
Tera pergi ke Kharfa barat melalui jalan perjudian Krisbow. Biasanya dia dapat pinjaman uang dari sana dan, Tera tidak akan mengembalikannya. Hari ini tidak ada pekerjaan, dan perjudian masuk dalam daftarnya. Rav Frederic, diam-diam namanya menjadi luas karena menyicil tanah demi tanah di Krisbow. Para preman sudi berurusan dengan siapapun kecuali Rav. Setiap kali orang membicarakannya, wajah si rubah seperti mencemeeh. Dia adalah pemimpin Deal dan Tera ingin menemui bawahannya. Lakukan sesukamu, tapi jangan jinjing aku kemasalahmu. Ujar Ken Satu tahun silam.
Tera melihat sebuah kelab yang lumayan rapi. Bagian depan dijaga dua orang tukang pukul, dengan dekorasi ukiran di atas pintu, dan terasnya terdapat beberapa tong yang tidak terpakai. Mungkin ini salah satu dari usaha Rav. Mereka berdua kelihatan seram, luka-luka dipipinya membuat orang itu kelihatan jantan. Bukan masalah bagi Tera, kekuatan seorang petani juga jangan diremehkan.
"Tunggu, kau bukan pendatang dan bukan orang sini. Apa kau pemata-mata?" Kata salah satu penjaga yang membawa setusuk telur
"Bisnis teman-teman. Tak ada perlu yang dikhawatirkan." Tera mengangkat alis bagian kiri dan sudut bibir kirinya.
Kedua orang itu tampak memastikan Tera. Membiarakan mereka berkomat-kamit dan akhirnya mempersilahkannya masuk ke dalam.
Tera bersiul. "Dalamnya lumayan."
Tera melihat sekeliling. Ada berbagai macam permainan di kelab ini, berbagai ruangan khusus, dan kafe yang besar. Barangkali bawahan Rav berada di ruangan khusus. Tanganya terasa gatal ingin ikut serta ke permainan, tapi dia tidak bisa bermain di wilayah musuh. Bukan di wilayahnya.
Keinginannya untuk berjudi bukan main rasanya, sampai melakukan hal segila ini Tera sudi melakukannya. Dia melihat satu pintu bersama satu penjaga di sana. Bisa jadi adalah pemilik kelab ini.
"Apa di dalam sini atasanmu?" Tanya Tera.
"Ada urusan apa?" Orang itu balik bertanya.
"Sedikit bisnis saja, aku jamin untungnya dua kali lipat dari gajimu."
"Persetan dengan bisnis yang kau garap," penjaga itu kembali mengabaikan Tera.
"Hei bung, tandai wajahku baik-baik. Jika aku sampai berbohong dengan atasanmu, cari aku sampai ujung kepunahan," Tera memajukan wajahnya, mengibaratkan kalau dia bersungguh-sungguh.
Penjaga itu memutar bola matanya. "Masuk."
"Terimakasih," Tera tersenyum sambil memiringkan kepalanya.
Ruangannya tidak terlalu besar, tapi nyaman untuk seorang diri. Satu meja dan dua kursi untuk arah berlawanan, ruangannya di arahkan ke utara dan selatan supaya tetap dingin di siang hari. Dari gesturnya, sepertinya sedang bekerja keras-kerasan.
"Ada apa?" Tanyanya, tapi sibuk dengan setumpuk kertas di depannya.
Dasar orang tidak bisa menikmati hidup, benaknya. Tera menunjukan kartu dagangnya. "Penjual gandum tapi kekurangan biaya untuk pengiriman. Lima negara harus aku kirim secara bersama, kalau tidak gandumnya akan rusak."
Orang itu meliriknya lalu menyipitkan mata. "Lalu kenapa? Kau ingin aku meminjami petani sepertimu?"
"Uang yang kubutuhkan dua juta kairo, dan pendapatan yang aku terima tujuh puluh. Empat puluh juta kairo akan aku kembalikan kepadamu, bagaimana? Kau hanya perlu meminjami dan mendapatkan uang dua kali lipat," kata Tera.
"Asalmu?"
__ADS_1
"Byoun."
"Rela jauh-jauh hanya meminjam dua juta kairo."
"Memangnya siapa yang ingin merelakan uang jika benar-benar bisa didapatkan," Tera senyum palsu.
Orang itu berdiri sambil tertawa, dia mendekati Tera dan menepuk pundaknya. "Dengar nak, akan aku pinjami uang. Tapi, jika kau berani berbohong. Setidaknya ada satu dua kata untuk orang tuamu."
Tera mendapatkan segulung kertas dengan bukti uang dua juta kairo di tangannya. "Terimakasih banyak," Tera sedikit menundukan kepalanya, dia nyaris tertawa. Meski Tera memiliki uang dua juta dari misinya, dia tetap tidak yakin kalau uangnya dibuat untuk pertandingan. Jangan sampai, kira-kira masalah apa yang akan aku jumpai nanti? Tera menomorduakan masalah itu. Yang penting, dia akan berjudi malam ini.
>><<>><<>><<
Selalu saja menciptakan kejutan. Kali ini Ken membawa Reyn ke kelab rubah, dia masih enam belas tahun dan apa yang Ken inginkan darinya. Apakah ini termasuk rencana besarnya? Tidak peduli. Hari ini hati Tera sekuat baja, dia tidak ingin menduakan perjudian. Matanya yang tajam tidak salah lagi dan membuat Ken geleng-geleng kepala. Menahan rasa senyum tandingan Tera, berusaha semaksimal mungkin agar dia kelihatan biasa-biasa saja.Tidak ada panggilan dari Ken, waktu yang sangat tepat.
Tera duduk di mesin tempurnya, bangku yang berjengat-jengit sungguh merdu di telinganya.
"Tera," seketika suaranya yang merdu menjadi batu yang digesek-gesek ke semen.
Akan kupukuli kau Ken. "Apa?" Tera mempertujukan wajahnya yang menyeringai.
"Jangan habiskan uangmu," kata Ken.
Ken kembali memalinkannya dan, rasa sejuk mengguyur seisi kepala Tera.
"Wah, apakah benar kau ingin berjudi, Tera? Jika benar, maka hari ini sangat menguntungkan." Kata Derry.
"Jaga mulutmu, Berry. Hari ini aku sangat optimis sekali." Kata Tera cukup yakin.
"Sudah kubilang berhenti memanggilku dengan nama itu," geramnya. Orang yang membagikan kartu masih anak remaja yang kemarin Tera temui. Katanya dia dibayar oleh Ken, sungguh anak yang beruntung. Tapi dia tidak kembali ke kampung kunonya, pasti ada sebab yang membuat dia tetap tinggal di sini. Siapa tahu Ken memperlihatkan sesuatu yang membuatnya menjadi dendam dan tidak ingin pulang ke rumah. Berbicara soal dendam, Ken jujur mengatakannya. Bukan kepalsuan.
Meja bundar berisi empat orang. Meja itu tidak begitu besar, setidaknya bisa menutupi kartu mereka masing-masing. Permainan ini sangat sederhana. Straight. Ini merupakan kombinasi kartu dengan nilai yang berurutan dan tidak harus memiliki bunga yang sama. Misalnya 5–6–7–8–9. Jika terdapat pemain lainnya yang memiliki kombinasi kartu yang sama maka akan ditentukan dengan nilai urutan yang paling tinggi. Dalam susunan kartu ini, kartu Ace akan dihitung sebagai kartu paling tinggi. Setiap pemain mengeruk satu kartu secara bergantian untuk membuat Straight. Jika ada kartu yang memungkinkan, maka pemain akan menukarkan kartu yang tidak dibutuhkan, jika tidak tinggal lepas saja. Kalau ada dua kartu yang tidak urut, maka permainannya hangus.
Zack membagikan kartu dengan rapi. Paling tidak bukan Ken yang mengontrol meja ini.
"Baiklah," semangat Tera meluap-luap.
"Sekian lama akhirnya kita bermain bersama," cakap Han.
Di ujung kiri Ferid tertawa ringan. "Dan ujung-ujungnya kita tahu siapa yang kalah."
Serentak mereka bertiga melihat Tera yang sedang memandangi kartunya.
__ADS_1
"Sudah-Sudah, mari bermain dasar kalian teman tidak berguna," masih memakukan matanya ke kartu dan mengibas-ngibaskan tangan kanannya.
"Ngomong-ngomong, uang sebanyak itu kenapa kau buat beginian?" Tanya Ferid
"Aku hanya orang bodoh yang ingin menikati hidup."
Seketika Ferid kembali tertawa lembut. "Kau ada benarnya, Tera. Tapi kau juga perlu berusaha."
Secara bergantian mereka mengambil kartu dan menaruh kartu di atas meja. Ayo, berikan aku Ace. Kata hati kecil Tera.
"Atau jangan-jangan kau usil dengan geng sebelah?" Tanya Derry.
"Akurat sekali."
Mendadak mereka bertiga bengong melihat Tera.
"Apa?"
"Demi Dewi Shi. Kau sungguh dapat dipercaya," Derry tertawa cekakakan. "Kau memang jagoanku, Tera."
"Aku hanya butuh uang, bukan menjahili mereka." Kata Tera terus terang. Hutang sebanyak ini serasa permanen jika Tera terus-terusan kalah diperjudian.
Kalterville merupakan bangsa dengan mata uang tertinggi. Mendapatkan uang sepuluh juta, bisa menjadi juragan di berbagai bangsa lainnya. enam puluh juta kairo per orang. Ken benar-benar gila. Menyicil dua juta sama saja percuma jika keberuntungan tidak dipihaknya. Lagian, enam puluh juta berada di angan-angan Tera. Tak perlu susah payah memikirkan hutangnya. Hanya saja Ken tetap melarang hasil uang yang mereka dapatkan kemarin langsung diguna-guna.
Tahu-tahu suara yang membuat Tera merinding kembali terdengar.
"Tera," kata Ken. "Titip bocah ini, aku ada urusan."
"Aku bukan bocah," gerutu Reyn.
"Aku bukan pengasuh, Ken." Teriak Tera.
"Aku sudah besar," masih di sambati.
"Kau akan akrab dengannya," omong Ken lalu keluar dari kelab bersama Krista.
Sudahlah tidak penting. Tera kembali menoleh ke depan dan, isi kartu telah habis. Waktunya penentuan. Kartu tera lumayan besar, dia sedikit ragu dengan kartu-kartunya.
"Kalian siap?" Tanya Han.
Dalam hitungan ketiga, mereka bersama-sama menurunkan kartunya ke atas meja penentuan. Kejadian langka seumur hidup. Pelangi sedang menyinari seisi ruangan, pantulan cahaya matahari yang membiaskan air mata. Untuk keempat kalinya, Tera menjuarai pertandingan.
__ADS_1