
Uang pemberian Mister Bartholo untuk Ken dan Keiko habis seminggu kemudian. Keiko mencoba untuk mengembalikan mantel barunya, tapi toko tidak mau menerima, sedangkan sepatu bot Ken jelas-jelas sudah dipakai.
Ketika mereka membawa surat pinjaman yang ditandatangani Mister Bartholo ke bank, mereka baru tahu bahwa---sekalipun dicap dengan segel yang terkesan sah---kertas itu tidak berharga. Tiada yang mengenal Mister Bartholo ataupun mitra bisnisnya.
Mereka didepak dari asrama sewaan dua hari kemudian dan mesti tidur di kolong jembatan, tapi tak lama kemudian diusir oleh Kardolla. Sesudah itu, mereka mengeluyur tak tentu arah sampai pagi. Keiko bersikeras agar mereka kembali ke kedai kopi. Lama mereka duduk di taman di seberang jalan, tapi ketika malam tiba, petugas jaga mulai berkeliling kota, maka Ken dan Keiko menuju ke selatan, ke jalan Krisbow, yang tidak didatangi patroli keamanan.
"Aku lapar," kata Ken.
"Aku tidak," timpal Keiko. Entah kenapa, Ken merasa bahwa pernyataan itu lucu dan mereka lantas tertawa terbahak-bahak. Keiko memeluk Ken dan berkata, "Kota menang sejauh ini. Tapi, akan kau lihat siapa yang menang pada akhirnya."
Mereka tidur di bawah tangga dalam gang di belakang sebuah bar, menyempil diantara kompor bekas dan kantong sampah dapur. Tiada yang mengusik mereka malam itu, tapi keesokan harinya mereka dipergoki oleh segeng anak lelaki yang menyampaikan bahwa mereka berada di wilayah Lionolbars. Mereka mencoba mencolek-colek Keiko. Ken melihat tombak perahu di sampingnya, dia tidak suka melihat Keiko dipermainkan demi menyelamatkannya. Ken mesti menjadi anak baik karena lahir di keluarga ramah, tapi kali ini Ken tidak sempat berpikir bahwa dia bisa-bisa membunuh seseorang. Dia berlari dengan lambat begitu pula menghunuskan tombaknya. Dengan mudah salah satu anggota Lionolbars menghindari dan merebut tombak darinya. Meletakkan telapak tangannya di atas kepala Ken sambil tertawa, kemudian melempar Ken ke dalam kanal.
Dalam waktu singkat, seorang wanita berambut keemasan gelombang muncul di tengah-tengah mereka dan menghajar Lionolbars habis-habisan. Keiko hampir saja dinodai para lelaki.
Ken ditarik keluar dari air, sepatu bot paling utama. Wanita itu memberikannya kain kering dan berkata, "Kalian tidak apa-apa?"
Mereka berdua geleng kepala.
"Dasar, kenapa mereka masih saja mengusik orang-orang. Kalian tersesat?"
Lagi-lagi geleng kepala.
"Seperti itu, ya? Kemari." kata wanita itu sambil beranjak ke belakang. "Namaku Camille Erin Le Haut. Kalau kepanjangan, kalian boleh memanggilku Erin."
Wanita itu seolah-olah langsung mengerti situasi mereka. Ken mesti berterimakasih kepada wanita itu karena telah menyelamatkan kakaknya. Tapi kalau diingat-ingat, Ken jarang sekali berterimakasih, dia sering meminta, maaf,
Ken dan Keiko membuntuti Erin dari belakang. Mereka menuju ke arah timur, naik sekoci kecil yang mungkin, ke pulau kecil di depan mereka. Erin menanyakan beberapa pertanyaan kepada mereka berdua, dan Keiko menceritakan seluruh kejadian yang menimpa mereka. Ken waktu itu hanya diam saja, tapi dia juga berpikir kenapa Keiko menceritakan kisah yang sedang menerjang mereka. Apa Keiko ingin dikasihani? Atau semata-mata wanita itu ingin membantu mereka?
Tiga puluh menit mereka berbincang-bincang, sekoci sudah menggesek pasir pantai. Pulau ini relatif sepi untuk dikunjungi, dan mereka tidak menyangka kenapa ada banyak sekali anak-anak seumuran mereka di sini. Apa ini sekolah? Apa Erin ingin menyekolahkan mereka? Ken dan Keiko saling bertatap muka, sampai tertinggal jauh dari jarak Erin. Mereka berlari ke arahnya.
"Sebut saja rumah," katanya sambil berjongkok agar menyamai tinggi Ken. "Kakakmu harus tinggal di sini, dan kau ikut denganku untuk sementara waktu."
"Tidak," kata Keiko. "Aku dan Ken harus bersama."
"Justru aku akan memanjakannya di rumah, Keiko. Aku tidak cukup untuk mengasuh dua anak dan, karena kau yang lebih dewasa, aku akan meninggalkanmu di sini. Ken terlalu halus, aku akan membiarkan kalian bersamaan sampai sore nanti dan membawa Ken ke tempat yang jauh lebih nyaman. Begitu pagi tiba, jika kalian ingin bertemu, aku akan mengantarkan Ken kembali ke sini. Dan membawanya lagi, dan lagi."
Lama mereka bersama, mudah mereka bergaul dengan yang lain. Nasib anak-anak ini sama: anak yang diusir, tertipu, melarikan diri dari rumah bordil. Mereka semua ramah, sampai-sampai Ken tidak ingin meninggalkan pulau ini dan ingin menetap selamanya, tapi Keiko bersikeras agar Ken ikut bersama Erin. Lagi pula, anak-anak yang tinggal di pulau ini, mereka harus belajar bersama guru secara legal. Dan mereka harus bekerja sama saat besar nanti untuk mengembangkan organisasi tersebut. Selama ini, ternyata mereka berada di panti asuhan. Saat besar nanti, anak-anak itu akan bekerja dan menghasilkan uang untuk mencukupi kebutuhan panti asuhan dan membantu anak-anak terlantar berikutnya. Salah satu bisnis paling baik dan aman. Saling membantu.
Matahari mulai turun, Erin terlihat seperti wanita galak, tapi dia mengajarkan Ken secara tersirat, menjadi pria yang berani. Wanita itu dengan kesal merawat Ken karena sifatnya yang begitu dingin dan bengong, mengajarinya ilmu pengetahuan, mengajarinya beberapa teknik bela diri dasar, dan menjadi orang terkenal. "Saat kamu masih kanak-kanak, menjadi pelari cepat saja sudah menjadi populer."
Pelajaran selalu dilakukan tiap malam, kebetulan rumah dekat dengan pantai, sehinggah lapang itu cocok untuk latihan. Ken tidak ingin waktunya disita satu hari penuh hanya untuk belajar. "Waktunya pelajaran kedua."
"Kedua?" kata Ken kesiap.
"Dengar, Ken. Mengandalkan kecepatan kakimu hanya akan membantumu menjadi pahlawan di sebuah sekolah dasar. Mulai dari sekolah menengah dasar, lelaki yang dapat memenangkan sebuah perkelahianlah yang akan menjadi populer," Erin melepaskan jaketnya. "Baiklah! Majulah dari manapun yang kau inginkan."
__ADS_1
Ken adalah lelaki, dan Erin perempuan. Tidak sewajarnya jika menyerang secara berlebihan dan memukul sangat kuat. Tapi, kekuatan Erin jauh lebih kuat dari pada melawan 50 orang laki-laki. Ken terbanting sana-sini, dan dia tidak ingin menyerah.
Pagi ini, Ken ingin menemui Keiko, dia tidak sabar memberitakan betapa gilanya wanita itu. "Erin benar-benar seperti master tentara. Katanya bakal penuh dengan fasilitas," katanya sambil merengut
Keiko tertawa. "Justru itu aku membiarkanmu pergi ke sana."
"Kenapa?"
"Karena kau juga perlu mengenal dunia, Ken." kata Keiko sambil memegangi tangan kanan Ken. "Maukah kau berdansa denganku?"
"Di sini banyak orang, menari saja sendirian." Ken tidak ingin menari dengan kakaknya di tengah keramaian. Bahkan sewaktu mereka mandi bersama di dalam bak mandi, kejadian itu harus paling pertama dan terakhir. Keiko masuk saja ke dalam kamar mandi saat Ken sedang enak-enak mandi. Keiko melucuti bajunya dan bergabung masuk ke dalam bak. Waktu itu Ken tercengang, dan paling tidak Keiko berada di punggungnya.
"Ulang tahunmu bentar lagi bukan?" tanya Keiko.
Ken hanya diam saja.
"Ngomong dong kamp*et," sambil menepuk kepala Ken dan mengaduh. "Apa yang kamu inginkan?"
"Kakak yang baik."
Spontan saja, Keiko menggigit pundak bagian kanan Ken. "Jangan gigit aku," wajahnya memerah dan merapatkan dengkul.
"Apa kau bereaksi saat digigit? Benar-benar aneh ya."
"Pikirkanlah urusanmu sendiri."
"Apa?"
"Aku."
Lama mereka diam di dalam bak mandi hangat, embun mengepul membasahi wajah mereka. Akhirnya Keiko angkat bicara. "Bukankah itu akan membuatmu senang?"
"Hore. Aku sangat senang. Hebat," kata Ken datar.
"Sialan kau." Keiko menyundul Ken. Waktu itu malam yang panjang baginya. Sekaligus mengerikan.
Malam berikutnya, Erin mengajarkan pelajaran terakhir. "Dengar, laki-laki yang bisa berkelahi hanya populer di kalangan sekolah menengah dasar, di saat menengah atas, otakmu lah yang membuatmu populer. Baca apa saja yang kau suka, kalau kau suka manga, akan kubelikan sebanyak kau mau."
Malam paling berat bagi Ken. Membaca buku dengan cepat dan harus mengerti tiap rangkuman dan simpulan. Tapi, setidaknya membaca bagus juga, dia malah ketagihan membaca hingga fajar tiba.
Ken mau tidak mau harus menurutinya, wanita itu mengajarinya dengan ganas seperti tentara lini depan. Tapi, selama dua hari ini, Ken hampir-hampir menguasai seluruh teknik sekolah. Dan selama ini, anak itu belum mengucapkan kata terima kasih.
Hari ketiga, dalam perjalan menuju pulau sebelah, seperti biasa kalau Erin selalu mengusiknya, mengerjainya, bahkan dilakukan seperi adik kelas dan bahan candaan. Ken tidak sabar ingin memberi tahu kepada Keiko bahwa banyak sekali yang dia pelajari hari ini, mungkin siapa tahu juga Keiko berpikir demikian, ketika mereka bertemu, Ken dan Keiko saling adu pengetahuan apa saja yang mereka dapat hari-hari ini. Sebelum masuk ke pintu gerbang, biasanya Keiko sudah menanti sambil melambai-lambaikan tangan, orang-orang berlarian, dan yang pasti pintu gerbang seharusnya tertutup. Kali ini suasanya tampak sepi, gerbang terbuka lebar, benar-benar seperti tempat kosong terbengkalai.
"Ke mana mereka semua?" tanya Ken.
__ADS_1
"Ada di dalam," jawab Erin.
Mereka masuk jauh dari gerbang, menuju danau kecil yang sering digunakan Ken dan Keiko bersantai. Dari jauh, biasanya danau itu memantulkan cahaya matahari, hanya hari ini, danau tersebut kelihatan kering, benar-benar kosong dari pandangan Ken. Surut? Tidak mungkin jika memakan waktu seharian. Jika iya, bagaimana?
Semakin mereka dekat ke danau, aroma busuk makin kuat. Ikan-ikan mungkin mati karena air merosot sangat dalam sekali. Tapi, ketika mereka sampai di bibir danau, Ken tidak melihat satupun ikan bergelimpangan, malah anak-anak yang jatuh terkapar di bawah sana.
"Apa maksudnya ini?" geram Ken.
"Ikutlah denganku," kata Erin.
Ken masih melirik ke curam bawah tanah, tangannya mencengkeram kain Erin. "Jelaskan."
"Jawaban salah, Ken. Segala yang kuajarkan untukmu, ini adalah pelajaran terakhir. Kau harus tahu apa itu menjadi seorang pengecoh," katanya sambil tersenyum.
Tanpa panjang-panjang, Erin menggenggam tangan Ken dan melemparnya ke dalam danau. Berguling dari atas hingga ke bawah, mencoba untuk jatuh dengan membulakan badannya, tapi rasanya percuma. Pakaiannya kusut dan kotor. Anehnya, kenapa tanah ini kering? Pertanyaan bodoh. Dari bawah, Ken melihat dua orang dari atas, jelas-jelas Erin sedang bersama, Mister Bartholo.
Mereka berdua berbalik arah lalu menghilang dari pandangan Ken. Bergegas sana-sini mencari Keiko.
"Keiko!" Pekik Ken, dia sedang menyandarkan badannya ke atas batu.
Ken mengankat kepala Keiko ke pangkuannya, sepertinya mereka terkena penyakit wabah. Pada tahun mendatang, orang-orang akan menyebut epidemi cacar api yang melanda Moontown sebagai wabah King's Andy, dari nama kapal yang diyakini membawa penyakit ke kota itu. Mereka semua demam, bahkan sudah ada yang meninggal.
Ken terserang demam dua hari setelah Keiko. Mereka tak punya apa-apa, medik, makanan minuman. Tak seorang pun datang untuk menolong mereka.
"Ingat, Ken." kata Keiko lemah. "Jangan beritahu umurmu kepada siapapun. Bertahanlah."
Ketika demam mencapai titik puncaknya. Ken bermimpi kembali ke peternakan dan ketika dia mengetuk pintu, dia melihat Keiko Impian dan Ken Impian sudah di sana, duduk di balik meja dapur. Mereka memandangi Ken dari balik jendela, tapi mereka tidak memperbolehkannya masuk, maka dia luntang-luntung di rumput tinggi.
Ketika Ken terbangun, yang tercium olehnya bukan wangi jerami, semanggi, dan apel.
melainkan bau busuk. Keiko berbaring di sebelahnya sambil menatap langit. "Jangan tinggalkan aku," Ken ingin berkata, tapi dia terlalu letih. Jadi, disandarkannya saja kepalanya ke dada Keiko. Dada sang kakak sudah terasa janggal, dingin dan keras.
Ken mengira dia bermimpi ketika orang-orang mulai tidak bergerak, Ken mencoba untuk bergerak dan mengambil semua mayat untuk menumpu mereka keluar dari danau. Sambil membawa Keiko, satu per satu mayat Ken jejer agar mereka sanggup naik ke atas. Terkadang mayat menggelinding jatuh saat Ken menginjak tungkai dan kaki serta perut kaku, tangan busuk dan wajah berbibir biru yang berbisul-bisul karena cacar api. Sementara Ken perlu mengulang lagi dari awal.
Sesampai mereka ke dasar, Ken terlalu capek untuk terus menuju ke dapur. Dibaringkannya saja tubuh Keiko serta Ken tidur di sampingnya.
Saat matahari terbenam penuh, pengelihatan Ken sudah jernih, sedangkan gatal-gatal di tubuhnya telah surut. Demamnya sudah turun. Dia melupakan rasa laparnya, tapi dia mengira nyaris gila saking hausnya. Pasang laut telah berubah arah, Ken memaksakan dirinya untuk memegangi tubuh Keiko. Dia loyo untuk berenang sendiri, tapi dengan bantuan Keiko, dia bisa mengapung. Dia memegangi kakaknya erat-erat dan menendang kaki untuk menuju ke Moontown. Mereka hanyut bersama-sama, badan Keiko yang mengembung bertindak sebagai rakit. Ken terus menendang kaki, berusaha untuk tidak memikirkan kakaknya, sekalipun daging Keiko terasa tegang dan bengkak di bawah tangannya; berusaha untuk tidak memikirkan apa-apa kecuali ritme kakinya yang menendang-nendang laut. Dia pernah dengar bahwa perairan ini dihuni hiu, tapi dia tahu hiu takkan menyentuhnya. Dirinya sekarang adalah monster juga.
Dia terus menendang dan ketika fajar tiba, dia mendongkak dan mendapati bahwa dirinya sudah di ujung timur Ret. Pelabuhan nyaris terbengkalai; wabah telah menyebabkan lalu lintas kapal terhenti.
Pasang naik telah berbalik arah, sehingga menyulitkan Ken untuk mencapai ke daratan. Namun, Ken kini memiliki harapan, harapan dan amarah, nyala api kembar yang berkobar-kobar di dalam dirinya. Keduanya memandu Ken ke dermaga dan menaiki tangga. Setiba di atas, dia terkapar di papan kayu. Jenazah bertumpuk-tumpuk di jalanan, sedangkan perahu evakuasi mondar-mandir di kanal, menggunakan sekop panjang dan galah berikat untuk menaikkan mayat ke tempatnya dan mengangkut jasad-jasad tersebut ke Tongkang Maut untuk dibakar.
Ken memaksa dirinya untuk berguling. Jasad Keiko tengah diempas oleh arus sehingga menumbuk tiang-tiang pancang berkali-kali. Matanya masih terbuka dan sesaat, Ken mengira sang kakak tengah balas menatapnya. Namun, Keiko tidak berbicara, tidak berkedip, tatapannya tidak berpaling bahkan saat gelombang pasang membebaskannya dari tiang pancang dan mulai menghanyutkannya ke laut.
Aku seharusnya menutup mata Keiko, pikir Ken. Namun, dia tahu jika dia menuruni tangga dan kembali mengarungi laut, bisa-bisa dia tak sanggup naik lagi. Bisa-bisa dia membiarkan dirinya tenggelam begitu saja, padahal tidak boleh begitu. Dia harus bertahan hidup. Dendamnya harus terbayarkan. Persetan dengan terimakasih.
__ADS_1
~Selanjutnya Ken 2