
Setiap kali tidur, Reader selalu bermimpi tentang gadis itu. Mengejar gadis itu hingga ke padang rumput hijau, terkadang ke lahan es dan, Reader selalu menangkapnya. Dalam mimpi indahnya, dia membanting gadis itu ke tanah lalu mencekiknya, menyaksikan gadis itu memohon ampun. Dalam mimpi buruknya, gadis itu tidak melawan, dia malah tertawa seakan tadi sedang bermain kejar-kejaran dengannya. Andaikan jika Reader bisa mendekap gadis itu lebih lama, tiap luka, kepedihan, kehancuran akan redup begitu saja.
"Reader," suara Silva yang teramat lembut selalu memicunya agar bangun. Ketika dia bangun, Reader membenci dirinya sendiri, bahkan lebih dari membenci gadis itu. Jika ia tidur lagi, Reader akan mengkhianati kaumnya, bahkan menghianati negerinya lagi dan lagi. Dan yang terburuk, dari semua yang gadis itu lakukan, sebagian Reader masih menginginkannya. Hari ini, dia mengalami mimpi yang teramat buruk, Reader melihat Silva mengenakan jubah mewah dari sifon dan parfumnya sangat terasa sekali. Memakai baju berkelas mewah sambil mengecup pelipis Reader, dia bersumpah kalau Silva sedang menangis di depannya sekarang.
"Silva?"
"Oh Demi Dewi Shi, Reader. Bangunlah, Reader." Dia tidak pernah seloyo ini sebelumnya, Reader mencoba untuk membetulkan pengelihatannya dengan benar, sehingga dia bukan hanya bisa mendengar suaranya, tapi juga wajahnya.
"Silva," dan dari situ dia sadar bahwa dia sudah gila, Silva sedang berada di selnya, berlutut di depannya sambil menangis. Gadis itu memohon-mohon kepadanya, dia sudah sering memimpikan itu. Reader meluruskan tangannya dan menyentuh wajah Silva, betapa halusnya mukanya. Reader pernah menertawakanya karena tidak ada tentara yang berwajah halus seperti dia, sangat dimanjakan dan terawat.
Reader tersadar jika ada perban-perban ditangannya, giginya bedol satu, ada tulang yang retak, luar biasa ngilunya. Rasa sakit membanjiri setiap tubuhnya, dia bisa merasakan rasa darah di lidahnya karena tersayat giginya sendiri, sampai-sampai darah itu mengecap di mulutnya. Serigala. Mereka memaksanya untuk melawan serigala.
"Silva?" Salah satu mata gadis itu berkaca-kaca, dan satunya sudah tidak kuat menampung air. Jarinya diletakkan di ujung bibir Reader yang tadinya terbuka lantas tertutup.
"Sssstt... Kita akan mengeluarkanmu dengan segera."
Sungguh tidak adil, Reader telah melalui hidupnya dengan siksaan gadis itu dan belajar bertahan hidup di tempat ini, dan sekarang dia datang untuk menjemputnya agar menyiksa Reader lebih? Permainan apa ini? Kenapa sekejam ini? Silva dibanting kuat-kuat kebelakang, kedua pundaknya di genggam dengan erat sehingga lututnya mengunci lengan sang Juwel ke tanah. Dia tahu persis bahwa Silva bisa mematikan meski dia bertangan bebas. "Silva," geramnya, Kemudian tangan pemuda itu mencekik leher Silva.
Reader mencondongkan badan ke atas pemudi itu. Gadis itu tidak melawan sama sekali, justru mukanya tambah memerah dan memasang wajah welas. "Penyihir," desisnya, "memohonlah kepadaku, buat aku supaya bisa mengampunimu."
Seketika, Reader mendengar suara klik dan parau berkata, "Lepaskan dia, Reader."
Seseorang di belakangnya sedang menodongkan senjata ke arahnya.
"Silahkan, tembak aku," kata Reader. Cekikannya kian lama tambah kuat, tidak ada yang boleh merampas peluang ini darinya. Tidak ada.
Penghianat, terkutuk, iblis. Semua kata itu muncul di pikiran Reader, tapi dari sisi lain, cantik, bidadari, terberkati. Reader menutup kelemahannya dan gengggaman tangannya terus menempel di leher Silva.
"Jangan sampai hilang akal, Reader. Ini hanya akan mempertambah susah dari yang kuperkirakan," kata si serak itu.
Reader merasakan ada hembusan angin di telinganya, sesuatu sedang menancap di pundak kanannya, lantas ambuklah pria itu ke depan sambil mengerang. Seperti sedang dipukul secara pelan, tapi sekujur tubuhnya mati rasa. Salah satu tangannya masih memegang leher Silva, dan karena bajunya yang terbuat dari sifon membuat pemuda berbaju sipir yang membawa senapan itu berhasil menyeretnya ke belakang.
__ADS_1
Orang itu berjalan menuju ke hadapanya, pria berbaju penjaga dengan pistol flintlock di tangannya. Rambutnya dibiarkan maju ke depan membiarkan alisnya yang kiri tertutup sedikit, memakai sarung tangan hitam ketat dan berkata, "Dengar, kendalikan dirimu, aku bisa saja membuat kedua kakimu mati rasa dan tinggal menyeretmu pergi dari sini. Atau, kau berjalan keluar bersama kita seperti anak kecil yang sudah bisa berjalan."
Reader mencoba untuk bangkit dan duduk sambil memegangi pundak kanannya. "Tidak ada yang bisa keluar dari Raregate."
"Malam ini bisa."
Rasa ngilu di pundaknya berusaha untuk mencerna situasi, tapi Reader mencoba untuk memasang wajah jantan. "Kalian tidak bisa mengiringku keluar begitu saja," geramnya. "Penjaga mengenaliku. Lagian aku tidak sudi bertarung habis-habisan hanya untuk mengikuti kalian entah kemana. Demi Syel."
"Kau akan memakai topeng."
"Bagaimana jika dicek?"
"Mereka tidak akan mengecek karena terlalu sibuk---" ketika pemuda aneh nan pucat itu berkata, terdengar suara teriakan dari luar. Kepala Reader kontan terangkat. Dia mendengar jeritan dan gemuruh langkah kaki gedebuk kencang. Kemudian ia mendengar lolongan serigala dan auman singa.
"Kau membuka kandang?" Tanya Silva. Entah pria itu melakukan ini semua dengan serius atau bersandiwara.
"Tera seharunya menunggu sampai jam tiga," kata pemuda itu.
"Ini sudah jam tiga, Ken," kata seorang gadis berbadan mungil, berambut kepang gelap, dan berkulit agak kecoklatan.
Dia mengulurkan tangannya yang bersarung tangan, ini mimpi, yang amat teraneh tapi jelas ini mimpi. Ken, begitulah gadis itu menyebutnya. Apakah iblis bersarung tangan ini akan membebaskannya dari mimpi buruk atau semata-mata menyeretnya lebih dekat ke neraka? Pilih, Van. Reader menggenggam tangan pemuda itu, jika ini hanya jebakan atau apalah, dia hanya tinggal kabur saja. Selain itu, Reader juga mendengar desahan panjang dari Silva. Apakah gadis itu lega? Atau kesal? Reader menggelengkan kepalanya, masalah Silva bisa di atasi belakangan. Lalu gadis berkulit coklat itu memasanginya jubah dan topeng berhidung besar.
Ketika mereka keluar, seluruh jalan kacau balau, letusan tembak sana-sini dan, tangan kanannya masih belum berguna. Ken memberi aba-aba untuk untuk melewati koridor membelah arus kerumunan yang berlari ke arah mereka. Reader tidak peduli, dia bisa saja melompat ke dalam arena dan membiarkan dirinya terjebur ke sekumpulan orang lalu pergi dengan sendiri. Lalu apa? Tidak ada waktu untuk mencetus sebuah rencana. Dia mulai melangkah ketengah dan langsung ditarik kebelakang. "Pemuda sepertimu seharusnya tidak punya ide macam-macam, Reader," kata Ken. "Tangga itu menuju sumbatan, kau kira kau akan bebas tanpa dicek?"
Reader lantas memasang wajah merengut dan akhirnya mengikuti instruksi pemuda itu. Dia bisa melihat harimau melompat ke tubir batu dan memakan salah satu penonton yang mengenakan jubah merah, dan beruang datang untuk mencakar-cakar saja. Orang ini pasti gila, membayar puluhan nyawa demi satu nyawa, mereka memang patut mendapatkannya. Lagi-lagi Reader menyeringai.
Saat mereka berlari kecil-kecilan, beruang putih tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Reader tahu betul, hewan itu salah satu kaum di bangsanya, binatang itu akan terus mengamuk jika tuannya tidak datang mengampirinya, dan sepertinya begitu. Selanjutnya gadis berkulit coklat itu bersalto ke depan dan mendarat di atas kepala beruang itu, ia menghujamkan dua belati terang ke balik bulunya. Lantas beruang itu mengaung dan ambruk, tamatlah riwayatnya. Reader semata merasakan kepedihan hewan itu, meskipun itu binatang, tapi makhluk hidup juga. Dan Reader juga tak pernah melihat petarung yang membunuh beruang putih tanpa akal dalam sekejap, belati gadis itu harus diwaspadai.
Ken menggiring mereka masuk ke dalam kandang **** yang mengeluarkan kotoronan, mereka beringsut-ingsut melewati hewan yang sedang bertotol-totol. Kemana si Ken ini menuntun kami. Kemudian, di balik bau hewan ada aroma air asin yang tidak salah lagi, air laut. Mereka sedang berdiri di tengah terowongan yang lebih dalam dan tentunya, lebih sering Ken gunakan untuk menyelinap masuk dan keluar. di bawah lampu merah yang sedang Ken bawa dan gadis berkulit coklat iblis satunya itu, dia melihat salah satu sipir yang sedang menunggu di perahu. Sipir itu berdiri dan melambaikan tangannya ke udara, ia mengundang mereka untuk tetap maju.
"Kau terlalu cepat, Tera," kata Ken sambil menyiku Reader supaya masuk ke perahu.
__ADS_1
"Aku tepat waktu."
"Untukmu kecepatan, kalau kau mau membuatku terkesan, sebaikanya laporlah terlebih dahulu."
"Hewan-hewan sudah keluar dari kandang, dan aku sudah mendapatkan sekoci. Untuk detik-detik ini semestinya kau berterimakasih."
"Terimakasih, Tera," kata Silva.
"Terimakasih kembali, cantik. Lihat, Ken? Begitulah tata cara orang-orang yang beradab."
Reader bisa merasakan tubuhnya sudah mulai pulih, pundak kanannya terasa kesemutan. Untuk saat ini dia tidak bisa melawan, dan tidak jika mereka bersenjata. Jika Reader lihat, yang sedang membawa senapan api hanyalah dua pemuda ini, si pria pucat dan Tera. Akan aku lumpuhkan si Tera lalu mengambil kedua senapannya, jangan lupa si penyihir. Reader mengingatkan dirinya senidiri. Akan aku tembak penyihir itu tepat di jantung, berhenti sejenak melihat gadis itu benar-benar tumbang dan sisanya hanya mereka berdua. Reader melihat Ken dan gadis berkulit coklat yang berada di sampingnya itu dengan silih berganti, gadis itu bahkan tidak sampai di pundaknya, ia akan menyeburkannya ke dalam laut, meskipun sampai melukainya. Dan Ken, dia kelihatan lemah, aku bisa saja menahan satu peluru, kalau dia benar-benar tidak membunuhku.
Yang terdekat terlebih dahulu, ceburkan gadis itu, sapu bersih perahu, lumpuhkan si penembak, bunuh Silva, bunuh Silva, bunuh Silva. Reader menarik napas dalam-dalam dan mulai bertindak mendorong gadis itu supaya terjatuh ke air. Pemudi itu melangkah kesamping seolah-olah sudah tahu hal ini akan terjadi, sambil menebaskan punggung kakinya dengan malas. Reader memekik keras terhempas ke depan dengan kencang.
"Reader---" kata Silva sambil maju ke arahnya.
Reader secara serentak bangun dan mundur, dia hampir tercebur ke dalam air. Jika gadis itu sampai menyentuhnya lagi, bisa-bisa dia hilang akal. Silva memahami situasinya dan terdiam.
"Dia ternyata ceroboh," kata gadis berkulit coklat itu dengan datar.
"lelapkan dia, Silva," perintah Ken.
"Jangan," protes Reader, kepanikan campur aduk membasahi dirinya.
"Tindakan bodohmu tadi bisa-bisa membuat perahu ini terbalik.''
"Menjauh dariku, penyihir," berang Reader.
Silva mulai mengangkat kuku-kukunya. "Dengan senang hati."
Reader bisa merasakan kelopak matanya mula layu, sementara Silva membiusnya ke alam tidak sadar.
__ADS_1
"Mati kau," gumamnya.
"Tidur yang nyenyak," suara itu seperti hewan keluarganya sendiri, yang selalu mengejar-ngejarnya sampai keheningan.