
Kurang dari sejam, Silva sudah tahu bahwa gerobak penjara biasanya melewati persinggahan bernama Pesanggrahan Sipir dalam perjalanan ke Royalemerald. Krista dan yang lain harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer ke luar Üdeshleg Atas untuk menemukan kedai minuman tersebut. Pesanggrahan Sipir penuh sesak dengan petani dan kuli lokal sehingga tidak berguna, maka mereka maju terus di jalan. Pada saat mereka menemukan tempat yang relatif terlindung dan dikelilingi oleh pohon-pohon yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan mereka, Krista serasa hampir ambruk. Dia bersyukur kepada Kaum Kudus dan atas energi Tera yang sepertinya tak habis-habis. Pemuda itu dengan riang mengajukan diri untuk maju terus dan menjadi pemantau. Ketika penjara menggelinding lewat, Tera akan menyalakan suar untuk memperingatkan yang lain, kemudian lari untuk bergabung kembali dengan mereka.
Silva menghabiskan beberapa menit untuk merombak lengan bawah Tera, menyembunyikan tato Geak dan membekaskan kulit berparut di sana. Tato Ken dan tatonya sendiri akan dia tangani malam nanti. Mungkin saja di dalam penjara tak seorang pun mengenali tato geng dan rumah bordil Moontown, tapi mending tidak mengambil resiko.
"Come as blossom," seru Tera sambil melesat ke keremangan, tungkainya yang panjang melibas jarak dengan mudah.
"Or goes as blossom," jawab mereka. Krista mengiringi kepergian Tera dengan doa sungguhan juga. Dia tahu Tera bersenjata dan bisa berjaga diri, tapi gara-gara postur jangkung ceking dan kulit Riverdalenya, pemuda itu semata-mata terlampau menonjol.
Mereka berkemah di parit kering yang dibatasi oleh semak-semak, bergiliran tidur-tiduran di tanah berbatu-batu keras dan berjaga. Walaupun kecapekan, Krista mengira takkan bisa tidur, tapi di saat berikut dia tersadar, matahari sudah tinggi di atas mereka, memancarkan cahaya menyilaukan di sela-sela awan mendung. Pasti sudah lewat tengah hari. Silva berada di sampingnya sambil memegang kue merica serigala yang dia beli di Üdeshleg Atas. Krista melihat bahwa seseorang telah membuat api kecil dan di antara arangnya, tampak sisa-sisa lengket blok parafin yang sudah meleleh.
"Di mana yang lain?" tanya Krista sambil mengedarkan pandangan ke sepenjuru parit yang kosong.
"Di jalan. Kata Ken kami sebaiknya membiarkan membiarkanmu tertidur."
Krista menggosok-gosok matanya. Mungkin dia diberi keringanan karena baru cedera. Mungkin juga dia tidak ahli menyembunyikan keletihannya. Derak yang terdengar tiba-tiba dari jalan sontak menggertakkan Krista. Dalam hitungan detik, dia sudah berdiri sambil menghunus pisau.
"Kalem," kata Silva. "Itu cuma Reyn."
Tera pasti sudah memberi peringatan. Krista mengambil kue dari Silva dan bergegas-gegas menuju ke tempat Ken dan Reader sedang memperhatikan Reyn mengutak-atik sesuatu di pangkal pohon dir merah nan tebal. Terdengar serangkaian bunyi letupan, kemudian asap putih mengepul dari batang pohon yang menancap ke tanah. Sesaat tampaknya tidak ada yang terjadi, kemudian akar terlepas sendiri dari tanah, mengeriting dan layu.
"Apa itu?" tanya Krista.
"Konsentrat garam," kata Silva.
Krista menelengkan kepala. "Apa Reader... berdoa?"
"Merapal pemberkatan. Orang-orang Bärchen melakukan itu kapan pun mereka menebang pohon."
"Selalu?"
"Pemberkatan bergantung kepada penggunaan kayu. Ada pemberkatan untuk membuat rumah, untuk membuat jembatan." Silva terdiam sejenak. "Untuk kayu bakar."
Kurang dari semenit, mereka sudah mencabut pohon hingga batangnya melintang di jalan. Karena, akar-akarnya masih utuh, pohon seolah-olah tumbang sendiri karena penyakit.
"Begitu gerobak berhenti, pohon paling banter memberi kira waktu sekitar lima belas menit," kata Ken. "Bergeraklah dengan cepat. Para tahanan semestinya bertudung, tapi mereka bisa mendengar, jadi jangan berbicara sepatah kata pun. Kita tidak boleh membangkitkan kecurigaan. Mereka mungkin saja menduga bahwa ini perhentian rutin. Usahakan agar mereka terus mengira demikian."
__ADS_1
Sementara Krista menunggu di parit beserta yang lain, dia mempertimbangkan apa-apa saja yang mungkin berjalan di luar rencana. Kepala para tahanan mungkin tidak dikarungi. Mungkin saja di dalam gerobak ada penjaga. Dan andaikan mereka berhasil? Nah, berarti mereka akan menjadi tahanan yang menuju ke Royalemerald. Itu pun tidak terkesan sebagai hasil akhir yang menjanjikan.
Tepat saat Krista mulai bertanya-tanya apakah Tera keliru dan menyalahkan suar terlampau dini, gerobak penjara tampak dalam pandangan. Kendaraan itu meluncur melewati mereka, kemudian berhenti di depan pohon. Krista bisa mendengar si sais mengumpat kepada rekannya.
Mereka berdua meluncur turun dari kursi dan beranjak ke pohon. Lama mereka berdiri saja sambil menatap pohon itu. Penjaga berbadan besar melepaskan topinya dan menggaruk-garuk perut.
"Semalas apa mereka?" gerutu Ken.
Akhirnya, mereka tampaknya pasrah bahwa pohon takkan bergerak sendiri. Mereka kembali ke gerobak untuk mengambil seuntai tambang tebal dan melepaskan seekor kuda dari tempatnya untuk membantu menyeret pohon dari jalan.
"Siap-siap," kata Ken. Dia beringsut-ingsut naik dari parit, lalu melesat ke belakang gerobak. Dia meninggalkan tongkatnya di dalam parit dan kalaupun merasa sakit, Ken pandai menyembunyikannya. Pemuda itu mengeluarkan alat congkel kunci dari lapisan dalam mantel dan membuai gerobak dengan lembut, hampir-hampir terkesan penuh kasih. Dalam hitungan detik, gembok sudah terbuka. ken menggeser palang ke samping, lalu melirik ke balik gerobak untuk mengecek bahwa kedua pria masih sibuk mengikat tampang pohon. Dia kemudian membuka pintu.
Krista menegang, menantikan sinyal dari Ken. Aba-aba tak kunjung datang. Ken malah berdiri diam sambil menatap ke dalam gerobak.
"Ada apa?" tanya Reyn.
"Mungkin mereka tidak bertudung?" timpal Krista. Dari samping dia tidak bisa melihat. "Aku saja yang ke sana." Mereka tidak mungkin ke gerobak secara bersama-sama.
Krista memanjat ke luar parit dan menghampiri Ken dari belakang. Dia masih bergeming di tempat. Krista menyentuh pundak Ken sekilas dan berjengitlah pemuda itu. Ken Lunark berjengit. Ada apa ini? Krista tidak boleh bertanya karena bisa-bisa para tahanan mendengar. Dia mengintip ke dalam gerobak.
Semua tahanan terborgol dan ditudungi dengan karung hitam. Namun, jumlah mereka jauh lebih banyak daripada yang mereka lihat di pos pemeriksa kemari. Alih-alih duduk dan terantai ke bangku, mereka berdiri berimpitan. kaki dan tangan mereka terbelenggu, dan mereka semua mengenakan kerah besi yang disangkutkan ke kait di langit-langit gerobak. Kapan pun salah seorang mulai membungkuk atau bersandar terlalu lemas, pernapasan niscaya tersumbat. Pemandangan tersebut tidak indah, tapi saking berdempet-dempetannya mereka, kecil kemungkinannya ada yang bisa terjatuh dan mati sesak.
Krista memberi isyarat kepada Reader, yang melompat dari parit untuk bergabung dengan mereka.
"Ada apa?" tanya salah seorang tahanan dengan bahasa Juwel, suaranya takut.
"Tig!" hardik Reader dengan kasar dalam bahasa Bärchen. Para tahanan di dalam gerobak berkasak-kusuk, seolah mereka mendadak siaga. Krista sendiri tanpa sadar ikut-ikutan menegakkan punggung. Dengan satu kata itu, seluruh tindak-tanduk Reader berubah, seakan-akan satu kata perintah nan tajam memakai seragam Dushenka ke tubuhnya. Krista memandangi Reader dengan was-was. Dia sudah mulai merasa nyaman bergaul dengan pemuda itu. Kebiasaannya yang spontan, tapi tidak bijaksana.
Ken membuka enam sel belenggu tangan dan kaki. satu demi satu, Krista dan Reader menurunkan enam tahanan yang terdekat dengan pintu. Tiada waktu untuk mempertimbangkan tinggi badan, perawakan, atau bahkan mereka membebaskan laki-laki atau perempuan. Mereka menuntun tahanan ke parit sambil terus mengawasi.
"Apa yang terjadi?" salah satu tahanan memberanikan diri untuk bertanya. "Tig!" dari Reader membungkamnya.
Begitu mereka tidak kelihatan dari jalan, Silva melambatkan denyut nadi para tahanan sehingga mereka tak sadarkan diri. Baru saat itulah Reyn melepaskan karung penutup kepala para tahanan: empat laki-laki, salah satu lumayan tua suntuk, perempuan paruh baya, dan seorang pemuda Kuwei. Memang tidak ideal, tapi mudah-mudahan para penjaga tidak terlalu mementingkan akurasi. Biar bagaimanapun, mana mungkin sekelompok tahanan yang terantai dan terbelenggu bertingkah merepotkan?
Silva menyuntik para tahanan dengan cairan obat tidur untuk memperlama istirahat mereka, lalu Reyn membantu menggulingkan mereka ke dalam parit di belakang pohon-pohon.
__ADS_1
"Akankah kita tinggalkan saja mereka di sini?" bisik Reyn kepada Krista saat mereka tergopoh-gopoh ke belakang gerobak sambil membawa tudung para tahanan.
Mata Krista tertuju kepada kedua penjaga yang memindahkan pohon dan, tanpa memandang Reyn, dia berkata, "Mereka akan terbangun dan kabur tak lama lagi. Kita justru membantu mereka."
"Kelihatannya bukan membantu. Kelihatannya kita meninggalkan mereka di dalam parit."
"Diam," perintah Krista, ini bukan waktu ataupun tempat untuk memperdebatkan moral. Jika Reyn tidak tahu perbedaan antara terbelenggu dan terbebas, pemuda itu akan menyadarinya tak lama lagi.
Krista menangkup tangan ke dalam mulut dan membuat suara kicauan bernada rendah. Waktu mereka mungkin empat, atau lima menit lagi sebelum kedua penjaga memindahkan pohon dari jalan.
Reader mengunci Reyn duluan, lalu Silva. Krista melihatnya menegang saat Silva menyibakkan rambut untuk menerima kerah, alhasil menampakkan lekuk lehernya yang putih. Sementara Reader mengunci kerahnya sendiri, Silva menoleh ke samping sambil menatap mata pemuda itu. Ekspresi yang terlintas di antara mereka berdua seolah-olah mampu melelehkan es utara sejauh bermil-mil. Reader kemudian menyingkir buru-buru. Krista nyaris tertawa. Jadi, cuma itu caranya mengusir Dushenka.
Berikutnya Tera, masih tersengal-sengal selepas lari dari persimpangan. Tera berkedip saat Krista mengarungi kepalanya. Mereka mendengar kedua penjaga yang berteriak bolak-balik.
Krista mengarungi kerah Reader dan berjingkat untuk mengarungi kepalanya. Namun, ketika dia beranjak untuk menudungi Silva, sang Knoulbar mengerjap-ngerjapkan mata dengan cepat sambil mengedikkan kepala ke pintu gerobak. Silva masih ingin tahu Ken hendak mengurung mereka di dalam dengan cara apa.
"Perhatikan," ucap Krista tanpa suara.
Begitu Ken memberi isyarat kepada Krista, gadis itu melompat turun. Dia menutup pintu gerobak, mengunci gerobak, dan menggeser selot. Sedetik kemudian, pintu terbuka dari pinggir, Ken semata-mata mencopot engselnya. Trik itu kerap mereka gunakan ketika gembok terlampau rumit untuk dicongkel tanpa ribut-ribut atau ketika mereka ingin mengesankan bahwa pencurian adalah pekerjaan orang dalam. Ideal untuk membuat pembunuhan terkesan sebagai bunuh diri, Ken pernah memberitahunya. Krista tidak tahu apakah Ken sungguh-sungguh.
Krista melihat jalan untuk kali terakhir. Kedua pria telah selesai memiringkan pohon. Si lelaki besar mengebuti tangannya dan menampar pantat kuda. Pria yang satu lagi sudah maju ke depan gerobak. Krista mencengkeram bibir pintu dan melontarkan diri ke atas, lalu menyempil ke dalam. Ken serta-merta mulai mengembalikan engsel. Krista menutupi wajah Silva yang terkejut dengan karung, kemudian berdiri di sebelah Tera.
Namun, di dalam keremangan sekalipun, Krista bisa melihat bahwa Ken bergerak terlalu lambat, jemarinya yang bersarung jauh lebih kikuk daripada yang pernah Krista lihat selama ini. Dia kenapa? Dan kenapa pula dia mematung di pintu gerobak? Ada sebabnya Ken ragu-ragu, tapi apa?
Krista mendengar denting logam saat Ken menjatuhkan salah satu sekrup. Dia melirik ke lantai gerobak dan menendang sekrup ke arah Ken, berusaha untuk mengabaikan jantungnya yang berdebar kencang.
Ken berjongkok untuk memasang engsel kedua. Napasnya tersengal-sengal. Krista tahu Ken sedang bekerja dengan penerangan minim, mengandalkan sentuhan belaka, padahal jemarinya tertutup sarung terkutuk yang selalu dia kenakan, tapi menurut Krista bukan itu sebabnya Ken sekalut ini. Krista mendengar suara langkah kaki di sebelah kanan gerobak, salah seorang penjaga meneriaki rekannya. Ayo, Ken. Krista tidak sempat menyapu jejak kaki mereka. Bagaimana kalau penjaga memperhatikan? Bagaimana kalau si penjaga menarik pintu, yang kemudian lepas begitu saja dari engselnya sehingga menampakkan Ken Lunark, yang tak bertudung dan tak terantai?
Krista lagi-lagi mendengar denting logam. Ken mengumpat pelan. Pintu tiba-tiba berguncang saat penjaga menggoyangkan palang yang dililit rantai. Ken menumpukan tangan ke engsel, menahan supaya pintu tidak jebol. Selarik cahaya di bawah pintu melebar. Krista menahan napas.
Engsel bertahan di tempatnya.
Lagi-lagi teriakan dalam bahasa Bärchen. lagi-lagi langkah kaki. Kemudian terdengar bunyi tali kekang yang dilecutkan dan meluncurlah kereta ke depan, menggelinding di jalanan. Krista mengizinkan dirinya menghembuskan napas. Tenggorokannya terasa kering.
Ken menempatkan posisi di sebelah Krista. Ken mengarungi kepala Krista sehingga bau apak seketika memenuhi lubang hidungnya. Ken berikutnya akan mengarungi kepalanya sendiri, lalu mengunci diri. Gampang saja, cuma tipuan pesulap murahan, dan Ken tahu semuanya. Lengan Ken menekan Krista dari bahu ke siku sementara pemuda itu mengunci kerah di lehernya. Badan-badan tawanan bergeser di punggung dan samping Krista, mengimpitnya.
__ADS_1
Mereka aman untuk saat ini. Namun demikian, kelotak roda gerobak tidak bisa menyembunyikan bahwa pernapasan Ken justru semakin tersengal-sengal---dangkal dan cepat, patah-patah seperti hewan yang terperangkap. Krista tak pernah mengira akan mendengar suara semacam itu keluar dari mulut Ken.
Krista terus mendengarkan baik-baik, hanya dia yang paling dekat dengan Ken dan itulah sebabnya dia tahu persis kapan Ken Lunark, si Rubah, si Tangan Kotor, B*jing*n Krisbow, dan pemuda paling mematikan di Moontown, jatuh pingsan di bahu gadis Zemeni.