Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Krista


__ADS_3

...[Delapan Dentang, Dencing Setengah Jam]...


Ken memperhatikan Krista baik-baik, matanya sewarna kopi pahit berkilat-kilat diterpa sinar dari kubah.


    "Kau tahu kostumnya," kata Krista. "Mantel berat, tudung. Hanya itu yang akan dilihat oleh orang-orang Bärchen. Rusa Riverdale. Kuda Knuddelbär." Dia menelan ludah dan memaksa kata-kata berikut terucap dari bibirnya. "Katsi Zemeni." Bukan orang, malah bukan juga perempuan, melainkan objek koleksi indah belaka. Aku sudah sejak dulu ingin bergumul dengan perempuan Riverdale, seorang pelanggan adakalanya berbisik. Perempuan Knuddelbär berambut merah. Perempuan Zemeni berkulit sewarna karamel gosong.


    "Riskan, ya," kata Ken.


    "Pekerjaan apa yang tidak riskan?"


    "Ken, bagaimana kau dan Reader akan ke sana?" tanya Silva. "Kami membutuhkanmu untuk membobol kunci dan kalau-kalau ada yang tidak beres di pulau, aku tidak mau dibiarkan terkatung-katung. Aku ragu kau bisa menyamar sebagai anggota Cerveny."


    "Itu semestinya tak menjadi masalah," kata Ken. "Reader menutup-nutupi sesuatu dari kita."


    "Begitukah?" tanya Krista.


    "Bukan---" Reader mengusap rambut cepaknya. "Dari mana pula kau tahu, dasar Chötgör?" geramnya kepada Ken.


    "Nalar. Seisi Royalemerald adalah mahakarya pengamanan berlapis-lapis antibobol. Jembatan kaca itu mengesankan, tapi dalam keadaan darurat, pasti ada cara untuk mengerahkan bala bantuan ke Pulau Putih dan mengeluarkan keluarga kerajaan."


    "Ya," kata Reader jengkel. "Ada jalan lain ke Pulau Putih. Tapi, bakal merepotkan." Dia melirik Silva. "Dan jelas-jelas tidak bisa dilakukan sambil mengenakan gaun."

__ADS_1


    "Tunggu dulu," potong Tera. "Siapa peduli kalaupun kalian semua bisa ke Pulau Putih? Misalkan saja Silva mengorek lokasi Erikson dari petinggi Bärchen dan kalian berhasil membawanya ke sini. Kita tetap saja terperangkap. Pada saat itu, para sipir pasti sudah menuntaskan pencarian sehingga mereka tahu bahwa enam tahanan telah keluar dari sektor entah bagaimana. Kandas pulalah kesempatan kita untuk melalui gerbang kedutaan dan pos-pos pemeriksaan."


    Ken menyipitkan mata melampaui kubah, ke pekarangan kedutaan yang terbuka dan pos jaga pada tembok terluar.


    "Reyn, seberapa sulit memacetkan gerbang itu?"


    "Supaya terbuka terus?"


    "Bukan, supaya tertutup terus."


    "Kau bermaksud merusaknya?" Reyn mengangkat bahu. "Menurutku tidak terlalu susah. Aku tidak bisa melihat mekanismenya sewaktu kita memasuki gerbang penjara, tapi dari tata letaknya, kutebak cara kerjanya standar saja."


    "Katrol, gigi roda, sekrup besar-besar?"


    "Aku tahu cara kerjanya, Reyn," kata Ken sambil geleng-geleng. "Bisakah kau memeretelinya?"


    "Kurasa bisa, tapi yang rumit adalah sistem alarm yang terhubung dengannya. Aku ragu bisa mengutak-atiknya tanpa memicu Protokol Hitam."


    "Bagus. Begitu juga boleh."


    Tera angkat tangan. "Maafkan aku, tapi bukankah kita justru ingin menghindari Protokol Hitam apa pun taruhannya?"

__ADS_1


    "Seingatku Protokol Hitam akan membuat riwayat kita tamat," kata Silva.


    "Tidak jika Erikson belum meninggal," kata Ken memandang Silva. "Tidak kalau kita menggunakannya untuk merugikan mereka sendiri. Malam ini, sebagian besar pengamanan Royal dikonsentrasikan ke Pulau Putih dan di kedutaan sini. Ketika Protokol Hitam berbunyi, jembatan kaca akan ditutup, alhasil menjebak semua penjaga di dalam pulau beserta para tamu."


    "Tapi, bagaimana dengan rute alternatif untuk meninggalkan pulau yang Reader sebut tadi?" tanya Silva.


    "Mereka tidak bisa menggerakkan pasukan besar lewat jalan itu," Reader mengakui. "Tidak bisa cepat, lebih tepatnya."


    Ken menerawang ke Pulau Putih sambil menelengkan kepala, matanya kurang fokus.


    "Wajah bersiasat," gumam Krista.


    Tera mengangguk. "Jelas."


    Krista akan merindukan ekspresi itu.


    "Tiga gerbang di tembok terluar," kata Ken. "Gerbang penjara sudah dikunci rapat-rapat karena Protokol Kuning. Gerbang kedutaan adalah titik sempit yang penuh sesak dengan tamu---orang-orang Bärchen takkan menggerakkan pasukan lewat sana. Tera, berarti tinggal gerbang di sektor Dushenka yang perlu kau tangani bersama Reyn. Gunakan gerbang itu untuk memicu Protokol Hitam, lalu kalian rusak saja. Rusak sedemikian rupa agar penjaga mana pun yang sempat digerakkan takkan bisa keluar untuk mengikuti kita."


    "Aku mau-mau saja mengunci orang-orang Bärchen di dalam benteng mereka sendiri," ujar Tera. "Sungguh. Tapi, bagaimana cara kita keluar? Begitu kami memicu Protokol Hitam, kalian akan terperangkap di lingkar luar. Kita tidak punya senjata dan bahan peledak."


    Ken menyunggingkan cengiran setajam pisau. "Untung kita ini pencuri tulen. Kita akan berbelanja dulu---dan Bärchen yang akan membayarinya. Krista," katanya, "mari kita mulai dengan yang kinclong-kinclong."

__ADS_1


~Selanjutnya Krista 2


__ADS_2