Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Silva 2


__ADS_3

Silva terlalu belia untuk mengikuti tempur saat perang saudara pecah, dan dia setengah mati ingin membangun kembali Tentara Kedua. Berkat bahasa Silvalah---dia bisa berbahasa Tonlethom, Knuddelbär, Bärchen, Griech, bahkan sedikit bahasa Zemeni---yang akhirnya menepis keenggangan Lita. Dia mengizinkannya untuk mendampinginya ke Pulau Mudik beserta seregu Penguji Knoulbar. Mereka memasuki kedai minum dan penginapan untuk menguping warga lokal.


    Kalau kalian mau ke Rog Kingston, pastikan kalian pergi saat waktu siang hari. Para roh-roh gentayangan di tengah malam. Penyihir Erra benar-benar ada, sepupuku pernah masuk ke dalam sana, dan dia bersumpah masih sehat walafiat sejak itu. Perkataannya jauh lebih dipercaya daripada perkataan kalian.


    Mereka menemukan dua keluarga Knoulbar yang sedang bersembunyi di Pulau Mudik. Mereka bahkan menggerebek kapal pedagang budak, dan ketika para pengungsi dipilah-pilah, yang tidak sakti dibiarkan pulang dengan selamat, sedangkan yang sakti dengan senang disambut pulang ke Juwel. Yang hanya memilih bertahan di Pulau Mudik adalah Penyihir Enchanter. "Biarkan saja mereka menginginkan darahku," kata perempuan itu. "Sebagai gantinya, akan kuambil juga sebagian darah mereka."


    Silva fasih berbahasa Knuddelbär, dan julukan baru yang ia buat sendiri---Penyihir Enchanter, menyandang identitas baru di tiap kota. Sekian banyak keberhasilannya tidak lantas membuat Lita senang. "Kemahiran omelan bahasa macam-macam masih belum cukup," katanya. "Kau harus belajar untuk tidak menonjolkan diri, kau terlalu berisik, menggebu-gebu, mudah diingat. Kau terlalu banyak mengambil resiko."


    "Lita," kata Penguji yang adalah rekan seperjalanan mereka. "Maklumi saja." Pria itu adalah penguat gelombang. Ketika ia mati, tulang-tulangnya bisa membuat kesaktian Knuddelbär semakin kuat. Namun, selagi masih hidup, dia berperan penting dalam misi mereka, sebagai seorang penguat Knuddelbär yang terlatih, sentuhannya mampu mendeteksi kesaktian Knuddelbär.


    Lita biasanya keras hati kepada pria itu, tapi kali ini dia justru menyipitkan matanya yang biru. "Guru-guruku tidak pernah memberiku pemakluman. Jika Silva sampai dikejar-kejar oleh sekawan petani yang mengamuk di hutan, akankah mereka memakluminya?"


    Silva lantas bersungut-sungut pergi, harga dirinya terluka, malu karena matanya perih berkaca. Lita membentaknya untuk tidak pergi melewati balik bukit, tapi Silva hanya mengabaikan kata wanita itu, saking ingin jaga jarak sejauh mungkin dengan si Pemanggil Badai---dan langsung memasuki perkemahan Dushenka, Tentara Bärchen. Enam pemuda pirang yang sedang berbicara dalam bahasa Bärchen menggerombol di tebing yang menjulang di atas pantai. Mereka sedang menyalakan api unggun dan berpakaian seperti petani Knuddelbär, tapi Silva semata-mata sudah mengenali mereka. Lama mereka menatapnya.


    "Oh syukurlah," kata Silva dalam bahasa Knuddelbär nan merdu. "Aku terpisah dengan keluargaku, dan aku malah tersesat di hutan ini, bisakah salah satu dari kalian membantuku untuk menemukan jalan?"


    "Sepertinya dia tersesat," kata salah satu pemuda dalam bahasa Bärchen.


    Seorang lagi bangkit sambil membawa lentera di tangannya, dia mendekati Silva. Insting Silva menjerit-jerit menyuruhnya lari. Mereka tidak tahu kau siapa, Silva mengingatkan diri. Kau hanyalah gadis Knuddelbär yang terpisah dari keluarga dan tersasar di hutan. Jangan bertindak bodoh, pancing salah satu untuk menjauhi yang lain, lalu tumbangkan dia.


    "Sedang apa kau di sini?" tanya pemuda itu dalam bahasa Bärchen.


    Silva kenal pemuda yang satu ini, rambutnya yang panjang pirang sewarna emas rupawan, sedangkan matanya yang biru bagaikan es yang berkilauan laksana di bawah sinar mentari musim dingin. Dia adalah orang yang menyelamatkanku dulu. Silva pura-pura kebingungan. "Maaf, aku," katanya dalam bahasa Knuddelbär. "Aku tidak mengerti, aku tersesat."


    Pemuda itu menyerbu. Silva tidak sempat berpikir, dia mengangkat tangannya untuk menyerang pemuda itu, serangannya terlampau cepat. Tanpa banyak keraguan lagi, pemuda itu menjatuhkan lenteranya dan menyambar pergelangan tangan Silva, menjepit kedua tangannya menjadi satu, alhasil tidak bisa menggunakan kesaktiannya.


    "sïqirşi," kata pemuda itu dengan puas. Penyihir. Dia tersenyum sebuas serigala. Serangan tadi hanya sebuah ujian. Gadis Knuddelbär yang tadinya tersesat niscaya menjadi gadis yang ketakutan. Sembrono.


    Itulah sebabnya Lita tidak memperbolehkan Silva ikut dalam setiap misinya. Knoulbar yang memperoleh pendidikan memadai tidak akan pernah melakukan kekeliruan seperti ini. Silva sadar bahwa dirinya itu Tol*l, tapi dia tidak perlu menjadi pengkhianat. Dia memohon-mohon dengan bahasa Knuddelbär, tidak berteriak meminta tolong---bahkan ketika mereka mengikat tangannya, mengancamnya, melemparkannya ke perahu dayung seperti sekarung gandum. Silva ingin menjerit-jerit ketakutan, berharap agar Lita berlari datang untuk menyelamatkannya, memohon pertolongan dari siapa saja. Dushenka mendayung perahunya ke kapal yang dijangkarkan di lepas pantai, Silva dimasukkan ke dalam sel dan, awal ketakutan sesungguhnya bermulai dari saat itu.


    Silva telah masuk ke dalam perut kapal lawan. Dia tidak tahu hari ini siang atau malam, tangannya diikat seerat mungkin agar tidak bisa menggunakan ilmu sihirnya. Dua kali atau satu kali Silva diberi makan roti keras berkutu---pemberian makan itu dalam rangka menyambung nyawa, dan tentunya Dushenka juga harus mengirit air tawar karena mereka tidak tahu kapan lagi mereka akan diberi air minum. Silva kadang bermimpi, di Royalemerald ketika dia dibakar hidup-hidup di api unggun dan terbangun sambil menjerit-jerit. Mimpu buruk, kelaparan, melanda habis pikiran Silva, sampai-sampai dia tidak tahu lagi mana yang nyata dan mana yang tidak nyata.


    Lalu suatu hari, Dushenka berkerumunan di dalam palka, memakai seragam hitam-perak bersih licin, kepala serigala putih tercap di lengan baju mereka. Dushenka berbaris dengan teratur, dan ada salah satu orang yang muncul di tengah-tengah barisan. Seperti biasa, jangkung, tapi berjanggut rapi dan rambut pirang beruban di pelipis. Dia berjalan menyusuri palka, dan berhenti di depan tawanan.


    "Berapa banyak?"


    "Enam belas, Pak," jawab si pemuda berambut emas panjang yang menangkap Silva.

__ADS_1


    Sang komandan berdeham dan menepuk punggung pemuda itu. "Aku Dionisius Rochziskiy."


    Silva merinding ketakutan. Dia merasakan bahwa kengerian merambati seluruh Knoulbar di dalam sel.


    Di sekolah, Silva sempat terobsesi kepada Dushenka, mereka juga mempunyai mimpi buruk: kuda yang mereka biakkan untuk melawan Knoulbar, atau serigala yang jatuh mati berceceran. Itu pula alasan Silva bisa berbahasa Bärchen, dia akan menguntal sebanyak-banyaknya tentang Dushenka, menyempurnakan bahasa Bärchen, mengetahui mengenai budaya, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi mereka. Di antara kaum Dushenka yang Silva pelajari, Dionisius Rochziskiy adalah yang paling ganas.


    Dia adalah legenda, monster yang menanti di kegelapan. Dushenka sudah eksis beratus-ratus tahun yang lalu, tapi ketika Nisius yang mengambil alih pemimpin, kekuatan mereka berlipat ganda dan menjadi jauh lebih mematikan. Dia mengubah gaya latihan hingga ke akar-akar Bärchen. Dan mulai melacak Knoulbar yang tidak ingin ditemukan. Silva berharap kelak dia menghadapi Nisius sebagai pendekar pembalas dendam, tapi dia tidak pernah mengira berhadapan dengan pria itu, melawan anak-anaknya saja tidak tembus.


    Lama dia membisu, baru kemudian berbicara dalam bahasa Knuddelbär yang sempurna. "Di hadapan kalian, berdirilah generasi baru Dushenka, ordo suci yang akan membasmi kaum kalian demi melindungi negeri merdeka Bärchen. Mereka yang akan mengantarkan kalian ke Bärchen untuk disidangkan dan dengan demikian memperoleh gelar perwira. Merekalah yang terkuat dan terbaik di antara kami."


    Penindas, pikir Silva.


    "Kalian akan diadili atas kejahatan kalian."


    "Ampun," kata salah satu tawanan. "Saya hanyalah petani biasa, saya tidak mencelakakan anda, saya tidak berbuat apa-apa."


    "Kau adalah penghinaan bagi Syel," timbal Nisius. "Wabah bagi dunia ini. Katamu kau cinta damai, tapi bagaimana dengan anak-anak yang akan mewarisi kekuatan iblis kalian? Akan kusimpan saja belas kasihanku untuk lelaki dan perempuan tak berdaya yang digilas habis oleh Knoulbar terkutuk."


    Dia kemudian menghadap ke kaum Dushenka. "Kerja bagus, nak," katanya dalam bahasa Bärchen. "Kita akan segera berlayar ke Royalemerald."


    Para Dushenka sepertinya bakal meledak karena saking bangganya. Ketika Nisius keluar dari palka, mereka saling menepuk bahu dengan penuh kasih sayang, sambil tertawa-tawa lega dan puas. "Kerja kita memang bagus," kata salah satu Dushenka. "Enam belas orang Knoulbar kita setorkan ke Royalemerald."


    "Sudah pasti."


    "Bagus, aku bosan mencukur janggut."


    Kemudian salah satu Dushenka bergerak menuju sel tahanan dan menjambak rambut Silva. "Aku suka yang satu ini, masih bagus dan mont*k. Mungkin sebaiknya kita jajal dia."


    Pemuda berambut keemasan menampar tangannya. "Kau ini kenapa?" berbicara untuk pertama kalinya ketika Nisius pergi. Rasa terimakasih dalam hati Silva surut ketika dia mendengar. "Sudikah kau berzina dengan anjing?"


    "Anjing yang seperti apa dulu?"


    Yang lain tertawa terpingkal-pingkal, sementara mereka beranjak ke atas. Silva paling akhir berjalan ke koridor, dan dia berbicara kepada manusia Bärchen dengan bahasanya yang lugas nan sempurna, "Kejahatan apa?"


    Pemuda itu bergeming, dan ketika dia menoleh ke arah Silva, matanya yang kebiruan berkilat-kilat penuh kebencian. Silva pantang berjengit.


    "Bagaimana kau bisa berbahasa kami? Apakah kau belajar di perbatasan Juwel?"

__ADS_1


    "Aku orang Knuddelbär," Silva berdusta." Dan aku ingin tahu kejahatan apa yang kami buat."


    "Lagi-lagi sihir."


    "Benar, kalau yang kau maksud dongeng nenekmu. Kata komandanmu, kami diadili atas kejahatan kami. Kejahatan apa?"


    "Kalian akan dengan segera diadili atas mata-mata dan kejahatan terhadap rakyat."


    "Kami bukan penjahat," kata seorang Acevalin dengan bahasa Bärchen yang terbata-bata dari tempatnya terkulai di lantai. Dia yang paling lama di kapal ini, dan terlalu lemah untuk bangkit. "Kami orang biasa---petani, guru."


    Aku bukan, kata hati Silva. Aku prajurit.


    "Kalian akan diadili, kalian akan diperlakukan lebih adil daripada yang layak kalian terima."


    "Berapa banyak Knoulbar yang dinyatakan tak bersalah?"


    Sang Acevalin mengerang. "Jangan memanas-manasinya. Kau tak akan membuatnya berubah pikiran."


    Namun, Silva malah menggenggam jerujinya erat-erat dan berkata, "Berapa banyak Knoulbar yang dinyatakan tak bersalah?"


    Pemuda itu malah memunggungi Silva.


    "Tunggu! Kumohon! Tolong... tolong beri kami air. Akankah kau memperlakukan anjingmu seperti ini?"


    Pemuda itu terdiam, tangannya terulur ke pintu. "Aku seharusnya tidak berkata begitu. Paling tidak, anjing bersifat loyal. Loyal kepada kaumnya. Memanggil kalian anjing adalah penghinaan terhadap anjing."


    Akan kuumpankan kau kepada sekawan anjing yang lapar, pikir Silva. Ketika itu, dia semata-mata berujar, "Air. Kumohon."


    Pemuda itu berjalan menuju ke atas dan terdengar tutupan pintu.


    "Jangan buang-buang napasmu, dia tidak akan berbaik hati kepadamu," kata sang Acevalin.


    Namun, tak lama berselang, Dushenka kembali ke bawah sambil membawa cangkir dan seember air tawar kepadanya. Dia meletakkan ke dalam jeruji dan menutupnya keras-keras tanpa sepatah kata pun. Silva membantu sang Acevalin minum, lalu meneguk secangkir air juga.


    "Aku rela membunuh supaya dibolehkan mandi,"  kata Silva. "Kau boleh memandikanku."


    "jangan bicara kepadaku," geramnya dan sudah beranjak ke pintu.

__ADS_1


    Dia tidak kembali sejak itu, dan mereka tidak memperoleh air minum selama tiga hari. Tapi ketika badai melanda, jam rubah itu datang menyelamatkan nyawa Silva.


~Selanjutnya Silva 3


__ADS_2