
Kabut keruh terbentuk di sela kedua tangan Tera.
Reyn terkesiap. "Apakah itu bijih besi?"
Tera mengangguk. Dia bisa merasakan keringat yang mengumpul di alisnya.
"Bisakah kau meleburkan terali?" kata Ken di sampingnya.
"Jangan tol*l," gerutu Tera. "Tidakkah kau lihat betapa tebalnya ini?" Nyatanya, sekalipun terali yang dia pegangi memang kelihatan tak berubah, dia sudah menarik cukup banyak besi dari sana sehingga kabut di sela tangannya hampir hitam. Tera menekuk ujung-ujung jarinya dan berputarlah partikel-partikel tersebut, berpuntir kian padat dan kian terkonsentrasi.
Tera menurunkan tangan dan jatuhlah jarum ramping ke lantai disertai denting nan merdu.
Reyn memungut jarum itu, lalu mengangkatnya sehingga cahaya mengilaukan permukaannya yang buram.
"Kau Fabrikator," kata Reader muram.
"Cuma sedikit."
"Ya atau bukan, titik," kata Reyn.
"Ya, aku Fabrikator." Dia menuding Reyn. "Dan kau harus tutup mulut soal itu sekembalinya kita ke Moontown."
"Tapi, kenapa kau berbohong---"
"Aku suka berkeliaran bebas di jalanan," kata Tera. "Aku tidak mau terus khawatir kalau-kalau diculik oleh pedagang budah atau dihukum mati oleh bedeb*h macam teman kita Van ini. Lagi pula, aku punya keterampilan lain yang lebih mendatangkan kegembiraan dan keuntungan daripada ini. Banyak keterampilan lain."
Reyn terbatuk-batuk. Main mata dengan Reyn barangkali lebih mengasyikkan alih-alih menjengkelkan, tapi bedanya tidak jauh.
"Silva tahu kau Knoulbar?"
"Tidak dan dia tidak boleh tahu. Aku tidak perlu dikuliahi supaya bergabung dengan Tentara Kedua dan tujuan perjuangan Juwel yang mulia."
"Lakukan lagi," potong Ken. "Dan bergegaslah."
Tera mengulangi upayanya di terali lain.
"Kalau rencanamu ini, apa gunanya coba-coba menyeludupkan pencongkel kunci?" tanya Reyn.
Ken bersedekap. "Pernah dengar tentang pria sekarat yang diberi tahu oleh medik bahwa dia sembuh secara ajaib? Dia berjingkrak-jingkrak ke jalan dan lantas mati tertabrak kuda. Kau harus membiarkan sasaran merasa bahwa dia sudah menang. Sempatkah penjaga mengamati Reader dan bertanya-tanya kenapa dia tampak tidak asing? Apakah mereka mencari ulah ketika parafin menguncur dari lengan Tera selagi dia mandi? Tidak, mereka terlalu sibuk memuji diri sendiri karena berhasil memergoki aku. Mereka mengira sudah menetralkan ancaman."
__ADS_1
Ketika Tera selesai, Ken memegang dua batang pencongkel kunci ramping di sela-sela jemarinya. Aneh rasanya melihat pemuda itu bekerja tanpa sarung tangan, tapi beberapa saat berselang, gembok sudah terbuka dan terbebaslah mereka. Begitu mereka keluar, Ken menggunakan perkakas yang sama untuk mengunci pintu di belakang mereka.
"Kalian tahu tugas kalian masing-masing," bisik Ken. "Reyn dan aku akan mengeluarkan Silva dan Krista. Tera, kau dan Reader---"
"Aku tahu, mengambil tambang sebanyak yang bisa kami temukan."
"Di dencing setengah jam, kalian harus sudah di ruang bawah tanah."
Mereka berpencar. Roda-roda rencana mulai berputar.
Menurut denah Reyn, istal berdiri di sisi lapangan pos jaga, maka mereka harus berputar balik melalui area penahanan. Secara teoretis, area penahanan hanya ramai ketika para tahanan sedang diproses untuk dimasukan atau dikeluarkan, tapi mereka tetap mesti hati-hati. Rencana mereka bisa buyar hanya gara-gara seorang penjaga iseng. Bagian yang paling mencekam adalah menyusuri titian di samping kurungan kaca, sebab mereka bisa saja kelihatan dari balik hamparan panjang itu. Tak ada yang mereka perbuat selain mengharapkan kemujuran dan maju terus. Kemudian mereka menuruni tangga dan berbelok ke kiri ruangan tempat sang Knoulbar penguat gelombang nan malang mengujinya. Tera harus menahan diri agar tidak bergidik. Walaupun parafin di lengannya selalu manjur di sarang perjudian, jantungnya masih berdebar-debar kencang saat dia menghadap wanita itu tadi. Sang perempuan tua tinggal tulang berbalut kulit, kurus kering dan hampa. Demikianlah nasib yang menimpa Knoulbar bilamana mereka terpergok di tempat yang keliru pada saat yang keliru---hukuman seumur hidup sebagai budak atau malah yang lebih buruk lagi.
Ketika Tera mendorong pintu istal hingga terbuka, dia spontan merasa santai. Bau jerami, hewan yang bergerak-gerak di dalam bilik, dan ringkikan kuda memunculkan kenangan akan Ru Kraina. Di Moontown, kereta kuda dan gerobak tidak diperlukan karena ada kanal-kanal. Kuda adalah barang mewah, tanda prestise yang menunjukkan bahwa kita mempunyai ruang dan harta untuk memelihara hewan tersebut. Tera tidak menyadari betapa dia rindu berada di dekat hewan.
Namun, tiada waktu untuk bernostalgia atau mampir untuk mengelus-elus hidung selembut beledu. Tera melewati bilik-bilik dan masuk ke ruang perlengkapan. Reader menyangkutkan gulungan tambang mahabesar ke bahu kanan-kirinya. Dia tampak terkejut saat Tera ternyata mampu mengangkut dua untai tambang juga.
"Tumbuh besar di pertenakan," Tera menjelaskan.
"Tidak kelihatan dari penampilanmu."
"Betul, aku krempeng," kata Tera sementara mereka bergegas-gegas melalui istal untuk keluar lagi, "tapi aku relatif kering sewaktu kehujanan."
"Air hujan yang membasahiku lebih sedikit daripada yang membasahi orang bertubuh lebih besar."
"Apa semua rekan Ken seaneh kru yang sekarang?" tanya Reader.
"Oh, coba kau bertemu para anggota Geak yang lain. Mereka membuat kami terkesan bak orang Bärchen."
Mereka melewati ruangan pancuran dan, alih-alih maju terus untuk turun ke tangga spiral sempit dan kemudian menyusuri koridor gelap panjang yang menuju ke ruang bawah tanah. Mereka kini berada di bawah penjara utama, blok sel sebanyak lima lantai, sejumlah besar narapidana, dan para sipir bertumpuk-tumpuk di atas mereka.
Tera mengira para anggota kru yang lain sedang di ruang cuci besar untuk mengumpulkan bahan-bahan peledak. Namun, yang dia lihat hanyalah bak timah raksasa, meja panjang untuk melipat, dan pakaian yang dijemur di rak-rak yang lebih tinggi daripada dirinya.
Mereka mendapati Reyn dan Krista di ruang pembuangan. Ruangan itu lebih kecil daripada ruang cuci dan berbau sampah. Dua tong besar berisi pakaian buangan berdiri merapat ke satu sisi dinding, siap untuk dibakar. Tera merasakan panas yang menguar dari tungku pembakaran begitu mereka masuk.
"Ada masalah," kata Reyn.
"Separah apa?" tanya Reyn sambil menjatuhkan dua gulung tambang ke lantai.
Krista melambai ke sepasang pintu logam besar di pangkal cerobong raksasa yang menyembul dari dinding dan terjulur sampai ke langit-langit. "Kuperkirakan mereka menyalakan tungku pembakaran siang hari ini."
__ADS_1
"Katamu tungku pembakaran dinyalakan pagi hari," kata Tera kepada Reader.
"Dulu begitu."
Ketika Tera mencengkeram gagang pintu berlapis kulit dan bau tajam batu bara---dan yang lain, bau kimiawi, mungkin zat mereka tambahkan supaya api lebih panas. Baunya tidak bacin. Ke sinilah semua sampah dari penjara dibuang---sampah dapur, berember-ember kotoran manusia, pakaian yang dilucuti dari tahanan, tapi apa pun yang ditambahkan oleh orang-orang Bärchen bukan saja mampu menghasilkan api yang lebih panas tapi juga mengusir habis bau yang tidak enak. Tera mencondongkan badan ke depan, sudah mulai berkeringat. Jauh di bawah, dia melihat batu bara tungku pembakaran, yang sudah dikesampingkan tapi masih berpendar merah menyala.
"Reyn, ambilkan pakaian dari salah satu tong," kata Tera.
Tera menyobek sebelah lengan baju dan melemparkannya ke dalam cerobong. Kain tersebut jatuh tanpa berbunyi, terlalap api di tengah udara, dan terbakar hingga tak bersisa bahkan sebelum mendarat di batu bara.
Dia menutup pintu dan melemparkan sisa pakaian kembali ke tong. "Wah, peledakan batal, kalau begitu," kata Tera. "Kita tidak mungkin membawa bahan peledak ke dalam sana. Masih bisakah kau memanjat?" tanyanya kepada Krista.
"Mungkin, entahlah."
"Apa kata Ken? Di mana Ken, omong-omong? Dan di mana Silva?"
"Ken belum tahu tentang tungku pembakaran," kata Krista. "Dia dan Silva sedang menyusuri sel-sel atas."
Pelototan Reader sekelam langit mendung yang hendak menumpahkan hujan deras. "Tera dan aku yang seharusnya pergi dengan Silva."
"Ken tidak mau menunggu."
"Kami tepat waktu," kata Reader marah. "Apa yang dia rencanakan?"
Tera mempertanyakan hal yang sama. "Dia akan naik-turun tangga lima lantai sembari menghindari patroli?"
"Aku barangkali sempat mengungkit-ungkit itu kepadanya," kata Krista. "Selalu membuat kejutan, ingat?"
"Seperti sekawan tawon. Aku sungguh berharap semoga kita semua tidak terkena sengat."
"Krista," panggil Reyn dari tong. "Ini pakaian kita."
Reyn merogoh ke dalam dan mengeluarkan sandal kulit kecil Krista satu-satu.
Senyum menyilaukan merekah di wajah Krista. Sedikit keberuntungan, akhirnya. Ken tidak membawa tongkat. Tera tidak membawa pistol. Dan Krista tidak membawa pisau. Namun, setidaknya gadis itu punya sandal ajaib.
"Bagaimana menurutmu, Kucing? Bisakah kau memanjat?"
"Bisa."
__ADS_1
Tera mengambil sepatu dari Reyn. "Kalau aku tidak takut ini membawa kuman penyakit, akan kucium sepatu Krista lalu kucium kau," kata Tera kepada Reyn.