
Letusan tembak di mana-mana. Lebih baik begini dari pada duduk di kursi judi, menunggu Roda Gambling yang mengeluarkan angka keberuntungan masing-masing dan, hasilnya pasti akan kalah. Tera merasa baikan ketika dia ditembaki orang, bukan berarti dia senang membayangkan dirinya mati, tapi jika dia mengkhawatirkan nyawanya, tentu dia tidak sempat memikirkan yang lain-lain.
Kini dia menumpukan lengannya ke atas kotak seperti peti tempatnya berlindung dan menembakkan pistolnya. Senjatanya adalah revolver buatan Riverdale, senjata terbaik di Moontown karena lontaran tembaknya sangat cepat beruntun. Tera bisa merasakan pistolnya memanas di tangannya.
Ken pernah memperingatkan kalau selalu awas terhadap pesaing, tapi jika benar, bukannya ini terlalu dini? Dan kenapa mereka tahu? Mereka terkepung, sekurang-kurangnya sudah kehilangan satu anggota krunya. Kapal terbakar di belakang mereka, Tera sudah kehilangan transportasi untuk menuju ke Bärchen. Peluru-peluru yang menghujaninya bisa dijadikan indikasi, kalau mereka kalah jauh dengan jumlah musuh. Meski begitu, Tera masih beruntung karena dia tidak masuk ke kapal lebih awal.
Tera berjongkok berlindung untuk mengisi pelurunya. ketika dia melihat ke depan, Matanya seketika tertumbuk ke adegan yang sulit dipercaya. Reyn Etz Djel bergulung di dermaga, dia menutup kepalanya dengan kedua tangannya sambil bergelung kanan-kiri. Tera bangkit dan mulai menembak lagi untuk menjaga diri, dia berlari ke peti satunya sambil berjongkok lalu menyeret Reyn untuk lebih masuk ke dalam perlindungan.
Tera mengguncang-guncangkannya "Hei, kendalikan dirimu bocah."
"Aku bukan bocah," guman Reyn sambil menepis tangan Tera.
"Ya sudah, kau Juragan lanjut usia. Bisa menembak?"
Reyn mengangguk pelan-pelan. "Aku pernah belajar menembak di lapangan tembak."
Tera memutar matanya. "Bagus, kalau begitu," Tera mengambil senapan dari balik bajunya dan menyodorkan senjata itu ke dada Reyn. "Ini, sama seperti menembak burung dari tanah liat, tapi lain suara sewaktu tembakanmu kena."
Tera kembali mengintip dan ancang-ancang untuk menembak, dia memusatkan seluruh kefokusannya, saat salah satu sosok yang mengemuka dari pengelihatan pusat Tera, ternyata hanya Ken.
''Pergilah ke pelabuhan ke dua. Di sana ada Septicaye yang asli," kata Ken.
"Septicaye?"
"Kapal yang ini hanya sebuah kedok."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku tidak tahu, aku hanya selalu mengambil tindak pencegahan, aku berjaga-jaga."
"Kau bisa saja memberi tahu kami kalau---"
"Kalau begitu ini bukan kedok lagi, sekarang lekas kita ke sana," Ken melihat Reyn yang mematung sambil mengangkat sebuah senapan kecil seperti bayi. "Dan pastikan dia di sana dengan keadaan utuh."
Tera memperhatikan Ken yang menghilang dari balik bayang-bayang. Sudah lama sekali Ken tidak membawa tongkat kesayangannya, ia meninggalkan tongkatnya di dalam wadah yang berukurang pas dan akan digunakan ketika misi keluar wilayah. Tongkatnya yang bewarna hitam dengan desain kepala rubah di ujung atas, sedikit panjang cocok untuk orang yang berkaki pincang. Ken memang kehilangan satu ginjalnya, tapi dia bukan main lincahnya.
__ADS_1
Kemudian Tera menyikut Reyn. "Ayo."
"Ke mana?"
"Tidak kah kau mendengar perkataan Ken tadi? Kita harus pergi ke pelabuhan ke dua."
Reyn mengangguk kuat-kuat, matanya yang bengong sebulat cangkir teh.
"Berlindunglah di belakangku dan jangan sampai cuil, siap?"
Reyn menggeleng
"Kalau begitu lupakan pertanyaanku," Tera meluruskan tangan Reyn yang membawa senapan. "Mari."
Tera kembali berdiri dan menembak serabutan dalam rangka mengkamuflase tempat awal berlindungnya. Ketika peluru revolvernya habis, Tera berlari ke arah kiri lalu berguling untuk kembali berlindung di peti terjauh. Dia setengah menebak kalau Reyn akan mematung dan tak akan mengikutinya, tapi dia bisa mendengar langkah seorang Pangeran Kecil yang tersengal-sengal di belakangnya. Tarikan napasnya sampai terdengar kalau bocah itu ngos-ngosan. Lalu mereka lanjut ke peti terdekat berikutnya.
Ketika mereka mencoba untuk menuju ke peti selanjutnya, leher Tera terserempet peluru dan lukanya cukup dekat sehingga menghasilkan luka bakar. Reyn dengan terpaksa mengikuti Tera yang secara mendadak berhenti di balik tong.
Dalam posisi ini, Tera bisa melihat Silva di balik kotak kayu panjang yang dipunggungi Reader, tangannya terikat. Silva mengangkat tangannya dan mulai menyerang salah satu musuh di depan, orang itu terkapar jatuh sambil memegangi dadanya. Meski begitu, tempat berlindung Silva tidak menguntungkan, Merabak jantung harus bisa melihat target untuk ditumbangkan.
Entah kenapa Ken mengikat tangan pemuda Bärchen itu jika akhirnya Silva akan melepaskan tali tersebut. Jika dia memang bisa di ajak untuk kolaborasi, maka kekuatan mereka bisa sedikit mengungguli. Dalam kondisi seperti ini Silva mencabut pisau dan mulai melepaskan Reader. Dia menyetorkan pistol kepadanya. "Lindungi dirimu sendiri," ujarnya dengan geram, kemudian kembali memusatkan perhatiannya untuk bertarung.
Tera mengangkat revolvernya, bersiap-siap menjatuhkan si raksasa yang menimbang ingin bergabung perang atau menembak Silva. Kemudian ia bangkit berdiri dan menyandarkan tangannya untuk membidik di atas kotak kayu. Tanpa disadari, mereka telah bertarung berdampingan. Apakah Ken sengaja membiarkan Reader terikat di samping Silva? Tera tidak bisa mengikuti alur otaknya yang cermat, dia tidak bisa menebak mana keberhasilannya dari buah kecerdikannya atau hanya sebuah berkat belaka yang datang tidak sengaja.
Tera berisul sekilas, Silva yang posisinya agak jauh masih sempat-sempatnya untuk menengok. Tera mengangkat tangannya untuk membuat kode, dua jari, dua kali, dan Silva mengangguk sekilas. Apakah dia tahu kalau Tera menyiaratkan pelabuhan ke dua adalah tujuan asli mereka? Apakah Krista tahu? Lagi-lagi Ken menutupi informasi dari mereka semua atau hanya salah satu orang saja yang tahu, alhasil membuat mereka bertanya-tanya. Tera membenci kebiasan Ken yang menutup-nutupi itu, tapi jika kesempatan mereka masih ada untuk berangkat ke Bärchen, maka tidak ada satu kata pertanyaan yang perlu diucapkan. Mudah-mudahan saja mereka selamat dari kericuhan ini dan sampai di pelabuhan ke dua untuk menaiki sekunar asli mereka.
Tera memberi tanda kepada Reyn, kemudian mereka kembali bergerak. Melewati perahu-perahu kecil yang disinggahkan di atas dan menunduk serendah mungkin.
"Di sana!" Seseorang telah berteriak di belakangnya.
"Sialan," kata Tera, mereka ketahuan. "Lari!"
Mereka berlari secepat mungkin, berlomba-lomba dengan lajunya peluru yang menghujaninya. Pelabuhan ke dua berada di depan mereka. Tera melihat beberapa kapal, ketika matanya yang menelaah seluruh kapal, septicaye, ada satu kapal yang bertulisan nama itu di bagian samping, tidak ada lentera yang dinyalakan di atas kapal. Ketika Tera dan Reyn menaiki titian, munculah dua pelaut di hadapannya.
"Kalian yang pertama sampai," kata Han.
__ADS_1
Krul mengangguk. "Lunark menyuruh kami untuk bersembunyi sampai---"
"Sampai sekarang," Tera menyerobot sambil menunjukan orang-orang yang mengejarnya di belakang, dia mengambil kembali pistol yang ia pinjamkan kepada Reyn. "Aku butuh tempat posisi yang lebih tinggi, dan halau perhatian mereka selama mungkin."
"Aku? Tera---"
"Tidak ada yang boleh melewati kita, jika mereka sampai mengambil alih kapal ini, tamatlah riwayat kita."
Kawanan yang menembaki mereka bukan hanya mencegah Geak untuk meninggalkan pelabuhan, orang-orang itu ingin mereka mati.
Tera sekarang mulai membawa dua senapan, dia mulai menembak dua orang yang memimpin penyerbuan di dermaga. Satunya telah tumbang, sedangkan yang kiri berjungkir ke kiri untuk berlindung di balik tong. Tera menembakkan tiga peluru dan memusatkan ke tong. Naik sepuluh langkah, berhenti menembak kemudian naik lagi dua puluh langkah hingga hampir ke titik puncak kapal. Tinggal lima langkah lagi dia akan sampai ke tujuan, tapi botnya tersangkut di tambang pengikat layar. Ketika tali itu tertembak, Tera terangkat, lantas membuatnya bergelantungan di atas kapal. Keinginannya memang pos yang tinggi, tapi tidak seperti ini. Tera dengan sigap mencoba melepaskan kakinya yang tersangkut, tidak ada kata istirahat meski rasa nyeri yang bukan main di pahanya. Ini jelas mendingan di meja judi dari pada gelantungan sambil ditembaki.
Enam puluh juta kairo, kata Tera dalam hati, utangnya yang menumpuk dan rasa cintanya untuk berjudi melebihi rasa cintanya dengan dirinya sendiri. Jika dia berhasil membawa uang sebanyak itu, Tera bisa melunasi utangnya dan bisa bertahan dengan waktu yang cukup lama. Persetan, pikir Tera, dia mengisi ulang revolvernya dan mulai membidik dengan posisi terbalik. Kabut asap yang mengepul-ngepul membuat bidikan mereka sedikit buram, gara-gara keahlian Tera, itu sebabnya dia bisa bertahan di Geak.
Tera melihat Silva dan Reader tak jauh dari kapal, tapi mereka sedang terkepung sedikitnya sepuluh orang. Ken sepertinya berlari ke arah berlawanan, sedangkan Krista tak terlihat sama sekali dari tadi. Sekalipun wajar kalau dirinya memang tidak terlihat. Meskipun dia berada di sampingnya dua langkah saja, kemungkinan Tera tidak menyadari keberadaannya.
"Tera!"
Teriakan itu jauh berada di bawah, butuh waktu untuk menyadarinya kalau orang yang sedang memanggilnya itu adalah Reyn. Tera melirik ke bawah sebentar saja dan semata-mata membidik lagi berusaha untuk mengabaikannya.
"Tera!"
Akan kubunuh bocah itu. "Apa maumu?" Teriaknya ke atas dalam posisinya yang terbalik.
"Pejamkan matamu!"
"Kau tidak bisa menciumku dari sana!"
"Sudah lakukan saja!"
Bocah sialan. "Awas kalau ada apa-apa!" Tera memejamkan matanya.
"Sudah kau pejamkan?"
"Sialan kau ini!. Reyn sudah!. Hoi! Akan ku---"
__ADS_1
Terdengar suara gelegar nan melengking, lalu cahaya terang merambat di balik kelopak mata Tera. Ketika cahayanya mulai hilang dan meredup, Tera membuka matanya.
Di bawah, ada banyak orang-orang yang terhuyung-huyung tidak jelas. Dibutakan oleh bom cahaya yang diledakkan oleh Reyn. Namun, Tera tidak dibutakan bom tersebut. Boleh juga untuk seukuran anak Juragan, dia membatin, kemudian menembak lagi.