Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Krista


__ADS_3

Krista mendongak ke kegelapan. Jauh di atasnnya, sepetak kecil langit malam kelabu melayang-layang. Enam tingkat yang mesti dipanjat di kegelapan dengan tangan licin karena keringat dan api neraka membakar di bawah, dengan tambang yang membebaninya dan tanpa jaring yang bisa menangkapnya. Panjat, Krista.


    Tangan kosong adalah yang terbaik untuk memanjat, tapi dinding tungku pembakaran kelewat panas sehingga tidak memungkinkan tangan telanjang, Oleh sebab itu, Reyn dan Tera membantu Krista mengail sarung tangan Ken dari tong cucian. Krista sempat ragu-ragu. Ken akan menyuruhnya untuk mengenakan sarung tangan itu, untuk melakukan apa saja yang diperlukan demi menyelesaikan pekerjaan. Namun demikian, Krista anehnya merasa bersalah saat menyarungkan bahan kulit hitam lentur ke tangannya, seakan dia telah mengendap-endap ke dalam ruangan Ken tanpa izin, membaca surat-suratnya, berbaring di ranjangnya. Sarung tangan itu tidak berlapis, sedangkan ujung-ujung jarinya ternyata menyimpan segores robekan. Untuk aksi ketangkasan tangan, Krista tersadar, supaya dia bisa menjamah koin atau kartu atau mengutak-atik kunci nan pelik. Menyentuh tanpa menyentuh.


    Tak ada waktu untuk menyesuaikan diri dengan sarung tangan yang kebesaran. Lagi pula, dia sering memanjat dengan tangan bersarung ketika musim dingin di Moontown mengebaskan jemari yang telanjang. Krista meregangkan jari-jari kakinya di sandal kulit kecil, menikmati tekstur yang sudah tidak asing di telapak kakinya, melompat-lompat dengan sol karet kasar, tidak kenal takut dan antusias. Hawa panas bukan apa-apa, cuma tidak nyaman saja. Beban tambang sepanjang dua meter yang melilit tubuhnya? Dia Kucing, dia Siluman. Dia pernah menanggung yang lebih berat. Dia melontarkan diri ke cerobong dengan penuh percaya diri.


    Ketika jemarinya menyentuh batu, napasnya mendesis. Dari balik bahan kulit sekalipun, dia bisa merasakan panas yang merata di batu bata. Tanpa sarung tangan, kulitnya pasti langsung melepuh. Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa selain terus berpegangan. Dia memanjat---tangan kemudian kaki, kemudian tangan lagi, mencari retakan kecil berikutnya, ceruk berikutnya di tembok licin berlumur jelaga.

__ADS_1


    Peluh menguncur dari punggungnya. Mereka sudah mengguyur tambang dan pakaian Krista dengan air, darahnya mengalir deras seakan-akan dia sedang dimasak pelan-pelan di dalam kulitnya sendiri.


    Kakinya berdenyut-denyut kepanasan. Kakinya terasa berat, kagok, seperti orang lain saja. Krista berusaha menenangkan diri. Dia mempercayai badannya. Dia mengenal kekuatannya sendiri dan tahu persis apa yang bisa dia lakukan. Tangan kembali naik, memaksa lengan dan tungkainya untuk bekerja sama, mencari ritme, tapi hanya menemukan tempo kikuk terkejat-kejat yang menjadikan otot-ototnya gemeteran tiap kali badannya terangkat. Dia menggapai pegangan berikut, mencengkeram kuat-kuat. Panjat, Krista.


    Kakinya yang sebelah mendadak hilang kontak dengan dinding karena terpeleset. Disambarnya batu, untuk mencengkeram retakan, sarung tangan Ken menggumpal di seputar jemarinya yang lembap. Jari-jari kakinya lagi-lagi mencari pijakan, tapi malah menggelincir di permukaan batu bata. Kemudian kakinya yang satunya lagi mulai terpeleset juga. Krista terkesiap, udara panas terhirup ke dalam paru-parunya. Ada yang tidak beres. Dia memberanikan diri menengok ke bawah. Jauh di bawah, dia melihat pendar merah batu bara, tapi yang mengguncangkan batinnya sampai-sampai jatungnya berdegup panik adalah yang dia lihat di kakinya. Ada gumpalan lengket. Sol sandalnya---alas kaki sempurna kesayangannya---meleleh.


    Tidak apa-apa, kata Krista dalam hati. Ubah saja cengkeramanmu. Tumpukan bobot ke pundakmu. Karet akan mendingin semakin tinggi kau naik. Kemudian kau bisa berpijak kuat-kuat dengan kakimu lagi. Namun, kakinya serasa terbakar. Melihat apa yang terjadi entah bagaimana memperparah situasi, seakan-akan karet menyatu dengan kulitnya.

__ADS_1


    Dia mendorong ke atas dan tergelincirlah kakinya di permukaan bata. Dirapatkannya seluruh tubuhnya ke dinding dengan terburu-buru sementara dia berjuang untuk memperoleh pegangan. Tak seorang pun bisa menyelamatkannya di sini. Tak ada jaring yang akan menangkapnya jika terjatuh, tak ada Ken yang akan datang untuk menolongnya, hanya ada api yang siap melalapnya.


    Krista memiringkan kepalanya ke belakang, mencari sepetak langit di atas sana. Jaraknya masih kelihatan luar biasa jauh. Seberapa jauh? Enam meter? Sembilan meter? Takkan ada bedanya kalaupun bermil-mil. Krista akan mati di sini, pelan-pelan, dengan mengenaskan karena terpanggang batu bara. Mereka semua akan mati---Ken, Silva, Tera, Reader, Reyn---dan semua itu karena salahnya.


    Tidak. Bukan dia yang salah.


    Krista menumpukan satu kaki untuk kembali mendorong dirinya ke atas---Ken yang membawa kami ke sini---dan kemudian kakinya yang sebelah lagi---Ken yang bertanggung jawab atas semua ini---dia memaksakan diri untuk menemukan pegangan yang berikutnya. Ken dan keserakahannya. Krista tidak merasa bersalah. Dia tidak menyesal. Dia semata-mata marah. Marah kepada Ken karena coba-coba menggarap pekerjaan sinting ini\, berang kepada dirinya sendiri karena setuju.

__ADS_1


    Kenapa pula dia setuju? Untuk melunasi utang? Atau karena akal sehat dan niat baik Krista gagal menghalau tumbuhnya rasa terhadap si b*jing*n Krisbow?


~Selanjutnya Krista 2


__ADS_2