
\[PERINGATAN\]
Episode kali ini akan masuk bagian berisi kekerasan, jangan untuk diambil contoh dan ditiru!
Begitu Ken naik ke sekunar dengan langkah terpincang-pincang sambil menggendong Krista, ia berteriak. "Bawa kita pergi dari sini."
Layar kapal sudah disesuaikan berkibar-kibar dan mereka niscaya berangkat meninggalkan pelabuhan, sekalipun menurut Ken masih kurang cepat. Dia butuh pemanggil badai atau orang yang berordo alam untuk perjalanan ini, tapi mereka susah dicari.
Suasana di atas kapal riuh kisruh, diramaikan oleh orang-orang yang menarik tali dan membetulkan layar sekunar ke laut bebas terbuka sesegera mungkin.
"Aye!" Teriak Ken kepada seorang lelaki yang ia pilih untuk menahkodai kapal, salah satu pelaut yang piawai. Dulu dia adalah awak bajak laut di Laut Merah, dulu kapalnya telah diserang oleh pelaut lain dan Krul Septicaye satu-satunya yang selamat. Ia terkapar di pulau pedalaman, dari sana Aye (Ai) melihat satu kapal yang ternyata musuh krunya sewaktu perang. Pakaiannya masih berbentuk anak buah. Ketika Aye membunuh salah satu awak musuh yang memakai pakaian berhodi gelap layaknya assasin untuk baju kelananya, dengan berpakaian layak dia mulai bisa kemana-mana. Ketika Aye sedang berjalan menyusuri pulau, ia menjumpai salah satu kapal tahanan di pulau tersebut. Pemiliknya sedang dalam masa penyelidikan dari polisi Kalterville, Aye menyelamatkan orang itu dari tahanan dan membawanya pergi bersama pemiliknya, kapalnya. Dan sejak itu, Aye mempunyai kapal sendiri dan menjadi salah satu kapten bajak laut yang mengemuka di lautan manapun. Hingga ini, ia sedang mencari musuh lampaunya, sampai ia dipilih Geak. "Betulkan awakmu sebelum aku retakkan leher mereka satu-satu."
Krul dengan cakap mendisiplinkan awak-awaknya. "Jika kalian paham, panggil namaku!"
"Aye aye kapten!" Serempak mereka mengucapkan bersamaan, dia memang seorang kapten, dan Ken adalah komandonya.
Dada Ken luar biasa sakitnya, baru sekarang sakitnya semenjak kehilangan ginjalnya karena jatuh dari kapal yang mengangkut setoran bank ke sisi tembok pelabuhan. Mungkin ginjal tersebut sangat mungkin bereaksi parah lagi. Bobot Krista memperberat iringan napasnya, tapi ketika Tera mencoba untuk membantunya Ken hanya melewatinya.
"Di mana Silva?" tanya Ken.
"Sedang merawat orang yang terluka di bawah, dia telah memulihkanku," Ken samar-samar melihat darah kering di leher Tera. "Reyn terserempet peluru dalam pertarungan tadi. Biar aku bantu kau---"
"Menyingkir," Ken berkata, kemudian ia beranjak turun menyusuri titian ke geledak bawah.
Dia melihat Silva yang sedang merawat Reyn di kabin sempit. Tangan gadis itu terangkat ke lengan pemuda itu, membetulkan goresan peluru dengan merajut daging yang membekas. Cuma luka gores kecil.
"Sana," perintah Ken, lantas Reyn langsung melompat dari balik meja.
"Aku belum selesai---" Silva memulai, kemudian melihat Krista. "Demi Dewi Shi, ada apa?"
"Tusukan."
Kabin yang kosong diterangi oleh sejumlah lentera yang berguncang-guncang pelan, sedangkan di atas terdapat perban-perban yang digulung di botol dengan rapi. Dengan pelan, Ken menidurkan Krista di atas meja
"Darahnya banyak," kata Silva lirih.
"Bantu dia."
"Aku ini Perabak Jantung, Ken, bukan penyembuh tulen."
"Dia pasti keburu mati sebelum kita menemukan penyembuh sungguhan. Bekerjalah saja."
"Kau menghalangi cahaya."
Ken mundur beberapa langkah sedikit masuk ke lorong, sedangkan Krista berbaring diam di pangkuan Silva. Kulitnya yang coklat kelihatan mengilap tampak kayu di bawah sorot lentera.
Ken masih hidup berkatnya, dan mereka masih hidup berkat Ken. Mereka berhasil lolos sekalipun sempat terpojok, dan karena Krista yang menumbangkan musuh satu demi satu membuat mereka gagal terkepung total. Ken mengenal maut, kali ini dia merasakan maut itu di atas kapal, pertarungan yang ia lalui tadi, mereka hampir membawa pergi si Kucing.
"Kecuali kau bisa membantuku," kata Silva tanpa berpaling ke wajah pemuda itu, Ken memperhatikannya. "Sana, pergi, kau membuatku gugup." Ken ragu-ragu, lalu ia memutar diri dan pergi dari kabin, sambil menyempatkan diri untuk mengganti kemeja bersih. Ken seharusnya tak seterguncang ini, cuma gara-gara bentrokan di dermaga, tapi nyatanya demikian. Hatinya serasa perih dan tersayat-sayat. Perasaan ini sama sewaktu dia masih kanak-kanak, di hari yang putus asa ketika Keiko meninggal.
Bilang maaf, itu yang terakhir Krista ucapkan kepadanya. Memangnya dia mau Ken minta maaf untuk apa? Mungkin banyak, beribu kesalahan, beribu cemoohan tol*l. Di atas geladak, Ken menghirup udara air laut dalam-dalam, dia melihat Moontown yang kian lama menghilang dari cakrawala.
"Apa-apaan tadi?" tanya Tera. Dia menyandar di pagar kapal, pupilnya membesar, dia hampir-hampir kelihatan teler seperti baru saja turun dari ranjang seseorang. Dia selalu tampak seperti itu setelah perkelahian. Reader sedang membungkuk ke balik pagar kapal, Ken mendengarnya sedang muntah. Tidak berbakat dalam berlayar ternyata. Mereka nanti perlu membelenggu kakinya lagi.
"Kita disergap," kata Reyn dari tempatnya bertengger di tumpukan kayu. Dia sibuk meraba-raba pipinya yang merah sembuh.
Tera melototinya dengan galak. "Dapat tutor dari universitas tinggi dan yang dapat bocah ini katakan adalah 'Kita disergap'?"
__ADS_1
"Berhenti memanggilku bocah," wajahnya memerah.
"Kau takkan menyukai julukan-julukan selanjutnya yang telah aku siapkan untukmu nanti. Aku tahu kita disergap, kejadian tadi telah membuktikan, dan mungkin Boiler bukan satu-satunya mata-mata Deal di Geak."
"Deal tak punya kecerdasan maupun sumber daya yang cukup untuk membalas kita secepat ini atau setelak ini tadi," kata Ken.
"Kau yakin? Serangan tadi lumayan telak."
"Mari kita bertanya," Ken pincang-pincang ke tempat Han menahan Roger.
Aku menusuk Kucing, cekikik Roger tadi ketika Ken melihatnya terlentang di tanah. Aku menusuknya dalam-dalam. Ken melihat darah di samping dadanya, sepertinya dia menusukmu juga. Namun, bidikan Krista pasti meleset, kalau tidak orang ini pasti sudah meninggal. Ken menumbangkan pria centeng itu dan menyuruh Han untuk membawanya, sementara Ken sendiri mencari keberadaan Krista.
Kini Reader dan Tera menyeret Roger ke pagar, kedua tangannya terikat ke belakang.
"Berdirikan dia."
Dengan satu tangan besar, Reader menarik pria itu hingga bangkit. Roger menyeringai, rambutnya yang basah lepek turun ke dahinya.
"Bagaimana kalau kau memberitahuku kenapa banyak sekali anggota Deal yang berkeliaran malam ini?" tanya Ken.
"Kami berutang kepadamu."
"Bentrokan terbuka dibalas dengan tiga puluh orang bersenjata api? Tidak percaya."
Roger mencibir. "Deal tidak suka diungguli."
"Otak Deal itu terlalu sempit, sehingga muat ke dalam sepatuku, sedangkan sumber informasi satu-satunya di Geak hanyalah Boiler."
"Mungkin dia---"
Roger meludahi wajahnya.
Ken mengambil saputangan dari balik jas hitamnya dan dengan hati-hati mengelap wajahnya sampai bersih. Dia teringat Krista yang masih terbaring di atas meja, badan enteng gadis itu berada di pelukannya.
"Pegangi dia," kata Ken kepada Tera dan si orang Bärchen. Ken mengibaskan lengannya dan muncullah sebilah pisau tipis di tangannya.
Dia menyabetkan pisau ke matanya---dari alis hingga ketulang pipi---dan sebelum Roger menarik napas untuk memekik, Ken membuat sayatan kedua dari arah berlawanan, sehingga membentuk huruf X nan sempurna. Roger sekarang menjerit-jerit.
Ken mengusap pisau itu sampai bersih lalu mengembalikannya ke dalam lengannya, dan menyogok rongga mata Roger dengan jarinya yang bersarung tangan. Pria itu melolong dan berkedut-kedut saat Ken mencabut bola matanya hingga akar-akar yang merah basah. Darah sontak menyembur ke wajah Roger.
Ken mendengar Reyn muntah. Tidak sampai situ, kemudian Ken memasukkan mata itu ke dalam mulut Roger dengan mudah karena ia sedang berteriak, dan ketika Roger menutup mulutnya, Ken menarik gigi bagian bawah hingga lepas dari mulutnya. Sekurangnya enam gigi yang bedol. Amarahnya serasa panas membara, janggal, dan sinting. Seakan-akan ada yang mencabik-cabik hatinya.
"Dengarkan aku," desis Ken, wajahnya hanya beberapa inci saja dari wajah Roger. "Kau punya dua pilihan, jawab pertanyaanku kemudian kami akan menurunkanmu di pelabuhan selanjutnnya dengan biaya yang cukup untuk menjahit lukamu dan perjalanan kembali pulang. Kalau tidak, akan kuambil bola matamu yang satunya dan akan kuulangi percakapan ini dengan seorang lelaki buta."
"Tugas biasa," celoteh Roger. "Deal akan memberi seratus ribu kairo untuk mengerahkan kami, dan kami juga merekut anggota Lionolbars juga."
"Siapa yang mengerahkanmu?"
Roger malah menyedot bibirnya.
"Jangan buat aku mengulanginya, Roger." palak Ken.
"Dia akan membunuhku."
"Dan aku akan berbuat demikian, pilih salah satu kedua pilihan itu."
"Rav Frederic," isak Roger. "Orangnya Rav Frederic!"
__ADS_1
Ken sempat mencermati dampak nama itu terhadap Tera dan Reyn, Reader tidak terintimidasi, sebab dia tidak banyak tahu.
"Demi Dewi Shi," kata Tera. "Celaka kita."
"Apakah Rav memimpin krunya sendiri?"
"Kru apa?"
"Keberangkatan ke Bärchen."
"Aku tidak tahu apa-apa soal kru, kami hanya disuruh untuk menghentikan kalian supaya tidak pergi dari Moontown. Aku butuh medik," pintanya kesakitan.
Ken meliriknya. "Tentu saja, sebelah sini." Dia memegangi kerah Roger dan sambil bertumpu di pagar kapal, diangkatnya pria itu.
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu!" jerit Roger sambil meronta-ronta. "Aku sudah menuruti perintahmu!"
Ken mencondongkan kepalanya, sehingga yang lain tidak bisa mendengar apa yang sedang ia katakan. "Kucing tentunya akan menyarankanku untuk mengampunimu. Tapi berkat kau, dia tidak hadir di sini untuk membelamu."
Tanpa berkata-kata lagi, Ken melempar Roger ke laut.
"Jangan!" teriak Reyn sambil mencondongkan badan ke balik pagar kapal. Wajahnya pucat, matanya mencoba melacak keberadaan Roger yang terombang-ambing oleh ombak laut. Suara si centeng masih kedengaran hingga wajah babak belurnya hilang ke dalam laut.
"Kau semestinya bilang argh... atau apalah seperti bajak laut," kata Tera.
"Aku lebih suka menggunakan namaku sendiri," kata Aye di sampingnya. "Krul...."
'Kau---katanya kau akan---"
"Kau mau dilempar juga?" tanya Ken menanggapi Reyn.
Reyn menarik napas dalam-dalam, siap melontarkan kata keberaniannya dari udara. "Kau tidak akan melemparkanku dari kapal, kau membutuhkanku."
Kenapa orang-orang selalu mengucapkan kata itu? "Mungkin," ujar Ken. "Tapi sekarang suasana hatiku sedang tidak mau diajak berpikir rasional."
Tera memegangi pundak bocah itu. "Sudahlah."
"Tidak boleh begi---"
"Mungkin tutormu tidak mengajarkanmu hal seperti itu. Tapi, kita tidak boleh mendebat seorang laki-laki yang berlumur darah dan menyimpan pisau di lengannya."
Reyn merapatkan bibirnya hingga membentuk garis tipis. Ken tidak tahu apakah anak itu takut atau berang, yang jelas dia tidak peduli. Reader berdiri membisu memperhatikan seluruh kejadian, wajahnya pucat karena mabuk laut.
Ken menoleh ke Tera. "Belenggu kaki Reader supaya dia tidak berbuat macam-macam," kata Ken sambil menuju ke geledak bawah. "Sekalian ambilkan aku pakaian bersih dan air tawar."
"Sejak kapan aku menjadi pelayan pribadimu?"
"Orang yang membawa pisau, ingat?"
"Orang yang membawa pistol siapa?"
Ken menjawab dengan mengacungkan jari tengahnya, sebuah gestur yang penuh makna dan sangat praktis. Dia ingin mandi air panas dan minum air teh kesukaannya. Tapi, menyendiri sudah puas baginya dan tidak mencium aroma darah untuk sementara ini.
Rav Frederic, ujung-ujungnya selalu nama orang itu. Nama itu terngiang-ngiang di kepalanya bagaikan suara tembak yang bergaung. Selalu saja Rav Frederic, pria yang merampas segalanya dari Ken. Pria yang kini berdiri merintangi Ken, menghalanginya, menghambatnya. Akankah Rav Frederic mengutus krunya sendiri untuk mencuri Erikson?
Ken berbisik. "Sedikit demi sedikit."
Dia memang tergoda untuk membunuh Rav, tapi itu saja belum cukup. Ken ingin dia terpuruk, Ken ingin dia menderita sebagaimana yang dia lakukan kepada Ken, kepada Keiko. Barangkali Krista benar, yang namanya takdir itu ada.
__ADS_1