Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Krista 2


__ADS_3

Ketika Krista memasuki salon Nyonya Lois, pada malam dahulu kala itu, Ken Lunark sudah menunggu, dalam balutan pakaian abu-abu gelap, sambil bertumpu ke tongkat kepala rubah hitam. Salon berhiaskan dekorasi emas dan hijau kebiruan, satu sisi dindingnya bermotif bulu-bulu merak. Krista benci tiap jengkal Cerveny---ruang tamu tempat dia dan para gadis lain dipaksa berlenggak-lenggok dan mengerjapkan bulu mata kepada calon pelanggan, kamarnya yang ditata menyerupai karavan Zemeni palsu berhiaskan sutra ungu dan beraroma tajam dupa---tapi salon Nyonya Lois adalah yang terburuk. Ruangan itu adalah tempat pemukulan, tempat Lois melampiaskan amarahnya yang paling menjadi-jadi.


    Krista sempat berusaha kabur kali pertama tiba di Moontown. Dia baru beranjak dua blok dari Cerveny, masih berpakaian sutra, linglung karena cahaya terang dan hiruk pikuk Kharfa Barat, berlari tak tentu arah, ketika Cobbet mengatupkan tangan nan gempal ke tengkuk Krista dan menyeretnya kembali. Lois membawa Krista ke salon dan memukulinya habis-habisan sehingga dia tidak bisa bekerja selama seminggu. Sebulan sesudah itu, Lois membelenggu Krista dengan rantai emas, bahkan tidak memperbolehkannya turun ke ruang tamu. Ketika Lois akhirnya membuka belenggu Krista, wanita itu berkata, "Kau berutang pendapatan sebulan kepadaku. Kalau kau lari lagi, akan kujebloskan kau ke Raregate karena melanggar kontrak."


    Malam itu, Krista memasuki salon dengan ngeri dan, ketika dia melihat Ken Lunark di sana, kengeriannya malah berlipat dua. Tangan Kotor pasti sudah mengadukannya. Pemuda itu pasti memberi tahu Nyonya Lois bahwa dia bicara tanpa permisi, bahwa dia seolah-olah berulah. (Eps 20)


    Namun, Lois justru menyandar ke kursi berlapis sutra dan berkata, "Nah, Katsi Kecil, sepertinya kau sekarang menjadi masalah orang lain. Rupanya Lin Ginger memiliki minat terhadap gadis Zemeni. Dia membayar banyak uang untuk membeli kontrakmu."


    Krista menelan ludah. "Aku pindah ke rumah lain?"


    Lois melambaikan tangan. "Ginger memang punya rumah bordil---kalau bisa disebut demikian---di Krisbow sebelah selatan, tapi kau takkan mengembalikan modalnya di sana---malahan kau mungkin akan merasakan sendiri betapa baiknya Nyonya Lois kepadamu selama ini. Tidak, Ginger menginginkanmu untuknya sendiri."


    Siapakah Lin Ginger? Memangnya penting? Kata suara hatinya. Dia laki-laki yang membeli perempuan. Cuma itu yang perlu kau ketahui.


    Keresahan Krista pasti kentara, sebab Nyonya Lois tertawa ringan. "Jangan khawatir. Dia sudah tua bangka, tapi sepertinya dia tidak berbahaya. Tentu saja, kita tak pernah tahu pasti." Wanita itu mengangkat bahu. "Barangkali dia akan menggilirmu dengan kacung kesayangannya, Mister Lunark."


    Ken memalingkan tatapan matanya yang dingin kepada Nyonya Lois. "Sudah selesai?" Baru kali ini Krista mendengar Ken bicara dan dia terperanjat akan keparauannya.


    Lois mendengus sambil membetulkan garis leher gaunnya yang biru mengilap. "Sudah, dasar bedeb*h cilik." Dia memanaskan lilin bewarna biru merak dan membubuhkan segel ke dokumen di hadapannya. Kemudian, dia bangkit dan mengamat-amati pantulannya di cermin yang digantung di atas rak perapian. Krista memperhatikan Lois meluruskan kalung berlian di lehernya, batu-batu berharga tersebut berkilau terang. Sekalipun benangnya ruwet, Krista sempat berpikir, Butir-butir itu kelihatannya seperti bintang curian.


"Selamat tinggal, Katsi Kecil," kata Nyonya Lois. "Aku ragu kau mampu bertahan lebih dari sebulan di bagian Krisbow yang itu. "Diliriknya Ken. "Jangan terkejut jika dia lari. Dia lebih gesit daripada kelihatannya. Tapi, siapa tahu Lin Ginger menikmati itu juga. Silahkan keluar sendiri."


    Nyonya Lois melenggang ke luar ruangan sambil mengibaskan sutra dan menguarkan wangi parfum, meninggalkan Krista yang tercengang di belakangnya.


    Ken pelan-pelan menyebrangi ruangan dan menutup pintu. Krista menegang untuk menyambut entah apa, jemarinya memuntir ke kain sutra pakaiannya.


    "Lin Ginger memimpin Geak," kata Ken. "Kau pernah mendengar tentang kami?"


    "Itu gengmu."


    "Ya. Lin Ginger bosku. Bosmu juga, kalau kau mau."


Krista mengerahkan keberanian dan berkata, "Kalau aku tidak mau, bagaimana?"


    "Akan kucabut tawaranku dan pulang seperti orang bodoh. Kau boleh bertahan di sini dengan Lois si monster."


    Tangan Krista terangkat ke mulutnya. "Dia mendengarkan," bisik Krista, ketakutan.


    "Biarkan saja. Di Krisbow banyak monster dan sebagian malah cantik sekali. Aku membeli informasi dari Lois. Harganya kemahalan, malah. Tapi, aku tahu persis siapa dirinya. Aku meminta Lin Ginger untuk menebus kontrakmu. Tahukah kau alasanku?"


    "Kau suka perempuan Zemeni."


    "Aku tidak kenal banyak perempuan Zemeni, jadi aku tidak tahu." Ken beranjak ke meja dan mengambil dokumen, yang kemudian dia selipkan ke dalam jasnya. "Malam itu, sewaktu kau bicara kepadaku---"


    "Aku tidak bermaksud kurang ajar, aku---"


    "Kau ingin menawarkan informasi kepadaku. Barangkali sebagai imbalan, asalkan aku membantumu? Mengantarkan surat untuk orang tuamu? Bayaran lebih?"

__ADS_1


    Krista berjengit. Itulah persisnya yang dia inginkan. Dia pernah mendengar desas-desus mengenai perdagangan sutra dan mempertimbangkan untuk mengajukan tawar menawar. Tindakannya toll, gegabah.


    "Apa Krista Censes nama aslimu?"


    Suara aneh keluar dari tenggorokan Krista, setengah terisak-setengah tertawa, suara lirih memalukan, tapi sudah berbulan-bulan dia mendengar namanya sendiri, nama keluarganya.


    "Ya," Krista berhasil mengucap.


    "Itukah panggilan yang kau inginkan?"


    "Tentu saja," Krista berujar, lalu menambahkan, "Apa Ken Lunark nama aslimu?"


    "Lumayan asli. Kemarin malam, ketika kau mendatangiku, aku tidak tahu kau di dekatku sampai kau angkat bicara. Kau bukan manusia pertama yang membuatku terkejut, tapi nyatanya demikian." (Eps 20)


    Krista mengerutkan kening. Dia tidak ingin bersuara maka itulah yang dia lakukan. Memangnya kenapa?


    "Lonceng di pergelangan kakimu," kata Ken sambil menunjuk kostum Krista, "tapi aku tidak mendengarmu. Sutra ungu dan gambar bintik-bintik di pundakmu, tapi aku tidak melihatmu. Padahal aku melihat segalanya." Krista mengangkat bahu sementara Ken menelengkan kepala. "Apa kau dididik sebagai penari?"


    "Pemain akrobat." Kritsa terdiam. "Keluargaku... kami semua pemain akrobat."


    "Meniti tali?"


    "Dan melompati ayunan. Juggling. Salto."


    "Apa kau bekerja dengan jaring pengaman?"


    "Bagus, di Moontown tak ada jaring. Pernah berkelahi?"


    Krista menggeleng.


    "Membunuh orang?"


    Mata Krista membelalak. "Tidak pernah."


    "Pernah mempertimbangkannya?"


    Krista terdiam dan kemudian bersedekap. "Tiap malam."


    "Itu awalnya."


    "Aku tidak ingin membunuh orang, sebenarnya."


    "Itu kebijakan yang bagus sampai ada orang yang ingin membunuhmu. Padahal dalam bidang pekerjaan kita, itu sering terjadi."


    "Bidang pekerjaan kita?"


    "Aku ingin kau bergabung dengan Geak."

__ADS_1


    "Mengerjakan apa?"


    "Mengumpulkan informasi. Aku butuh laba-laba untuk memanjat dinding-dinding rumah dan tempat usaha di Moontown, untuk menguping dari jendela dan birai. Aku butuh seseorang yang bisa menjadi tak kasatmata, yang bisa menjadi hantu. Apa menurutmu kau bisa?"


    Sekarang saja aku sudah menjadi hantu, pikir Krista. Aku mati dalam palka kapal pedagang budak.


    "Kurasa bisa."


    "Kota ini sarat dengan laki-laki dan perempuan kaya. Kau harus mempelajari kebiasaan mereka, kegiatan mereka, perbuatan kotor mereka di malam hari, kejahatan yang coba mereka tutup-tutupi di siang hari, ukuran sepatu mereka, nomor kombinasi brangkas mereka, mainan yang mereka gemari semasa kanak-kanak. Dan aku akan menggunakan informasi itu untuk merampas uang mereka."


    "Bagaimana kalau kau merampas uang mereka dan kau sendiri menjadi pria kaya?"


    Sudut-sudut bibir Ken terangkat sedikit saat mendengar itu. "Jika begitu, kau boleh mencuri rahasiaku juga."


    "Itukah sebabnya kau membeli aku?"


    Ekspersi penuh humor menghilang dari wajah Ken. "Lin Ginger tidak membelimu. Dia membeli surat kontrakmu. Artinya, kau berutang uang kepadanya. Banyak uang. Tapi, surat kontrak itu sungguhan. Ini," kata Ken sambil mengeluarkan dokumen Lois dari jasnya. "Aku ingin kau melihat sesuatu."


    "Aku tidak bisa membaca bahasa Kalterville."


    "Tidak masalah. Lihat angka-angka ini? Inilah harga yang menurut Lois kau pinjam darinya untuk biaya transportasimu dari Juwel. Ini uang yang kau peroleh sebagai karyawannya. Dan ini utangmu kepadanya yang belum tuntas."


    "Tapi... tapi tidak mungkin. Utangku sekarang lebih banyak daripada utangku sewaktu baru sampai di sini."


    "Betul. Dia mengutip bayaran darimu untuk kamar, penginapan, perawatan diri."


    "Dia membeli aku," kata Krista, amarahnya membuncah mau tak mau. "Aku bahkan tidak bisa membaca perjanjian yang kutandatangani."


    "Perbudakan sejatinya ilegal di Kalterville. Kerja kontrak tidak. Aku tahu ini kontrak gadungan dan hakim mana pun yang berakal sehat pasti sependapat. Sayangnya, terlalu banyak hakim berakal sehat yang dijadikan bulan-bulanan oleh Lois. Lin Ginger menawarimu pinjaman---tidak lebih, tidak kurang. Kontrakmu akan ditulis dalam bahasa Juwel. Kau harus membayar bunga, tapi besarannya tidak akan mencekik lehermu. Dan asalkan kau menyetorkan persenan kepadanya tiap bulan, kau bebas ke mana saja sesukamu."


    Krista geleng-geleng kepala. Tawaran tersebut terkesan mustahil.


    "Krista, biar aku tegaskan. Jika kau kabur sebelum melunasi kontrak, Ginger akan mengutus orang untuk memburumu, orang-orang yang akan menjadikan Nyonya Lois terkesan bak nenek penyayang. Dan aku takkan menghentikannya. Aku pribadi mempertaruhkan nyawa demi mewujudkan kesepakatan ini. Bukan posisi yang menyenangkan buatku."


    "Kalau benar perkataanmu," kata Krista lambat-lambat. "seharusnya aku bebas menolak."


    "Tentu saja. Tapi, kau jelas-jelas berbahaya," kata Ken. "Aku lebih suka kalau kau tidak membahayakan bagiku."


    Berbahaya. Krista ingin memeluk kata itu. Dia lumayan yakin bahwa pemuda ini sinting atau mungkin berkhayal, tapi dia menyukai kata itu dan, kecuali dia keliru, Ken menawarinya kesempatan untuk meninggalkan rumah bordil malam ini.


    "Ini... ini bukan tipuan, kan?" Suara Krista lebih pelan daripada yang dia inginkan.


    Bayang-bayang kelam melintasi wajah Ken. "Kalau ini tipuan, aku akan menjamin keselamatan untukmu. Aku akan menjanjikanmu kebahagiaan. Aku tidak tahu apakah yang demikian ada di Krisbow, tapi bersamaku, kau takkan menemukan keselamatan ataupun kebahagiaan."


    "Baiklah," ujar Krista. "Mulai dari mana?"


    "Mari kita mulai dengan keluar dari sini dan mencarikanmu pakaian yang pantas. Satu lagi Krista," kata Ken sambil membimbing gadis itu keluar dari salon, "jangan pernah menghampiriku diam-diam lagi."

__ADS_1


__ADS_2