
Krista bergabung dengan Silva di pinggir kubah untuk menanti kedatangan Cerveny. Kubah tersebut lebar dan dangkal, terbuat dari kaca dan berhiaskan sulur-sulur perak halus. Krista melihat mosaik pada lantai bangunan bundar di bawah. Mosaik itu kelihatan sekilas di antara tamu-tamu pesta---dua serigala yang berkejaran, ditakdirkan untuk terus berputar-putar selama Royalemerald masih berdiri.
Para tamu yang masuk lewat busur agung digiring berkelompok-kelompok kecil ke ruangan-ruangan cabang untuk digeledah kalau-kalau membawa senjata. Krista melihat para penjaga keluar sambil meraup gundukan kecil bros, duri landak, bahkan selempang yang Krista asumsikan memuat logam atau kawat.
"Kau tidak perlu melakukan ini, tahu, kan?" kata Silva. "Kau tidak perlu mengenakan baju sutra lagi."
"Aku pernah melakukan yang lebih seram."
"Aku tahu. Kau memanjat enam lantai neraka demi kami."
"Bukan itu maksudku."
Silva terdiam sejenak. "Itu aku tahu juga." Dia ragu-ragu, lantas berkata, "Sepenting itukah imbalannya untukmu?" Krista terkejut karena mendengar rasa bersalah dalam suara Silva.
Ghantaclock mulai berdentang sembilan kali. Krista memandangi serigala yang berkejaran keliling lantai gedung bundar. "Aku tidak yakin kenapa aku memulai ini," dia mengakui. "Tapi, aku tahu kenapa aku harus menyelesaikannya. Aku tahu kenapa takdir membawaku ke sini, kenapa aku diantarkan untuk menyongsong imbalan besar ini."
Jawabannya singkat, tapi dia belum siap untuk mengucapkan cita-cita yang tercetus di hatinya---awas sendiri, kapal di bawah komandonya, misi mulia. Cita-cita tersebut serasa harus dirahasiakan, benih baru yang bisa tumbuh subur asalkan tidak dipaksa mereka terlalu cepat. Krista bahkan tidak tahu cara melayarkan kapal. Biarpun begitu, sebagian dirinya ingin menceritakan semua kepada Silva. Jika Silva tidak memilih untuk pulang ke Juwel, seorang Perabak Jantung cocok sekali untuk dijadikan krunya.
"Mereka sampai," kata Silva.
Gadis-gadis dari Cerveny berbaris masuk melalui pintu gedung bundar sambil membentuk formasi panah. Gaun mereka gemerlapan di bawah cahaya lilin, tudung jubah menghasilkan bayang-bayang di wajah mereka. Tiap tudung merepresentasikan seekor hewan---rusa Riverdale bertelinga halus dan berbotol-botol putih lembut, kuda Knuddelbär bermisai merah kecoklatan, ular Kuwei bersisik-sisik merah, rubah Juwel, macan tutul dari Koloni Selatan, gagak, cerpelai, dan tentu saja Katsi Zemeni---Katsi yang berarti Kucing. Gadis pirang jangkung yang memainkan peran serigala Bärchen berbulu keperakan kentara sekali absen.
Mereka dicegat oleh perempuan-perempuan penjaga yang berseragam.
"Aku tidak melihatnya," kata Silva.
"Tunggu saja. Merak akan masuk terakhir."
Betul, saja, di sanalah dia: Lois Tefiti Lodfellow, berdenyar dalam balutan satin hijau kebiruan, dekorasi rumit dari bulu-bulu merak membingkai kepalanya yang berambut keemasan.
"Halus," ujar Silva.
"Yang halus-halus tidak laku di Krisbow."
Krista mengeluarkan siulan tinggi melengking. Siulan Tera balas terdengar dari kejauhan. Ini dia, pikir Krista. Dia sudah mendorongnya dan sekarang batu karang tengah menggelinding ke bawah bukit. Siapa yang tahu apa dampak kerusakannya dan apa yang bisa dibangun di antara puing-puing?
Silva menyipitkan mata ke kaca. "Bagaimana bisa dia tidak ambruk karena keberatan sekian banyak berlian? Butir-butir berlian itu tidak mungkin asli."
"Oh, asli, kok." kata Krista. Perhiasan tersebut dibeli dengan keringat, darah, dan nestapa gadis-gadis sepertinya.
Para penjaga membagi rombongan Cerveny menjadi tiga kelompok, sedangkan Lois dikawal secara terpisah. Burung merak tidak mungkin diminta membalik pakaian dan mengangkat rok di depan anak-anaknya.
"Mereka," kata Krista sambil menunjuk kelompok yang beranggotakan Katsi Zemeni dan kuda Knuddelbär. Mereka menuju ke pintu di sebelah ruangan.
Sementara Silva membuntuti kelompok itu dengan matanya, Krista bergerak ke atas atap, mengikuti rute mereka.
"Pintu yang mana?" seru Krista.
"Ketiga dari kanan," kata Silva. Krista bergerak ke saluran udara terdekat dan mengangkat kisi-kisi penutupnya. Saluran udara itu lumayan sempit untuk Silva, tapi masih bisa mereka lewati. Krista merosot ke saluran ventilasi, lalu merangkak di lorong sempit yang menghubungkan ruangan demi ruangan. Di belakangnya, dia mendengar bunyi tersengal dan kemudian debum kencang saat Silva membentur dasar saluran seperti sekarung cucian. Krista berjengit. Mudah-mudahan keriuhan khalayak di bawah menyembunyikan mereka. Atau siapa tahu Royalemerald dihuni tikus-tikus teramat besar.
Mereka merayap maju sambil sesekali mengintip ke lubung ventilasi. Akhirnya, mereka melihat semacam ruang rapat kecil yang dialihfungsikan untuk penggeledahan tamu.
Gadis-gadis Eksotik telah menanggalkan jubah yang mereka hamparkan ke meja panjang oval. Salah seorang penjaga berambut pirang sedang menepuk-nepuk sekujur tubuh gadis-gadis itu, meraba jahitan baju dan keliman kostum mereka, dan bahkan mencolek-colek rambut mereka, sedangkan penjaga yang lain mengawasi sambil memegangi senapan. Gadis itu kelihatannya menyandang senjata dengan kikuk. Krista tahu bahwa di Bärchen perempuan tidak diperbolehkan mengabdi dalam ketentaraan sebagai kombatan. Mungkin para penjaga perempuan direkut dari unit lain.
Krista dan Silva menunggu sampai para penjaga selesai menggeledah gadis-gadis, jubah mereka, dan tas kecil mereka yang bermanik-manik.
"Ven tidder," kata salah seorang penjaga saat mereka keluar dari ruangan untuk membiarkan gadis-gadis berbenah.
"Lima menit," bisik Silva untuk menerjemahkan.
"Sana," kata Krista.
__ADS_1
"Kau harus menyingkir dulu."
"Kenapa?"
"Karena aku perlu melihat dengan jelas, padahal sekarang yang bisa kulihat cuma pantatmu."
Krista menggeliang-geliut ke depan sehingga Silva bisa melihat lebih jelas melalui lubang ventilasi dan, sesaat berselang, dia mendengar empat debum lembut saat gadis-gadis Cerveny tumbang ke karpet biru tua.
Krista cepat-cepat membuka jeruji penutup lubang ventilasi dan menjatuhkan diri ke permukaan meja yang menyelinap. Silva ambruk di belakangnya, jatuh terkulai.
"Maaf," erang Silva sambil bangun.
Krista hampir tertawa. "Kau sangat anggun dalam pertempuran, tapi tidak sewaktu jatuh."
"Aku bolos sewaktu topik itu diajarkan di sekolah."
Mereka melucuti gadis Zemeni dan Knuddelbär hingga tinggal berpakaian dalam, lalu mengikat pergelangan kaki dan tangan semua gadis dengan tali dari tirai dan menyumpal mulut mereka dengan carikan seragam penjara.
"Jam terus berdetak," kata Krista.
"Maaf," bisik Silva kepada si gadis Knuddelbär. Krista tahu Silva lazimnya akan menggunakan pigmen untuk mengubah warna rambut aslinya, tapi kali ini tidak ada waktu. Silva menguras warna merah terang dari rambut gadis itu langsung ke rambutnya sendiri. Rambut si gadis Knuddelbär yang berombak menjadi putih dan samar-samar terkesan berkarat di sana-sini, sedangkan rambut Silva tidak semerah orang Knuddelbär tulen. Mata hijau dan bukan biru, tapi perombakan macam itu tidak bisa diburu-buru, maka mereka mesti keluar dengan mata apa adanya saja. Silva mengambil serbuk putih dari tas manik-manik gadis itu dan berusaha sebisa mungkin untuk memucatkan kulitnya.
Selagi Silva bekerja, Krista menyeret-nyeret gadis-gadis lain ke dalam lemari kayu perak di dinding jauh, memosisikan badan mereka sehingga masih tersisa ruang untuk si gadis Knuddelbär. Dia merasa bersalah saat memastikan bahwa sumpal si gadis Zemeni terikat aman. Nyonya Lois pasti membelinya untuk menggantikan Krista; gadis itu berkulit perunggu sepertinya, berambut gelap tebal sepertinya. Namun, posturnya lain, sintal dan berlekuk-lekuk alih-alih ramping dan bersiku-siku. Mungkin dia mendatangi Nyonya Lois atas kehendaknya sendiri. Mungkin dia memilih jalan hidup ini. Krista harap benar demikian. "Semoga Kaum Kudus melindungimu," bisik Krista kepada gadis yang tak sadarkan diri.
Ketukan terdengar di pintu dan sebuah suara berbicara dalam bahasa Bärchen.
"Mereka butuh ruangan ini untuk gadis-gadis yang berikut," bisik Silva.
Krista dan Silva memasukkan si gadis Knuddelbär ke lemari, menutup dan mengunci pintunya, kemudian bergegas mengenakan kostum mereka. Krista lega dia tidak punya waktu untuk menekuri tekstur sutra yang sudah tak asing lagi di kulitnya, dencing bel di kakinya. Mereka menyambar jubah dan melirik ke cermin barang sekilas.
Kostum mereka sama-sama kurang pas. Baju sutra ungu Krista terlampau longgar, sedangkan Silva....
Gaun tersebut dirancang sehingga terkesan bersisik-sisik biru-hijau, mengembang lebar di bagian bawah seperti kipas sifon yang berdenyar.
"Mungkin putri duyung?" terka Krista. "Atau ombak?"
"Kukira aku ini kuda."
"Wah, mereka tidak mungkin memakaikanmu gaun berkuku belah."
Silva menyampirkan rambut ke depan kostumnya yang konyol. "Aku akan sangat populer di luar sana."
"Aku bertanya-tanya apa kata Reader mengenai busanamu."
"Dia takkan setuju."
"Dia tidak menyetujui apa pun tentang dirimu. Tapi ketika kau tertawa, dia langsung segar seperti tulip yang dimasukkan ke air."
Silva mendengus. "Reader si tulip."
"Tulip kuning besar bermuka muram."
"Kau siap?" tanya Silva saat mereka menarik tudung hingga menutupi wajah.
"Ya," kata Krista, bersungguh-sungguh. "Kita butuh pengalih perhatian. Mereka pasti sadar kalau yang keluar cuma dua, padahal yang masuk empat."
"Serahkan kepadaku. Dan awasi keliman gaunmu."
Begitu mereka membuka pintu ke koridor, para penjaga melambai tak sabaran untuk menyuruh mereka maju. Di balik jubahnya, Silva mengibaskan jemari kuat-kuat. Salah seorang penjaga memekik saat hidungnya mulai menguncurkan darah dengan deras ke muka seragamnya. Penjaga yang satu lagi berjengit, tapi sekejap berselang, dia sudah memegangi perutnya sendiri. Silva memutar pergelangan tangannya, alhasil mengirimkan gelombang mual ke sistem organ perempuan itu.
"Keliman gaunmu," ulang Silva dengan tenang.
__ADS_1
Krista nyaris tidak sempat menjinjing jubahnya saat si penjaga membungkuk dan memuntahkan makan malamnya ke lantai berubin. Para tamu di lobi menjerit dan saling dorong, berusaha menjauhi muntahan. Silva dan Krista melesat lewat sambil memekik jijik seharusnya.
"Mimisan barangkali sudah cukup," bisik Krista.
"Lebih baik bekerja sampai tuntas."
"Kalau aku tidak tahu, bisa-bisa kukira kau senang membuat orang Bärchen menderita."
Dengan kepala tertunduk, mereka masuk ke kerumunan orang yang menyesaki ruangan bundar, mengabaikan rusa Riverdale yang berusaha mengarahkan mereka ke sisi lain ruangan. Mereka tidak boleh terlalu dekat dengan gadis Cerveny yang asli. Krista semata-mata berharap semoga jubah mereka tidak terlampau mudah terlacak di tengah-tengah khalayak.
"Lewat sini," kata Krista sambil menggiring Silva ke antrean yang jauh dari para anggota Cerveny. Antrean itu sepertinya bergerak sedikit lebih cepat. Namun, setiba di depan antrean, Krista takut jangan-jangan sudah salah pilih. Penjaga yang ini tampak lebih galak dan kaku daripada penjaga-penjaga lain. Dia mengulurkan tangan untuk meminta berkas Silva dan menyapukan tatapan mata birunya untuk memeriksa.
"Menurut deskripsi ini, mukamu berbintik-bintik," kata si penjaga dengan bahasa Kalterville.
"Memang," kata Silva luwes. "Hanya saja, bintik-bintikku sekarang tidak kelihatan. Mau lihat?"
"Tidak," kata si orang Bärchen dengan nada sedingin es. "Kau lebih tinggi daripada yang tercantum di sini."
"Sepatu bot," kata Silva. "Aku suka kalau bisa menatap pria tepat di mata. Matamu indah."
Si penjaga memandangi berkas, kemudian mengamat-amati penampilan Silva. "Taruhan, berat badanmu lebih besar daripada yang dijabarkan di berkas ini."
Silva mengangkat bahu dengan genit, sisik-sisik di belahan dadanya semakin merosot. "Aku suka makan ketika sedang ingin," katanya sambil memonyongkan bibir tanpa malu-malu. "Padahal, aku selalu ingin."
Krista susah payah mempertahankan ekspresi netral. Kalau sampai Silva mengerjap-ngerjapkan bulu mata, Krista tahu dirinya kalah bertarung dan niscaya tertawa terbahak-bahak. Namun, si orang Bärchen tampaknya termakan mentah-mentah, Mungkin Silva mampu menyihir semua orang utara yang teguh hati.
"Maju," kata si penjaga dengan kasar. Kemudian dia menambahkan, "Aku... aku mungkin aka ke pesta nanti."
Silva mengelus lengan pria itu dengan satu jari. "Akan kusisihkan satu dansa untukmu."
Si penjaga menyeringai seperti orang bodoh, lalu berdeham, dan mukanya kembali galak seperti sediakala. Demi Kaum Kudus, pikir Krista, harus tegas terus-menerus pasti melelahkan. Si penjaga melirik berkas Krista sekilas saja, benaknya kentara sekali masih membayangkan kemungkinan untuk melucuti lapis-lapis sifon biru-hijau yang membalut tubuh Silva. Si penjaga mempersilahkan Krista maju, tapi dia lantas tersandung sewaktu maju.
"Tunggu," kata si penjaga.
Krista berhenti. Silva menengok ke balik bahunya.
"Kenapa sepatumu?"
"Cuma kebesaran," kata Krista. "Sepatuku melar melebihi yang kukira."
"Tunjukan lenganmu," kata si penjaga.
"Kenapa?"
"Lakukan saja," kata si penjaga dengan sengit.
Krista menyibakkan jubah dari lengannya dan mengulurkan tangan, menampakkan tato bulu merak di atas parut.
Seorang penjaga yang mengenakan setrip tanda pangkat kapten menghampiri mereka. "Ada apa?"
"Dia sudah pasti orang Zemeni dan dia bertato Cerveny, tapi kelihatannya agak lain."
Krista mengangkat bahu. "Aku pernah terluka bakar parah semasa kanak-kanak."
Sang kapten mengibaskan tangan ke sekelompok tamu bermimik kesal yang berkerumun di jalan masuk dan dikepung oleh penjaga. "Giring siapapun yang mencurigakan ke sana. Kumpulkan dia dengan yang lain dan akan kita bawa dia kembali ke pos pemeriksaan untuk meninjau ulang berkasnya."
"Nanti aku melewatkan pesta," ujar Krista.
Si penjaga mengabaikannya, justru menyambar lengannya dan menariknya ke jalan masuk sementara orang-orang yang mengantre memperhatikan sambil berbisik-bisik. Jantung Krista mulai berdegup kencang.
Wajah Silva tampak takut, memucat bahkan di balik bedak putihnya, tapi Krista tidak dapat berkata apa-apa untuk menenangkannya. Krista hanya mengangguk kecil. Pergilah, pikirnya dalam hati. Semua sekarang bergantung kepadamu.
__ADS_1