
Sebelum Krista menginjak kaki di tambang tali yang tinggi atau bahkan berlatih meniti tali, ayahnya pernah mengajarinya jatuh. Yakni sambil melindungi kepala dan jangan melawan momentumnya sendiri. Ketika Krista terhempas dari ledakan bom, dia justru menekuk lututnya sehingga membentuk bola. Krista memang terbanting dahsyat di tanah, tapi dalam hitungan detik ia langsung bangkit berdiri, berlindung di balik peti, dan mencium bau tajam bubuk mesiu.
Krista melirik Ken sekilas saja, lalu melakukan keahliannya---menghilang. Dia melompat ke tiap peti-peti kargo dan memanjat kisi-kisi bangunan. Saking lincahnya dengan cepat ia sampai di atap.
Kondisinya sangat buruk, pemandangan dari atas ternyata sangat mengkhawatirkan. Geak kalah jumlah, dan mereka dikepung dari kanan-kiri oleh banyak orang. Ken benar sudah merahasiakan poin asli keberangkatan mereka dari yang lain. Seseorang telah membuka mulut. Krista melihat semuanya dari atas, tapi dia tidak melihat sosok mata-mata, pasti ada pemata-mata yang memantau gerak-gerik mereka. Ken pernah bilang, Moontown bocor sana-sini, bahkan di dalam Geak.
Seseorang telah menembak dari tiang layar, mudah-mudahan itu menandakan kehadiran Tera di septicaye yang asli, dan Krista tinggal mengulur-ulur waktu supaya mereka berhasil menuju ke kepal.
Krista berlari di atap dengan ringan dan melompat menyusuri deretan kontainer sambil memilih sasaran target. Ternyata mudah. Tak satu pun dari atas yang menandakan ancaman baginya, Krista melompat turun ke tanah di samping dua orang yang sedang menembaki Silva. Mengucapkan doa sambil menggorok leher seseorang, lalu berikutnya. Ketika pria kedua ambruk, Krista menundukkan kepalanya untuk berlindung dan menyingsingkan lengan kanan pria itu. Tato tangan yang berukir elemen es, Es Death. Apa ini kegiatan balas dendam atas konflik Ken dengan Deal, apakah yang lain? Tapi seharusnya tidak sebanyak ini.
Krista lalu beranjak ke peti berikutnya sambil mengingat-ingat lokasi musuh yang dia lihat dari atap tadi. Pertama-tama dia menumbangkan wanita yang membawa senapan besar tak praktis, kemudian melesat ke arah lelaki yang seharusnya melindungi perempuan tadi. Tato si laki-laki bergambar Singa sedang mengaung, Lionolbars, yang berarti singa. Berapa banyak geng yang sedang mereka hadapi?
Krista mulai ingin beranjak ke peti berikutnya. Dalam pandangannya dia tidak bisa melihat dari tempatnya, apakah harus menaiki deretan kontainer lagi, atau lari ke depan dengan ancaman terpergok? Tarik napas dalam-dalam dan berlarilah Krista ke depan, malam ini Kaum Kudus melindunginya. Ada dua orang yang sedang menembak di belakangnya, dengan cepat Krista mengeluarkan dua pisau untuk menghabisi keduanya dalam sekejap. Sudah Enam jasad, enam nyawa yang Krista cabut malam ini, sehabis peperangan ini, Krista harus banyak-banyak menebus dosanya.
Sesudah itu, Krista mengusap pisaunya ke peti tempatnya berlindung dan mengembalikannya ke wadah masing-masing. Krista harus melompat ke sisi kontainer untuk melanjutkan arahnya, dia mundur ke belakang untuk mengambil ancang-ancang, lantas berlari ke kargo kontainer terdekat. Sementara itu, jari-jemarinya menempel ke pinggiran kontainer, dia bisa merasakan rasa ngilu yang menusuk-nusuk di lengan bawah kirinya. Ketika Krista menoleh, masih saja sempat melihat muka jelek Roger yang menyeringai, si kikuk centeng Deal.
Roger menarik Krista ke bawah sambil memuntirkan satu buah pisau yang menyebabkan tusukan di samping tubuhnya. Krista berjuang untuk tidak pingsan dalam keadaan ini, dia memutar diri ke belakang dan mulai terasa rasa sakitnya. Roger berseru. "Aku menangkap kucingnya Lunark!"
"Kau seharungnya membidikku ke atas sedikit, jantungku tidak kena."
"Jangan sampai mati, Kucing," kata Roger. "Kau tangkapan yang sangat berharga. Aku tak sabar mendengarkan ceritamu tentang informasi si B*jing*n Krisbow. Aku suka cerita yang seru."
"Aku tahu akhir cerita ini," kata Krista terputus-putus. "Tapi, ketika aku menceritakannya kepadamu, kau tidak akan menyukainya."
"Masa?" Pria itu membanting Krista ke peti, lantas sekujur tubuhnya dirambati rasa sakit. Krista berjingkat saat darah menguncur di samping badannya. Lengan Roger mengimpit ke badanya, memiting kedua lengannya.
"Apakah kau tahu rahasia untuk melawan kalajengking?"
Roger tertawa. "Mengoceh omong kosong Kucing? Jangan mati duluan, akan kami perban kau nanti."
Krista meluruskan kaki kanannya ke samping dan melututkan kaki kirinya, serta-merta mendengar bunyik klik yang menenangkan. Sepatunya bukan hanya dipasangi bantalan untuk memanjat dinding, tapi ujung sepatunya sekaligus telah dihuni satu bilah pisau kecil.
"Rahasianya adalah," sengal Krista. "Selalu awasi ekor kalajengking tersebut." Dia menghujamkan kaki ujungnya ke atas, alhasil menerbitkan luka sama di samping tubuh Roger, pria itu memekik dan melepaskan Kirsta. Tanganya menekan di sela-sela lengannya.
__ADS_1
Krista terhuyung-huyung ke belakang dan bersandar ke peti. Dia merasakan tanganya basah karena terlalu banyak darah yang keluar. Dia tidak bisa memanjat, tidak kalau luka seperti ini, tidak kalau dirinya kehilangan darah sebanyak ini. Krista bisa mendengar suara tembakan yang bergemuruh, teriakan khalayak, siapa yang menang? Apakah mereka sudah berada di sekunar? Pikiran Krista campur aduk.
Dia teringat sewaktu ayahnya memberdirikannya di atas tangga tali, panjat, Krista. Kontainer bertumpuk seperti piramida di sebelah sini, andaikan saja bisa memanjat sekali saja, dia akan bersembunyi di balik kargo tingkat pertama, sekali saja. Pilihanya hanya memanjat atau berdiri di tempat dan mati. Dengan kekuatan tekad, Krista mengerahkan seluruh kekuatnya, mencoba untuk bangkit dan bertumpu ke peti yang ia sandari. Krista berusaha menjernihkan pikirannya, panjat Krista. Ujung jemarinya mencengkeram di kontainer, sedangkan kakinya terpeleset licin berusaha untuk naik.
Senangnya kalau bisa berbaring di sini saja, tapi Krista tahu kalau dia meninggalkan jejak darah, dia harus naik sekali lagi. Sekali lagi saja, lalu kau akan aman, pikirnya. Dia memaksa diri untuk berlutut dan menuju ke kontainer berikutnya. Dengan bantuan sisi samping kontainer, Krista sedikit terbantu dan mendengar kalau logamnya sedang bergetar.
"Ayo turun Kucing."
saat Krista sepenuhnya berdiri, ujung jemarinya kembali memegangi puncak kontainer untuk naik ke atap timah. Mengabaikan rasa ngilu yang kian lama semakin sakit saja. Ketika Kontainer pertama roboh sebab gaya gesek yang Krista timbulkan, membuatnya bergelantung tanpa daya. Orang-orang yang di bawah tidak menembakinya, mereka menginginkannya hidup-hidup.
"Ayo turun Kucing, kami ingin berbagi informasi."
Krista berbaring lagi di atas kontainer yang amat nyaman tapi bukan berarti lega. Sekali lagi, namun dia tidak sanggup. Tak sanggup untuk sekadar berlutut, tak sanggup untuk mengangkat tangannya, bahkan tak sanggup berguling. Badannya terlampau kesakitan, dia hanya bisa berkomat-kamit, panjat, Krista.
"Aku tak bisa, Papa," bisiknya. Saat ini, sekalipun dia pantang menyerah mengecewakan ayahnya.
Bergerak, perintahnya kepada diri sendiri. Bodoh kalau mati di sini. Namun demikian, mati di tempat lain bisa saja tambah lebih bodoh. Dia akan mati di sini dalam keadaan bebas. Dia akan mati setelah bertarung dengan layak, bukan karena pria bosan bersamanya atau menuntut lebih daripada yang mampu dia berikan. Lebih baik mati di sini karena bilahnya sendiri dengan wajah yang berias dan kain sutra palsu.
Krista mendadak merasakan mata kakinya dipegangi. Apa mereka menaiki kontainer? Kenapa dia tidak mendengar mereka? Apakah kesadarannya sudah pupus sejauh itu? Mereka berhasil menangkapnya, seseorang lantas memutar Krista hingga terlentang.
"Jangan dulu, Krista."
Suara mirip gesekan daun kering. Matanya sontak terbuka. Ken.
Pemuda itu memeluk Krista erat-erat, lantas terjatuhlah mereka berdua, memaksa kaki pria itu untuk menahan bobot badan satu orang. Krista mengerang saat mereka menapak ke tanah.
"Apa kita menang?"
"Aku ada di sini."
Ken pasti berlari. Seiring tiap ayunan langkahnya, tubuh Krista yang berguncang-guncang nyeri menumbuk dadanya. Dia tidak bisa mengunakan tongkatnya selagi mengendong Krista.
"Aku tidak mau mati."
__ADS_1
"Akan aku usahakan semaksimal mungkin."
Krista memejamkan mata.
"Terus berbicara, Kucing. Jangan enyah dariku."
"Tapi itu keahlianku."
Ken mendekapnya semakin erat. "Pokoknya bertahanlah sampai kita ke sekunar, buka mata sialanmu itu."
Krista mencoba, pengelihatannya mengabur, namun dia menangkap parut pucah di leher Ken, tepat di bawah rahang pemuda itu. Dia teringat pertama kali ketika melihatnya di Cerveny, Ken membayar Nyonya Lois untuk informasi yang ia dapatkan. Ken tidak pernah menyambangi gadis-gadis Lois, sekalipun banyak di antara gadis-gadis yang mengajaknya dengan senang hati untuk masuk ke dalam kamar. Menurut mereka, Ken terlihat seperti iblis karena banyak tumpahan darah permanen di tangannya. Tapi Krista bisa melihat kalau gadis-gadis itu ada hawa gairah dalam suara mereka dan tatapan mereka yang tak lepas dari pemuda itu.
Sewaktu malam, ketika Ken melintas di ruang tamu Cerveny, Krista bertindak tol*l dan gegabah. "Aku bisa membantumu," bisiknya. Ken meliriknya, lalu maju terus mengabaikan Krista seolah-olah tidak mengatakan apa-apa. Keesokan paginya, Krista di panggil ke ruang kantor Nyonya Lois, dia yakin kalau dirinya lagi-lagi akan kena hajar atau ganjaran lain yang lebih buruk, tapi dia malah justru melihat Ken Lunark yang berdiri sambil bertopang ke tongkat berkepala rubah, sedang menanti untuk mengubah hidupnya.
"Aku bisa membantumu," sekarang Krista mulai berbicara.
"Membantuku bagaimana?"
Krista tidak ingat. Ada yang harus dia sampaikan kepada Ken, tapi entah apa, pokoknya, tidak penting.
"Bicaralah kepadaku, Kucing, ayo jawab."
"Kau kembali menjemputku."
"Aku akan melindungi investasiku."
Investasi. "Syukur kalau darahku menodai bajumu."
"Kalau begitu akan kumasukkan ke dalam persatuanmu."
Sekarang dia ingat kalau Ken berutang permohonan maaf kepadanya. "Bilang maaf."
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Katakan saja."
Krista tak mendengar kata pemuda itu, dunia keburu menjadi gelap gulita.