
Dalam ruangan sehat kecil nan sempit, Silva berusaha menyembuhkan Krista seperti sediakala, tapi dia tidak pernah melakukan hal ini atau mendapat pelatihan untuk pekerjaan macam ini.
Sepanjang dua tahun pertama masa pendidikan di ibukota Juwel, semua Knoulbar Soulvalin dikumpulkan di tempat yang sama, belajar materi yang sama. Namun, pendidikan mereka harus bercabang. Penyembuh mempelajari lika-liku rumit di balik penyembuhan luka, sedangkan Perabak jantung menjadi prajurit---pakar melukai orang, bukan memulihkan. Meski sesungguhnya ordo tersebut bercabang sama, hanya tingal masing-masing cabang yang dilatarbelakangi oleh landasan berpikir yang berbeda. Untuk membunuh, dibutuhkan sasaran target yang jelas. Sebaliknya, penyembuh membutuhkan tiap-tiap tahap yang lambat.
Namun, selagi memandangi Krista, Silva berharap kalau pelajaran yang selama ini ia kenyam tidak pas-pasan.
Perang saudara pecah semasa Silva masih kanak-kanak, dia terpaksa melarikan diri bersama teman-teman sekelasnya. Ketika peperangan sudah usai, Raja Juwel ingin supaya semua prajurit Knoulbar yang tersisa dikumpulkan dengan diberi pelatihan dan dilepas ke lapangan secepat-cepatnya. Oleh karena itu, Silva hanya menghabiskan waktu enam bulan di kelas tingkat lanjut. Ketika itu, dia memang kegirangan. Sekarang, dia justru bersyukur andaikan saja bisa bersekolah barang seminggu saja lebih lama.
Krista berbadan ramping berotot dan bertulang kecil, perawakan seperti pemain akrobat. Pisau menusuknya di bawah lengan samping kirinya. Dia nyaris saja tidak selamat, tidak jika pisau yang telah menancapnya itu diasah dengan rajin. Jaraknya hanya beberapa inci saja dari jantungnya.
Silva tahu, jika ia melakukan hal yang sama kepada Reyn tadi, menyegal kulitnya, Krista akan mengalami pendarahan dalam. Maka dia usahakan untuk menutup luka bagian dalam supaya tidak terus mengeluarkan darah, tapi Krista sudah kehilangan banyak darah, dan Silva tidak tahu cara menyikapi hal itu. Dia pernah mendengar bahwa sebagian penyembuh mampu menyamakan darah seseorang dengan darah orang lain, tapi teknik itu harus dilakukan dengan benar, jika tidak pasien malah bisa keracunan. Yang jelas, itu semua jauh dari keahlian Silva.
Sesuai menutup luka, Silva juga menyelimuti Krista dengan kain wol ringan. Untuk saat ini, Silva hanya bisa memonitor denyut nadi dan pernapasan Krista. Penasaran, Silva menyingsingkan lengan baju Krista di bagian kanan. Kulitnya mulus tak bertanda. Tato rubah dan jam saku yang mengarah ke jam 3 tepat, tato yang disandang anggota Geak purnawaktu, tak tertera di tubuh Krista. Di Krisbow, aliansi geng bergeser ke sana-kemari, tapi geng kita adalah keluarga kita. Silva sendiri punya dua tato, di lengan kirinya melambangkan Rumah Cherry Blossom, sedangkan tato yang sesungguhnya tersegel di lengan kananya: rubah yang hendak bangun atau tidur di jam 3. Tato tersebut menyampaikan waktu saat dunia yang hidup dan yang mati benar-benar jadi tipis dan tidak terpisahkan, atau disebut: Witching Hour. Di jam 3 pagi itu kekuatan paranormal jadi makin meningkat. Dan tentunya tato tersebut juga menyampaikan dunia bahwa dia adalah anggota Geak, melecehkannya sama saja mengundang pembalasan dendam dari mereka.
Krista sudah lebih lama di Geak daripada Silva, tapi ternyata tidak bertato. Aneh. Dia merupakan salah satu anggota Geak yang paling bernilai dan jelas bahwa Ken mempercayainya---sejauh dia mempercayai seseorang. Silva mengingat akan mimik Ken yang membaringkan Krista ke atas meja, wajahnya sama seperti biasa---dingin, lancang, keterlaluan---tapi di balik amarahnya, Silva merasa melihat yang lain juga. Atau barangkali hatinya yang semata-mata berjiwa romantis.
Silva mau tak mau menertawai dirinya sendiri. Alangkah sialnya orang yang jatuh cinta. Cinta adalah tamu yang kita persilahkan masuk tapi kemudian tidak bisa disuruh pulang.
Silva menyibakkan rambut hitam lurus Krista dari wajah. "Semoga kau baik-baik saja," Silva membenci suaranya yang lirih bergetar di kabin itu. Kedengarannya bukan seperti prajurit atau anggota Geak yang tangguh, malah seperti bocah yang entah seperti apa. Dia berlatih menjadi prajurti terlampau singkat dan, diutus menjalani misi pertamanya yang terlampau dini. Lita bahkan berkomentar begitu juga, tapi mereka memohon-mohon untuk diperbolehkan pergi. Akhirnya sang senior pun mengalah.
Lita Awkalin---seorang Pemanggil Badai perkasa, yang cantiknya kelewatan, dan bisa meremukrendamkan kepercayaan diri Silva hingga berkeping-keping begitu alisnya terangkat. Silva mengidolakannya setinggi langit. Sembrono, Tol*l, kurang konsentrasi. Lita berujar demikian kepada Silva dan yang lain-lainnya, malah jelek lagi.
__ADS_1
"Kau benar Lita. Puas sekarang?"
"Teler," kata Tera.
Silva terperanjat dan menengok. Dilihatnya bahwa Tera tengah bergoyang ke depan-belakang sambil bertumpu di tumit. "Siapa Lita?"
Silva melemas kembali di kursinya. "Bukan siapa-siapa, Anggota Hochi Knoulbar."
"Wah, orang yang mengendalikan Tentara Kedua?"
"Sisa-sisa Tentara Kedua." Para Knoulbar prajurit Juwel telah dihajar habis-habisan saat perang. Sebagian kabur. Kebanyakan tewas. Silva mengusap-usap matanya yang lelah. "Tahukah kau cara jitu untuk menemukan Knoulbar yang tidak mau ditemukan?"
Tera menggosok-gosok dengkulnya, memegang senjatanya, lalu kembali meraih lehernya. Tera kelihatannya selalu bergerak. "Tidak pernah memikirkan itu," katanya.
"Menurutku kalau mereka tidak mau ditemukan, mending kita biarkan saja."
Silva meliriknya dengan galak. "Bärchen tak akan membiarkan saja, mereka memburu ke mana-mana."
"Apakah aktif seperti Reader?"
"Lebih parah lagi."
__ADS_1
"Aku harus mencari belenggu kakinya. Ken memberiku tugas yang asik-asik."
"Mau gantian?"
Energi yang meluap-luap menjadi sosok kurus, Tera yang tadinya tidak bisa diam mendadak surut. Baru kali ini Silva melihat Tera sekicep ini. Untuk pertama kali di kabin yang sempit ini, Tera memakukan pandangan kepada Krista. Dia sengaja berpaling, Silva tersadar. Dia tak mau melihat Krista. Selimut telah bergeser sesuai iringan napas Krista yang dangkal. Tera berbicara, suaranya tegang.
"Dia tidak boleh mati," kata Tera. "Tidak seperti ini."
Silva memicingkan mata ke arah Tera kebingungan. "Tidak seperti ini bagaimana?"
"Dia tidak boleh mati," ulang Tera.
Gelombang frustasi melanda pikiran Silva, dia merasa terombang-ambing, antara ingin memeluk Tera erat-erat dan membentak bahwa dia sudah mengerahkan upaya semaksimal mungkin. "Demi Dewi Shi, Tera," katanya. "Aku sudah berusaha sebaik-baiknya."
Tera beringsut, tubuhnya kembali hidup. "Maaf," katanya agak sungkan. Dia menepuk bahu Silva dengan canggung. "Kerja bagus."
Silva mendesah. "Tidak meyakinkan, sana, rantai saja si raksasa pirang itu."
Tera memberi hormat dan menunduk untuk keluar dari kabin.
Menurut perabaannya, kulit Krista terlalu dingin. Silva menempelkan tangannya ke pundak kanan-kiri gadis itu dan berusaha melancarkan aliran darahnya, dalam rangka meningkatkan suhu tubuhnya barang sedikit.
__ADS_1
Silva tidak seratus persen jujur kepada Tera, Hochi bukan hanya ingin menyelamatkan Knoulbar dari tahanan para Bärchen. Mereka juga punya misi tersendiri di pulau Mudik untuk mencari Knoulbar yang barang kali masih hidup bersembunyi, dan mencoba meyakinkannya untuk kembali bermukim di Juwel dan mengabdi kepada kerajaan.
~Selanjutnya Silva 2