
Begitu Reader keluar dari geladak, dia langsung menuju ke pagar. Dia melihat para tikus kanal dan penghuni tempat kumuh dengan pintar menyesuaikan diri, sebab mereka sering melompat dari perahu ke perahu di sungai-sungai Kalterville. Cuma si lembek, Reyn, yang sepertinya kesulitan. Dia tampak kepayahan, sebagaimana yang Reader lihat.
Lebih enak bertahan di udara yang terbuka bebas karena masih bisa melihat cakrawala. Dia mampu melalui lautan sebagai Dushenka, tapi dia selalu merasa baikan jika berada di darat, menjejak tanah atau es. Memalukan rasanya, muntah-muntah untuk ketiga kali di sepanjang waktu ini di bawah tatapan orang-orang asing.
Untung saja Silva tidak berada di atas sini untuk menyaksikan aib tersebut. Reader terus-menerus memikirkannya di kabin tadi, merawat si gadis berkulit perunggu dengan kecemasan dan kebaikan hati. Dan keletihan. Dia kelihatan letih sekali. Perbuatanku keliru, kata Silva. Keliru karena menyebut Reader sebagai pedagang budak, sehingga dia dilemparkan ke kapal Kalterville dan dijebloskan ke penjara? Silva mengklaim bahwa dia berusaha untuk memperbaiki kekeliruannya. Namun, kalaupun benar, lantas apa gunanya? Kaum Knoulbar tak punya kehormatan, Silva membuktikan itu sendiri.
Seseorang telah menjerang kopi dan Reader melihat para awak kapal minum dari mug tembaga keramik. Dia teringat sewaktu memberi Silva satu cangkir kopi di depan bara api rumah yang hangat atau satu cangkir air tawar. Reader buru-buru mengusir pemikirannya itu. Dia tak perlu menjaga Silva atau memberi tahu Lunark kalau gadis itu sedang kecapekan dan butuh istirahat. Reader mengepalkan tangan sambil membuka buku-buku jarinya yang berbekas-bekas luka. Silva telah membuat dirinya menjadi lemah.
Lunark melambaikan tangannya, dia mengarah ke Reader supaya mendekat ke tempatnya, Tera, dan Reyn yang tengah berkumpul melihat denah Royalemerald jauh dari mata dan telinga awak kapal. Melihat gambar itu, hati Reader seperti sedang teriris-iris. Gerbangnya, temboknya, penjaganya. Seharusnya pengamanan seketat itu membuat orang-orang tol*l menutup niat untuk membobol. Tapi nyatanya Reader juga setol*l mereka.
"Kenapa denah ini tak memuat satu pun nama tempat?" tanya Lunark sambil mengarahkan tangannya ke denah.
"Aku tidak bisa berbahasa Bärchen, padahal aku tak mau sampai salah mencantum perinciannya," kata Reyn. "Biar Van saja yang mencantumkan nama-nama." Reyn beringsut mundur saat melihat ekspresi Reader. "Aku cuma melakukan pekerjaanku. Jangan pelototi aku."
"Tidak," geram Reader.
"Ini," kata Ken sambil melempar tablet mungil pipih bening yang berkilauan di bawah sinar matahari. Si iblis duduk di tong sambil menyandar ke tiang layar dan menumpukan kaki kanannya ke segulung tambang, mungkin kakinya cedera, pikir Reader, karena kali pertama mereka bertemu, jalan pemuda itu pincang-pincang. Sedangkan tongkat terkutuk yang dia bawa-bawa kini dia pangku. Reader gemar membayangkan dirinya mematahkan tongkat pemuda itu hingga berkeping-keping dan menjejalkan serpih-serpihan tongkat ke mulutnya.
"Ada apa?"
"Salah satu temuan baru Hendrik."
Kepala Reyn terangkat. "Aku kira keahliannya bahan peledak."
"Keahliannya banyak," kata Tera.
"Selipkan ke sela gigi belakang kalian," kata Ken sambil membagikan tablet yang serupa kepada yang lain-lain. "Tapi, jangan digi---"
Reyn mulai meludah dan batuk-batuk sambil mencakari mulutnya. Lapisan transparant telah terbentuk di depan bibirnya; selaput itu mengembung seperti rongga mulut kodok. Sementara dia berusaha bernapas, matanya jelalatan karena panik.
Tera mulai tertawa, sedangkan Ken hanya geleng-geleng kepala. "Sudah kubilang jangan digigit, Reyn. Bernapaslah lewat hidungmu."
"Pelan-pelan," kata Tera. "Nanti kau pingsan."
"Apa ini?" tanya Reader.
Ken menjejalkan tablet dalam-dalam ke mulutnya, menyelipkan benda tersebut ke sela gigi-giginya. "Baloon, aku berencana untuk menyimpannya, tapi selepas penyergapan di pelabuhan, aku tidak tahu masalah apa saja yang mungkin akan kita jumpai di laut. Jika kalian tercebur ke air dan tidak bisa naik ke permukaan untuk bernapas, lepaskan butiran tadi ke mulut kalian dan gigitlah. Kalian akan diberi waktu sepuluh menit untuk bernapas, kurang dari itu jika kalian panik," katanya sambil memandang Reyn penuh arti. Dia memberi pemuda itu baloon lagi. "Simpan yang ini dengan hati-hati." Kemudian Ken mengetuk-ngetuk denah Royalemerald.
"Namanya, Reader. Semuanya."
Dengan enggan, Reader mengambil pena dan tinta yang telah Reyn siapkan dan mulai menulis nama tiap-tiap bangunan dan jalan sekitar. Entah kenapa, melakukan semua ini dengan tangannya sendiri terkesan sebagai pengkhianat yang lebih besar, sebagaian diri dalamnya bertanya-tanya apakah dia bisa memisahkan diri dari kelompok ini sesampai mereka di Bärchen, mengungkapkan lokasi mereka, dan alhasil memperoleh restu serta pengampunan dari pemerintah. Namun, akankah ada yang mengenalinya di Royalemerald? Dia barangkali disangka mati tenggelam di kapal karam beserta rekan-rekannya terdekatnya dan Komandan Nisius. Dia tidak punya bukti identitasnya. Dia akan menjadi orang asing di Royalemerald dan, kalaupun ada yang mau mendengarkan---
__ADS_1
"Ada yang kau tutup-tutupi?" kata Lunark, matanya yang bewarna gelap menatap Reader lekat-lekat.
Reader mengabaikan rasa ngeri yang membuatnya merinding. Kadang-kadang si iblis terkesan bisa membaca isi pikirannya. "Aku sudah menyampaikan yang aku ketahui."
"Nuranimu merabunkan ingatanmu. Camkan lagi butir-butiran kesepakatan kita, Reader."
"Ya sudah," kata Reader naik darah. "Kamu mau pendapatku sebagai seorang berpengalaman? Rencanamu tidak akan berhasil."
"Kau bahkan tidak tahu apa rencanaku."
"Masuk lewat penjara, keluar lewat kedutaan?"
"Rencana awal memang begitu."
"Takkan bisa. Sektor penjara terpisahkan sepenuhnya dari bagian lain Royalemerald. Sektor penjara tidak terhubung dengan kedutaan. Penjara tidak bisa dicapai dari sana."
"Sektor penjara beratap, kan?"
"Kalian tidak akan bisa naik ke atap sektor penjara," kata Reader puas.
"Sebagai-bagaian dari pelatihan, Dushenka menghabiskan tiga bulan untuk bekerja dengan penjara dan Knoulbar tahanan. Aku pernah ke penjara dan atap tidak bisa di akses dengan cara apapun persis karena alesan itu. Jika seseorang berhasil keluar dari selnya, kami tidak ingin dia lari ke sana-kemari di Royalemerald. Penjara sama sekali tidak bisa dimasuki dari kedua sektor lain di lingkar luar. Begitu kalian masuk, terperangkaplah kalian."
"Selalu ada jalan keluar," Ken mengambil denah penjara dari tumpukan kertas. "Lima lantai ya? Area pemrosesan, plus area sel sebanyak empat tingkat. Jadi yang di sebelah sini apa? Di ruang bawah tanah?"
"Tungku pembakaran."
"Ya, tempat pakaian para narapidana dibakar selepas kedatangan mereka. Gumannya untuk mencegah wabah penyakit, tapi---" Begitu kata-kata terlontar dari mulur Reader, dia memahami apa yang terbenih di benak Lunark. "Demi Syel, Kau ingin kami mendaki cerobong tungku sejauh enam lantai?"
"Kapan tungku itu dinyalakan?"
"Pagi-pagi sekali, seingatku, tapi kalaupun tidak panas, kita---"
"Yang akan disuruh untuk mendaki bukan kita," Silva muncul dari geladak bawah.
Ken duduk lebih tegak. "Siapa yang mengawasi Krista?"
"Han," kata Silva. "Aku akan kembali ke sana sebentar lagi. Dan tak usah sok-sok mengkhawatirkan Krista saat kau berencana menyuruhnya mendaki cerobong."
"Kucing pasti bisa."
"Kucing adalah seorang gadis enam belas tahun yang sedang terbaring tak sadarkan diri di atas meja. Dia mungkin saja takkan bertahan hidup sampai di Bärchen."
__ADS_1
"Dia pasti bisa," kata Ken, matanya berkilat-kilat buas. Reader curiga Lunark bakalan nekat menyeret gadis itu keluar dari neraka andaikan dia bisa.
Tera memungut senjata apinya, lalu mengelap senjata api tersebut dengan kain gelap. "Kenapa kita membicarakan pendakian cerobong asap, padahal kita tengah menghadapi masalah yang lebih gawat."
"Masalah apa tepatnya," kata Ken, sekalipun Reader samar-samar mendapatkan kesan bahwa pemuda itu tahu.
"Jika Rav Frederic turut campur, sebaiknya kita tidak mengincar Erikson."
"Siapa itu Rav Frederic?" tanya Reader, mengucapkan suku kata demi suku kata nan konyol dengan kagok di mulutnya, nama-nama Kalterville tidak ada bagus-bagusnya. Dia tahu pria itu pemimpin geng dan pendapatannya lebih dari Hellgame. Itu saja sudah parah, tapi Reader merasakan hal yang lain.
Reyn bergidik dari tempatnya. "Cuma praktisi terbesar dan terjahat se-Moontown. Dia punya uang dan koneksi jauh lebih banyak daripada yang kita miliki, dan mungkin juga sudah start jauh mendahului kita."
Tera mengangguk. "Kali ini kata-kata Reyn masuk akal. Kalaupun kita secara ajaib bisa mengeluarkan Erikson sebelum Frederic, begitu dia tahu kalau kita yang mengalahkannya, tamatlah riwayat kita."
"Rav Frederic hanyalah seorang bos Krisbow," kata Ken. "Tidak lebih dan tidak kurang, berhenti menyebut nama orang itu seolah-olah dia manusia kekal."
Padahal bukan cuma itu, pikir Reader. Kebrutalan yang terjadi di dermaga memperdayakan Lunark tadi, ketika dia membunuh Roger, sepertinya sudah surut. Meskipun begitu, kata-katanya masih berapi-api. Reader yakin kalau Lunark membenci pria itu. Bukan hanya sekedar membenci saja, kebencian Lunark kepada pria itu menyiratkan luka lama dan dendam kesumat.
Reader menyandarkan badannya dan berkata, "Menurutmu Lin Ginger akan menolongmu sewaktu dia tahu kau menantang Rav Frederic? Menurutmu si bapak tua itu menginginkan perang?"
Ken menggeleng dan Reader melihat kalau si iblis itu betul-betul frustasi. "Frederic tidak lahir ke dunia dalam balutan kain halus dan bergelimang kairo. Cara pikirmu masih terlampau sempit. Sama seperti Lin Ginger, sama seperti yang diinginkan oleh orang-orang seperti Rav Frederic. Begitu kita berhasil menuntaskan pekerjaan dan kita bagi keuntungan, kitalah yang akan menjadi legenda Krisbow. Kita akan dikenal sebagai kru yang mengalahkan Rav Frederic."
"Mungkin cara praktis jika kita ingin melewati jalur utara, sebaiknya kita urungkan," kata Reyn. "Lebih baik kita ke Handlamp kalau kru Frederic bergerak duluan."
"Pelabuhan pasti diamankan lebih ketat, "kata Ken. "Belum lagi diramalkan oleh para agen dan aparat hukum seperti biasa."
"Jalur selatan, bagaimana? Lewat Bärchen?"
"Perbatasan dijaga baik-baik," kata Silva.
"Perbatasannya luas," ujar Reader.
"Kita takkan tahu tempat mana saja yang longgar," timpal Silva. "Kecuali kau mempunyai kekuatan magis mengenai menara pengawas dan pos terluar mana saja yang aktif. Belum lagi jika kita masuk ke Bärchen harus menghadapi orang-orang Bärchen dan Dushenka."
Perkataan Silva memang masuk akal, tapi Reader menjadi jengah karenanya. Di Bärchen kaum perempuan tidak berbicara seperti ini, tidak pula membicarakan persoalan militer atau strategi. Namun, Nina sudah begitu sejak awal."
"Kita masuk dari utara seperti rencana awal," kata Ken.
Tera mendongak ke atas sampai-sampai membentur lambung samping kapal. "Ya sudah. Tapi, kalau Rav Frederic sampai membunuh kita semua, aku akan meminta hantu Reyn mengajariku main seruling supaya aku bisa mengganggu hantumu habis-habisan."
Bibir Ken bergetar. "Kalau begitu, aku akan merekut hantu Reader untuk menghajarmu."
__ADS_1
"Hantuku tidak akan mau bergaul dengan hantu kalian," ujar Reader kalem. Lalu bertanya-tanya sendiri apakah udara laut telah membuat otaknya bulukan? Kenapa Reader menahan senyum? Mungkin ini yang dinamakan, bahaya.