
Di dalam gerobak penjara, Ken terbangun karena pahanya ditohok. Badannya serasa sedingin es, sedangkan suasana gelap gulita. Badan berdempet-dempet di sekelilingnya, menekamnya dari belakang dan dari samping. Dia tenggelam di dalam lautan mayat.
"Ken." Sebuah bisikan.
Dia bergidik.
Pahanya lagi-lagi ditohok.
"Ken." Suara Krista. Ken mengusahakan untuk bernapas dalam-dalam lewat hidung. Dia merasakan bahwa Krista menjauhinya. Entah bagaimana, dalam gerobak nan sesak, gadis itu masih mampu memberinya ruang. Jantung Ken berdebar-debar kencang.
"Bicaralah terus," kata Ken parau.
"Apa?"
"Bicara saja terus."
"Kita sedang melintas gerbang penjara. kita berhasil melalui dua pos pemeriksaan pertama."
Informasi tersebut membuat Ken tersadar sepenuhnya. Mereka telah melalui dua pos pemeriksa. Artinya, mereka sudah dihitung. Seseorang telah membuka pintu---bukan cuma sekali melainkan dua kali---mungkin bahkan memegangnya, dan dia tidak terbangun. Dia bisa saja dirampok, dibunuh. Seribu cara untuk menjemput maut sudah pernah dia bayangkan, tapi dia tak pernah mengira akan mati selagi tidur.
Ken memeriksa diri untuk bernapas dalam-dalam, sekalipun bau badan menusuk hidungnya. Dia masih mengenakan sarung tangan, yang bisa saja diperhatikan oleh penjaga, dan tindakan itu justru merupakan sebentuk pengakuan akan kekalahannya, tapi kalau tidak bersarung tangan, Ken yakin bisa-bisa kehilangan akal.
Di belakangnya, dia bisa mendengar para tahanan lain berbisik-bisik dalam beragam bahasa berlainan. Walaupun kegelapan membangkitkan rasa takut dalam dirinya, dia sekaligus bersyukur. Dia hanya bisa berharap semoga krunya, yang bertudung dan dibebani oleh kekhawatiran masing-masing, tidak menangkap keanehan pada perilakunya. Dia sempat terbengong-bengong, lambat bereaksi sewaktu mereka menyergap gerobak, tapi cuma itu. Ken bisa saja mengarang cerita untuk menjelaskan ketidaksigapannya.
Dia benci melihat Krista dalam keadaan seperti ini, dilihat oleh siapa pun dalam keadaan seperti ini, tapi pikiran lain serta-merta mengemuka: Mending dia daripada yang lain. Ken meyakini dari lubuk hati terdalam bahwa Krista takkan membicarakan kejadian barusan kepada siapa pun, bahwa dia takkan memanfaatkan pengetahuan itu untuk merugikan Ken. Gadis itu mengandalkan reputasi Ken. Dia takkan ingin Ken kelihatan lemah. Tapi bukan cuma itu, kan? Krista takkan pernah mengkhianatinya. Ken tahu itu. Dia merasa mual. Meskipun sudah berkali-kali dia mempercayakan nyawa kepada Krista. mempercayakan aib kepada gadis itu terlalu jauh lebih menakutkan.
__ADS_1
Gerobak berhenti bergerak. Palang digeser dan pintu lantas terbuka.
Dia mendengar kata-kata berbahasa Bärchen, lalu bunyi gesekan dan kelotak. Kerahnya dilepaskan dari kait, kemudian dia dituntun untuk turun dari gerobak melalui semacam titian beserta para tahanan lain. Dia mendengar bunyi berderit seperti gerbang yang dibuka, kemudian mereka digiring ke depan, berjalan tertatih-tatih karena terbelenggu.
Ken menyipitkan mata saat tudungnya mendadak ditarik hingga terbuka. Mereka tengah berdiri di lapangan luas. Gerbang mahabesar yang tersambung ke tembok terluar sudah diturunkan, diiringi serangkaian bunyi dentang dan derit mencekam saat gerbang tersebut menumbuk batu. Ketika Ken mendongak, dia melihat para penjaga yang ditempatkan di sepanjang atap lapangan sedang membidik senapan kepada para tahanan. Para penjaga di bawah sedang menggiring para tahanan yang terbelenggu, berusaha mencocokkan mereka dengan berkas-berkas bawaan sais berdasarkan nama atau deskripsi.
Reader telah menjabarkan tata letak Royalemerald secara terperici, tapi hanya sedikit yang dia katakan mengenai tampilan tempat itu sesungguhnya. Ken sangka bangunannya tua dan lembap---batu kelabu kelam, kukuh bak ditempa oleh pertempuran. Sebaliknya, yang kini mengelilingi Ken justru marmer yang teramat putih sampai-sampai nyaris berpendar biru. Ken merasa sedang mengeluyur ke dalam versi impian dari negeri utara bengis yang telah mereka telusuri. Mustahil membedakan mana yang kaca, es, atau batu.
"Kalau ini bukan hasil karya Fabrikator, berarti aku ratu roh hutan," guman Silva dalam bahasa Kalterville.
"Tig!" perintah salah seorang penjaga. Dia memukulkan senapan ke perut gadis itu sehingga Silva serta-merta membungkuk kesakitan. Reader terus memalingkan kepala, tapi Ken tidak melewatkan bahwa posturnya tegang.
Para penjaga Bärchen sedang membolak-balik berkas-berkas, berusaha mencocokkan jumlah dan identitas tahanan dengan rombongan di hadapan mereka. Inilah kali pertama mereka, betul-betul terekspos, momen yang berada di luar kendali Ken. Memilih-milih tahanan yang mereka gantikan terlampau berbahaya dan memakan waktu. Resiko tersebut sudah Ken perhitungkan, tapi kini dia hanya bisa menunggu dan berharap semoga kemalasan menuntaskan sisanya.
Sementara para penjaga menyusuri barisan, Krista membantu Silva berdiri.
Silva perlahan-lahan menegakkan diri. "Aku tidak apa-apa," bisiknya. "Tapi, menurutku kita tidak perlu khawatir lagi tentang tim Rav Frederic."
Ken mengikuti tatapan Silva ke puncak tembok terluar, jauh di atas lapangan, lima orang telah disula di pasak laksana sate yang hendak dipanggang, punggung mereka bungkuk, lengan dan tungkai mereka bergelayuta. Ken mesti menyipitkan mata, tapi dia mengenali Erost Astard, anak buah Frederic yang paling piawai membobol kunci dan brankas. Memar-memar dan bilur-bilur bekas pukulan yang dia terima sebelum mati tampak ungu tua di bawah cahaya matahari. Ken samar-samar bisa melihat tanda hitam di lengannya---tato Deal Astard.
Ken menelaah wajah-wajah lain---sebagian terhempas bengkak dan mati sehingga sulit dikenali. Mungkin salah satunya Frederic? Ken tahu dia seharusnya lega tim lain telah disingkirkan, tapi Frederic tidak boleh, sedangkan wacana bahwa krunya tidak berhasil melalui gerbang Royalemerald justru menggentarkan hati Ken. Lagi pula, jika Frederic menjemput ajal di ujung pasak Bärchen.... Tidak, Ken membangkang kemungkinan itu. Rav Frederic adalah miliknya.
Para penjaga sekarang adu mulut dengan sais, sedangkan salah satu dari mereka menunjuk Krista.
"Ada apa?" bisik Ken kepada Silva.
__ADS_1
"Mereka mengklaim bahwa berkas-berkas tidak tepat, bahwa salah seorang tahanan adalah pemudi Zemeni alih-alih pemuda Shu."
"Kata si sais apa?" tanya Krista.
"Dia terus mengatakan kepada mereka bahwa itu bukan tanggung jawabnya."
"Betul begitu," Ken bergumam menyemangati.
Ken memperhatikan mereka berargumen bolak-balik. Itulah keindahan dari pengalaman berlapis-lapis dan metode antibobol. Para penjaga selalu mengira bahwa mereka dapat mengandalkan orang lain untuk menangkap kesalahan atau memperbarui kesalahan atau memperbaiki masalah. Kemalasan selalu tidak bisa diandalkan seperti keserakahan, tapi kemalasan masih lumayan ampuh untuk mendongkrak peluang mereka. Lagi pula, anti perkara di sini adalah tahanan---yang terantai, terkepung dari segala arah, dan hendak dijebloskan ke dalam sel. Orang-orang yang tidak berbahaya.
Akhirnya, salah seorang sipir mendesah dan memberi isyarat kepada rekan-rekannya. "Diweskemen."
"Sana," Silva menerjemahkan, kemudian melanjutkan saat sang sipir bericara. "Bawa mereka ke blok timur dan biarkan giliran jaga berikut menyortir mereka."
Ken memperkenankan dirinya bernapas lega sekejap saja. Sesuai perkiraan, para penjaga membagi kelompok tersebut menjadi laki-laki dan perempuan, lalu menuntun kedua baris, rantai mereka bergelontangan, ke lorong nyaris bundar yang berbentuk mulut serigala menganga.
Mereka memasuki tempat seorang wanita tua duduk dengan tangan terantai, diapit oleh penjaga. Matanya kosong. Tiap tahanan yang mendekat dicengkeram pergelangan tangannya oleh wanita itu.
Manusia penguat gelombang. Ken tahu Silva bekerja dengan Knoulbar berkeahlian itu ketika dia menyisiri Pulau Mudik dalam rangka mencari Knoulbar yang bisa direkut ke Tentara Kedua. Manusia penguat gelombang bisa merasakan kesaktian Knoulbar lewat sentuhan, sedangkan Ken pernah melihat mereka direkut dalam permainan kartu bertaruhan tinggi untuk memastikan bahwa tidak ada Knoulbar yang ikut bermain. Seseorang yang bisa mengotak-atik denyut nadi pemain lain atau bahkan menaikkan suhu ruangan akan memperoleh keunggulan yang tidak adil. Namun, orang-orang Bärchen menggunakan mereka untuk tujuan lain---untuk memastikan bahwa tidak ada Knoulbar yang menembus tembok mereka tanpa teridentifikasi.
Ken memperhatikan Silva mendekat. Ken bisa melihat bahwa gadis itu gemetar saat mengulurkan tangan. Sang wanita mengantupkan jemarinya ke seputar pergelangkan Silva. Kelopaknya bergerak-gerak sebentar. Lalu wanita itu menjatuhkan tangan Silva dan melambai untuk mempersilahkan terus.
Apakah wanita itu tahu tapi tidak peduli? Ataukah parafin yang mereka lumurkan ke lengan bawah Silva ternyata manjur?
Selagi mereka dibimbing melalui busur di kiri, Ken sekilas melihat Krista menghilang ke busur di arah berlawanan beserta para tahanan perempuan yang lain. Ken merasa dadanya ngilu dan seketika tersentak begitu tersadar bahwa itu adalah serangan panik. Yang menyadarkannya dari kelinglungan di dalam gerobak adalah Krista. Suara gadis itu telah mengeluarkannya dari kegelapan; suara Krista lantas menjadi semacam tali tambat yang Ken pegang erat-erat dan dia gunakan untuk menyeret dirinya ke kewarasan.
__ADS_1
Para tahanan laki-laki dituntun menaiki tangga gelap ke titian logam, kelontang rantai mereka kian keras saja. Di kiri mereka berdirilah dinding putih mulus yang adalah bagian tembok terluar. Di kanan titian, tampaklah kurungan kaca mahabesar sepanjang hampir setengah kilometer dan cukup tinggi untuk memuat kapal dagang. Kurungan itu diterangi lentera besi besar yang menggelayut dari langit-langit bagaikan kepompong berpendar. Saat menengok ke bawah, Ken melihat barisan kendaraan lapis baja yang dipuncaki oleh kubah bersenapan. Masing-masing memiliki roda-roda besar yang dihubungkan satu sama lain dengan rantai tebal. Di tiap kendaraan, moncong senjata api mahabesar---lebih besar daripada senapan tapi lebih kecil daripada meriam---terjulur ke tempat kuda lazimnya dicancangkan untuk menghela kereta.
~Selanjutnya Ken 3