Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Tera


__ADS_3

Tera ingin mondar-mandir, tapi dia sudah mengamankan lokasi di bangku dan berniat untuk mempertahankannya. Gejolak kecil kegugupan dan antusiasme seakan bergetar di bawah kulitnya, sedangkan Reyn yang duduk di sampingnya sambil terus-menerus mengetuki tempurung lutut sama sekali tidak membantu menenangkan Tera. Menurut Tera, dia tak sanggup lagi menunggu lama-lama. Pertama-tama di kapal, lalu jalan kaki sejauh itu, dan sekarang dia terperangkap di dalam sel sampai para sipir datang untuk menghitung mereka nanti malam.


    Yang memahami luapan energinya yang tak terbatas hanyalah ayahnya seorang. Beliau berusaha mengarahkan Tera agar menggunakan tenaganya untuk bertani, tapi pekerjaan itu terlampau monoton. Universitas semestinya memberi Tera tujuan, tapi dia justru mangkir ke jalan lain. Dia berjengit saat membayangkan apa kata ayahnya apabila beliau tahu bahwa sang putra meninggal di penjara Bärchen. Namun, mana mungkin beliau tahu? Kemungkinan itu terlalu mengenaskan untuk ditekuri.


    Sudah berapa lama waktu berlalu? Bagaimana kalau mereka tidak bisa mendengar Ghantaclock dari dalam sini? Para sipir semestinya menghitung saat enam dentangan. Kemudian Tera dan yang lain punya waktu sampai tengah malam untuk menyelesaikan pekerjaan. Mudah-mudahan. Reader hanya melewatkan tiga bulan penjara. Protokol mungkin saja sudah berubah. Dia mungkin salah memberi informasi. Atau mungkin si orang Bärchen semata-mata ingin kami terkurung di balik jeruji sebelum dia mengadukan kami.


    Namun, Reader kini duduk diam di sisi jauh sel dekat Ken. Tera tentu tidak melewatkan bentrokan kecil Ken dengan si orang Knuddelbär. Ken biasanya berkepala dingin saat melakukan pekerjaan, tapi sekarang dia tegang dan Tera tidak tahu sebabnya. Sebagian diri dari Tera ingin bertanya, tapi dia tahu bahwa yang menginginkan itu adalah bagian yang bodoh, si pemuda desa penuh harap yang memilih orang paling tidak tepat untuk diperhatikan, yang membaca pertanda di sana-sini padahal jauh di lubuk hati dia sadar bahwa semua itu tidak bermakna---ketika Ken memilihnya untuk sebuah pekerjaan, ketika Ken menggubris leluconnya. Ingin rasanya Tera menendang diri sendiri. Dia akhirnya melihat Ken Lunark yang terkenal bereputasi kelam dalam keadaan telanjang bulat tapi justru tidak memperhatikan baik-baik karena terlalu khawatir kalau-kalau dirinya akan menemui ajal di ujung pasak.


    Tapi kalau Tera resah, maka Reyn kelihatannya hendak muntah betulan.


    "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" bisik Reyn. "Apa gunanya pembobol kunci alat congkel?"


    "Diam."


    "Dan apa gunanya kau? Penembak jitu tanpa senjatanya. Kau tidak dibutuhkan dalam misi ini."


    "Ini bukan misi; ini pekerjaan."


    "Reader menyebutnya misi."


    "Dia orang militer, kau bukan. Dan aku sudah dipenjara, jadi jangan goda aku untuk melakukan pembunuhan."


    "Kau takkan membunuhku dan aku takkan berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja. Kita terjebak di sini."


    "Kau memang lebih cocok di dalam sangkar emas daripada di sangkar betulan."


    "Aku meninggalkan rumah ayahku."


    "Ya, kau meninggalkan hidup yang bergelimang kemewahan supaya bisa hidup membanting tulang bersama kami orang-orang sial di Krisbow. Keputusan itu tidak lantas membuatmu menarik, Reyn, cuma bodoh."


    "Kau tidak tahu apa-apa tentang keputusanku."


    "Kalau begitu, ceritakan," kata Tera sambil menoleh kepadanya. "Kita punya waktu. Kenapa Pangeran cilik baik-baik meninggalkan rumah untuk bergaul dengan kaum kriminal?"


    "Kau bertingkah seolah-olah kau lahir di Krisbow seperti Ken, padahal kau bukan orang Kalterville. Kau memilih kehidupan ini juga."


    "Aku suka kota."


    "Di Ru Kraina tidak ada kota?"

__ADS_1


    "Lain dengan Moontown. Pernahkah kau pergi ke mana pun selain ke rumah, Krisbow, dan perjamuan mewah di kedutaan?"


    Reyn berpaling. "Pernah."


    "Ke mana? Ke pinggiran saat musim persik?"


    "Balapan di Carveya. Ladang minyak Kuwei. Kebun arta dekat Shrifport. Weddle. Elling dekat Divayina ke sebelah barat, tahu?"


    "Sungguh?"


    "Ayahku dulu sering mengajakku ke mana-mana bersamanya."


    "Sampai?"


    "Sampai apa?"


    "Sampai. Ayahku mengajakku ke mana-mana sampai aku mabuk laut berat, sampai aku muntah di pesta perkawinan kerajaan, sampai aku coba-coba menggauli duta besar. Tungkai itu yang minta."


    Tera ngakak. "Akhirnya, bernyali juga barang sedikit."


    "Nyaliku besar," gerutu Reyn. "Dan lihat akibatnya---"


    Si penjaga berbicara lagi dalam bahasa Kuwei dan kemudian bahasa Kalterville. "Berdiri."


    "Shimkopper," tagih sang penjaga. Mereka semua memandangnya sambil bengong. "Ember kencing," dia mencoba dalam bahasa Kalterville. "Di mana... dikosongkan?" Dia berpatonim.


    Para tahanan mengangkat bahu dan saling lirik dengan bingung.


    Mimik murung si penjaga menegaskan bahwa dia tidak ambil pusing. Dia mendorong seember air segar ke dalam sel dan kemudian membanting jeruji hingga tertutup.


    Tera merangsek maju dan menenggak air banyak-banyak dari cangkir yang diikat ke gagang ember. Sebagian besar air tumpah ke bajunya. Ketika dia menyerahkan cangkir kepada Reyn, dia memastikan bahwa air membasahi pemuda itu juga.


    "Apa yang kau lakukan?" protes Reyn.


    "Sabar, Reyn. Dan cobalah menurut saja."


    Tera menyingsingkan celananya dan meraba-raba kulit tipis di seputar pergelangan kakinya.


    "Beri tahu aku sedang---"

__ADS_1


    "Diam. Aku harus konsentrasi." Memang demikian. Tera sungguh tidak ingin kaplet yang terkubur di balik kulitnya terbuka selagi masih di dalam.


    Dia meraba-raba jahitan tipis yang Silva letakan di sana. Dia kesakitan bukan main sewaktu membuka jahitan dan mengeluarkan kaplet dari sana. Kaplet kira-kira sebesar kismis dan licin karena berlumuran darahnya. Silva pasti sedang menggunakan kesaktian untuk membelah kulitnya sendiri tepat saat ini. Tera bertanya-tanya apakah caranya lebih tidak menyakitkan ketimbang jahitan.


    "Tutupi mulutmu dengan baju," kata Tera kepada Reyn.


    "Apa?"


    "Jangan bebal. Kau lebih manis kalau pintar."


    Pipi Reyn bersemu merah. Dia merengut dan menegakkan kerah bajunya.


    Tera menggapai ke kolong bangku untuk mengeluarkan ember kotoran yang dia sembunyikan di sana.


    "Badai akan datang," Tera berkata keras-keras dalam bahasa Kalterville. Dia melihat Reader dan Ken menaiki kerah baju masing-masing. Tera memalingkan wajah, menarik bajunya hingga menutupi mulut, dan menjatuhkan kaplet ke dalam ember.


    Terdengar bunyi mendesis saat kabut mengepul dari air. Dalam hitungan detik, asap telah menyelimuti seisi sel, menjadikan udara berwarna hijau keruh.


    Mata Reyn tampak panik di atas kerahnya yang dinaikkan. Tera tergoda untuk pura-pura pingsan, tapi dia memutuskan untuk puas hanya dengan melihat pria-pria yang terkulai ke lantai di sekitarnya.


    Tera menunggu sampai hitungan ke-60, lalu meurunkan kerah dan menarik napas dengan hati-hati. Udara masih berbau manis memuakkan dan akan membuat mereka puyeng beberapa lama, tapi kepekatan gas sudah jauh berkurang. Kali berikut sipir datang lagi untuk menghitung jumlah tahanan, para tahanan akan sakit kepala berat tapi tidak bisa bercerita banyak. Dan mudah-mudahan pada saat itu mereka sudah lama pergi.


    "Apa tadi itu gas kloro?"


    "Kau jelas lebih manis kalau pintar. Ya, kaplet itu berupa kapsul berbasis enzim yang berisi serbuk kloro. Serbuk itu tidak berdampak apa-apa, kecuali jika bersentuhan dengan amonia sebanyak apa pun. Itu pulalah yang terjadi barusan."


    "Air seni di dalam ember... tapi lantas apa? Kita masih terjebak di dalam sel."


    "Tera," kata Ken sambil melambai kepadanya agar menghampiri jeruji. "Jam terus berdetak."


    Tera mendekat sambil memutar-mutar bahu. Pekerjaan macam ini biasanya memakan banyak waktu, terutama karena dia tak pernah mengenyam latihan sungguhan. Dia menempelkan tangan ke sisi-sisi satu terali dan berkonsentrasi untuk mencari letak bijih yang paling murni.


    "Apa yang dia lakukan?" tanya Reader.


    "Melaksanakan ritual kuno Riverdale," kata Ken.


    "Sungguh?"


    "Tidak."

__ADS_1


~Selanjutnya Tera 2


__ADS_2