
Tera melihat mata Reyn. "Tidak salah lagi kau anak anggota dewan."
Dia tahu semestinya dia marah kepada Ken karena lagi-lagi menyembunyikan rahasia informasi fatal, tapi saat ini Tera tidak pernah mengalami reaksi marah semanis ini. Dia benar-benar senang menyaksikan terkuaknya identitas Reyn Etz Djel yang membuat seisi ruangan menjadi oleng seperti pacuan kuda.
Muka Reyn memerah malu, Silva kelihatan marah, si orang Bärchen tampak kebingungan seperti orang *****, Ken--- jelas sangat puas diri, dan Krista kelihatannya sama saja tidak terkejut. Mau bagaimanapun, tugas Krista adalah mengumpulkan dan menyiman rahasia informasi-informasi Ken. Tera mencoba menjaga kecemburuan yang dia rasakan terhadap Krista.
Mulut Reyn terbuka tertutup, pandangannya ke atas ke bawah tidak jelas, seperti ingin membicarakan sesuatu. "Kau tahu?" Tanyanya merana kepada Ken.
Ken menekuk sebelah lututnya dan satunya menompang. Duduk dengan pergelangan kaki disilang. "Menurutmu, kenapa aku mempertahankanmu?"
"Karena aku mahir meledakkan?"
"Keterampilanmu sederhana, sebagai sandera, kau sempurna."
Pernyataan yang kejam, namanya juga Ken. Padahal, Krisbow adalah guru yang lebih brutal, bisa saja kalau dia adalah pendiri wilayah Krisbow. Paling tidak, sudah jelas kenapa Ken memanjakan Reyn dan memberinya pekerjaan. "Kalau begitu soal yang tadi," kata Tera, "bagaimana jika kita mengajak Hendrik dan mengurung saja juragan bayi di Moontown."
"Aku tidak percaya kepada Hendrik," kata Ken
"Dan kau percaya kepada Reyn Etz Djel?" Tanya Tera tercengang.
"Reyn tidak kenal banyak orang, dan oleh karena itu tidak membuat kita tambah susah."
"Bukankah aku seharusnya juga angkat bicara?" Keluh Reyn. "Aku duduk di sebelah sini."
Ken mengangkat alis. "Pernahkah kau kecopetan, Reyn?"
"Aku... setahuku tidak."
"Dipukuli?"
"Tidak, tapi---"
"Pernah ditodong di gang?"
"Tidak."
"Menurutmu kenapa?"
"Aku."
"Sudah tiga bulan kau berada di Krisbow dan meninggalkan mahligai ayahmu di Gordlock. Kalau kau pikir, kenapa kau bisa terberkati bertahan hidup di wilayah kumuh ini?"
"Mungkin... nasib baik barangkali?" Tukas Reyn lemah.
Tera mendengus. "Nasib baik yang kau bilang itu adalah Ken, Pangeran kecil. Dia menerimamu di Geak untuk melindungimu, saking lemahnya dirimu---selama ini salah satu pun dari kami tidak ada yang paham kenapa kau bisa-bisanya direkut."
"Memang membingungkan," Silva mengakui.
"Ken selalu punya alasan," guman Krista.
"Kenapa kau pergi dari rumahmu?" Tanya Tera.
"Sudah waktunya," kata Reyn kaku tapi cepat menjawabnya.
"Visioner? Romantis? Validitas?"
"Idiot?" Tebak Silva. "Mana ada orang yang pergi dari rumah hanya untuk mencari pengalaman di Krisbow, kecuali dia punya pilihan lain."
"Kehadiranku berguna," kata Reyn.
"Hendrik lebih subtil," Krista memulai.
__ADS_1
"Aku pernah diajak ayahku makan malam di Royalemerald, aku tahu sedikit kasat mata dan bisa menggambar denah Royalemerald," sungut Reyn.
"Nah, lihat? Dia punya rahasia terkubur." Ken menepuk tangan satu kali dalam rangka membuat suasana menjadi tenang. "Dan aku tidak mau salah satu senjata kita untuk mendongkrak daya tawar di hadapan Etz Djel duduk manis di Moontown sedangkan kita pergi ke utara. Reyn ikut bersama kita, bukan hanya mahir dalam meledakkan tapi juga menggambar denah berkat tutor yang gajinya selangit."
Wajah Reyn tambah memerah sedangkan Tera geleng-geleng kepala. "Bermain piano?"
"Seruling," kata Reyn eksplisit.
"Sempurna."
"Dan karena Reyn pernah ke dalam Royalemerald," Kata Ken. "Kita akan memastikan Reader jujur atau tidak."
Si orang Bärchen merengut berang, sedangkan Reyn bergidik.
"Jangan khawatir," kata Silva. "Pelototannya tidak mematikan."
Tera dapat menangkap bahwa Reader akan membungkuk tiap kali Silva berbicara mengenai dirinya. Dia tidak tahu hubungan apa yang mereka lalui hingga membuat pasukan Dushenka ini kelihatan kesal. Mereka kelihatan seperti pasangan hidup yang mempunyai kenangan hebat, tapi mereka mungkin akan saling bunuh sebelum sampai di Bärchen. Mata Tera kelelahan karena kurang tidur, gara-gara pekerjaan membebaskan Reader dari penjara. Meski tidak sebanding dengan sebelumnya. Ditambah lagi membayangkan uang enam puluh juta, membuatnya ingin tidur cepat dan berangkat pagi-pagi. Bahkan sudah dipotong sekian persen oleh Lin Ginger, hasilnya tetap saja banyak.
Kira-kira uang nanti akan Tera apakan? Uang sebanyak ini pertama-tama harus digunakan untuk membayar utang yang sejibun. Kedua dia harus membeli tanah, karena membeli tanah itu tidak ada ruginya. Lalu apa? Dia jadi teringat kata ayahnya. Berbuat macam-macam sehingga kau dapat masalah sejibun juga. Demi Dewi Shi, Tera merindukan ayahnya.
"Reyn, ambil pena dan kertas, mari kita buat Reader mulai bekerja." Reyn mulai mengambil barang dari dalam tasnya, dia mengeluarkan secarik kertas dan wadah berukuran pena yang kelihatan mahal. "Wah, bagusnya," sanjung Tera.
"Mulai berbicara, Van. Waktunya membayar sewa."
Reader memakukan pandangannya ke arah Ken, pelototannya sungguh galak. Asyik juga melihat dia menantang Ken dengan tatapan seperti serigala. Akhirnya, si orang Bärchen menutup mata dan menarik napas dalam-dalam. "Royalemerald berbentuk seperti kayu besar yang ditebang, melingkar bundar dan ada berbagai tempat dimasing-masing ujungnya. Tempat itu berada di atas tebing yang menghadap ke pelabuhan Handlamp." Kata-kata tersebut seperti asam bagi Reader, pertama-tama menjelaskan tembok terluar, kemudian lingkar luar. "Lingkar luar terbagi menjadi dua sektor. Di baliknya ada lahan es dan parit es."
Reyn mulai membuat sketsa, Tera di belakangnya mengintip sedikit dari balik bahu Reyn. "Itu kelihatan seperti kue."
"Aslinya memang terlihat seperti kue," kata Reyn eksplisit.
Ken memberi kode untuk Reader supaya tetap lanjut. "Lerengnya mustahil untuk dipanjat, lagian pintu depan adalah salah satu jalan masuk dan jalan keluar. Ditambah lagi, sebelum kalian masuk tembok terluar harus sudah lolos dari pemeriksaan."
"Itu dia," kata Ken kepada Tera. "Tidak ada salahnya bukan kita merekut keterampilan Reyn? Dia mengawasi Reader." Ken menampar sekilas bahu Tera dengan tangan bagian luarnya.
"Kenapa dan ada apa dengan pos kedua?" Tanya Krista
Reader menatap tambal kayu di atas mereka dan berkata. "Sayangnya itu tidak akan aku ikutkan serta, karena di sana hanyalah tempat menuju ke sel tahanan, kedutaan, dan peralatan pasukan Bärchen, intinya gerbang yang di sana dikawal dua kali lebih ketat dari pos pemeriksaan yang pertama. Penjaganya akan diatur dan saling berganti di jam tertentu, sebab di sana adalah sel tahanan. Jika kalian menjebol gerbangnya, pemicu alarm akan bangkit dan niscaya gerbang akan tertutup hingga kalian ditemukan."
Gelombang keresahan merambat ke sepenjuru ruangan. Jika ekspresi wajah mereka dapat ditebak, itu berarti sama gelisahnya dengan Tera yang bergeser sana-sini. Mereka semua berpikiran sama: Gawat, bagaimana cara kita menghadapi? Cuma Ken yang kelihatan tenang sekali.
"Catat semuanya," kata Ken. "Dan aku ingin kau berbagi informasi masalah alarm dengan Reyn nanti."
"Mekanisnya aku tentu tidak tahu, entah dari kabel dan bel apalah."
"Sampaikan saja semuanya yang kau tahu, kira-kira di mana mereka meletakkan Erikson."
Reader mulai bangkit dan menuju ke arah Reyn, kepalanya mengalami gelombang kepanikan, menengok kanan-kiri dengan gesit, wajahnya empot-empotan. " Mungkin di sini," kata Reader sambil menunjukan jarinya ke denah. "Dia berada di tengah sektor sel tahanan yang paling tinggi, berada di lantai atas. Tempat para kriminal hebat, *******---"
"Juwel?" Tanya Silva.
"Tepat," timpal Reader muram.
"Kalian sudah tidak sabar menyumbang keseruan ya?" Tanya Tera "Biasanya orang-orang baru mulai saling membenci setelah satu minggu, tapi kalian malah start duluan."
Keduanya serempak melotot ke arah Tera yang balas memandangi mereka dengan wajah berseri. Tapi perhatian Ken tetap berada di denah yang Reader tunjuk tadi.
"Semengerikah Erikson hingga dimasukkan ke dalam tahanan yang berbahaya?" Tanya Ken
"Menurutku dia sudah masuk ke dalam kubur," tebak Tera.
"Kita asumsikan saja dia masih hidup, dia adalah tawanan yang berharga. Royalemerald akan memastikan baik-baik di persidangan dan jangan sampai jatuh di tangan keliru sebelum disidangkan. Jadi di mana dia sekarang?"
__ADS_1
Reader memandang denah. "Mungkin dia ada di sini, mengelilingi parit es terdapat lahan es. di sana adalah tempat teraman. Tapi jika benar, maka usaha kalian---"
"Kita," potong Ken. Reader mengangkat bahu. "Usaha kita hanya sia-sia. Tidak ada yang bisa masuk ke dalam sana."
"Jika kita bisa masuk ke dalam Royalemerald, kita juga akan bisa masuk ke sana. Dan aku berani jamin Erikson ada di sana." Ken menunjuk ke denah.
"Apakah kalian ada usul bagaimana kita masuk ke dalam gerbang penjara?" Tanya Ken
"Todong dengan pisau," usul Krista.
"Todong dengan pistol?" Tanya Tera.
"Hentikan denyut nadinya?" Tanya Silva.
"Kalian semua jahat," timpal Reader.
Ken memutar bola matanya. "Ingat yang kuberitahukan kepadamu Silva sewaktu kita di Hellgame?"
"Susah mengikuti kata-kata mutiaramu, Ken."
"Yang sukar bukan masuknya, tapi keluarnya. Di penjara, mereka tidak akan memedulikan kita masuk ke dalam sana, tapi mereka terlalu sibuk untuk menjaga seseorang supaya tidak keluar seenaknya. Kita tinggal masuk saja lewat penjara dan keluar lewat kedutaan. Apakah bangunan jam Royalemerald masih berfungsi, Reader?"
"Ya, akan bunyi setiap seperempat jam sekali."
"Royalemerald bermutu tinggi," kata Silva masam.
Ken mengabaikan perkataan Silva. Dia menelengkan wajahnya ke samping dan memakukan pandangannya ke kejauhan.
"Wajah bersiasat," bisik Tera kepada Krista.
"Jelas sekali," jawabnya.
"Bagus, kita akan gunakan jam itu untuk mengoordinasikan gerak kita," kata Ken.
"Apakah kita masuk sebagai sipir?" Tanya Reyn
Tera sudah tidak bisa menutupi rasa muaknya dengan nada bicara Reyn. "Yang bisa berbahasa Bärchen hanya Reader dan Silva."
"Aku bisa bahasa Bärchen," sambat Reyn.
"Bahasa yang kau pelajari di ruang kelas, kan? Atau pribadi?" Tanya Tera. "Pasti bahasanya sefasih bahasa rusamu."
"Bahasa rusa tepatnya bahasa milikmu," protes Reyn.
"Giliran aku yang membagikan usulan," kata Ken. "Bagaimana jika kita masuk sebagai tawanan. Di pagi hari pengelihatan penjaga meleng, mari kita bertamu lewat pintu depan penjara."
"Apa itu meleng?" Tanya Reyn.
Tera sekarang tertawa terbahak-bahak. "Aduh, Demi Dewi Shi, ada-ada saja kau ini, meleng, lengah, kosong penjagaan."
"Mungkin aku kurang... asam garam jika dibandingkan denganmu, tapi aku mengetahui banyak kata yang tidak kau kenali."
"Juga mengetahui not-not bukan? Keterampilanmu bisa dijual pangeran kecil, bisa dijual, dan biar kuluruskan," Tera menarik napas. "Kau ingin membiarkan orang-orang Bärchen mengurung kita ke dalam penjara? Bukankah itu senantiasa kita hindari?"
"Aku tidak mau masuk ke dalam penjara Bärchen," Silva membenarkan.
Ken mengeluarkan dua tongkat kecil dari balik jas gelapnya. "Pencokel kunci?" Tanya Silva. "Di tempat sasaran kita meleng, di situlah kita menyerang," kata Krista.
''Tepat, urusan sel biar aku yang urus, kita pasti bisa," kata Ken. "Kalau kita yang melaksanakannya pasti bisa." Seketika ruangan berubah menjadi hal positif. Perubahan itu memang samar sekali, tapi dapat dirasakan. Mungkin Reader juga merasakan suasana itu karena dia sempat berujar. "Kalian tidak akan tahu apa yang akan kalian hadapi." Krista meluruskan diri dan melihat ke arah denah tersebut. "Bentuknya memang mirip seperti lingkaran kayu."
"Bukan," kata Ken. "Bentuknya seperti lingkaran target."
__ADS_1