Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Ken


__ADS_3

Ken melesat di sel-sel tingkat atas sambil melirik ke balik tiap jeruji beberapa detik saja. Erikson tidak mungkin berada di sini. Dan dia tak punya banyak waktu.


    Sebagian dari dirinya merasa hilang akal. Dia tidak membawa tongkat. Kakinya telanjang. Dia memakai pakaian asing, tangannya pucat dan tak bersarung. Dia sama sekali tidak merasa seperti dirinya sendiri. Tidak, bukan begitu. Dia merasa seperti Ken pada minggu-minggu sesudah Keiko meninggal, seperti binatang liar, yang berjuang demi bertahan hidup.


    Ken melihat narapidana Kuwei luntang-luntung di sebelah belakang salah satu sel. Bagian yang paling sukar adalah, wajah sang ilmuwan telah dirombak dan mendapatkan wajah baru agar tidak terlalu mencolok. Apakah itu harus? Atau alih-alih keamanan tingkat ganda?


    "Sesh-kyeh," bisik Ken. Etz Djel memberitahu kata tersebut kepadanya, kata itu semacam kode bahwa akan ada grup penyelamat yang akan datang untuk mengeluarkan Erikson, dan Erikson tahu itu. Namun, kalaupun pria itu tahu kata sandi, dia tidak menunjukkannya. "Erik?" Tidak ada reaksi. Pria itu mulai berteriak kepada Ken dalam bahasa Kuwei dan Ken pun buru-buru menyingkir, melewati sel-sel lain, kemudian menyelinap ke bordes dan turun secepat-cepatnya ke tingkat berikut. Dia tahu sikapnya ceroboh, egois, tapi bukankah itu sebabnya dia dijuluki Tangan Kotor? Tiada pekerjaan yang terlalu riskan. Tiada perbuatan yang kelewat tercela. Tangan kotor akan memastikan bahwa pekerjaan kasar bisa dituntaskan.


    Dia tidak yakin apa yang memotivasinya. Rav Frederic mungkin saja tidak ada di sini. Mungkin saja pria itu sudah mati. Namun, Ken tidak percaya. Aku pasti tahu kalau dia belum mati. Pokoknya aku pasti tahu. "Ajalmu adalah milikku," bisiknya.


>><<>><<>><<


Berenang dari pulau pembantaian kembali ke Kalterville menjadi momen kelahiran kembali Ken. Si anak meninggal karena cacar api. Demam membakar habis seluruh kelembutan dalam dirinya.


    Bertahan hidup tidaklah sesukar yang dia kira setelah dia menanggalkan rasa kepatutannya. Aturan pertama adalah mencari seseorang yang lebih kecil dan lebih lemah kemudian merampas yang dia punyai. Walaupun---karena Ken sendiri kecil dan lemah---itu tidaklah mudah. Dia beranjak dari pelabuhan, bertahan di gang-gang saja, mengarah ke lingkungan tempat tinggal keluarga Bartholo. Ketika melihat toko gula-gula, dia berhenti di luar, lalu mencegat seorag bocah sekolahan gendut yang tertinggal di belakang teman-temannya. Ken menjatuhkan anak lelaki itu, mengosongkan saku-sakunya, dan mengambil sekantong akar manis bawaannya.


    "Serahkan celanamu," kata Ken.


    "Celanaku kebesaran untukmu," tangis si anak lelaki.


    Ken menggigitnya. Si anak lelaki menyerahkan celana panjangnya. Ken menggumpalkan celana itu dan melemparkannya ke dalam kanal, lalu lari secepat kaki-kakinya yang lemah sanggup membawanya. Dia tidak menginginkan celana; dia cuma tidak ingin anak laki-laki itu langsung meraung-raung minta tolong. Dia tahu si bocah sekolahan akan meringkuk beberapa lama di gang itu, menimbang-nimbang rasa malu karena berkeliaran setengah telanjang di jalanan dengan keharusan untuk pulang dan menceritakan kejadian itu.


    Ken berhenti berlari setiba di gang tergelap yang dia temukan di Krisbow. Dia menjejalkan semua akar manis ke mulutnya sekaligus, menelan banyak-banyak sampai sakit, dan serta-merta memuntahkan kudapan itu. Dia membawa uang untuk dibelikan seloyang panas roti tawar. Dia bertelanjangan kaki dan kumal. Tukang roti memberinya satu loyang ekstra sekadar untuk mengusirnya.


    Ketika Ken merasa agak lebih kuat, tidak lagi terlalu gemetaran, dia berjalan kaki ke Kharfa Timur. Dia mendatangi sarang perjudian kumuh, yang tidak berplang dan hanya dimeriahkan oleh seorang calo yang berteriak-teriak di luar.


    "Aku minta kerja," kata Ken di depan pintu.


    "Tidak ada pekerjaan, Nak."


    "Aku pandai menghitung."


    Pria itu tertawa. "Bisakah kau membersihkan pispot?"

__ADS_1


    "Bisa."


    "Wah, sayang. Kami sudah mempekerjakan seorang bocah untuk membersihkan pispot."


    Ken menunggu semalaman sampai dia melihat seorang anak lelaki seusianya meninggalkan bangunan. Dia mengikuti anak itu sejauh dua blok, kemudian memukul kepalanya dengan batu. Ken menduduki tungkai anak itu dan melepaskan sepatunya, lalu menyayat tumitnya dengan pecahan botol. Si anak laki-laki akan pulih, tapi dia takkan bisa bekerja untuk sementara. Menyentuh kulit telanjang di mata kakinya membuat Ken muak. Dia terus-menerus terbayang tubuh-tubuh putih di Pulau, Tongkang Maut, merasakan kulit Keiko yang menggembung di bawah tangannya.


    Keesokan malamnya, Ken kembali ke sarang perjudian itu. "Aku minta kerja," katanya. Dan dia pun mendapakan pekerjaan.


    Dari sana dia bekerja, mengirit, dan menabung. Dia membuntuti para pencuri profesional di Krisbow dan belajar mencopet serta memotong pita pengikat dompet perempuan. Dia dijebloskan untuk kali pertama ke penjara, lalu untuk kali kedua. Dia segera saja meraih reputasi sebagai orang yang bersedia melakukan pekerjaan apa pun, sedangkan nama Tangan Kotor menyusul tak lama berselang. Dia seorang petarung yang tidak terampil tapi gigih.


    "Kau tidak ada halus-halusnya," seorang pejudi Silver Garter pernah memberitahunya. "Tidak punya teknik."


    "Tentu saja punya," timpal Ken sambil menguatkan tangan. Tarik bajunya ke atas kepala dan tinju sampai darahnya keluar. Kata Erin waktu itu. Setidaknya Ken sedikit berterimakasih karena telah membantu bagaimana cara untuk bertarung waktu itu, bertarung untuk membalas dendam. Dan ajaran Erin akan menimpanya sendiri.


    Dia masih dipanggil Ken, sama seperti dulu, tapi dia mencuri nama Lunark dari novel Vampir Mulia yang dia lihat di toko kesukaan Keiko. Hardoviel, nama keluarganya, dia campakkan, dia potong seperti kaki yang busuk. Nama itu resiko, penghubung terakhirnya dengan Keiko dan ayahnya serta dirinya yang dahulu. Selain itu, dia tidak ingin Aang Bartholo melihat kedatangannya.


    Dia mendapati bahwa muslihat yang Bartholo mainkan kepadanya dan Keiko ternyata lazim. Kedai kopi dan rumah biru megahnya adalah panggung belaka, yang digunakan untuk memoroti orang-orang bodoh dari desa. Filip beserta anjing-anjingnya adalah pemancing, yang digunakan untuk menjerat Keiko, sedangkan Magit, Diana, dan para kerani di kantor dagang adalah pemeran pembantu dalam penipuan itu. Salah seorang karyawan bank pasti turut serta, yakni dengan mengoperkan informasi mengenai konsumen kepada Bartholo dan mengabarinya tentang pedatang baru dari desa yang membuka rekening anyar. Bartholo barangkali menjalankan muslihat itu dengan mengincar banyak sasaran sekaligus. Mustahil dia menyelenggarakan besar-besaran demi harta Keiko yang cuma sedikit.


    Namun, temuan yang paling kejam adalah bakat Ken bermain kartu. Keterampilan itu mungkin saja menjadikan Ken dan Keiko kaya raya. Begitu dia mempelajari sebuah permainan, Ken sudah mahir hanya dalam hitungan jam dan kemudian dia semata-mata tak terkalahkan. Dia ingat setiap kartu yang sudah dimainkan, tiap taruhan yang dipasang. Dia bisa melacak kartu-kartu apa saja yang sudah dikeluarkan untuk permainan mana saja yang maksimal menggunakan set lima kartu. Dan jika tidak ada yang dia ingat, Ken mengakalinya dengan main curang. Kegemarannya akan ketangkasan tangan tidak pernah surut dan dia naik kelas dari meyembunyikan koin menjadi menyembunyikan kartu, cangkir, dompet, dan jam saku. Pesulap lihai tak jauh berbeda dibandingkan pencuri tulen. Dalam waktu singkat, dia sudah dilarang memasuki semua sarang perjudian di Kharfa Timur.


    Kemudian, suatu hari, Ken sedang menyeberangi jembatan di Kharfa Timur ketika dia melihat seorang pria berpipi kemerahan dan bercambang petak-petak memasuki toko gin. Dia tak lagi mengenakan baju kolot juragan bewarna hitam, melainkan celana panjang norak bergaris-garis dan rompi merah bermotif paisley. Jas beledunya bewarna hijau botol.


    Ken menembus kerumunan orang, benaknya berpacu, jantungnya berdebar-debar, tidak yakin hendak melakukan apa, tapi di pintu toko, seorang tukang pukul raksasa bertopi bowler menyetop Ken dengan tangan nan montok.


    "Toko tutup."


    "Bisa kulihat bahwa toko buka." Suara Ken kedengaran janggal di telinganya sendiri---lirih, asing.


    "Kau harus menunggu."


    "Aku harus bertemu Aang Bartholo."


    "Siapa?"

__ADS_1


    Ken merasa nyaris melompat dari kulitnya sendiri. Dia menunjuk ke jendela. "Aang haram jadah Bartholo. Aku ingin bicara dengannya."


    Si tukang pukul mengamat-amati Ken seakan dia sudah gila. "Jernihkan kepalamu, Nak," katanya. "Itu bukan Bartholo. Dia Rav Frederic. Kalau mau maju di Krisbow, mending kau camkan namanya."


    Ken mengenal nama Rav Frederic. Semua orang juga tahu. Hanya saja dia tidak pernah melihat pria tersebut.


    Pada saat itu, Frederic menoleh ke jendela. Ken menunggu pengakuan darinya---cengiran, senyuman mencibir, tanda-tanda bahwa pria itu mengenalinya. Namun, tatapan Frederic melintasnya begitu saja. Ken hanyalah seorang sasaran. Cuma seorang mangsa. Mana mungkin dia ingat?


    Ken sudah ditaksir oleh banyak geng karena menyukai tinjunya dan keterampilannya bermain kartu. Dia selalu menolak. Ken datang ke Krisbow untuk menemukan Bartholo dan menghukumnya, bukan untuk main keluarga-keluargaan. Namun, semua berubah selepas dia mengetahui bahwa targetnya adalah Rav Frederic. Malam itu, berbaring nyalang di lantai bangunan kosong tempatnya menginap dan memikirkan keinginannya, pembalasan dendam apa yang pas untuk Keiko. Rav Frederic telah merampas segalanya dari Ken. Jika Ken berniat berbuat serupa kepada Frederic, dia harus menjadi setara dan kemudian lebih tinggi daripada Frederic, padahal dia tidak bisa mencapai itu sendirian. Dia butuh geng dan bukan sembarang geng, melainkan geng yang membutuhkannya. Keesokan harinya, Ken datang ke Easd dan menanyakan kepada Lin Ginger apakah pria itu masih butuh anak buah. Namun demikian, Ken sudah tahu sejak awal: Dia akan merintis karier sebagai kaki tangan kelas teri, tapi Geak akan menjadi pasukannya. Dendam Keiko harus harus dilunaskan. Seharusnya dia berdansa dengannya. (Eps 40)


>><<>><<>><<


Apakah semua langkah itu mengantarkannya ke sini malam ini? Ke koridor gelap ini? Balas dendam yang dia impikan bukan seperti ini.


    Deretan sel membentang terus dan terus, tak berujung, tak berkesudahan. Tidak mungkin dia sempat menemukan Frederic. Namun, yang mustahil hanya mustahil sampai terbukti sebaliknya, sampai Ken melihat perawakan besar dan wajah kemerahan dari balik jeruji pintu besi. Yang mustahil hanya mustahil sampai dia berdiri di hadapan sel Rav Frederic.


    Pria itu berbaring meyamping, sedang tidur. Seseorang telah memukulinya sampai babak belur. Ken memperhaikan dadanya naik turun.


    Sudah berapa lama kali Ken melihat Rav sejak sekilas pertama di toko gin? Frederic tampak tidak pernah mengenalinya sebagai sebagai bocah kecil yang itu. Ken bukan anak kecil lagi, jadi mana bisa Rav mengenali si anak kecil yang kena tipu pada parasnya? Namun, ketidakacuhan Frederic justru membuat Ken murka tiap kali mereka bersimpang jalan. Seharusnya tidak begitu. Wajah Rav---wajah Bartholo---telah terpaku di benak Ken, ditorehkan di sana oleh pisau bergerigi.


    Ken kini mematung, merasakan bobot ringan pencongkel kunci bagaikan serangga yang merayapi telapak tengannya. Bukankah ini yang dia inginkan? Melihat Rav dihinakan, dipermalukan, merana dan putus asa, kehilangan kru terbaiknya yang mati tersula di pasak. Mungkin ini cukup. Mungkin sekarang Ken hanya perlu memberitahukan kepada Rav siapa dirinya, apa persisnya yang telah pria itu perbuat. Ken bisa menggelar sidang seorang diri, menjatuhkan vonis, dan menjalankan vonis itu juga.


    Ghantaclock mulai mendencingkan tanda tiga perempat jam. Dia harus pergi. Waktu yang tersisa untuk turun ke ruang bawah tanah tidak banyak. Silva pasti sudah menunggunya. Mereka semua pasti sudah menunggunya.


    Namun, inilah yang dia butuhkan. Inilah yang dia perjuangkan. Kenyataan ternyata tidak seperti yang Ken bayangkan, tapi mungkin tidak ada bedanya. Jika Rav Frederic dihukum mati oleh seorang algojo Bärchen anonim, sia-sialah semua ini. Ken akan mendapatkan Enam puluh juta kairo, tapi dendam Keiko takkan terbayarkan.


    Kunci pintu terbuka dengan mudah berkat utak-atik Ken. Keluesannya telah kembali, malah jauh lebih enteng.


    Mata Rav terbuka dan dia tersenyum. Pria itu rupanya tidak tidur.


    "Halo, Lunark," kata Rav. "Datang untuk menyombong?"


    "Tidak juga," timpal Ken.

__ADS_1


    Ken membiarkan pintu terbanting tertutup di belakangnya.


__ADS_2