Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Silva 2


__ADS_3

Kapal karam lebih dari setahun lalu, tapi waktu terkesan belum lama berlalu. Sebagian dari diri Silva ingin kembali ke saat-saat sebelum porak poranda, ke hari-hari nan panjang ketika mereka adalah Silva dan Reader semata alih-alih seorang Knoulbar dan pemburu penyihir. Namun, semakin Silva merenung, semakin dia yakin bahwa saat-saat kebersamaan tak pernah ada. Masa tiga pekan itu adalah dusta yang dibangun olehnya dan Reader demi bertahan hidup. Api unggun yang membakar manusia hidup-hidup adalah kebenaran yang sejati.


    "Silva," kata Reader, sekarang berlari-lari kecil ke belakangnya. "Silva, dengarkan aku. Kau harus bertahan dengan yang lain."


    "Biarkan aku sendiri."


    Ketika Reader memegangi tangannya, Silva berputar dan mengepalkan tangan, alhasil menyumbat aliran pernapasan udara ke tenggorokan pemuda itu. Lelaki biasa tentu akan melepaskannya, tapi Reader adalah Dushenka terlatih. Pemuda itu justru menyambar dan mengunci lengan Silva yang sebelah lagi, mengimpit lengannya ke tubuh kuat-kuat sehingga tidak bisa menggunakan tangan. "Stop," kata Reader lembut.


    Silva meronta-ronta untuk melawan pegangan Reader, mendongak sambil memelototinya. "Lepaskan aku."


    "Tidak boleh. Tidak sementara kau masih menjadi ancaman."


    "Bagimu, aku akan senantiasa menjadi acaman, Reader."


    Sudut mulutnya terangkat, membentuk senyuman penuh sesal. Matanya hampir-hampir menyiratkan duka. "Aku tahu."


    Dilepaskan Silva pelan-pelan. Sang Knoulbar melangkah mundur.


    "Apa yang akan kulihat sesampai di Royalemerald?" Silva menurut penjelasan.


    "Kau takut."


    "Ya," kata Silva mengedepankan dagu, menentang tiada gunanya menyangkal.


    "Silva---"


    "Katakan. Aku perlu tahu. Ruang penyiksaan? Api yang menyala-nyala di atas atap?"


    "Api unggun tidak digunakan lagi untuk eksekusi di Royalemerald"


    "Lalu apa? Ditarik sampai badan terpidana terbelah empat? Regu tembak? Apa pemandangan lahan eksekusi terlihat dari istana kerajaan?"


    "Sudah cukup, kau menghakimiku, Silva. Aku tahu, karena aku pernah mengecap itu, dan cara seperti ini tidak menyelesaikan apa-apa, ini harus dihentikan."


    "Dia benar. Kau tidak boleh terus-terusan begini," kata Tera berdiri di salju dengan yang lain. Sudah berapa lama mereka di sana? Apa mereka melihat dirinya menyerang Reader?


    "Jangan ikut campur," bentak Silva.


    "Kalau terus bertengkar, kalian berdua akan menyebabkan kita semua tewas terbunuh, padahal aku masih ingin sering-sering kalah main kartu."


    "Kalian harus mencari jalan damai," kata Krista. "Setidaknya untuk sementara."


    "Ini bukan urusan kalian," geram Reader.


    Ken melangkah maju, ekspresinya galak. "Tentu saja ini urusan kami, dan jaga nada bicaramu."


    Reader angkat tangan. "Kalian semua sudah diperdaya olehnya. Inilah keahliannya. Dia meyakinkan kalian bahwa dia teman kalian dan kemudian---"


    Krista bersedekap. "Kemudian apa?"


    "Sudahlah, Krista."


    "Tidak, Silva," kata Reader. "Beri tahu mereka. Kau pernah mengatakan bahwa kau temanku. Apa kau ingat?" Dia menoleh kepada yang lain. "Kami bepergian bersama selama tiga minggu. Aku menyelamatkan nyawanya. Kemudian saling menyelamatkan. Setiba kami di Divayina, kami... aku bisa saja mengungkapkan identitasnya kepada para prajurit yang kami lihat di sana saat itu. Tapi, aku tidak melakukannya." Reader mulai mondar-mandir, suaranya meninggi, seolah kenangan tengah menguasainya. "Aku meminjam uang. Aku mengusahakan penginapan. Aku rela mengkhianati semua yang kuyakini demi menjamin keselamatannya. Ketika aku melihatnya menuju dermaga untuk memesan tempat di kapal layar untuk kami, seorang saudagar Kalterville yang berada di sana sudah siap berangkat." Reader kembali ke sana, berdiri di dermaga beserta Silva, sebagaimana yang bisa Silva lihat di mata pemuda itu. "Tanyakan kepadanya apa perbuatannya saat itu, si sekutu terhormat ini. Gadis yang menghakimiku dan kaumku."


    Tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun, tapi mereka semua memperhatikan, menunggu.


    "Beri tahu mereka, Silva." desak Reader. "Mereka harus tahu caramu memperlakukan teman."


    Silva menelan ludah, lalu memaksakan diri untuk menatap mereka. "Aku memberi tahu si orang Kalterville bahwa dia pedagang budak dan bahwa dia menawanku. Aku minta belas kasihan mereka dan memohon-mohon agar mereka menolongku. Aku menyimpan segel yang kuambil dari kapal perdagangan budak yang kami serbu dekat Pulau Mudik. Aku menggunakannya sebagai barang bukti."


    Silva tidak sanggup memandang mereka. Ken tahu, tentu saja. Dia harus memberi tahu Ken tuduhan yang hendak dia cabut ketika memohon bantuan kepada pemuda itu (Episode 15 Reader). Namun, Ken tidak pernah mengungkit-ungkit, tidak pernah menanyakan alasannya, tidak pernah menegurnya. Bisa dibilang, perasaan Ken justru menjadi tenang setelah memberi tahunya. Seorang pemuda berjuluk Rubah atau Tangan Kotor tidak mungkin menghakimi orang lain.


    Tapi kini, kebenaran dapat disaksikan oleh orang lain. Warga Kalterville diam-diam tahu bahwa pedagang budak masuk keluar pelabuhan Moontown, sedangkan sebagaian besar pekerja kontrak sejatinya adalah budak. Silva tahu persis apa yang akan terjadi ketika dia mengecap Reader dengan tuduhan itu.


    "Aku tidak memahami apa yang akan terjadi," kata Reader. "Aku tidak bisa berbahasa Kalterville, tapi Silva jelas bisa. Mereka menangkap dan merantaiku. Mereka menjebloskanku ke sel dalam kapal dan mengurungku di sana dalam kegelapan selama berminggu-minggu sepanjang perjalanan kami menyebrangi laut. Kali berikutnya aku melihat cahaya matahari adalah di Moontown, ketika mereka menurunkanku dari kapal."


    "Aku tidak punya pilihan," kata Silva, air mata perih menyumbat tenggorokannya. "Aku tidak tahu---"


    "Coba beri tahu aku satu hal saja," kara Reader. Amarah meluap-luap dalam suaranya, tapi Silva bisa mendengar emosi lain juga, seperti permohonan. "Jika kau bisa kembali ke saat itu, jika kau bisa membatalkan perbuatanmu kepadaku, akankah kau melakukannya?"


    Silva memaksa diri untuk menghadap mereka. Dia punya alasan, tapi pentingkah itu? Lagi pula, mana berhak mereka menghakiminya? Dia menegakkan tulang punggung dan mengangkat dagu. Dia anggota Geak, pekerja Cherry Blossom, dan kadang-kadang gadis bodoh, tapi yang paling utama, dia seorang Knoulbar dan prajurit. "Tidak," kata Silva tegas, suaranya menggema. "Aku akan berbuat begitu lagi."


    Gemuruh mendadak mengguncangkan tanah. Silva hampir kehilangan pijakan dan melihat Ken bertumpu ke tongkat.


    "Adakah patahan sejauh ini di udara?" tanya Reyn.


    Reader mengerutkan kening. "Sepertinya tidak. Tapi---"


    Sebongkah tanah terlontar dari bawah kaki Reader, alhasil menumbangkannya ke tanah. Sebongkah lagi merekah di kanan Silva, menghempaskannya hingga telentang. Di mereka, barang yang serupa melontar ke atas, seakan bumi menjadi hidup. Angin kencang menampar mereka, dibarengi oleh serpihan salju yang berputar-putar.

__ADS_1


    "Apa-apaan ini?" seru Tera.


    "Semacam gempa bumi!" teriak Krista.


    "Bukan," sambil menunjuk ke titik kosong gelap, tidak terpengarung oleh angin yang mengaung. "Kita diserang."


    Silva merangkak untuk mencari tempat perlindungan. Dia kira dia sudah hilang akal. Ada seseorang di atas langit, melayang-layang jauh di atasnya. Dia menyaksikan manusia terbang.


    Knoulbar Pemanggil Badai dapat mengendalikan aliran udara. Dia bahkan pernah melihat mereka saling lempar ke udara untuk main-main di Istana Kecil, tapi mengontrol manusia agar bisa terbang secara terus-terusan membutuhkan level keterampilan dan kesaktian yang di luar nalar---setidaknya sampai saat ini. Arta mortem. Silva kurang percaya kepada paparan Ken. Silva malah curiga kalau Ken berbohong tentang kejadian yang disaksikannya supaya Silva mau ikut. Tapi beda kalau kepala Silva terbentur dan hilang ingatan, ini nyata.


    Si Pemanggil Badai berputar-putar di atas, mengaduk udara hingga menjadi topan menggila.


    "Aku butuh pengalih perhatian!" teriak Tera dari tengah-tengah badai.


    Silva mendengar bunyi mendesing.


    "Tiarap," pekik Reyn. Silva terungkap ke salju. Bunyi bum menggelegar di atas, sedangkan ledakan menerangi langit tepat di samping si Pemanggil Badai dan terhempas keluar jalur, sehingga memusatkan konsentrasi untuk menjaga keseimbangan. Sekalipun hanya beberapa detik, Tera mendapat cukup waktu untuk membidik senapan dan menembak.


    Letusan membahana dan menghindarlah si Pemanggil Badai ke tanah. Sebongkah es kembali mencuat. Mereka terperangkap seperti hewan di dalam kurungan, siap untuk dijagal. Tera membidik di sela bongkahan es, di deretan pohon jauh dari mereka. Silva menyadari bahwa ada Knoulbar lain di sana, berambut gelap dan, meninju ke atas. Sebelum Tera ingin menembak, tanah muncul ke atas dan terlemparlah Tera karena gundukan tanah tiba-tiba muncul di kakinya. Dia jatuh sambil menembak dari tanah.


    Pemuda di kejauhan memekik dan terjatuh, bertumpu ke satu lutut, tapi satunya lagi masih terangkat, sehinggah tanah masih menggemuruh. Silva mengangkat tangan, mencoba menyasar ke jantung sang Knoulbar, tapi target terlalu jauh.


    Dia melihat Krista memberi aba-aba kepada Ken. Tanpa sepatah kata pun, Ken memosisikan diri ke balik bongkahan terdekat dan menangkupkan tangan ke atas lutut. Tanah bergoyang-goyang dan terombang-ambing, tapi Ken berpijak dengan kukuh saat Krista melontarkan diri dengan luwes ke arah tangan pemuda itu. Gadis itu menghilang ke balik bongkahan batu tanpa ribut-ribut. Sesaat kemudian, tanah mematung.


    "Kucing memang bisa diandalkan," kata Tera.


    Mereka berdiri linglung, udara serasa kelewat tenang selepas hiruk piruk barusan.


    "Reyn," sengal Tera sambil bangun. "Keluarkan kita dari sini."


    Reyn mengangguk, mengambil gumpalan sewarna tanah liat dari tasnya, dan dengan lembut menyandarkan gumpalan itu ke batu terdekat. "Semuanya tiarap," dia memerintahkan.


    Mereka mengobrol sambil berlindung. Reyn menepuk alat peledak kuat-kuat dan terjun menjauh, langsung menabrak Reader dan Tera sementara mereka semua menutupi telinga.


    Tidak terjadi apa-apa.


    "Apa kau bercanda?" tukas Tera.


    Bum. Bongkahan itu meledak. Es dan serpihan batu menghujani kepala mereka.


    Reyn berlumur debu dan menampakkan ekspresi girang yang agak-agak bengong. Silva berusaha menahan tawa. "Coba kesankan bahwa kau tahu alatmu pasti berhasil."


    Silva dan yang lain mendapati Krista berdiri menjulang di dekat jasad seorang Knoulbar yang gemetaran. Pemuda itu mengenakan pakaian bewarna hijau tentara dan matanya buram. Darah mengucur di paha atasnya, sedangkan pisau mencuat dari sebelah dada kanan. Krista pasti melemparkan pisau itu saat meloloskan diri dari kungkungan batu.


    Silva berlutut di samping pemuda itu.


    "Aku butuh sedikit lagi," guman si Knoulbar. "Sedikit lagi saja." Sang Knoulbar menyambar tangan Silva dan baru saat itulah dia mengenali pemuda itu.


    "Nestor?"


    Dia berkedut-kedut mendengar namanya, tapi tidak terkesan mengenali silva.


    "Nestor, ini aku Silva." Dia bersekolah dengan pemuda itu di Istana Kecil. Dia seorang Fabrikator, salah seorang Durast yang piawai memanipulasi logam, kaca, dan serat. Kejadian barusan tidak masuk akal. Fabrikator membuat tekstil, senjata. Dia seharusnya tidak bisa bertindak seperti yang baru saja Silva saksikan.


    "Kumohon," pinta Nestor, wajahnya berkerut. "Aku butuh lagi."


    "Mortem?"


    "Ya," isaknya. "Ya, kumohon."


    "Aku bisa menyembuhkan lukamu, Nestor, asalkan kau tidak gerak-gerak." Kondisi pemuda itu parah.


    "Aku tidak menginginkan bantuanmu," katanya sambil mendorong Silva.


    Silva mencoba menenangkan pemuda itu, memelankan denyut nadi, tapi Silva takut menghentikan jantungnya. "Kumohon, Nestor. Jangan gerak-gerak."


    Pemuda itu menjerit-jerit melawan Silva.


    "Pegangi dia," ujar Silva.


    Reader bergerak untuk membantu dan Nestor sontak mengangkat kedua tangannya.


    Tanah menjadi gelombang dan menjengkangkan Silva dan yang lain ke belakang.


    "Nestor, perkenankan kami menolongmu."


    Pemuda itu bangkit sempoyongan dan mencabut pisau dari dadanya. "Di mana mereka," jeritnya. "Ke mana mereka pergi?"


    "Siapa?"

__ADS_1


    "Orang-Orang Kuwei!" raungnya. "Ke mana mereka pergi? Kembalilah!" Dia maju selangkah, dan selangkah lagi lalu terkapar jatuh ke tanah.


    Silva bergegas-gegas ke sisinya dan membalikkannya. Mata dan rambutnya berlumur salju. Silva menempelkan tangan ke dadanya, berusaha untuk memulihkan detak jantungnya, tapi percuma saja. Jika badannya tidak terlanjur rusak gara-gara obat, lukanya tidak fatal.


    Ada yang salah, pikir Silva merana.


    Ken dan tera kembali sambil terengah-engah.


    "Ada sesuatu?" tanya Reader.


    Tera mengangguk. "Serombongan orang menuju ke selatan."


    "Dia memanggil-manggil orang Kuwei," kata Silva.


    "Kita tahu Kuwei akan mengutus tim untuk mengeluarkan Erikson," kata Ken.


    Tera memandangi tubuh Nestor yang bergeming. "Tapi, kita tidak tahu mereka mengutus Knoulbar. Dari mana kita tahu mereka tentara bayaran?"


    Ken menyodorkan koin bergambar kuda di satu sisi dan dua kunci yang bersilang di sisi lain. "Ini tersimpan di saku Pemanggil Badai," katanya sambil melemparkan koin kepada Tera. "Itu shu ye Kuwei. Koin perlintasan. Dia diutus dalam misi pemerintah."


    "Bagaimana bisa mereka menemukan kita?" tanya Krista.


    "Mungkin tembakan Tera menarik perhatian mereka," ujar Ken.


    Tera bersungut-sungut dan menunjuk Silva serta Reader. "Mungkin mereka mendengar dua orang ini saling adu teriak. Mereka mungkin sudah membuntuti kita sejauh bermil-mil."


    Silva berusaha mencerna informasi yang baru dia dengar, Kuwei tidak menggunakan Knoulbar sebagai prajurit dan mereka lain dengan orang-orang Bärchen; orang-orang Kuwei tidak menganggap kesaktian Knoulbar menjijikan ataupun tidak wajar, mereka tetap menganggap bahwa Knoulbar itu manusia. Kuwei tidak akan sudi menggunakan Knoulbar sebagai tentara bayaran. Setidaknya, dulu demikian. Mungkin mortem telah mengubah taktik mereka.


    "Aku tidak mengerti," kata Silva. "Jika mereka punya arta mortem, kenapa repot-repot mengejar Erikson?"


    "Mungkin saja mereka punya, tapi tidak bisa memproduksinya," kata Ken. "Menurut Dewan Saudagar begitu. Atau mereka memastikan Erikson tidak memberitahu resep kepada siapa-siapa."


    "Menurutmu, akankah mereka menggunakan Knoulbar yang mengonsumsi mortem untuk menjebol Royalemerald?" tanya Krista.


    "Kalau mereka memperkerjakan banyak Knoulbar," kata Ken. "Itulah yang akan kulakukan."


    Reader geleng-geleng kepala. "Kalau diantara mereka tadi ada Perabak Jantung, tamatlah kita."


    "Baru saja kita nyaris mati," timpal Krista.


    Tera menompang senapannya ke bahu. "Reyn sudah menyumbang jasa."


    Reyn terlompat saat mendengar namanya disebut. "Sungguh?"


    "Ya anggap saja tadi cicilan pertamamu."


    "Ayo maju," kata Ken.


    "Kita harus mengubur mereka," kata Silva.


    "Tanahnya terlalu keras dan kita tidak punya waktu. Tim Kuwei masih bergerak menuju Üdeshleg. Kita tidak tahu mereka mengerahkan berapa Knoulbar lagi, apalagi tim Rav mungkin sudah berada di dalam"


    "Kita tidak boleh meninggalkan mereka di sini untuk dimangsa serigala," ujar Silva, tenggorokannya tercekat.


    "Apa kau ingin membuat api unggun untuk mereka?"


    "Persetan kau, Lunark."


    "Lakukan saja perbuatanmu, Liveko," Ken balas menghardik. "Aku mengajakmu ke Bärchen bukan untuk melaksanakan ritual pemakaman."


    Silva mengangkat kedua tangannya. c


    Gadis itu melangkah maju, tapi Reader bergerak ke depannya.


    "Stop," kata Reader. "Biar aku saja. Akan aku bantu kau menggali kuburan." Silva menatap mata pemuda itu. Reader mengambil pahat dari tasnya dan menyerahkan benda tersebut kepada Silva, kemudian mengambil sepahat lagi dari tas Tera. "Dari sini, tujulah ke selatan," kata Reader kepada yang lain. "Aku kenal daerah ini dan akan kupastikan kami akan menyusul kalian saat malam tiba. Kami bisa bergerak cepat sendiri."


    Ken menatap Reader lekat-lekat. "Ingat saja surat pengampunanmu, Reader."


    "Apa betul meninggalkan mereka berdua adalah ide bagus?" tanya Reyn, sementara mereka bergerak menuruni lereng.


    "Tidak," jawab Krista.


    "Tapi, kita tetap melakukannya?"


    "Kita percayai mereka sekarang atau kita percayai mereka nanti," ujar Ken.


    "Akankah kita membicarakan keterangan Reader mengenai kesetiaan Silva?" tanya Tera.


    Silva samar-samar bisa menangkap jawaban Ken: "Aku lumayan yakin kata 'teguh' dan 'jujur' sudah dicoret dari resume kita." Sekalipun ingin menggebuki Ken, Silva mau tak mau sedikit berterima kasih juga.

__ADS_1


~Selanjutnya Silva 3


__ADS_2