
Di samping kubah yang besar, Ken membeberkan rencana yang dia gagas. Kalaupun rencana lama nekat, paling tidak landasannya adalah aksi diam-diam. Rencana baru ini lancang, cenderung sinting. Mereka bukan saja akan mengumumkan kehadiran mereka kepada orang-orang Bärchen, melainkan menyiarkannya keras-keras. Kru lagi-lagi akan berpencar dan mereka lagi-lagi akan memantau pergerakan lewat dencing Ghantaclock, tapi ruang yang tersedia untuk kesalahan malah lebih sempit lagi.
Krista mencermati isi hatinya, mengira akan menemukan rasa waswas di sana, rasa takut. Namun, dia semata-mata merasa siap. Tugas ini dia laksanakan bukan untuk melunasi utangnya kepada Lin Ginger. Tugas ini dia tunaikan bukan demi Ken atau Geak. Krista menginginkan ini---uangnya, impian yang bisa terwujud berkat uang tersebut.
Sementara Ken menjelaskan dan Tera menggunakan gunting dari ruang cuci untuk membagi-bagi tambang, Reyn membantu Krista dan Silva bersiap-siap. Untuk menyaru sebagai anggota Cerveny, mereka butuh tato. Mereka mulai dari Silva. Menggunakan sebatang pecongkel kunci Ken dan tembaga pirit yang Tera keluarkan dari atap, Reyn menggambari lengan Silva dengan bulu merak Cerveny sebagus yang dia bisa, berdasarkan deskripsi Krista dan membuat perbaikan bilamana perlu. Kemudian Silva meresapkan tinta ke dalam kulitnya sendiri. Soulvalin tidak butuh jarum tato. Silva berusaha semaksimal mungkin untuk memuluskan parut di lengan bawah Krista. Hasilnya tidak sempurna, tapi waktu mereka terbatas dan Silva tidak berbakat sebagai Perombak.
Silva terdiam sejenak. "Kau yakin?"
Krista menarik napas dalam-dalam. "Ini cat perang," katanya, kepada Silva dan dirinya sendiri. "Cap dibubuhkan atas kemauanku sendiri."
"Juga cuma temporer," Silva berjanji. "Akan kuenyahkan begitu kita sampai di pelabuhan."
Pelabuhan. Krista memikirkan septicaye yang berbendera-bendera ceria dan berusaha menanamkan citra itu dalam kepalanya saat dia menyaksikan bulu-bulu merak meresap ke dalam kulitnya.
Tato pasti ketahuan palsu jika diamati dari dekat, tapi mudah-mudahan yang alakadarnya itu sudah cukup.
Akhirnya, mereka berdiri. Krista memprediksi Cerveny akan datang telat---Nyonya Lois suka menarik perhatian---tapi mereka tetap saja harus sudah siap di posisi untuk bergerak ketika saatnya tiba.
Walau begitu, mereka ragu-ragu. Kesadaran bahwa mereka mungkin takkan pernah bertemu satu sama lain lagi, bahwa sebagian dari mereka---mungkin semua---bisa saja tidak selamat malam itu, menggelayut berat di udara. Pejudi, narapidana, putra pembangkang, Knoulbar tersesat, gadis Zemeni yang menjadi pembunuh, pemuda dari Krisbow yang menjadi jauh lebih buruk daripada laki-laki biasa.
Krista memandangi kru ganjil itu, yang bertelanjang kaki dan mengigil dalam balutan seragam penjara berlumur jelaga, sosok mereka dilatarbelakangi cahaya keemasan dari kubah, dilembutkan oleh kabut yang melayang-layang di udara.
Apa yang mempersatukan mereka? Keserakahan? Keputusasaan? Kesadaran bahwa jika salah seorang atau mereka semua menghilang malam ini, takkan ada yang datang mencari? Ibu dan ayah Krista barangkali masih meneteskan air mata karena putri mereka yang hilang, tapi jika Krista meninggal malam ini, takkan ada yang berdukacita atas dirinya yang sekarang. Dia tidak punya keluarga, tidak punya orangtua ataupun saudara, hanya orang-orang yang menjadi rekannya bertarung. Mungkin ini perlu disyukuri.
__ADS_1
Tera angkat bicara duluan. "Come as blossom," mereka menanggapi dengan serempak. Bahkan Reader juga mengucapkan kata-kata itu dengan lembut.
"Kalau ada diantara kalian yang selamat, pastikan peti matiku dibuka di upacara pemakaman," kata Tera sambil menyandang dua gulung kecil tambang ke bahu dan memberi Reyn isyarat agar mengikutinya menyeberangi atap. "Dunia layak melihat wajah ini sedikit lama."
Krista cuma sedikit terkejut saat melihat ekspresi menggebu-gebu yang terlintas di antara Reader dan Silva. Ada yang berubah di antara mereka selepas pertarungan dengan rombongan Kuwei, tapi Krista tidak tahu apa.
Reader berdeham dan membungkuk kecil dengan kikuk kepada Silva. "Bisa bicara sebentar?" tanyanya.
Silva membalas bungkukan tersebut dengan jauh lebih luwes dan berkata, "Tidak."
"Hei---"
"Aku bercanda," katanya sambil cekikikan.
"Aku punya sesuatu untukmu," kata Krista sambil mengeluarkan sarung tangan kulit Ken dari balik lengan tunik penjaranya.
Ken menatap sarung tangannya dengan bengong. "Bagaimana---"
"Aku mendapatkannya dari tong pakaian buangan. Sebelum aku memanjat."
"Enam lantai dalam kegelapan."
Krista mengangguk. Dia tidak menantikan terima kasih. Tidak karena sudah memanjat, atau atas sarung tangan, ataupun untuk apa-apa lagi.
__ADS_1
Krista memperhatikan tangan Ken yang pucat dan rapuh menghilang di balik bahan kulit saat pemuda itu mengenakan sarung tangan pelan-pelan. Tangan Ken adalah penyilap---berjemari lentik yang dibuat untuk membobol kunci, menyembunyikan koin, menghilangkan barang.
"Sekembalinya kita ke Moontown, aku akan mengambil jatahku dan keluar dari Geak."
Ken berpaling. "Sebaiknya begitu. Sedari awal kau terlalu bagus untuk Krisbow."
Sudah waktunya pergi. "Semoga Kaum Kudus melindungimu, Ken."
Ken menyambar pergelangan tangan gadis itu. "Krista."
Jempolnya yang bersarung tangan mengusap denyut nadi Krista, menurut bagian atas tato bulu merak. "Kalau kita tidak bisa berhasil keluar, aku ingin kau tahu...."
Krista menunggu. Dia merasakan harapan berdesir di dalam dirinya, siap untuk melambungkan tatkala mendengar kata-kata yang tepat dari Ken. Disuruhnya harapan itu diam. Kata-kata tersebut tak pernah terlontar. Hati adalah panah.
Krista menggapai ke atas dan menyentuh pipi Ken. Dia kira pemuda itu akan berjengit lagi, bahkan menepis tangannya. Hampir dua tahun bertarung berdampingan dengan Ken, bersiasat larut malam, melakukan pencurian yang mustahil, menjalankan tugas diam-diam, dan makan kentang goreng serta hutspot buru-buru sembari bergegas dari satu tempat ke tempat lain, tapi baru kali ini Krista menyentuh Ken dari kulit ke kulit, tanpa penghalang berupa sarung tangan, mantel, atau lengan baju. Krista membiarkan tangannya menangkup kepipi Ken. Kulit pemuda itu sejuk dan lembab bekas kehujanan. Ken terus bergeming, tapi Krista melihat getaran yang merambati tubuhnya, seolah-olah dia sedang berperang dengan dirinya sendiri.
"Kalau malam ini kita tidak selamat, aku akan mati tanpa rasa takut, Ken. Bisakah kau mengatakan hal yang sama?"
Mata Ken hampir hitam, pupilnya melebar. Krista bisa melihat bahwa Ken mesti mengerahkan seluruh tekadnya yang kelam untuk tetap tenang di bawah sentuhan Krista. Namun demikian, Ken tidak menarik diri. Krista tahu itulah yang terbaik yang dapat Ken berikan. Namun, itu tidak cukup.
Krista menurunkan tangan. Ken sontak menarik napas dalam-dalam.
Ken bilang dia tidak menginginkan doa Krista dan Krista tidak perlu mengucap doa, gadis itu tetap berharap semoga Ken selamat. Krista sekarang mempunyai sasaran, hatinya mempunyai tujuan, dan sekalipun dia pedih karena jalan itu menjauhkannya dari Ken, dia tahu dirinya mampu menanggung pedih.
__ADS_1
>><<>><<>><<