
"Cukup sekian," kata Ken kepada yang lain. "Kalian akan aku kabari setelah mendapatkan kapal. Kita berangkat malam besok juga."
"Secepat itu?" Tanya Krista.
"Kenapa tidak pagi?" Tanya Tera.
"Kita tidak tahu cuaca apa yang akan datang besok, rencana kita menyelamatkan Erikson tidak lama, kita tidak boleh menunggu hingga Erikson tersiksa lebih di sana."
Ken membutuhkan waktu lebih untuk mematangkan rencananya. Ini adalah misi besar, jika gagal secuil bayarannya selebat musibah dan sekaligus membatasi barang bawaan mereka. Ken harus mendapatkan informasi sebanyak mungkin, semakin kecil pengetahuan, semakin besar kemungkinan situasi menjadi runyam.
Dengan mempertahankan Reyn Etz Djel di sampingnya, menjadi lebih menjamin bahwa mereka akan mendapatkan bayaran. Namun, misi mereka tidak lantas menjadi mudah. Reyn lebih muda dari Tera, cara kerjanya di sini saja sudah cacau. Entah bagaimana masih seperti bocah, berkulit mulus, alis mata menekuk, seperti anjing peliharaan yang berada di ruangan penuh anjing pertarung.
"Awasi Reyn, jangan sampai terjatuh," kata Ken.
"Aku? Kenapa?"
"Karena kau sial, dan aku tidak ingin putra Etz Djel dan ayahnya berdamai sebelum pergi dari Moontown,"
"Itu tak perlu kau khawatirkan," kata Reyn.
"Aku mengkhawatirkan segalanya, Pangeran Kecil. Itu sebabnya aku masih hidup sampai sekarang. Kau juga boleh mengawasi Tera."
"Mengawasi aku?" Tukas Tera berang.
Ken merogoh saku di dalam jasnya, dia mengeluarkan dua gepok kairo. "Ini," Ken memberi uang kepada Tera. "Ini untuk peluru, bukan untuk yang lain. Reyn, pastikan Tera tidak secara ajaib bergerak sendiri ke kasino, pastikan dia membeli peluru."
"Aku tidak butuh pengasuh," sangkak Tera.
"Tepatnya pengawas, tapi jika tetap kau suruh untuk mengganti popok dan memberimu susu, terserah kau."
Ken mengabaikan muka Tera yang tersinggung. Memberikan kairo kepada Reyn untuk membeli bahan-bahan peledak yang ia perlukan, memberi kairo kepada Silva untuk apa yang ia butuhkan, serta memberi Krista untuk menyiapkan perlengkapan. "Beli seperlu kalian saja," kata Ken. "Yang jelas, jika sesuai dengan rencanaku, kita masuk dengan tangan kosong."
Ken bisa melihat wajah Krista yang sendu, dia tidak suka keluyuran tanpa membawa pisau-pisaunya. Krista masih saja menyimpan pisau kumuhnya dari dulu, selalu ia tajami sampai ukurannya berkurang. Ken sempat menawarkannya untuk membeli pisau baru, tapi dia mengelak. "Aku akan beli jika pisau-pisau ini betul sudah rusak." Ujarnya
"Sebentar lagi Üdeshleg," kata Silva
"Diam," bentak Reader.
"Tolong jangan," kata Ken.
__ADS_1
"üdeshleg hari-hari di mana Bärchen berhenti menyiksa diri dan bebas bersenang-senang," Silva menutup matanya dan mengangkat sebelah tangannya. "Hiburan?" Tanya Ken. "Aktor, penari, acara lainnya," jawab Silva
"Aku pikir orang Bärchen tidak suka bersenang-senang," kata Tera.
"Mereka memang berpesta, tanpa anggur dan... kenikmatan ragawi," kata Reader patah lidah.
Silva memasang wajah meragukan, sedangkan Ken menelengkan kepalanya dan melihat burung gagak dari kejauhan. "Gunakan uang ini untuk membeli perlengkapan musim dingin," kata Ken kapada Krista. "Lorong Suatulama terdapat toko pemburu, mulai dari sana."
"Kau akan ke Royalemerald lewat utara itu bukan sandiwara?" Tanya Van Bould.
"Tadinya iya, sekarang tidak," kata Ken. "Para agen akan berkeliaran di pelauhan Handlamp, kita akan sempatkan momen ini selagi pesta besar kalian mulai."
"Acara itu bukan pesta," berang Reader.
"Kedengarannya seperti pesta," kata Tera.
"Seharusnya bukan," ralat Reader dengan murung.
"Untuk saat ini, Reader akan tinggal di Kelab ini, aku ingin kau mengeluarkan seluruh informasi yang kau tahu, Reader. Reyn dan Tera akan bergabung denganmu nanti."
"Tunggu,'' gerakan tangan Tera bermaksud stop. "Kau ingin aku tinggal di sini? Ada yang harus kuurus di Easd."
"Akankah kau bercerita rencana bin ajaibmu secara rinci?" Tanya Silva.
"Saat kita di kapal, sedikit kalian tahu, sedikit yang bisa kalian bocorkan."
Silva memberi wajah ngejek kepada si rubah. "Dan kau membiarkan Van Reader tanpa belengu?"
"Bisakah kau menjaga sikap?" Tanyanya kepada si Bärchen.
Mata Reader tampak seperti pembunuh, tapi dia mengangguk. "Akan kita kunci ruangan ini, kita membutuhkan penjaga."
Krista memandang tubuh Reader yang besar. "Dua orang."
"Tempatkan Han dan Derry, jangan bilang tentang misi kita sekerat pun. Dan kau, Reyn, kita akan ngobrol panjang lebar tentang perdagangan Etz Djel."
Reyn mengangkat bahunya. "Beliau tidak pernah menyeretku ke perusahaannya."
"Kau tidak pernah masuk menyelinap atau apalah untuk mengorek? Maksudmu tak pernah mengendap-endap untuk melihat sebagian dokumennya?"
__ADS_1
Reyn menggelengkan kepalanya, Ken terkejut sendiri karena mempercayai pemuda itu.
"Sudah aku katakan, bukan?" ujar Tera riang sambil menunjukan kepalannya kepada Ken dan berkata dengan senang. "Tidak berguna, kalian seperti kakak adik saja."
"Reyn, apakah kau punya kepercayaan?" Tanya Ken.
"Tentu saja."
"Bagus, karena aku tidak."
"Itu tidak ada hubungannya," kata Krista. Tera pun mengangguk
Semuanya berbaris keluar, Ken memutar rodanya sehingga terkunci. "Aku ingin mengobrol denganmu, Lunark." Kata Reader. "Empat mata."
Krista melirik Ken, tapi dia mengabaikannya. Dia pikir Ken tidak bisa menghadapi si centeng udik berotot macam si Reader? Dia menutup cendela. "sana, Kucing," kata Ken. "Tutup pintunya."
Ketika pintu bergerak menutup, Reader menyerbu Ken. Pemuda itu membiarkannya, dia sudah memprediksi si manusia Bärchen ini. Reader menutup mulut Ken dengan tangannya, persentuhan kulit dengan kulit membuat rasa pemuda itu mual. Tapi karena Ken sudah memperkirakan serangan itu, dia bisa mengontrol sensasi yang melandanya. Tangan Reader merogoh saku jas Ken, satu demi satu.
"Di mana?" Geramnya dengan marah. Ken mempersilahkan Reader untuk mengecek seluruh sakunya. Kemudian Reader terpakasa menurunkan sikunya, memakasa si Bärchen mengendurkan pegangannya dan alhasil membuat Ken dengan mudah berkelit menjauh. Dia menghajar sebelah belakang tungkai kanan Reader dengan kaki kanannya, ambruklah pemuda itu. Ketika dia berusaha bangun, Ken menendangnya. "Diam di tempat dasar pecundang menyedihkan."
Lagi-lagi Reader berusaha bangkit, dia gesit, sedangkan penjara membuatnya menjadi tambah kuat. Ken mengambil tongkat di sampingnya dengan cepat. Dia menghujamkan dua pukulan dengan ujung tongkat ke titik-titik tekanan di pundak besar Reader. Sekilas saja. Dipukulan kedua, Reader mengerang dan lumpuhlah kedua tangannya. Ken memutar tongkatnya dan menempelkan ke titik luka Reader, ia mengerang.
"Coba-coba lagi, Reader. Maka salah satu tanganmu akan aku buat lumpuh selamanya."
Reader bergeming, matanya melotot benci. "Di mana surat pengampunan itu?"
Ken mengambil kertas dari dalam sakunya yang sebelumnya dicek tidak ada menjadi ada. "Ini?"
Si Bärchen mengepakkan tangannya yang tak berguna dan mengeluarkan geraman rendah seperti hewaniah saat Ken menghilangkan kertas dari sela-sela jarinya dan mengembalikannya lagi ke tangannya. Menampakkan naskah, mengusapkan kertas itu sekali dengan telapaknya dan menghilanglah kata-kata itu.
"Chötgör," katanya dalam bahasa Bärchen, Reader berkomat-kamit bahasanya. Ken tidak mengenali bahasa Bärchen, tapi kata itu dia kenali, iblis.
Salah besar. Itu hanyalah trik sederhana oleh pesulap hebat dari Kharfa Barat. Dia mempelajari trik sulap dari jagoan kartu dan tukang silap tersebut. Ken membeli cermin besar dari gajian pertamanya dan mempraktekkannya di depan cermin. Dia memoles keahlian dengan berlatih berjam-jam bersama cermin besar itu.
Ken mengetuk pundak Reader dengan lemah berkali-kali. "Yang kau lihat satu trik ini, aku masih menyimpan ribuan trik lainnya. Tinggalnya di Hellgame membuatmu tambah kuat? Menjadi tambah tangguh? Tidak berarti sama sekali, Reader. Di mataku hanya semasa kanak-kanak. Kau selambat kerbau dan paling banter hanya dua hari kau bisa gesit di tempatku tumbuh besar. Hari ini aku maklumi kau, kemudian hari jangan uji-uji aku lagi, Reader. Angguk supaya aku mengerti kalau kau sudah paham."
Reader tampak sangat membenci pemuda itu, tapi dia mengangguk sekali.
"Bagus. Menurutku, sebaiknya kedua kaki mu dirantai."
__ADS_1
Ken bangun, menyambar jam saku barunya dari meja, dan menendang ginjal Si Bärchen itu satu kali lagi untuk jaga-jaga. Terkadang yang besar-besar tidak tahu kapan untuk tunduk.