
Saat mereka mengucap selamat tinggal kepada awak kapal, langit sudah berubah menjadi merah keemasan.
"Sampai bertemu di pelabuhan Üdeshleg," kata Aye. "Come as blossom."
"Or goes as blossom," yang lain menanggapi. Orang-orang aneh.
Ken diam seribu bahasa mengenai metode persis untuk mendatangi Erikson dan kemudian keluar dari Royalemerald sambil membawa serta sang ilmuwan, tapi dia menegaskan bahwa misinya telah dia raih, salah satu jalannya hanyalah septicaye. Kapal itu membawa berkas-berkas Kalterville dan memperoleh izin untuk mengangkut bulu dan barang-barang dari Bärchen ke Zierfoort, sebuah kota pelabuhan di Kalterville selatan.
Mereka mulai jalan ke pesisir berbatu-batu ke arah tebing. Musim semi tengah menjelang, tapi karena tanah masih bersalju tebal, sukar untuk mendaki. Setiba di puncak, mereka sudah tersengal-sengal dan beristirahat sejenak semestinya. Septicaye masih kelihatan di cakrawala, layarnya yang terkembang ditiup angin yang menampar pipi mereka.
"Demi Dewi Shi," kata Krista. "Kita benar-benar melakukan ini."
"Berhari-hari aku merana, berharap bisa turun dari kapal itu," kata Tera. "Kenapa aku tiba-tiba merindukannya."
Reyn menjejak-jejakkan sepatu botnya. "Mungkin gara-gara kaki kita serasa hampir beku."
"Ketika kita mendapatkan uang, kau boleh membakar kairo untuk menghangatkan kakimu," ujar Ken. "Ayo jalan." Pemuda itu meninggalkan tongkat rubahnya di kapal septicaye dan mengganti tongkat yang kurang mencolok. Tera dengan pilu meninggalkan revolvernya yang bergagang mutiara dengan pistol tak bermodif dan tak berornamen, begitu juga dengan Krista meninggalkan pisau-pisau dan belati-belati yang tiada duanya. Pilihan yang praktis, tapi Reader tahu bahwa jimat mengandung kekuatan.
Tera membuka kompas dan mereka berbelok ke selatan, mencari jalur setapak menuju ke perdagangan utama. "Akan kuupah seseorang untuk membakar kairoku."
Ken melaju menjajarinya. "Kenapa kau tidak mengupah seseorang, agar mengupah seseorang untuk membakar kairomu? Itulah yang dilakukan oleh para pembesar."
"Kau tahu apa yang dilakukan bos besar tulen? Dia akan mengupah seseorang agar mengupah seseorang untuk mengupahi---"
Suara mereka kian lirih sementara mereka kian jauh di depan, dibuntuti oleh Reader dan yang lain. Tapi, menyempatkan diri untuk melirik ke balik bahu untuk melihat Septicaye yang semakin menciut.
Reader sedikit bersimpati, tapi sepanjang perjalanan pagi itu, dia harus mengakui bahwa dia senang melihat tikus-tikus kanal menggigil dan kesusahan. Mereka mengira sudah mengenal hawa dingin, tapi kawasan putih utara dapat meninju orang untuk putar balik. Mereka terseok-seok dan tertatih-tatih kagok dengan sepatu bot baru mereka, berusaha mencari-cari cara berjalan di salju dangkal, dan tidak lama berselang, Reader sudah memimpin, menentukan kecepatan rombongan, sekalipun Tera terus mengamati kompas agar mereka tidak salah arah.
"Keenakan..." Reader terdiam dan memberi isyarat kepada Reyn. Dia tidak mengetahui Bahasa Kalteville untuk "kacamata" atau bahkan "salju". Keduanya bukan istilah yang lumrah diucapkan di penjara. "Tutupi matamu. Kalau tidak, nanti rusak permanen." Orang-orang bisa buta sejauh ini di utara; mereka kehilangan bibir, kuping, hidung, tangan, dan kaki. Namun, kawasan ini terlihat cantik bagi Reader. Jiwa Syel terkandung di dalam es. Asalkan kita mesti tahu untuk melihat ke mana.
Reader maju terus, hampir-hampir merasa damai, seolah-olah di sini Syel bisa mendengarnya dan menenangkan benaknya yang risau. Es menghadiri benaknya yang lama semasa kanak-kanak, mengingatkannya akan pengalaman berburu bersama ayahnya di kampung halaman. Mereka sigap beradaptasi. Ketika matahari mulai terbenam, mereka memakan dendeng sapi dan roti, kemudian terkapar di tenda masing-masing tanpa sepatah kata pun.
Keesokan harinya, suasana tenang dan damai pupus di dalam hati Reader. Karena mereka sudah meninggalkan kapal dan awak kapal, serta Ken menyimpulkan bahwa sudah saatnya mengupas rencana secara terperinci.
"Kalau kita dengan betul menjalankannya, kita pasti bisa masuk dan keluar dari Royalemerald bahkan sebelum orang-orang Bärchen menyadari bahwa sang ilmuwan tangkapan telah lenyap," kata Ken saat mereka menyandang tas masing-masing ke pundak dan kembali bergerak ke selatan. "Ketika kita masuk ke penjara, kita akan dibawa ke area penahanan di bawah blok sel laki-laki dan perempuan untuk menanti vonis. Jika perkataan Reader benar, di sana nanti akan ada penjaga yang menghitung jumlah tiga kali sehari. Begitu kita keluar dari sel tersebut, kita semestinya punya waktu sekurang-kurangnya enam jam ke kedutaan, mencari Erikson di Pulau Putih, lalu mengeluarkannya dan membawa pergi ke pelabuhan sebelum ada yang tahu bahwa kita sudah hilang."
"Bagaimana dengan terdakwa lain di sel tahanan sementara?" tanya Reader.
"Sudah kami atur."
Reader merengut, tapi dia tidak terkejut. Begitu Ken dan rombongan masuk ke dalam sel tahanan sementara, mereka akan berada di bagian yang paling sensitif. Untuk mengandaskan rencana mereka, Reader tinggal memberi tahu penjaga saja. Itulah yang akan dipilih Nisius, yang niscaya dipilih oleh seorang lelaki terhormat. Sebagian diri dari Reader meyakini bahwa sepulang ke Bärchen, akal sehatnya akan pulih dan akan memperoleh kekuatan untuk mencampakkan misi sinting ini; tapi dia justru merindukan rumah, kian mendambakan kehidupan lamanya di antara saudara-saudara seperjuangannya kaum Dushenka.
"Begitu kita keluar dari sel," lanjut Ken, "Reader dan Tera akan mengambil tambang dari istal, sedangkan Reyn dan aku akan mengeluarkan Silva dan Krista dari sel tahanan perempuan. Kita berkumpul di ruang bawah tanah. Di sanalah ruangan tungku berada, dan ruang cuci semestinya kosong juga selepas ditutup malam-malam. Sementara Krista memanjat, Reyn dan aku akan menyisir ruang cuci kalau-kalau ada bahan yang bisa dibuat untuk peledak. Dan untuk berjaga-jaga siapa tahu kalau orang-orang Bärchen mengurung Erikson di penjara dan memudahkan pekerjaan kita. Silva, Reader, dan Tera akan melakukan pencarian di sel-sel di lantai teratas."
"Silva dan Reader?" tanya Tera.
"Reader mengetahui prosedur di penjara, sedangkan Silva bisa mengatasi sipir mana saja tanpa ribut-ribut. Tugasmu adalah mencegah mereka berdua saling bunuh."
"Karena aku seorang wakil di dalam regu ini?"
"Di dalam regu ini tidak ada wakil. Nah, simak baik-baik," kata Ken. "Penjara yang sebenarnya tidak sama dengan area penahanan sementara. Patroli berkeliling setiap dua jam sekali, dan jangan sampai alarm berbunyi, jadi main cerdiklah. Segalanya kita koordinasikan berdasarkan dentang jam Bärchen---"
"Ghantaclock," kata Reader. Lebih layak jika dipanggil namanya dari pada jam Bärchen.
__ADS_1
"Ghantaclock," ulang Ken. "Enam dentang, kita harus sudah keluar dari sel. Delapan dentang, kita sudah menaiki cerobong asap dan sampai di atas. Tanpa terkecuali."
"Kemudian apa?"
"Kita menyeberang ke atap sektor kedutaan dan dari sana, cari akses ke jembatan kaca."
"Dengan begitu kita akan meminta pos pemeriksaan," kata Reader. "Para penjaga akan mengasumsikan bahwa kita masuk melalui gerbang kedutaan dan bahwa kalau berkas-berkas kita sudah dicek di depan."
Reyn mengerutkan kening. "Sambil berseragam penjara?"
"Tahap dua," kata Tera. "Penyamaran."
"Betul," kata Ken. "Krista, Silva, Reader, dan aku akan meminjam baju ganti dan extra embel-embel untuk teman baru kita nanti, Erikson. Begitu kita menemukannya, kita langsung ke kedutaan. Silva kalau ada waktu, rombak wajahnya sebisa mungkin. Meski begitu, jangan sampai membunyikan alarm peringatan, Erikson orang Kuwei dan kemunculan orang Kuwei di tengah-tengah tamu pasti takkan digubris oleh siapa pun."
Kecuali kalau Reader berhasil mendatangi sang ilmuwan duluan. Jika dia sudah mati duluan, Ken tidak akan menuduh Reader bertanggung jawab. Dia tetap akan mendapatkan surat pengampunan.
"Dari penjelasan barusan," tukas Tera, "aku menarik kesimpulan kalau aku tercantol berduaan dengan Reyn."
"Ya, kecuali kau mendadak punya pengetahuan kamus mengenai Pulau Putih, kemampuan membobol kunci, memanjat dinding yang tidak bisa dipanjat, atau mengorek informasi rahasia dari pejabat tinggi. Lagi pula, aku ingin bom dirancang dua orang."
Tera memandang pistolnya penuh sesal. "Sayang potensi bakat yang lain tidak dimanfaatkan."
Silva bersekedap. "Anggap saja semua berjalan sesuai rencana. Lantas bagaimana kita keluar?"
"Kita tinggal jalan kaki," kata Ken. "Itulah keindahan rencana ini. Ingat yang kukatakan mengenai sasaran yang meleng? Di gerbang kedutaan, semua mata akan tertuju kepada tamu yang memasuki Royalemerald. Orang-orang yang keluar tidak dianggap membahayakan keamanan."
"Kalau begitu, bom untuk apa?" tanya Reyn.
Reader memegangi kepalanya dengan kedua tangan, membayangkan kericuhan di ibukota yang akan diciptakan oleh jiwa-jiwa rendahan ini.
"Cuma seorang tawanan, Reader." kata Ken.
"Dan sebuah jembatan," tukas Reyn.
"Dan apa yang semestinya kena ledakkan kita di tengah-tengah." imbuh Tera.
"Semuanya tutup mulut," hardik Reader.
Tera mengangkat bahu. "Dasar orang Bärchen."
"Aku tidak suka rencana ini," ujar Silva.
Ken mengangkat alis. "Wah, setidaknya kau dan Van Reader sepakat kejadian yang satu ini."
>><<>><<>><<
Semakin jauh ke selatan mereka berjalan, semakin jauh ke pesisir, lapisan es digantikan oleh hutan hijau, tanah hitam, serta jejak binatang, bukit-bukit kehidupan, bukit-bukit detak jantung Syel. Sementara itu, pertanyaan muncul bertubi-tubi.
"Jumlah menara pengawas Pulau Putih berapa ya?"
"Apa menurutmu Erikson ditahan di istana?"
"Di Pulau Putih ada barak penjaga. Bagaimana kalau dia ditahan di barak?"
__ADS_1
Tera dan Reyn memperdebatkan apa saja yang bisa dijadikan sebagai bahan peledak di ruang cuci tadi dan apakah mereka bisa mengambil bubuk mesiu di kedutaan. Silva coba-coba membantu Krista memperkirakan kecepatan panjat cerobong yang optimal supaya tersisa waktu yang mencukupi untuk mengikat tambang dan menaikkan yang lain ke atas.
Mereka saling uji arsitektur dan prosedur Royal, juga tata letak ketiga pos jaga di tembok terluar, yang masing-masing dibangun di seputar lapangan.
"Pos pemeriksaan pertama?"
"Empat penjaga."
"Pos pemeriksaan kedua?"
"Delapan penjaga?"
"Gerbang di tembok luar?"
"Empat penjaga ketika gerbang sedang tidak dioperasikan."
Mereka seperti Rubah berisik, yang terkekeh-kekeh di telinga Reader: Pengkhianat, pengkhianat, pengkhianat.
"Protokol kuning?" tanya Ken.
"Gangguan di sektor," ujar Krista.
"Protokol merah?"
"Sektor dibobol."
"Protokol hitam?"
"Kita semua celaka?" tanya Tera.
"Kurang lebih begitu," kata Reader merapatkan tudung dan maju sambil tersaruk-saruk. Mereka bahkan menyuruhnya menirukan beragam ritme bel. Memang harus, namun Reader merasa tol*l kala menyuarakan," Bing bong bing bing bong. Tunggu dulu, bukan. Bing bing bong bing bing."
"Ketika aku kaya nanti," kata Tera di belakangnya, "aku akan pergi ke tempat aku tak perlu melihat salju. Kau bagaimana, Reyn?"
"Aku tidak tahu persis."
"Menurutku sebaiknya kau membeli piano emas---"
"Seruling."
"Dan menggelar konser di perahu. Perahu bisa kau parkir di kanal. Di luar rumah ayahmu."
"Silva boleh menyanyi," Krista berujar terkikih.
"Kita berduet saja," ralat Silva. "Ayahmu pasti akan pindah rumah."
Nyanyian Silva memang sumbang. Reader geram karena mengetahuinya, tapi dia mau tak mau menengok ke balik bahu. Tudung Silva telah tersibak ke belekang dan rambutnya yang tebal berombak terurai ke balik kerah bajunya.
Kenapa aku begini terus? Pikir Reader, frustrasi. Di kapal juga sama. Dia sudah menyuruh diri sendiri untuk mengabaikan Silva, tapi sesaat berselang matanya jelalatan sendiri mencari gadis itu.
Namun demikian, berpura-pura bahwa Silva tidak memenangi pikirannya justru bodoh. Dia dan Silva pernah berjalan bersama-sama di wilayah ini. Jika perhitungan Reader benar, mereka terdampar beberapa mil saja dari tempat septicaye menurunkan mereka. Biang keroknya adalah badai, yang bisa dibilang tak kunjung berakhir, tiupan angin dan derasnya hujan sekaligus mendamparkan Silva ke hidupan Reader. Sejak saat itu pulalah dunianya terjungkir balik dan dia merasa hilang keseimbangan.
~Selanjutnya Reader 3
__ADS_1