Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Silva


__ADS_3

Baunya tercium. Silva mengarungi salju sambil mengebuti rambut dan pakaiannya, berusaha untuk tidak muntah.  Mayat bergelimpangan terus membayanginya, dia merasa bak berselimut abu jasad. Alhasil, dia tidak bisa menarik napas dalam-dalam.


    Gara-gara berinteraksi sehari-hari dengan Reader, mudah bagi Silva melupakan siapa pemuda itu sesungguhnya, apa pendapat Reader sesungguhnya akan dirinya. Baru pagi tadi Silva lagi-lagi merombak wajah Reader, mesti bersabar menanggung pelototan dan gerutuan pemuda itu. Bukan menanggung, melainkan menikmatinya, bersyukur karena mempunyai kesempatan untuk mendekatinya, luar biasa senang tiap kali dia nyaris tertawa. Demi Kaum Kudus, apa peduliku? Kenapa satu senyuman dari Van Reader serasa bagai 50 senyuman dari orang lain? Silva merasakan jantung Reader berdegup kencang ketika dia memiringkan kepala sang Dushenka ke belakang untuk mempercantik mata pemuda itu. Silva mempertimbangkan untuk mencium pemuda itu. Dia ingin mencium Reader dan dia yakin bahwa Reader berpikiran sama. Atau dia mempertimbangkan untuk mencekikku lagi.


    Silva belum melupakan perkataan Reader di atas septicaye, ketika dia menanyakan apa yang hendak Silva perbuat terhadap Erikson, apakah Silva sungguh-sunggu bermaksud menyerahkan sang ilmuwan ke Kalterville. Jika Silva menghancurkan misi Ken, akankah Reader kehilangan surat pengampunannya? Silva tak boleh berbuat seperti itu. Tak peduli siapa diri Reader, Silva berhutang kebebasan kepada pemuda itu.


    Tiga pekan dia bersama Reader pergi meninggalkan kapal karam. Mereka tak punya kompas, tak tahu menuju ke mana. Mereka bahkan tidak tahu terdampar di pesisir utara sebelah mana. Mereka menghabiskan malam demi malam yang panjang dengan mengarungi salju, bernaung alakadarnya yang mereka susun atau di dalam gubuk terbengkalai di kamp pemburu paus ketika mereka beruntung. Mereka makan rumput laut panggang dan umbi atau apa saja yang mereka temukan untuk makan. Ketika mereka menemukan simpanan berupa dendeng rusa kutub di dasar tas perbekalan di salah satu kamp, kesannya seperti keajaiban. Mereka menggerogoti dendeng sambil membisu, seakan-akan dimabukkan oleh rasanya.


    Selepas malam pertama, mereka tidur dalam balutan pakaian kering dan selimut yang ada, tapi berbaring dalam sisi yang lain. Jika tak punya kayu bakar, mereka bergelung sambil saling memunggungi, nyaris tak bersentuhan, namun saat pagi tiba, mereka sudah menempel, bernapas selaras, terbuai lelap, bagaikan bulan sabit tunggal.


    Tiap pagi pemuda itu mengeluh bahwa Silva susah dibangunkan.


    "Seperti membangunkan mayat saja."


    "Semoga tenang, minta lima menit lagi," Silva bakal berkata dan mengubur kepalanya di bulu-bulu.


    Reader kemudian beraksi mondar-mandir, mengemasi barang mereka yang cuma sedikit sambil menggerutu sendiri. "Pemalas, konyol, egois." Sampai Silva bangun sendiri dan bersiap-siap menghadapi hari.


    "Apa yang akan kau lakukan pertama kali sepulang ke rumah?" tanya Silva suatu hari selagi sambil berjalan di salju, berharap menemukan tanda-tanda peradaban.


    "Tidur," Kata Reader. "Mandi. Mendoakan teman-temanku yang hilang."


    "Ah, ya, para preman dan pembunuh yang lain. Omong-omong, bagaimana ceritanya sampai kau menjadi Dushenka?"


    "Teman-temanmu para Knoulbar melakukan penyerbuan dan menghabisi keluargaku," kata Reader dingin. "Nisius menampungku dan memberiku tujuan yang layak untuk diperjuangkan."


    Silva tidak mau percaya, tapi dia tahu kemungkinan hal itu memang terjadi. Pertempuran pecah, orang-orang tak bersalah kehilangan nyawa di tengah-tengah menembak. Yang menggelisahkan adalah membayangkan Nisius si monster sebagai semacam sosok ayah.


    Menyanggah atau minta maaf terkesan tidak tepat, maka Silva mengucapkan hal pertama yang mengemuka di benaknya. "Byl jsem stvořen abych vás ochránil. Pouze smrt mi brání v naplnění tohoto slibu." Aku diciptakan untuk melindungimu. Hanya kematian yang mencegahku memenuhi sumpah ini.


    Reader menatap Silva sambil tercengang. "Itu sumpah Dushenka kepada Bärchen. Bagaimana kau tahu kata-kata itu?"


    "Aku mencoba belajar sebanyak-sebanyaknya tentang Bärchen."


    "Kenapa?"


    Silva bimbang, kemudian berkata, "Supaya aku tidak takut kepada kalian."


    "Kau tampak tidak takut."


    "Apa kau takut kepadaku?" tanya Silva.


    "Tidak," ujar Reader, dan dia kedengarannya hampir-hampir terkejut. Dia sudah pernah mengklaim bahwa dia tidak takut kepada Silva. Kali ini dia percaya. Silva mencoba mengingatkan diri sendiri bahwa itu bukan hal bagus.


    Mereka berjalan terus beberapa lama dan kemudian, Reader bertanya, "Apa yang akan kau lakukan pertama kali?"


    "Makan."


    "Makan apa?"


    "Segalanya. Kol isi, kentang kukus, kue beri. Aku tak sabar melihat wajah Lita sewaktu aku bergoyang-goyang ke dalam istana."


    "Lita Awkalin?"


    Silva berhenti melangkah. "Kau kenal dia?"


    "Kami semua mengenalnya, dia penyihir yang perkasa."


    Saat itulah Silva tersadar. Bagi Dushenka, Lita agak-agak mirip dengan Dionisius Rochziskiy---kejam, tidak manusiawi, makhluk yang menanti di kegelapan sambil membawa maut di tangannya. Lita adalah monster bagi pemuda ini. Memikirkan itu, Silva menjadi tidak enak hati.


    "Bagaimana caramu keluar?"


    Silva mengerjapkan mata. "Apa?"


    "Di atas kapal, kau diikat dan dikurung."


    "Cangkir. Gagangnya patah dan bibir di bawahnya bergerigi. Kami menggunakannya untuk mengiris tali pengikat. Begitu tangan kami terbebas...." Suara Silva melirih karena canggung.


    Reader mengerutkan alis. "Kalian berencana menyerang kami."


    "Kami akan bergerak malam itu."


    "Tapi kemudian badai melanda."


    "Benar."


    Seorang pemanggil badai dan Fabrikator telah menjebol geladak dan kemudian berenang untuk membebaskan diri. Namun, adakah salah seorang dari mereka yang selamat dari air sedingin es? Berhasilkah mereka ke daratan? Silva menggigil.


    "Dushenka makan apa?" tanya Silva sambil mempercepat langkah. "Selain bayi Knoulbar?"

__ADS_1


    "Kami tidak makan bayi!"


    "Lemak lumba-lumba? Kuku kaki rusa kutub?"


    "Kami makan banyak ikan. Herring, cod asin, rusa kutub juga, kukunya tidak."


    "Kue bagaimana?"


    "Bagaimana apanya?"


    "Aku sangat suka kue. Aku bertanya-tanya apakah kita bisa menemukan persamaan."


    Pemuda itu mengangkat bahu.


    "Oh ayolah Dushenka," kata Silva. Mereka masih belum bertukar nama dan dia tidak yakin apakah itu harus.


    "Aku suka kue, tapi kami tidak boleh makan yang manis-manis."


    "Semua orang? atau cuma Dushenka?"


    "Dushenka. Masakan manis termasuk larangan. Sama seperti alkohol atau---"


    "Perempuan?"


    Pipi Reader memerah dan dia terus tersaruk-saruk. Mudah sekali membuatnya salah tingkah.


    "Jika kau tidak mengonsumsi gula atau alkohol, kau mungkin sangat menggemari pomdrakon."


    Pemuda itu mula-mula tidak terpancing, semata-mata terus berjalan, tapi akhirnya tidak sanggup lagi menanggung kesunyian. "Apa itu pomdrakon?"


    "Artinya mangkuk naga," kata Silva antusias. "Pertama-tama kita rendam kismis ke dalam brendi, lalu kita matikan lampu dan kita sulut mangkuknya dengan api."


    "Kenapa?"


    "Biar susah ambilnya."


    "Setelah diambil?"


    "Dimakan."


    "Tidakkah lidah kalian terbakar?"


    "Kalau begitu, kenapa kalian---"


    "Karena asyik, Bodoh. Kau tahu 'asyik'? Karena bahasa kata tersebut ada dalam bahasa Bärchen, kau pasti mengenal istilah tersebut."


    "Aku sering bersenang-senang."


    "Baiklah, apa yang kau lakukan untuk bersenang-senang?"


    Dan begitulah perjalanan mereka, dimeriahkan oleh aksi saling sindir, sama seperti pada malam pertama di dalam air, untuk memanas-manasi satu sama lain agar tetap hidup, menolak mengakui bahwa mereka semakin lemah, bahwa jika mereka tidak segera menemukan pemukiman tetap, mereka takkan bertahan hidup lama lagi. Pada hari-hari tertentu, rasa lapar dan sinar matahari yang terpantul menyilaukan dari es utara membuat mereka bergerak berputar-putar, kepayahan melangkah, berputar balik, tapi mereka tak pernah membahasnya, tak pernah mengucapkan kata tersesat, seolah-olah keduanya tahu bahwa berkata demikian sama saja dengan mengakui kekalahan.


    "Kenapa di Bärchen perempuan tidak diperbolehkan untuk bertarung?" tanya Silva suatu malam selagi mereka bernaung di bawah atap perlindungan alakadarnya, hawa dingin menusuk kulit di tempat mereka berbaring di tanah.


    "Mereka tidak mau."


    "Dari mana kau tahu? Pernahkah kau bertanya langsung?"


    "Perempuan Bärchen patut dimulyakan, dilindungi."


    "Prinsip yang bijak."


    "Masa?"


    "Pikirkan betapa malunya kau ketika dihajar oleh pemudi Bärchen."


    Reader mendengus.


    "Aku ingin sekali melihatmu dikalahkan oleh perempuan," kata Silva riang.


    "Dikehidupan ini tidak akan."


    "Wah, kalau melihat barangkali tidak akan. Akan kunikmati langsung saja saat-saat ketika aku menjatuhkanmu sampai terjengkang."


    Kali ini Reader tertawa, terpingkal-pingkal sampai terasa di punggung Silva.


    "Demi Kaum Kudus, Orang Bärchen, aku tidak tahu kalau kau bisa tertawa. Pelan-pelan saja."


    "Aku menikmati kesombonganmu, Šílený."

__ADS_1


    Sekarang Silva yang tertawa. "Itu mungkin adalah pujian terjelek yang pernah aku terima."


    "Tidak pernahkah kau meragukan diri sendiri?"


    "Selalu," kata Silva sambil terkantuk-kantuk. "Aku cuma tidak menunjukannya."


    Keesokan pagi, mereka membelah padang es yang hampir-hampir menyelimuti mereka. Dan mempertengkarkan kebiasaan tidur Silva.


    "Bagaimana kau bisa menyebut dirimu prajurit? Kau bakal tidur sampai tengah hari jika aku biarkan."


    "Memangnya kenapa?"


    "Seorang prajurit harus disiplin. Menjalankan rutinitas. Memang semuanya tidak berarti untukmu? Ya Syel, aku tidak sabar tidur di ranjangku sendiri."


    "Benar," kata Silva. "Aku bisa merasakan betapa bencinya kau tidur di sebelahku."


    Wajar Reader merah padam. "Kenapa kau harus berkata-kata seperti itu?"


    "Karena aku suka melihat wajahmu memerah."


    "Menjijikkan. Kau tidak perlu membuat semuanya terkesan cabul."


    "Kenapa kau tidak bisa santai sa---"


    "Aku tidak mau santai."


    "Kenapa? Apa yang kau takutkan bakal terjadi? Takut jangan-jangan kau mulai menyukaiku?"


    Reader diam seribu bahasa.


    Walau kelelahan, Silva berjalan mendahului Reader.


    "Itu, ya? Kau tidak mau menyukai Knoulbar. Kau takut kalau kau mulai berpikir aku ini manusia. Semenyeramkan itu, ya?"


    "Aku suka kepadamu."


    "Apa katamu?"


    "Aku sudah suka kepadamu," kata Reader berang.


    Silva berseri-seri, merasakan kegembiraan merebah di dalam hatinya. "Nah, masa begitu saja tidak boleh?"


    "Memang!" raung Reader.


    "Kenapa?"


    "Karena kau jahat. Kau berisik dan cabul dan... licik. Nisius mewanti-wanti kami bahwa Knoulbar adakalanya pandai menebar pesona."


    "Oh, begitu. Aku ini Knoulbar penggoda yang jahat. Aku telah memikatmu dengan akal bulusku!"


    Ditohoknya dada pemuda itu.


    "Hentikan."


    "Tidak, aku ingin memikatmu."


    "Sudahilah."


    Silva menari-nari mengelilingi Reader di salju, menohok dadanya, pinggangnya. "Ya ampun! Padat sekali kau. Pekerjaan ini melelahkan." Reader mulai tertawa. "Wah, berhasil! Kau telah terpikat. Si orang Bärchen telah tumbang. Kau tidak kuasa melawan aku. Kau---"


    Suara Silva menjadi jeritan saat es roboh di bawah kakinya. Dia mengulurkan tangannya secara otomatis, untuk menggapai apa saja yang bisa menghambat kejatuhannya, kuku-kukunya menggaruk es dan batu.


    Sang Bärchen menyambar lengan Silva yang memekik karena lengannya serasa hendak copot dari persendian.


    Silva bergantungan di tempat, menggelayut di atas udara kosong, hanya cengkeraman jemari sang Dushenka. Sekejap, saat memandang mata pemuda itu, Silva yakin Reader akan melepaskan pegangan.


    "Kumohon," kata Silva, air mata menguncur ke pipinya.


    Pemuda itu menariknya dari tepi dan perlahan-lahan, mereka merangkak ke tanah yang lebih padat. Mereka lantas berbaring, tersengal-sengal.


    "Aku takut... aku takut kau akan melepaskanku," celetuk Silva.


    Selepas keheningan berkepanjangan, pemuda itu berkata, "Aku sempat mempertimbangkannya, sedetik saja."


    Silva mengeluarkan tawa kecil patah-patah. "Tidak apa-apa," dia akhirnya berkata. "Aku akan berpikir begitu juga, jika jadi kau."


    Sang Dushenka bangkit dan mengulurkan tangannya. "Aku Reader."


    "Silva," katanya sambil menggapai tangan pemuda itu. "Senang berkenalan denganmu."

__ADS_1


>><<\ data-tomark-pass >><<\ data-tomark-pass >><<


__ADS_2