
Reader menjauh beberapa langkah dari jasad Nestor. Dia menghujamkan pahat ke tanah berlapis es, mencabut pahat itu, kemudian memahat lagi.
"Di sini?" tanya Silva.
"Apa aku ingin menguburkannya di tempat lain?"
"Aku... entahlah." Silva menerawan lahan putih luas. "Semuanya kelihatan sama saja bagiku."
"Kau tahu dewa-dewi kami?"
"Sebagian."
"Tapi kau tahu Syel."
"Mata air."
Reader mengangguk. "Orang-orang Bärchen meyakini bahwa seluruh dunia terhubung melalui airnya---laut, es, sungai dan kali, hujan dan badai. Semua menyalurkan air kehidupan kepada Syel dan menyerap air kehidupan darinya. Mati kami istilahkan sebagai zakořeněné, yang berarti berakar. Kami menjadi akar pohon voda, minum dari Syel di manapun kami dikebumikan."
"Itukah sebabnya kau membakar alih-alih mengubur Knoulbar?"
Reader terdiam, lalu mengangguk singkat.
"Tapi, kau bersedia membantuku mengebumikan Nestor dan si pemanggil badai di sini?"
Reader kembali mengangguk.
Silva mengambil pahat yang satunya lagi dan mencoba menyamai ayunan Reader. Tanah yang padat keras dan tak tertembus. Tiap kali pahat membentur tanah, ayunannya menggetarkan lengan Silva dari ujung ke pangkal.
"Nestor seharusnya tidak bisa melakukan hal tadi," kata Silva, pikirannya masih campur aduk. "Tidak ada Knoulbar yang bisa menggunakan kesaktian seperti tadi, semua ini tidak wajar."
Reader membisu beberapa lama, kemudian berujar, "Apa sekarang kau sedikit lebih mengerti? Bagaimana menghadapi kekuatan yang demikian asing? Menghadapi musuh dengan kesaktian yang tidak lumrah?"
Silva mencengkeram pahat dengan keras. Dalam diri Nestor ketergantungan terhadap mortem, semua aspek yang Silva cintai dari kesaktiannya seolah ditompang. Itukah yang dilihat oleh Reader dan orang-orang Bärchen lain pada diri Knoulbar?
"Mungkin," hanya itu yang bisa Silva katakan.
"Katamu kau tidak punya pilihan di Pelabuhan Divayina," kata Reader tanpa memandang Silva, pahat naik-turun dengan ritme teratur. "Apakah aku seorang Dushenka? Apa kau sudah merencanakan sejak awal?"
Silva teringat hari terakhir mereka bersamaan, kegembiraan yang mereka rasakan setiba di puncak bukit terjal dan melihat kota pelabuhan yang terbentang di bawah. Silva terguncang Reader berkata, "Aku hampir-hampir menyesal, Silva."
"Hampir?"
"Aku terlalu lapar sehingga tak mungkin menyesal sungguhan."
__ADS_1
"Akhirnya kau bertekuk lutut di bawah pengaruhku. Tapi, bagaimana bisa kita makan tanpa uang?" tanya Silva selagi mereka menuruni bukit. "Aku mungkin harus menjual rambut indahmu ke toko wig demi uang tunai."
"Jangan berpikir macam-macam," tukas Reader sambil tertawa. Tawanya kian lama kian mudah, seolah-olah sudah mempelajari bahasa lain. "Kalau ini Divayina aku semestinya mencarikan penginapan untuk kita berdua."
Saat itulah Silva terpaku, dicekam kengerian karena tersadar akan situasi mereka. Dia berada jauh di dalam wilayah musuh tanpa seorang sekutu pun, hanya bertemankan seorang seminggu silam. Namun, sebelum dia sempat berbicara, Reader berkata, "Aku berhutang nyawa kepadamu, Silva Liveko. Akan kuantar kau pulang dengan selamat."
Dia terkejut karena ternyata begitu mudah mempercayai Reader. Dan pemuda itu mempercayainya juga.
Kini Silva mengayunkan pahat, merasakan benturan merambati lengan dan terus ke bahu, dan dia pun berkata, "Ada Knoulbar di Divayina."
Pahat Reader terhenti di tengah-tengah ayunan. "Apa?"
"Mereka mata-mata yang sedang melakukan pemantauan denganmu dan mengenaliku di Istana Kecil. Salah seorang dari mereka mengenalimu juga, Reader. Dia mengenalimu dari bentrokan di perbatasan."
Reader mematung.
"Mereka mencegatku ketika kau sedang bicara dengan manajer penginapan," lanjut Silva. "Aku meyakinkan mereka bahwa aku sedang menyamar juga di sana. Mereka ingin membawamu sebagai tawanan, tapi kuberitahu mereka kalau kau tidak sendirian, bahwa terlalu riskan untuk coba-coba menangkapmu tepat saat itu. Aku berjanji akan mengantarkanmu kepada mereka keesokan hari."
"Kenapa kau tidak langsung memberitahuku saja?"
Silva melemparkan pahatnya. "Memberitahumu bahwa di Divayina ada Knoulbar mata-mata? Kau mungkin berdamai denganku, tapi jangan kira aku percaya bahwa kau takkan membocorkan keberadaan mereka."
Reader berpaling, otot berkedut-kedut di rahangnya, dan tahulah Silva bahwa yang dikatakannya benar.
"Aku harus mengeluarkan kita berdua dari Divayina secepat-cepatnya. Kupikir asalkan aku bisa menemukan kapal yang bisa kita naiki sebagai penumpang gelap... tapi para Knoulbar pasti memperhatikan penginapan dan melihat kita pergi. Ketika mereka muncul di dermaga, aku tahu mereka mengincarmu, Reader. Jika mereka menangkapmu, kau akan dibawa ke Juwel, diintrogasi, mungkin dieksekusi. Aku melihat si saudagar Kalterville. Kau tahu hukum mereka mengenai perbudakan."
"Tentu saja aku tahu," ujar Reader gentir.
"Aku nekat saja. Aku memohon-mohon mereka agar menyelamatkanku. Aku tahu mereka menahanmu dan mengantarkan kita dengan selamat ke Kalterville. Aku tidak tahu---Reader, aku tidak tahu kalau mereka akan memenjarakanmu di Raregate."
Mata Reader menjadi kelam ketika dia menghadapi Silva, buku-buku jarinya mencengkeram pahat erat-erat hingga memutih. "Kenapa kau tidak buka mulut? Kenapa kau tidak berkata jujur sesampainya kita di Moontown?"
"Aku sudah mencoba. Aku sudah bersumpah. Aku mencoba menemui hakim. Mereka tidak memperbolehkanku menemui hakim. Aku tidak bisa menjelaskan tentang segel dari pedagang budak atau alasanku sehingga mengajukan tuduhan, tidak tanpa mengungkapkan operasi intelijen Juwel. Bisa-bisa aku membahayakan Knoulbar di lapang. Aku niscaya memberi mereka vonis mati."
"Jadi, kau membiarkan aku membusuk di Raregate?"
"Aku bisa saja pulang ke Juwel. Demi Kaum Kudus, aku ingin pulang. Tapi, aku bertahan di Moontown. Aku menghabiskan upah untuk membayar sogokan, mengajukan petisi kepada Pengadilan. Sampai pada akhirnya memohon-mohon dengan cara berbahaya, memohon kepada Ken---"
"Kau melakukan segalanya selain berkata jujur."
Silva berniat untuk bersikap lembut, minta maaf, mengatakan kepada Reader bahwa dia memikirkan pemuda itu tiap hari siang-malam. Namun, kayu bakar yang bertumpuk-tumpuk masih segar dalam pikirannya. "Aku berusaha melindungi kaumku, kaum yang hendak kau habisi."
Reader tertawa penuh sesal sambil membolak-balik pahat di tangannya. "voda poslouchá a odpouští."
__ADS_1
Kalimat itu merupakan bagian pertama dari pepatah Bärchen: Air mendengar dan memaklumi. Kedengarannya baik, tapi Reader paham bahwa Silva mengetahui kelanjutan itu.
"Led je neodpustitelný," pungkas gadis itu. Air mendengar dan memaklumi. Es tidak kenal ampun.
"Apa sekarang yang akan kau lakukan, Silva? Akankah kau berkhianat lagi terhadap orang-orang yang kau sebut temanmu, demi Knoulbar?"
"Apa?"
"Jangan bilang bahwa kau bermaksud membiarkan Erikson hidup."
Reader mengenal baik diri Silva. Semakin banyak yang Silva ketahui tentang arta mortem, semakin dia yakin jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Knoulbar adalah dengan menghabisi nyawa sang ilmuan. Silva memikirkan Nestor, yang seiring tarikan napasnya justru dihabiskan memohon-mohon agar atasan Kuwei kembali. "Aku tidak tahan membayangkan kaumku diperbudak," kata Silva mengakui. "Tapi, hutang kita mesti dilunasi, Reader. Aku akan menebus kesalahanku dengan surat pengampunan untukmu. Aku tidak mau lagi-lagi menjadi orang yang merampas kebebasanmu."
"Aku tidak menginginkan surat pengampunan."
Silva menatap Reader dengan terperangah. "Tapi---"
"Mungkin kaummu akan diperbudak. Atau mungkin kekuatan mereka justru menjadi tak terbendung. Jika Erikson hidup dan rahasia arta mortem tersebar luas, apa yang mungkin terjadi."
Lama mereka saling tatap. Matahari sudah rendah di langit, cahayanya memancarkan larik-larik keemasan di salju. Silva melihat bulu mata Reader di balik sapuan antimonium hitam yang dibubuhkan ke sana. Dia harus merombak paras Reader tidak lama lagi.
Pada hari sesudah kapal karam, dia dan Reader menjalin gencatan senjata dengan enggan. Perasaan yang lantas tumbuh di antara mereka lebih menggebu-gebu dari pada kasih sayang belaka, sebentuk pemahaman bahwa mereka mungkin saja menjadi sekutu alih-alih musuh. Itulah yang Silva rasakan sekarang.
"Menghabisi Erikson berarti mengkhianati yang lain," kata Silva. "Mereka takkan mendapat bayaran dari Dewan Saudagar."
"Benar."
"Dan Ken akan membunuh kita berdua."
"Kalau sampai dia tahu."
"Pernahkah kau mencoba membohongi Ken Lunark?"
Reader mengangkat bahu. "Kalau begitu, kita menerima kematian sebagaimana kita menjalani kehidupan."
Silva memandangi perawakan ceking Nestor. "Demi tujuan mulia."
"Kita sepakat dalam hal ini," kata Reader. "Erikson tidak boleh meninggalkan Royalemerald hidup-hidup."
"Kesepakatan disepakati," kata Silva dengan bahasa Kalterville, bahasa perdagangan, yang sama-sama bukan bahasa ibu mereka.
"Kesepakatan disepakati," timpal Reader.
Pemuda itu mengayunkan pahat dan memukulkannya kuat-kuat, seperti membuat pertanyaan. Silva mengambil pahat dan berbuat serupa. Tanpa sepatah kata pun, mereka kembali menggali kuburan bekerja gigih dengan ritme teratur.
__ADS_1
Paling tidak, Ken ada benarnya. Silva dan Reader akhirnya menemukan kata sepakat (Episode 32 Reader 2).