
...[Delapan Dentang]...
Di mana pula si Ken? Tera melompat dari kaki ke kaki di depan tungku pembakaran, dering alarm peringatan yang sayup-sayup memekakkan telinganya, menyesakkan benaknya. Protokol Kuning? Protokol Merah? Tera tidak ingat bedanya apa. Rencana mereka disusun dengan harapan semoga alarm tidak berbunyi.
Krista telah mengikat tambang ke atap dan menjatuhkan tali ke bawah untuk mereka panjat. Tera sudah menyerahkan tambang yang tersisa untuk dibawa naik oleh Reyn dan Reader, beserta gunting yang ditemukan di ruang cuci dan kait panjat alakadarnya yang dia buat dari gigi-gigi logam papan penggilasan. Kemudian, dia membersihkan tetes-tetes hujan dan kelembapan dari lantai ruang sampah, juga memastikan bahwa tidak tersisa serpihan tambang ataupun bekas-bekas lain keberadaan mereka. Tiada yang dapat dilakukan selain menunggu---dan panik ketika alarm mulai berdering.
Dia mendengar orang-orang saling teriak, deru sepatu bot yang menjejak langit-langit. Kapan saja, penjaga yang intuitif mungkin memutuskan untuk mengeluyur ke ruang bawah tanah. Jika mereka menemukan Tera dekat tungku pembakaran, rute pelarian melalui atap akan menjadi jelas. Tera bukan saja akan mencelakakan dirinya, melainkan juga yang lain.
Ayo, Ken. Aku menunggumu. Mereka semua menunggu pemuda itu. Silva baru beberapa menit lalu sampai di ruang bawah tanah sambil kalang kabut dan tersengal-sengal.
"Sana!" seru Silva. "Apa lagi yang kau tunggu?"
"Kau!" Tera balas menghardik. Namun, ketika dia menanyakan di mana Ken, wajah Silva langsung berkerut.
"Kukira dia bersama kalian."
Silva lantas menghilang sementara dia memanjati tambang sambil mendengus kepayahan, meninggalkan Tera yang berdiri di bawah, mematung karena tidak tahu mesti berbuat apa. Apakah para penjaga telah menangkap Ken? Apakah Ken sedang di penjara, bertarung demi melindungi nyawanya?
Dia Ken Lunark. Kalaupun mereka mengurungnya, Ken bisa meloloskan diri dari sel mana pun, dari belenggu mana pun. Tera bisa saja meninggalkan tambang untuk Ken, berdoa semoga hujan dan tungku pembakaran mendingin tidak menghanguskan ujungnya. Namun, jika malah dia berdiri bengong, dia akan mengungkapkan rute pelarian mereka dan bisa-bisa tamatlah riwayat mereka semua. Dia tidak punya pilihan lain selain memanjat.
Tera menyambar tambang tepat saat Ken menjeblakkan pintu dan melesat masuk. Pakaiannya bernoda darah, rambutnya acak-acakan.
Tera bergirang dan ingin bertanya, "Ken---"
"Cepat," kata Ken tanpa babibu mengusirnya.
Ribuan pertanyaan berkelabat di kepala Tera, tapi dia tidak berhenti untuk bertanya. Dia melompat ke atas batu bara dan mulai memanjat. Gerimis masih turun dari atas dan dia merasakan tambang bergetar saat Ken mencengkeram di bawahnya. Ketika Tera menengok ke bawah, dia melihat Ken bertumpu ke dinding untuk menarik pintu tungku agar tertutup di belakang mereka.
Tera menaikkan tangan satu-satu, mengangkat badannya dari simpul ke simpul, dengan lengan yang mulai pegal dan tambang menggores telapak tangannya. Menumpukan kaki ke dinding tungku pembakaran bila mana perlu, kemudian berjengit karena suhu panas bata. Bagaimana bisa Krista memanjat seperti ini tanpa pegangan?
Jauh di atas, alarm Ghantaclock masih ribut seperti paduan suara panci dan wajan yang marah. Apa tepatnya yang tidak beres? Kenapa Ken dan Silva berpisah? Dan bagaimana mereka bisa meloloskan diri dari dilema ini?
Tera menggeleng-geleng sambil berkedip untuk menghalau air hujan dari matanya, otot-otot punggungnya semakin tegang semakin tinggi dia bergerak.
"Puji syukur kepada Kaum Kudus," sengalnya saat Reader dan Reyn meyambar bahunya dan menariknya beberapa kaki ke atap. Dia berguling dari bibir cerobong, sekujur tubuhnya basah kuyup dan gemeteran seperti anak kucing yang setengah tenggelam. "Ken sedang memanjat tali."
Reader dan Reyn menyambar tambang untuk menarik Ken ke atas. Tera tidak yakin seberapa besar sumbangan tenaga Reyn, tapi pemuda itu kentara sekali bekerja keras. Mereka menyeret Ken keluar dari cerobong. Dia jatuh terkapar, telentang sambil mengap-mengap. "Di mana Krista?" sengalnya. "Di mana Silva?"
"Sudah di atap kedutaan," kata Reader.
"Tinggalkan tambang dan bawa yang lain," ujar Ken. "Ayo maju."
Reader dan Reyn melemparkan tambang dari tungku pembakaran dan menyambar dua gulung tali bersih. Tera mengambil salah satu dan memaksa dirinya bangkit. Dia mengikuti Ken ke bibir atap tempat Krista telah mengikatkan tambang yang menghubungkan atap penjara dengan atap sektor kedutaan di bawah. Seseorang telah membuatkan cantelan untuk orang-orang yang tidak selihai Kucing dalam melawan gravitasi.
"Puji syukur kepada Kaum Kudus, Syel, dan Bibi Evamu---"
"Bisakah kau berhenti mencelotehkan Bibiku?" kata Reader menimpali Tera berucap penuh terima kasih, lalu meluncur turun lewat tali, diikuti oleh yang lain.
Atap kedutaan berbentuk lengkung, barangkali supaya salju tidak bertumpuk, tapi menyusurinya terkesan seperti berjalan di punggung bungkuk seekor paus maha besar. Selain itu, atap tersebut jauh lebih... berlubang-lubang ketimbang atap penjara. Di mana-mana, tersebar banyak lokasi rawan terperosok---saluran ventilasi, cerobong asap, kubah kaca kecil yang dirancang untuk masuknya cahaya. Silva dan Krista menyempil di dasar salah satu kubah terbesar, yakni sebuah jendela langit-langit berhiaskan ornament perak di bangunan bundar tempat terletaknya jalan masuk kedutaan. Kubah tersebut kurang bisa melindungi dari terpaan hujan rintik-rintik, tapi andaikan penjaga di tembok terluar berpaling dari gerbang dan menoleh ke atap Royalemerald, kru Ken niscaya tidak kelihatan olehnya.
Krista sedang menumpangkan kaki ke pangkuan Silva.
"Karet tak bisa kulepaskan semua dari tumitnya," kata Silva saat dia melihat mereka menghampiri.
"Bantu dia," kata Ken.
"Aku?" tukas Tera. "Maksudmu bukan---"
"Lakukan saja."
Tera merangkak untuk melihat kaki Krista yang melepuh dari dekat, sadar sekali bahwa Ken memantau gerakannya. Reaksi Ken kali terakhir Krista cedera lebih dari sekadar mengkhawatirkannya, sekalipun yang Krista alami kali ini tidaklah separah luka tusuk---dan kali ini Ken tidak bisa menyalahkan Deal. Tera berkonsentrasi kepada partikel-partikel karet, berusaha untuk melepaskannya dari kulit Krista sebagaimana dia melepaskan bijih besi dari jeruji penjara.
__ADS_1
Krista tahu rahasia Tera, tapi Silva menatapnya sambil melongo. "Kau Fabrikator?"
"Akankah kau percaya kepadaku kalau kubilang bukan?"
"Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Kau tidak pernah bertanya," kata Tera asal.
"Tera---"
"Sudahlah, Silva." Gadis itu merapatkan bibir, tapi Tera tahu ini bukan kali terakhir dia mendengar pertanyaan itu. Diperintahkannya dirinya untuk kembali memfokuskan perhatian kepada kaki Krista. "Demi Dewi Shi," katanya.
Krista meringis. "Separah itukah?"
"Bukan, hanya saja kakimu jelek."
"Kaki jeleklah yang mengantar kalian ke atap ini."
"Tapi, apa kita terperangkap di sini?" tanya Silva. Ghantaclock berhenti berdenting dan dalam kesunyian yang menyusul, gadis itu memejamkan mata dengan lega. "Akhirnya."
"Apa yang terjadi di penjara?" tanya Reyn, nada panik kembali muncul dalam suaranya. "Apa yang memicu alarm?"
"Aku berpapasan dengan dua penjaga," kata Silva.
Tera berpaling dari pekerjaannya. "Kau tidak menumbangkan mereka?"
"Sudah. Tapi, salah seorang menembak beberapa kali. Penjaga lain lantas menghampiri. Saat itulah bel mulai berdering."
"Sialan, jadi itu yang memicu alarm."
"Mungkin," kata Silva. "Kau di mana, Ken? Aku takkan berada di ruang tangga kalau kau tidak buang-buang waktu mencarimu. Kenapa kau tidak menemuiku di bordes?"
Mereka semua menatapnya. Tera merasakan kesabarannya habis.
"Apa-apaan ini?" katanya. "Kau angkat kaki sebelum aku dan Reader kembali, lalu seenaknya memutuskan untuk memperluas pencarian dan membiarkan Silva mengira bahwa kau sedang kesulitan?"
"Ada yang perlu kuurus."
"Alasanmu kurang bagus."
"Aku punya firasat," kata Ken. "Aku mengikuti firasatku."
Silva tampak tak percaya. "Firasat?"
"Aku membuat kekeliruan," gerak Ken. "Puas?"
"Tidak," kata Krista kalem. "Kau berutang penjelasan kepada kami."
Setelah beberapa saat, Ken berkata, "Aku mencari Rav Frederic." Ekspresi yang tidak Tera pahami terlintas di antara Ken dan Krista; pengetahuan yang tidak bisa dia akses.
"Demi Kaum Kudus, kenapa?" tanya Silva.
"Aku ingin tahu siapa di Geak yang membocorkan informasi kepadanya."
Tera menunggu. "Lalu?"
"Aku tidak bisa menemukannya."
"Bagaimana dengan darah di bajumu?" tanya Reader.
"Jika Silva tidak berpapasan, maka aku juga tidak akan."
__ADS_1
Silva tampak bersalah tapi pura-pura tidak dengar. Tera juga tidak percaya.
Ken mengusap matanya dengan tangan. "Aku mengacau. Aku membuat keputusan yang jelek dan aku layak dipersalahkan. Tapi, itu tidak mengubah situasi kita."
"Apa situasi kita?" tanya Silva kepada Reader. "Apa yang akan mereka lakukan sekarang?"
"Alarm tadi adalah Protokol Kuning, gangguan sektor."
Tera memijat-mijat pelipisnya. "Aku tidak ingat artinya."
"Tebakanku, mereka mengira ada yang berusaha kabur dari penjara. Sektor itu sudah tersegel dari bagian lain Royalemerald, jadi mereka akan mengesahkan pencarian, barangkali untuk mencari tahu siapa yang tidak ada di sel."
"Mereka akan menemukan orang-orang yang kita buat pingsan di area penahanan perempuan dan laki-laki," kata Reyn. "Kita harus menyingkir dari sini. Lupakan Erikson."
Reader menepis tangannya ke udara. "Sudah terlambat. Jika para penjaga mengira bahwa upaya kabur dari penjara tengah berlangsung, pos-pos pemeriksaan akan siaga satu. Mereka takkan membiarkan sembarangan orang lewat begitu saja."
"Kita masih bisa mencoba," kata Tera. "Kita perban kaki Krista---"
Gadis itu meregangkan kaki, lalu berdiri, menguji tumitnya yang telanjang di kerikil. "Rasanya baik-baik saja. Kakiku tidak kapalan lagi, kok."
"Akan kuberitahu alamat untuk mengeposkan keluhan," ujar Silva sambil berkedip.
"Oke, Siluman bisa jalan kaki," kata Tera sambil mengusap wajahnya yang lembap dengan lengan baju. Hujan tinggal berupa rintik-rintik setipis kabut.
"Kita cari ruang nyaman untuk menggetok kepala tamu pesta dan kemudian kita berlenggak-lenggok meninggalkan tempat ini dalam balutan pakaian mewah mereka," kata Reyn.
"Melewati gerbang kedutaan dan dua pos pemeriksaan?" kata Reader skeptis.
"Mereka tidak tahu bahwa sudah ada yang kabur dari sektor penjara. Mereka melihat Silva dan Ken, jadi mereka tahu bahwa ada yang keluar dari sel, tapi para penjaga di pos pemeriksaan akan mencari pesakitan berseragam penjara, bukan diplomat harum berbaju bagus. Kita harus melakukan ini sebelum mereka sadar bahwa enam tahanan sudah berkeliaran di lingkar luar."
"Lupakan," ujar Silva. "Aku ke sini untuk mencari Erikson dan aku takkan pergi tanpa dia."
"Buat apa?" tanya Tera. "Kalaupun kau berhasil mencapai Pulau Putih dan menemukan Erik, takkan bisa keluar. Reyn benar: Kita harus pergi sekarang mumpung masih punya kesempatan. Meskipun otaknya sebesar udang, ternyata punyamu lebih kecil, ya," Tera tidak mungkin melewatkan ekspresi kesal dari Tuan Muda.
Silva bersedekap. "Kalau aku harus menyeberang ke Pulau Putih sendiri, akan kulakukan."
"Itu mungkin bukan pilihan," kata Reader. "Lihat."
Mereka berkumpul di seputar landasan kubah kaca. Bangunan bundar di bawah penuh dengan orang yang sedang minum-minum, tertawa, saling sapa---pesta meriah sebelum perayaan di Pulau Putih.
Sementara mereka menonton, sekelompok penjaga batu merangsek masuk ke ruangan, berusaha untuk membariskan khalayak.
"Mereka menambah satu pos pemeriksaan," kata Reader. "Mereka akan memeriksa bukti identitas semua orang lagi sebelum orang-orang itu diperbolehkan mengakses jembatan kaca."
"Karena Protokol Kuning?" tanya Tera.
"Barangkali. Untuk jaga-jaga."
"Kalau begitu sudah jelas," kata Tera. "Kita angkat tangan saja dan berusaha kabur sekarang."
"Aku tahu jalan," kata Krista pelan. Mereka semua menoleh untuk memandangnya. Cahaya kuning dari kubah mengumpul di matanya yang gelap. "Kita bisa melalui pos pemeriksaan itu dan memasuki Pulau Putih." Dia menunjuk ke bawah, ke tempat dua kelompok orang memasuki bangunan bundar dari lapangan pos jaga dan sedang menepiskan tetes-tetes hujan dari pakaian mereka. Gadis-gadis dari rumah Iris Biru mudah dikenal berdasarkan gaun mereka dan bunga yang tersemat di rambut dan garis leher mereka. Dan tak mungkin ada yang salah mengenali pria-pria dari Paron---tato di mana-mana, lengan telanjang sekalipun udara dingin menggigilkan. "Delegasi Kharfa Barat mulai berdatangan. Kita bisa masuk."
"Krista---" kata Ken.
"Silva dan aku bisa masuk," lanjut Krista. Punggungnya tegak, nada bicaranya tenang. Dia kelihatan seperti sedang menghadapi regu tembak dan menolak penutup mata mentah-mentah. "Kami akan masuk bersama rombongan Cerveny."
><
KenCatatan: Terimakasih karena sudah membaca Six of Foxes hingga episode 50. Akan saya usahakan menggambar peta jeroan Royalemeraldnya.
<( ̄︶ ̄)> Terimakasih atas dukungannya.
__ADS_1