Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Krista


__ADS_3

Sehari berikutnya, Krista melihat Ken mulai menggerakkan kepingan coin di tangannya dengan muka bersiasat. Krista selalu tahu apa yang telah mereka bincangkan di kelab kemarin malam, Ken tidak pernah menjelaskan rencananya dengan jelas, malahan beda sekali dengan rencana awal. Itulah Ken.


    Kalaupun Ken ragu upaya mereka tidak akan berhasil, dia tidak akan menunjukkan perasaan itu. Krista berharap andai saja dia seyakin Ken. Keresahanya untuk masuk ke dalam Royalemerald terlampau tinggi susahnya, sebagaimana rasa anggota lainnya. Krista bisa merasakan krunya kalau Royalemerald dirancang dengan kuat, sehingga sanggup bertahan dari serbuan pasukan, pembunuh, Juwel, dan mata-mata. Ketika Krista berkomentar demikian, Ken semata-mata menjawab. "Tapi, tidak dirancang untuk menghambat kita." Kepercayaan Ken akan itu justru menggentarkan tekad Krista


    Ketika Ken mengambil sebuah cawan, Krista masuk ke ruangan pemuda itu ingin berbincang sedikit soal keberangkatannya. Ken melepaskan kancing-kancing bajunya, dia terus memalingkan mata dan memindahkan tumpukan kertas di atas mejanya sementara Ken menanggalkan rompinya serta kemeja. Entah Krista sudah pasti tersinggung karena pemuda itu seperti tidak menganggap kehadirannya. Bukannya seorang pemuda yang tersenyum-senyum dan merancang masa depan bersamanya, Ken adalah seorang pelakon berbahaya yang selalu bersiasat, selalu. "Kenapa kau seyakin itu bahwa kita akan berhasil? Padahal di sana ada pasukan dan mata-mata yang berbekal terlatih selama bertahun-tahun." Tanya Krista sambil melirik badan Ken berotot kencang, bekas luka di mana-mana, tapi hanya dua tato---rubah dan jam Geak di lengan bawahnya dan di atas tato tersebut. H di bisepnya, Krista tidak pernah menanyakan artinya.


    "Ini bukan soal pasukan dan mata-mata yang terlatih, ini pekerjaan untuk preman dan pencuri, itu sebabnya Etz Djel merekut kita untuk membebaskan Erikson." Hanya tangan pemuda itulah yang menarik perhatian Krista ketika dia melepaskan sarung tangannya dan mencelupkan kain ke cawan. Ken hanya melepaskan sarung tangan di ruangan ini, dan sepengetahuan Krista, hanya di depannya. Hanya dia yang bisa melihat langsung jari-jari lentik pembobol kunci dan secercah baret bekas pertarungan jalanan dahulu kala. Ken mulai mengusapkan kain basah ke bawah lengan dan ke dadanya yang kekar, air menguncur ke torsonya.


    Demi Dewi Shi, pikir Krista sementara pipinya memanas merah. Rasa menurutnya sudah luntur ketika dia meninggalkan Cerverny, tapi tetap ada batas yang tidak boleh dilanggar. Apa kata Ken, misalkan saja, jika Krista sekoyong-koyong melucuti pakaiannya dan mulai membersihkan diri di hadapannya? Dia mungkin akan menyuruhku untuk tidak menetes-neteskan air di atas mejanya, pikir Krista sambil merengut.


    "Kau tidak mungkin membelanjakan uangnya jika kau mati."  Kata Krista sambil melirik patah-patah.


    "Akan aku cari hobi lain di alam sana."


    "Percaya diri dan sombong ada bedanya."


    Saat itulah Ken membalikan badan, memunggungi Krista sambil memasangkan sarung tangannya kuat-kuat. "Kalau ingin dikuliahi, aku tahu mesti datang ke siapa. Jika kau ingin keluar, katakan saja."


    Tulang belakan Krista sontak menjadi tegak, Krista bisa merasakan harga dirinya. "Anggota kru yang tak tergantikan bukan hanya Reader, Ken. Kau butuh aku."


    "Aku butuh keterampilanmu, itu tidak sama. Kau adalah laba-laba yang memanjat dinding dan menyelinap seperti kucing, kau bukan satu-satunya di Krisbow, hanyalah seorang piawai merayap di antara piawai lainnya. Camkan itu jika kau masih ingin memperoleh jatah."

__ADS_1


    Krista diam seribu bahasa, tak mau menunjukan kata-kata betapa Ken membuatnya marah, tapi dia meninggalkan kantornya. Dan semenjak itu belum bicara sepatah kata pun Ketika Krista pergi dari ruangan pemuda itu.


    Kini Krista berjalan menuju ke pelabuhan, dia mempertanyakan dirinya apa alasannya dia berjalan di tempat ini. Dia bisa saja menyelinap sebagai penumpang gelap dan pulang menuju Zemeni, kembali ke rumah dan bertemu kedua orang tuanya. Entah jika mereka sudah pergi dan tinggal di negara Tonlethom sebagai petani. Meninggalkan Krisbow sama saja bertindak memutus kontrak Lin Ginger, Dia akan menyalahkan Ken dan akan membayar seluruh utang Krista kepada Lin. Tapi jika saja mereka berhasil membebaskan Erikson dari Royalemerald, Krista bisa membayar semua utang-utangnya.


    "Jika kau berbuat salah, kekeliruan, lebih baik berjanji memperbaikinya," kata ayahnya, sementara itu, Krista sedang meniti tali. Kemampuan Krista untuk meniti bisa dibilang hebat untuk seumurannya, tapi dia masih ingin selihai ibunya.


    "Mau Papa ceritakan Rahasia Cinta Sejati?" Ayahnya sering menanyakan itu kepada Krista. "Kata orang-orang, kaum wanita itu lebih suka jika mereka diberi kejutan. Sejak saat itu, ada seorang wanita yang dikejutkan oleh taman bunga mawar merah, hanya perempuan itu yang memetik setangkai mawar merah yang berduri dan menjepitkannya ke samping telinga hingga berdarah."


    "Bukannya itu Mama!" Pekik Krista.


    "Ya, Mama suka bunga mawar merah, sehingga membuat dunia menjadi sewangi musim panas. Kelak, akan ada banyak pemuda yang akan membawakanmu bunga. Tapi suatu hari nanti, akan ada pemuda yang mengetahui bunga kesukaanmu, warna kesukaanmu, gula-gula kesukaanmu. Jika pemuda itu terlampau miskin, tidak menjadi sebuah masalah, yang terpenting pemuda itu telah meluangkan banyak waktu bersamamu. Hanya dia yang layak mendapatkan hatimu."


    Masalahnya adalah Krista tidak tahu apa tujuannya sekarang. Dulu dia mendambakan hidup selamanya bersama orang tuanya, mengasah kemampuan meniti tali dan melewati satu tali panjang untuk melatih keseimbangan, ingin bisa membuat selai jeruk supaya menambah kenikmatan roti polos. Kini tujuannya berusaha untuk lari dari Nyonya Lois dan Cerveny. Lalu, mencoba bertahan hidup semenjak Lin mengontraknya, kian lama menjadi kuat dan sekarang, ia tahu apa tujuannya.


    Saat ini, aku harus dapat permintaan maaf. Dan aku tak mau naik kapal sebelum aku diberi permintaan maaf, meski Ken tidak menyesal, dia bisa berpura-pura. Setidaknya, dia bisa bersandiwara layaknya manusia di hadapanku. Aku berhak menerima kata-kata palsunya. Krista memutuskan.


    Krista biasanya hanya numpang lewat dan tidak memandang tempat itu, bahkan pagar besi yang bercat emas. Cerveny, tempat pesta bagi para orang-orang kaya. Berbagai khalayak yang berkostum dan menyediakan para wanita Zemeni yang dipanggil Katsi. Nama itu datang dan pergi. Warna-warni yang cerah beserta suara khalayak memaksa diri untuk melihat Cerveny selagi melintas. Jantung Krista secara mendadak berdegup kencang, ternyata bulu merak itu hanyalah sebuah dekorasi, bagian dari pintu masuk sebagai dekorasi bunga.


    Itu hanya tempat, katanya dalam hati. Cuma rumah sama seperti lainnya sebagaimana yang Ken ucap. Begitu Cerveny sudah tidak terlihat, rasa sesak dada menghilang dengan spontan. Dia berhasil. Dia berhasil melewati Kharfa Utara dengan sendirian, tepat di depan rumah hiburan.


    Tanganya tiba-tiba seperti terseret kuda dan nyaris terjatuh. Keseimbangan Krista dengan cepat pulih dan berputar mencoba menarik diri, tapi cengkeraman itu terlampau kuat. "Halo Katsi Kecil."

__ADS_1


    Krista berjengit dan menarik lengannya kuat-kuat sampai terbebas. Nyonya Lois. Demikianlah panggilan sopan para gadis untuk Lois Tefiti Lodfellow, warga Krisbow dan yang lain memanggilnya Burung Merak. Rambut wanita itu tebal, agak panjang, dan bergelombang. Matanya kecoklatan dengan tinggi badan yang lumayan tinggi untuk kaum wanita. Tubuhnya yang sintal dibalut gaun mewah merah cerah berkerah panjang dan aksen bulu merak yang mengembang.


    Gadis Zemeni itu berusaha untuk lari, tapi di depannya dihadang dua tukang pukul. "Kau tidak boleh lari Katsi Kecil."


    "Bukan itu namaku," kata Krista dengan susah payah.


    "Dasar keras kepala," kata Lois sambil mencengkeram tunik Krista. "Lebih baik aku membawamu pulang."


    Menyingkir, kata benaknya berteriak. "Kau tidak akan bisa, Geak---"


    "Aku akan bersabar Katsi Kecil, kau akan menggunakan kain sutraku lagi, aku berjanji. Selamat malam," katanya sambil tersenyum, dia mengempaskan bulu meraknya dan menghilang dalam keramaian.


    Krista berdiri mematung kemudian pergi berlari menuju dermaga, tidak sabar untuk menghilangkan jejaknya, tapi dia bergerak dengan pasti menuju pelabuhan. Belati-belatinya tidak cukup membayar sarafnya yang menegang, tapi dengan kehadiran pisau-pisaunya, bisa membuat rasa kekhawatiran Krista meleleh. Dia menamai masing-masing belatinya. Naifi Jein dan Naifi Bajan berada di lengan bawah kanan dan kirinya yang melambangkan keberanian karena selalu meluncur pertama ke telapak Krista, Elfa berada di sebelah Kiri, Sonya dan Felis yang terikat di betisnya, dan Limp yang tepasang aman di sepatunya.


    Lindungi aku, lindungi aku, lindungi aku. Krista harus yakin kalau Kaum Kudus melindunginya dan menyaksikan perbuatannya semata-mata bertahan hidup.


    Kabut tipis terangkat dari permukaan air. Krista benar-benar terlambat, dia akan menyaksikan betapa cemberutnya Ken nanti. Krista melihatnya dari kejauhan beserta rombongannya, mereka berpakaian ala pelaut. Bahkan Ken rela menyimpan rompinya dan mengenakan baju dodor gombroh. Celana panjang, sepatu bot, pakaian tebal, dan topi. Rambutnya yang hitam kali ini disisir kebelakang dan bagian sampingnya dipangkas sedikit saja, seperti pelayar yang hendak mengelilingi dunia. Krista hampir mendapatkan kesan bahwa pemuda itu terlihat sedikit menyenangkan.


    Kalau saja Krista tidak terlambat, mereka pasti sudah meninggalkan kade dari tadi. Dalam pengelihatannya, tempat ini mulai tidak ramai, Krista melihat rombongannya dengan jumlah minimal. Tidak ada orang lain kecuali mereka. Ketika jarak mereka lumayan dekat, Gadis Zemeni tersandung saat berlari dan membuatnya berguling rapi berputar. Krista melihat Derry yang seharusnya ikut serta dengan mereka sedang terlentang tersusuk di bagian belakang.


    "Ken!" Teriak Krista. Tapi upayanya terlambat dan berbagai ledakan di dermaga membuat tubuh Krista terhempas beserta lidah api.

__ADS_1


__ADS_2