-lampu Kharfa berkelip-kelip di atas air. Ken memandangi pantulan mereka di permukaan kanal dan berpikir, aku sekarang merasa beruntung.
Anak lelaki yang menjual mainan anjing tadi adalah Filip, sedangkan pria kenalannya adalah Aang Bartholo, juragan minor yang memiliki kedai kopi kecil di dekat Bursa.
"Coba kau melihat ke sana," Keiko menyombong kepada Ken setiba di kediaman mereka larut malam itu. "Orang-orang berdatangan ke sana sepanjang waktu, berbincang-bincang dan bertukar kabar, membeli dan menjual saham, padahal mereka orang-orang biasa---tukang jagal dan penjual roti serta pekerja galangan. Kata Mister Bartholo, semua orang bisa menjadi kaya. Yang dia butuhkan hanyalah keberuntungan dan teman yang tepat."
__ADS_1
Keiko dan Filip mulai bekerja mengantar dan menyampaikan pesanan Bursa, Ken diperbolehkan duduk di kedai kopi dan bermurah hati memberi Ken cokelat panas sebanyak yang sanggup dia minum. Mereka diundang ke rumah Mister Bartholo untuk makan malam, sebuah hunian mewah yang berpintu biru dan bertirai rendah putih di cendela. Mister Bartholo adalah seorang pria besar, berwajah ramah kemerahan, dan bercabang kelabu petak-petak. Istrinya Magit mencubit pipi Ken dan memberinya sosis asap, dan dia boleh bermain di dapur dengan anak perempuan mereka, Diana. Diana berumur sepuluh tahun dan, menurut Ken adalah anak perempuan paling cantik yang pernah dia lihat. Saat itulah Ken merasa paling bahagia sejak ayahnya meninggal. Mister Bartholo bahkan memperkenakan Keiko untuk menanam sedikit uang untuk membeli saham perusahaan. Keiko ingin berinvestasi lebih banyak, tapi Mister Bartholo selalu menasehatinya agar berhati-hati. "Pelan-pelan saja, Nak. Pelan-pelan."
Situasi kian membaik ketika teman Mister Bartholo pulang dari Ru Kraina, sepertinya sempat bersimpang jalan dengan petani gula di pelabuhan Riverdale. Sang petani mabuk mengeluh gara-gara ladangnya kebanjiran. Saat ini harga gula sangat rendah, tapi ketika gula sukar didapat, harganya akan melambung tinggi. Teman Mister Bartholo berniat membeli gula sebanyak-banyaknya sebelum kabar itu masuk ke Moontown.
"Kesannya seperti curang," kata Ken kepada Keiko.
"Bukan curang," dengus Keiko. "Itu taktik bisnis yang bagus. Lagi pula, mana mungkin orang bisa maju di dunia ini tanpa sedikit bantuan?"
Beberapa hari beselang, Mister Bartholo mendapatkan kabar dari temannya mengenai panen arta. "Hujan menyusahkan orang tahun ini," kata Mister Bartholo. "Tapi kali ini, yang hancur bukan cuma ladang, melainkan gudang-gudang di pelabuhan Rem. Untungnya bisa banyak dan aku berniat memasang taruhan besar."
"Kalau begitu, sebaiknya kami juga," kata Filip.
Mister Bartholo mengerutkan kening. "Aku khawatir ini tidak cocok untuk kalian, Nak. Nilai investasi minimumnya masih terlampau tinggi untuk kalian berdua. Tapi, kapan-kapan akan ada kesempatan dagang lain!"
Filip berang. Pemuda itu membentak Mister Bartholo, mengatakan bahwa dia tidak adil. Filip menyeletuk bahwa Mister Bartholo sama saja dengan para saudagar di Bursa, yang menimbun kekayaan sendiri, dan mengatai Mister Bartholo dengan nama-nama panggilan yang membuat Ken berjengit. Ketiga pemuda itu keluar sambil bersungut-sungut, semua orang di kedai kopi menatap wajah Mister Bartholo yang memerah malu.
Sang saudagar lantas masuk ke kantornya dan merosot di kursi. "Aku... aku tidak bisa mengubah tata cara bisnis ini. Para pedagang saham hanya menginginkan investor besar, orang-orang yang sanggup menerima resiko besar."
Keiko dan Ken berdiri mematung, salah tingkah.
Tentu saja tidak, mereka meyakinkannya. Yang bersikap tidak adil adalah Filip.
"Aku memahami kemarahannya," kata Mister Bartholo. "Peluang seperti ini tidak datang dua kali, tapi kita tak bisa berbuat apa-apa."
"Saya punya uang," kata Keiko.
Mister Bartholo tersenyum menghibur. " Keiko, kau pemudi baik, tak diragukan lagi, kelak kau akan menjadi ratu Bursa, tapi kau tidak punya cukup dana yang mencukupi untuk diinvestasikan dalam bisnis ini."
Dagu Keiko terangkat. "Saya punya. Dari hasil penjualan peternakan ayah saya."
"Uang yang kutebak adalah bekal hidupmu dan Ken. Uang itu tidak boleh dipertaruhkan untuk perdagangan saham, sekalipun yang konon pasti untung. Anak seusiamu tidak sepantasnya---"
"Saya bukan anak-anak, kalau ada peluang bagus, saya akan mengambilnya."
Ken senantiasa mengingat momen itu, ketika dia melihat keserakahan menguasai sang kakak, memandu Keiko ke depan dengan tangan tak kasatmata, mendongkrak kerakusannya.
__ADS_1
Mister Bartholo kembali mengundang mereka ke rumahnya dan berunding sampai larut malam. Ken jatuh tertidur di pangkuan perut anjing keperakan sambil mencengkeram pita merah Diana. Ketika Ken dibangunkan oleh Keiko, lilin-lilin sudah pendek dan hari mulai pagi. Mister Bartholo telah meminta mitra bisnisnya dan membuat Keiko kontrak pinjaman. Karena masih di bawah umur, Mister Bartholo meminjaminya uang dan uang Keiko akan diinvestasikan untuknya. Lalu mereka semua berjalan ke bank yang menyimpan hasil penjualan peternakan dan di sana, Keiko menerakan tanda tangan untuk menyerahterimakan dana kepada Mister Bartholo.
Mister Bartholo bersikeras mengawal mereka sampai ke asrama sewaannya dan memeluk mereka di depan pintu. Dia menyerahkan pinjaman-pinjaman kepada Keiko agar mengamankannya. "Nah Keiko," katanya, "kecil peluangnya bahwa perdagangan ini akan merugi, tapi sekalipun kecil, kemungkinan itu tidak nihil. Jangan gunakan dokumen ini untuk menagih pinjaman. Kita harus menanggung resiko ini bersama-sama. Aku percaya kepadamu."
Keiko memandangi pria itu dengan muka berbinar-binar. "Kesepakatan disepakati," katanya.
"Kesepakatan disepakati," Mister Bartholo berkata dengan bangga, kemudian mereka bersalaman layaknya saudagar tulen. Mister Bartholo memberi Keiko segulung tebal kairo. "Rayakan dengan makanan-makanan enak. Kembalilah ke kedai kopi seminggu lagi. Nanti kita bisa menyaksikan kenaikan harga bersama-sama."
Pekan itu mereka bermain-main di arkade Ret. Mereka membeli mantel baru bagus untuk Keiko dan sepasang sepatu anyar untuk Ken. Mereka makan wafel dan kentang goreng, sedangkan Keiko membeli semua novel yang dia idamkan. Setelah sepekan berlalu, mereka berjalan bergandengan menuju kedai kopi.
Kedai itu kosong. Pintu depan tertutup terkunci dan digembok. Mereka menempelkan wajah ke cendela gelap dan melihat bahwa segalanya lenyap---kursi, meja, papan tulis tempat nilai-nilai perdagangan harian ditenarkan.
"Apa kita salah belok?" tanya Ken.
Namun, mereka tahu mereka tidak salah jalan. Dicekam keresahan. Mereka menuju ke rumah Mister Bartholo dengan membisu. Mereka mengetuk pintu biru cerah, tidak ada yang menjawab.
"Mereka pasti cuma keluar sebentar," kata Keiko. Mereka menunggu di tangga rumah selama berjam-jam, sampai matahari hampir terbenam. Sama sekali tidak ada yang masuk dan keluar. Dari cendela, tidak tampak lilin yang dinyalakan.
Akhirnya, Keiko memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah tangga. "Ya?" kata pelayan berbaju putih yang membukakan pintu.
"Apakah anda tahu keluarga yang tinggal di sebelah pergi ke mana? Keluarga Bartholo?"
Sang pelayan mengerutkan alis. "Setahuku mereka orang, Zierfroot. Mereka cuma singgah sementara."
"Tidak," kata Keiko. "Mereka sudah tinggal di sini bertahun-tahun. Mereka---"
Sang pelayan menggeleng. "Rumah sebelah sudah kosong bertahun-tahun, dan baru saja disewa beberapa minggu yang lalu."
"Tapi---"
Pelayan kembali menutup pintu di muka Keiko.
Ken dan Keiko tidak mengatakan apa-apa kepada satu sama lain dalam perjalanan pulang ataupun ketika mereka menaiki tangga ke kamar mungil mereka di asrama. Lalu mereka duduk dalam keremangan. Suara-suara terhanyut ke telinga mereka dari kanal di bawah sementara orang-orang sibuk berkegiatan malam.
"Pasti ada yang menimpa mereka," Keiko akhrinya berujar. "Kecelakan atau keadaan darurat. Dia akan segera menyurati kita. Dia akan memanggil kita."
__ADS_1
Malam itu, Ken mengambil pita merah Diana dari balik bantalnya. Dia menggulung pita hingga membentuk spiral nan rapi, yang kemudian ia cengkeram dalam telapak tangannya. Ken berbaring ke kasur dan mencoba untuk berdoa, tapi yang terpikir olehnya hanyalah koin si pesulap: yang sesaat masih ada, tapi sekejap kemudian lenyap tak berbekas.